
Semenjak mereka saling terbuka dengan hubungan, desas desus akan adanya pernikahan diantara keduanya santer terdengar. Rio berlari menuju kelas dengan membawa sebuah kertas bertuliskan ancaman yang baru saja ia lepas dari Mading kampus.
dengan nafas terengah-engah ia memanggil Carmen dengan muka kekhawatiran.
"Carmen...!!"
"Yo, ngapain loe ngos-ngosan gitu?"
"Nih, loe baca!!"
Carmen membelalakkan matanya begitu membaca surat yang dengan susah payah dibawa sahabat karibnya.
"Gue udah tebak bakal begini? Siapa yang percaya kalo gue pacaran sama Brian," kata Carmen kemudian. Ia lalu merobek kertas dan membuang nya sembarang. Rio yang menatap lekat Carmen nampak iba dengan nasib sahabatnya itu.
"Loe tenang aja, selama Rio masih jadi sahabat loe, semua urusan dan masalah pasti bisa dilewati,"
Carmen kemudian menepuk pundak sahabatnya yang sekarang pesonanya setara dengan Brian.
"Loe janji kan, jangan lupa tuh,"
mereka keluar kelas dan bersiap untuk pergi ke kantin, namun telpon Carmen tiba-tiba saja berdering.
"Brian,,," katanya ke Rio.
-halo, ada apa sayang?
-ehmmm ya aku paham
telpon ditutup dengan tergesa. Rio yang sedari tadi memperhatikan mimik wajah Carmen ikut cemas.
"maminya Brian sakit, gue harus kesana. Brian udah di parkiran, loe gapapa kan gue tinggal? "
"calon mertua lebih penting dari gue, udah loe tenang aja gapapa,"
"salam ya buat camer," kata Rio cengar-cengir. Carmen hanya menggelengkan kepalanya sembari bergegas pergi menuju parkiran.
Carmen berjalan menuju mobil berwarna hitam metalic yang sudah menunggu ia.
"Kamu masih bisa tenang kan?" tanya Carmen.
"Iya, gapapa. Kita langsung pulang aja,"
mobil itu melaju perlahan membelah jalanan kota S yang saat itu ramai dan padat. Carmen harap-harap cemas dengan keadaan mami Brian. setelah 30 menit perjalanan mobil memasuki sebuah rumah mewah yang didominasi warna putih. Brian menarik tangan Carmen agar ia lebih cepat langkahnya.
sesampainya di sebuah kamar yang luas, mami terbaring dengan lemas. Tangannya terpasang infus. Keluarga Brian memang memiliki dokter pribadi yang 24 jam siap datang untuk memeriksa keadaan darurat keluarga konglomerat itu.
"Mama, mana yang sakit?" tanya Brian sangat khawatir. Carmen mengelus punggung Brian untuk menenangkan.
"Jangan keras-keras pegang mami," cegah Carmen.
mami membuka matanya dan menatap putra semata wayangnya itu. Meski lemah, ia berusaha tegar dan kuat.
"mami enggak apa-apa sayang," Sahutnya.
Brian makin khawatir dengan mami.
"Udah, Tante sekarang istirahat aja ya? jangan banyak gerak," Sahut Carmen.
Mami tersenyum melihat Carmen Juga datang.
Ia lalu memegang tangan Carmen.
"Mami enggak papa sayang, kamu tenangkan Brian ya?"
Cukup lama mereka dalam diam, hingga Carmen keluar kamar setelah mami benar-benar tidur. Sementara Brian masih menunggui maminya. sambil sesekali memeriksa infus.
"uhhh capeknya, "Kata Carmen merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga yang memang cukup luas.
Ia lalu berpikir sejenak dan berjalan menuju dapur. Mengambil beberapa bahan di kulkas dan meminta pelayan untuk tidak membantunya. Ia akan masak untuk Brian. Ia tahu Cowok itu tidak akan makan jika tidak ia paksa.
"Kamu makan duluan aja,"
Carmen sudah menebak.
"Kamu enggak mau makan masakan aku? aku udah capek-capek masak buat kamu,"
Brian menoleh kekasihnya itu. ia melihat mata Carmen yang sudah lelah. Ia pun berdiri dan berjalan di belakang Carmen.
