
Seminggu sudah Carmen tinggal dirumah Brian. Meski awalnya keberatan berada di rumah ini Carmen menemukan banyak kehangatan dari Mami Nita yang baik dan Brian yang perhatian. Meski begitu Carmen harus kembali ke dunia nyata, yah ia harus kembali ke apartemennya. Semua telah selesai ia bereskan dan ada beberapa koper yang sudah berjejer di depan kamarnya. Mami Nita berat melepas kepergian Carmen dari rumahnya. Kemarin bahkan beliau membujuk Carmen agar mau tetap tinggal dirumahnya.
"Tante seneng banget ada kamu dirumah, Brian jadi cepet pulang, sering di rumah dan mau ngomong sama tante," Kata Mami Nita.
"Tapi Carmen yang enggak enak kalo lama-lama disini tante," Jawab Carmen sekenanya.
Dengan perasaan berat Mami Nita ikut membereskan barang-barang Carmen. Sebenarnya Carmen juga sama berat hatinya tapi bagaimanapun ia bukan siapa-siapa di rumah ini. Tinggal terus menerus di rumah orang juga enggak hati. Ditambah lagi Brian yang pada akhirnya harus mengikuti rutinitasnya karena ia tinggal disini.
"Brian itu anaknya susah banget makan di rumah. Sebenarnya tante juga bersalah sama dia karena diusia mudanya tante sudah membebankan perusahaan untuk dia urus. Tapi bagaimanapun setelah papanya meninggal suatu saat ia juga harus meneruskan bisnis keluarga," Lanjut Mami Nita bercerita sambil melipat baju-baju.
"Mungkin itu yang bikin Kak Brian juga jadi cuek dan dingin sama semua orang ya tan?" Tanya Carmen.
"Iya Sayang. Dia berusaha menutupi kemelut di pikiran dan hatinya. Kamu yang sabar ya menghadapi Brian. Sebenarnya dia itu anaknya baik dan perhatian apalagi sama orang yang dia sayang," Kata Mami Nita keceplosan. carmen sempat terbengong tapi ia melupakan kata-kata itu.
Semua barang sudah di masukkan mobil, Carmen pamit ke Mami Nita yang sebentar lagi juga akan pergi ke Singapura untuk urusan kerjaan. Sementara Brian sedari pagi sudah pergi ke kantor untuk mengurus sesuatu. Sengaja ia tidak banyak komunikasi dengan Brian, takutnya cowok ganteng itu akan bolos lagi dari kerjaannya.
"Kalo sampai apartemen kabari tante ya, sayang," Sahut Mami Nita memeluk Carmen.
"Iya tante, pasti," Jawab Carmen. Mobil melaju membelah jalanan kota S. Sesampainya di apartemen Carmen tidak langsung istirahat. Ia memang terbiasa rapi dan bersih. Meski rumahnya sudah dibersihkan ia coba sesekali mengecek keadaan dan menata kembali barang-barangnya. Ia terus merapikan dabju-baju kedalam lemari satu persatu hingga malampun tiba. Bel rumahnya berbunyi pertanda ada tamu datang. Carmen setengah berlari menuju pintu.
"Kak Brian," Kata Carmen. Nampak sesosok cowok tinggi itu datang membawa makanan dan mukanya sedikit cemberut.
"Kamu keluar dari rumah kenapa enggak ngomong aku, tahu gitu kan aku bisa antar kamu," Katanya sembari masuk rumah carmen. Entah darikapan cowok itu bisa begitu biasa saja masuk rumah Carmen tanpa ada rasa canggung. Mungkin karena efek seminggu selalu bersama Carmen. Si Ceweknya pun tidak ada rasa keberatan.
"Makanya itu aku enggak ngomong kamu kak, Kamu ada banyak kerjaan di kantor," Jawab Carmen. Ia lalu kembali ke kegiatan semula menata baju.
"Kamu udah makan belum? Nih aku bawa makanan. Kita makan yuk," Ajak brian. dia tahu pasti Carmen pasti belum makan. Carmen menurut saja dan mengambil piring ke dapur. Mereka lalu menikmati makanan masing-masing.
"Carmen, ada yang mau aku omongin sama kamu," KAta Brian. carmen masih menikmati makanannya menjawab hanya dengan anggukan.
