CARMEN

CARMEN
PATAH HATI PERTAMA



Daniel dan Carmen menjadi buah bibir orang-orang disekitar mereka. Hubungan mereka semakin harap hari demi hari. Carmen banyak belajar dari Daniel tentang banyak hal dan tentunya fotografi. Yah, Daniel ada seorang fotografer yang sering mengikuti berbagai pameran semasa kuliahnya dulu. Ia juga yang mengajak Carmen untuk mempelajari dan mengikuti pameran, dengan begitu ia menjadi lebih percaya diri.


Meski saat itu keduanya memiliki jarak usia yang lumayan yakni 6 tahun, Daniel yang merupakan mahasiswa tingkat akhir dan Carmen baru kelas SMA. mereka pacaran selama 2 tahun dan telah banyak menggoreskan kenangan indah diantara keduanya. Hingga suatu peristiwa dimana kakek Daniel sakit keras dan harus menjalani perawatan di Singapura. Daniel yang merupakan cucu tunggal terpaksa harus mengurus semua bisnis keluarga dan kebutuhan kakek sangat sibuk bolak-balik Indonesia Singapura. keadaan yang sangat tidak diinginkan oleh pasangan itu. Mereka jadi jarang bertemu dan puncak dari itu semua adalah hubungan yang semakin merenggang.


" Aku harap kamu mengerti keadaanku Car, aku juga sedang berjuang untuk kakek dan perusahaan," kata Daniel hari itu sebelum ia bertolak ke bandara. Carmen yang masih puber dan labil terus menuntut Daniel untuk ada waktu dan perhatian seperti dulu.


" kamu udah berubah kak, kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan dan jarang ada waktu buat aku,"


"kamu tahu sendiri gimana keadaan kakek dan lagi aku cucu satu-satunya yang dia punya. aku harus mengerjakan yang menjadi tugasku,"


"Jangan salahkan aku kalo aku ada cowok lain yang lebih perhatian dan ada buat aku," kata Carmen membuat hati Daniel sakit. bagaimana bisa ia tega mengatakan umpatan seperti itu padanya.


jika bisa memilih ia juga tak mau menanggung semua beban ini. Sekali lagi tak ada pilihan dan ia harus tetap kerjakan. Setelah pertengkaran itu, Daniel pergi ke Singapura dalam waktu yang lama. Sementara Carmen fokus pada sekolah nya.


Sesekali Carmen memamerkan kedekatan nya dengan cowok di sekolahnya. berharap Daniel memberi perhatian atas kelakuannya. namun tak sesuai rencana, Daniel justru menghilang dan tak pernah memberikan kabar.


'aku tau kamu lagi di rumah sekarang, aku capek kita selesaikan semuanya sekarang'


SMS dari Daniel membuat Carmen tercengang. setelah sekian bulan ia menghilang bahkan tak pernah membalas pesan singkat tiba-tiba mengajak bertemu. Carmen tau betul pasti inilah hari akhir dari hubungan mereka. Dengan segala kekuatan Carmen datang memenuhi undangan Daniel di sebuah kafe langganan mereka.


Carmen duduk ditempat biasa ia dan Daniel pesan. cukup lama kira-kira setengah jam kemudian Daniel datang. Carmen terkejut bukan karena kedatangan Daniel saja tetapi cewek yang sedang memeluk erat lengan Daniel. Gadis remaja itu berusaha sekuat tenaga untuk tidak menitikkan air mata kesakitan.


"Jadi apa yang mau kak Daniel katakan sama aku?" tanya Carmen dengan tatapan kosong. Carmen duduk sendirian berhadapan dengan Daniel yang dengan begitu angkuhnya duduk bersebelaham dengan cewek lain.


"Kamu enggak tanya gimana kabarku? kita udah lama enggak ketemu?" jawab Daniel melihat ekspresi Carmen yang nampak kesal.


"Tidak, aku tak akan tanya karena aku sudah tau seperti apa kabarmu dengan apa yang saat ini aku lihat,"


"oke Karena kamu udah tau, langsung saja kamu udah tau kan aku kesini bersama cewek. Yah dia sedang dekat denganku. Aku mengajakmu kesini untuk meluruskan sesuatu dan membuat nya percaya bahwa aku sudah tidak ada hubungan apa-apa sama kamu,"


deg. carmen berusaha tetap tenang. meski matanya sudah panas.


"Aku cuma mau menerangkan bahwa kita sudah putus, silahkan kamu pacaran dengan siapapun itu sudah bukan menjadi urusanku lagi," lanjut Daniel tanpa belas kasihan. Ia semakin jengkel karena melihat Carmen tak ada reaksi apapun.


Carmen menelan ludah dan menarik nafas panjang. Sebelum akhirnya mengambil dompetnya. ia letakkan uang 100 ribuan di meja itu.


ia berlari keluar kafe, mencari taksi dan naik. dari dalam kafe Daniel melihat kepergian Carmen dengan mata berkaca-kaca mengingat ucapan Carmen barusan. Ia menyesal atas apa yang baru saja ia lakukan. Ia benar-benar telah menyakiti pacar tersayangnya itu. Sungguh ia kejam dan menyalahkan dirinya.


"Kamu jahat Daniel, seharusnya kamu datang sendiri dan tak membawa cewek itu. menyisakan luka yang teramat. kamu jahattttttt," teriak Carmen di dalam kamar. sudah lebih dari seminggu ini ia mengurung diri dalam kamar. Menangis dan hanya melamun. Kakaknya benar-benar khawatir dengan keadaan adik tersayang.


"Udah dek, jangan terlalu ditangisi. Ini adalah patah hati pertama kamu kakak paham. Dia sudah pergi jauh, dia enggak akan muncul di hadapan mu lagi,"


"mulai sekarang kamu harus menjalani semua dari awal oke," lanjut kakaknya.


sejak saat itu Carmen berubah menjadi gadis yang cuek. Ia bahkan sering berganti pacar dan tak pernah serius dengan hubungan. Julukan playgirl melekat padanya hingga ia lulus SMA dan hijrah ke kota S.


"Kamu yakin Carmen mau ke S sendirian?" tanya mama Carmen.


"iya ma, lagian disana ada apartemen papa,"


"mama akan siapkan keperluan kamu disana sama papa nanti. Padahal papa udah dipindah tugaskan ke sini. Eh malah kamu yang sekarang jauh,"


"Aku akan sering pulang ma,"


"anak mama udah gede," sahut mama Carmen sembari memeluk putri satu-satunya itu. kedua putranya sudah lebih dulu hijrah ke Jakarta. dan Sekarang putri kecilnya juga pergi. ia merasa ditinggalkan oleh anak2nya.


"inget disana jangan suka begadang atau pulang malam. Mama akan terus ngontrol kamu. Jangan suka makan mie instan dan banyak minum air putih. Apartemen harus bersih saat kamu tinggalkan kuliah dan yang terpenting jadilah anak baik dan jangan suka mainin perasaan cowok,"


"Ih mama bawel banget deh,"


"sayang,,, kamu jangan suka PHP in cowok-cowok. mama capek tau harus dengerin curhatan mereka tiap kali kamu sakitin,"


"hahaha bukan salah aku dong ma, mereka yang suka aku..mereka yang ngejar2 aku,"


"mulai deh centilnya, papa udah siapin lemari yang kamu request kemarin,"


orang tua Carmen pergi pulang setelah mengantarkan anaknya di apartemen. Dan sejak saat itu kehidupan Carmen berubah. ia harus sudah siap tinggal sendiri, melakukan secara mandiri dan memulai menjadi Carmen yang baru.