"Kamu makan, biar tetap sehat. Biar ada kekuatan buat jagain Tante," Kata Carmen mengambilkan nasi untuk Rio.
"Kamu tidur di sini aja, ini udah sore juga. Besok aku antar pulang,"
"Iya, kali ini aku nurut kamu," jawab Carmen. Ia paham jawaban inilah yang ingin di dengar Brian saat ini.
meski tidak berselera, Brian tetap berusaha menghabiskan makanan dan kemudian meneguk segelas jus apel. Dia lega, masakan Carmen memang enak apalagi dinikmati saat hatinya sedang bahagia.
"Kamu istirahat, mandi minta pelayan siapkan baju,"
"Kamu mau kemana?"
"aku di ruang kerja, sambil nungguin mami,"
"Jangan terlalu dipaksa, mami pasti sehat lagi,"
Brian mendekati Carmen. Gadis itu mundur karena refleks. Tak lama Brian menarik tangannya dan memeluk Carmen.
"Terimakasih sayang, aku hanya khawatir ada apa-apa sama mami. Saat ini cuma mami yang aku punya," Katanya tanpa sadar meneteskan air mata. Ia benar-benar terpukul dan sedih.
"Kamu jangan menahan semuanya sendiri. masih ada aku, kamu sekarang harus kuat dan tetap sehat buat mami," sahut Carmen sembari mengelus punggung kekasihnya itu.
Carmen segera berjalan ke kamar yang dulu pernah ia tempati. Sementara Brian berjalan menuju ruang kerja disusul sekretaris pribadinya yang langsung menutup pintu.
langit-langit kamar mandi masih sama, namun kepulan uap karena air hangat ditambah dengan aroma terapi menyeruak membuat Carmen sedikit rileks. Hari ini ia begitu lelah, setelah surat kaleng terbuka di kampusnya, mami Brian yang jatuh sakit, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian menguras pikirannya.
"Gini banget punya pacar terkenal," keluhnya. Setelah mandi Carmen bergegas turun ke lantai utama dan menuju kamar mami Brian. Dibukanya pintu, Carmen pelan-pelan sekali menuju ranjang dan duduk di kursi. menatap lekat mami Brian yang meski sudah berumur, beliau masih sangat cantik dan terawat.
"Pantes aja, Brian ganteng banget. ternyata ini turunan dari mami," katanya pelan.
"Kamu pinter juga," Suara lemah namun dengan nada menggoda.
"Tante ... udah sadar, syukurlah. Aku panggil Brian,"
"jangan, dia masih kerja,"
Carmen kembali duduk dan memegang jemari mami Brian.
"Mami bersalah karena Brian harus mengerjakan tugas yang seharusnya tak dia lakukan lebih awal,"
"diusianya yang 18 tahun Brian sudah memulai menjalankan bisnis keluarga dengan pantauan mami,"
"Dia menghabiskan masa remajanya untuk keluarga ini,"
Cerita mami dengan nada sedih dan menitikkan air mata. Carmen mengusap air mata mami Brian dengan lembut.
"Tante, semua peristiwa pasti ada hikmahnya. dan aku yakin ini semua pasti ada hikmahnya. Sedari muda dia sudah menanggung beban ribuan karyawannya. memastikan mereka bisa makan, bisa menjalani hidup dan menjadi seperti itu memang pilihannya. Tante sekarang harus fokus sama kesembuhan, biar Brian enggak sedih lagi. biar Brian fokus sama pekerjaan," Hibur Carmen.
"Tante boleh peluk Carmen?" tanya mami.
"boleh Tante,"
Wanita paruh baya itu memeluk Carmen dengan lembut. Ia begitu sayang pada gadis muda itu. Entah dari kapan ia merasa ada kecocokan dengan Carmen.
"Mulai sekarang kamu panggil Tante, mami. Dan mami mau kamu menjadi anak mami. Jadi menantu keluarga ini,"
Omongan mami begitu mengguncang Carmen. namun ia tak mau mengecewakan wanita yang saat ini belum sembuh. Carmen hanya mengangguk dan tersenyum.
"Mami sekarang mami tidur ya," Ucapnya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa anggukannya malam itu adalah awal dari kejadian besar yang akan ia lalui dan tak pernah ia duga sebelumnya.