"Kita pacaran yuk !" Kata Brian. Carmen langsung tersedak makanan yang baru saja ia kunyah. Brian lalu memberinya air.
"Pelan-pelan kalo makan, jadinya kesedak gitu kan," Kata Brian. Carmen malah langsung memuntahkan makanannya di wastafel.
"KAk Brian lagi bercanda?" Tanya Carmen polosnya.
"Gimana bisa aku bercanda, tadi sebelumnya aku udah ngomong kan?" Jawan Brian.
"terus maksud kak Brian ngajak pacaran aku itu apa?"
"Kak Brian...aku ...," kata Carmen terputus oleh Brian.
"Aku enggak nuntut kamu harus menjawab sekarang. Kamu tahu sendiri butuh waktu 5 tahun buat aku bisa menerima kehadiran cewek baru. Kamu pasti juga sudah cukup kenal aku dari mami. jadi ya kamu pikirkan baik-baik," Lanjut Brian. Suasana kembali hening, tidak ada lagi percakapan yang ada hanya suara sendok karena masing-masing kembali menyantap makanannya.
Carmen tentu saja tak bisa menikmati makananya. Hatinya berdebar tak karuan, Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak bersorak karena Brian. Sungguh malu rasanya tapi senang juga karena ternyata cowok yang selama juga ia sukai mengungkapkan perasaannya.
"Aku beresin dulu piring-piring baru kita obrolin lagi," jawab Carmen tiba-tiba. Hatinya masih bergemuruh dan memulainya darimana. Sebenarnya ia ingin sekali langsung berteriak yesss tapi ada gengsi yang perlu ia tetap jaga.
brian sudah membereskan meja dan menyalakan TV, ia bahkan sudah tidak canggung dan sungkan lagi pada pemilik rumah. Meski ia terlihat tenang dan santai, tapi saat ini hati dan pikirannya benar-benar tidak tenang. Ia sangat berdebar menunggu jawaban carmen. Sejujurnya ia sudah memperhitungkan segalanya, tapi begitulah cewek yang sekarang ini di depannya, tidak dapat diprediksi. Sembari menonton TV ia melirik gerak-gerik carmen yang sepertinya sedang membuat minuman untuk mereka.
"Kamu buat minum?" Tanya Brian.
"Iya kak," Jawab carmen. setelah itu ia berjalan membawa dua gelas jus mangga dan memberikan pada Brian.
"Enak, enggak terlalu manis. Pas," Jawab Brian.
"Kak, soal tadi...aku rasa kita emang perlu untuk belajar memahami satu sama lain lebih dalam," Kata Carmen yang lagi sengaja ia putus. Brian menyimak dengan seksama dan masih dengan tatapan bingung.
"Jadi...aku pikir boleh lah kita mulai," Lanjutnya. Brian tersenyum dan spontan memeluk Carmen.
"yeaahhh Sah ya...kita pacaran kan sekarang?" Tanya Brian lagi dengan muka bahagia. Carmen hanya mengangguk dengan malu-malu.
"Tapi kak dengan satu syarat...jangan dipublikasikan di kampus," Kata Carmen. Brian hanya mengangguk. Mereka lalu menonton TV sebentar sebelum akhirnya carmen menyelesaikan kerjaan yang sempat tertunda dan Brian masih menonton TV hingga larut.
Keenakan menonton acara talk show Brian sampai lupa dengan keberadaan Carmen. ia lalu berdiri dan berjalan sambil celingak-celinguk mencari keberadaan pacarnya itu.
"Carmen...Carmen..kamu dimana?"
Ia lalu masuk kamar Carmen yang berada tepat di belakang ruang tamu, ia buka pintu yang setengah tertutup itu dan berjalan mencari keberadaan gadis yang ia sayangi itu.
"Carmen...Kamu..." panggilnya terhenti setelah melihat Carmen yang sudah tertidur pulas diantara baju-baju yang masih belum ia bereskan di lantai. Terlihat ia sangat letih dan Brian tidak tega membangunkannya.
Ia lalu menggendong tubuh Carmen dan meletakkan di kasur, menyelimuti kemudian mengecup keningnya dengan lembut.
"Good night sayang, mimpi indah ya. aku pulang dulu," Kata Brian kemudian keluar kamar, mematikan lampu ruangan di seluruh ruamh Carmen kemudian keluar rumah dengan senyum mengembang di bibirnya.