
Hari sudah semakin gelap membuat Brian menepuk bahu Carmen yang masih bersandar. Sudah lewat 2 jam mereka duduk di taman kampus, bahkan tak menghiraukan tatapan mata mahasiswa lain. Kebucinan sudah merasuki kedua insan itu.
"Aku antar kamu pulang," Kata Brian. .
"untuk hari ini jangan kak, aku ada janji sama teman aku,"
Brian memicingkan matanya.
"Sama siapa? Rio?"
"Bukan, adalah teman pokoknya..mudah ya kak Brian telpon aku kalo udah Sampek rumah,"
Carmen bersiap meninggalkan Brian yang masih dengan perasaan tak tentu. Baru aja baikan, udah bikin asap lagi. Tapi untuk saat ini ia berusaha untuk percaya. Bagaimana pun Carmen bukan cewek seperti itu.
Carmen sudah duduk menikmati kue stroberi kesukaannya ditemani seseorang yang dari kecil sudah sangat akrab dengannya. Iya, Aldo adalah cowok yang membuat Brian khawatir akan ditinggalkan Carmen pas lagi sayang-sayangnya.
"Pacar loe gak tau siapa gue?"
Carmen hanya menggelengkan kepala.
"Kamu jangan memicu bara api di hubungan kalian ya, gue peringatkan,"
"Kenapa sih, Al...Nanti dia juga paham hubungan kita kayak gimana?"
"Carmen...plis mulai belajar menghargai perasaan orang lain. Gue gak mau kasus Lo sama Daniel dulu keulang lagi,"
Carmen diam. Ia hentikan aktivitas makan kue. Menatap Aldo debgan tatapan aneh.
"Sebenarnya gue udah ketemu dia lagi beberapa waktu lalu,"
"and then??"Dengan mata melotot dan hampir menyemburkan makanan yang ia makan.
Carmen mengangkat bahu.
"Kita udah putus, dan dia yang mutusin...gue bisa apa?"
"are you okay?"
"Fine, Aldo,"
obrolan terhenti saat telpon Carmen berdering. Telpon Brian.
-Halo kak
-oh iya.... ya... istirahat ya
"Cowok kamu?" Suara Aldo bersamaan membuat Brian menginterogasi dengan begitu bertubi-tubi.
-nanti aku jelasin kak, aku tutup dulu ya ...bye
Aldo menjetak dahi Carmen.
"Dasar adik nakal, kalo dia salah paham gimana?"
"Udah tenang aja, "
"Kamu utang janji ngenalin dia ke gue ya,"
"Iya saat waktunya tiba,"
Sekedar informasi Aldo adalah sahabat kakak Carmen. mereka tinggal bertetangga dari kecil. Sudah wajar jika hubungan mereka begitu akrab layaknya kakak dan adik. Meski begitu, baik Carmen dan Aldo sama sekali tak berminat untuk saling berbagi perasaan. Mereka sepakat bahwa hubungan ini adalah saudara dan sahabat.
Aldo adalah seorang model yang setiap harinya tinggal di Kota J. Ia jarang sekali pulang ke kota M dan memutuskan fokus karirnya. Beberapa hari belakangan kantor menejemennya bekerja sama dengan proyek kaos Apparel yang ada di kota S dan mengirimkan modelnya untuk dilakukan sesi photoshoot endorsment. Salah satunya Aldo, ini kesempatan Aldo untuk bisa menemani Adik tersayang nya itu di kota S.
Ia bahkan memesan hotel yang tak jauh dari apartemen Carmen agar mereka lebih mudah bertemu dan secara khusus meminta bantuan Carmen menjadi fotografer pribadinya. Berita tentang lamaran Carmen tentu sudah sampai telinganya. Misi selanjutnya Aldo adalah berkenalan dengan Brian. Cowok yang kata sahabatnya sangat menawan.
"Gue gak jelek-jelek amat kan Car?" Tanya Aldo selesai makan.
"Kanapa tanya gitu? kalo loe jelek mana mungkin dapat kontrak jadi model?"
"That's Right...kalo gue sama Brian? gantengan mana?"
Carmen ragu.
"Yah,,,, dulu tiap kali gue tanyain loe enggak pernah ragu jawab, cinta emang udah bikin Carmen berubah ya hahahah,"
"Loe jadi tambah narsis ya berteman sama artis ibukota,"
Lagi-lagi Aldo tertawa terbahak. dia spontan mengelus rambut Carmen dengan lembut. Setelah perbincangan panjang Carmen diantar Aldo pulang.
"Inget ya, besok siang,"
Carmen berjalan sendiri melewati lorong kampus yang ramai karena jam makan siang telah dimulai sedari tadi. Meski begitu ia tak melihat keberadaan Brian sedari pagi Tak seperti biasanya yang menjemputnya, hari ini Carmen berangkat dengan jalan kaki. kebiasaan yang sudah lama ia tinggalkan karena Brian bersikeras mengantar jemputnya.
Telponnya berdering begitu ia sampai di lorong paling ujung. Hari ini kelas siang diliburkan karena dosen ada meeting dadakan. Otomatis ia kosong tak ada jadwal, mungkin nanti sore ia akan menyelesaikan pekerjaannya memotret Aldo. Belum sempat ia mengangkat telpon matanya terkejut dengan kehadiran Aldo yang sudah tampan menawan menunggu nya.
Kedatangan Aldo membuat cewek-cewek disekitar mereka histeris. Baru kali ini setelah Brian ia melihat cowok setampan itu dengan badan yang proposional dan aura kewibawaan yang mampu semua orang akan tertarik padanya.
"Loe ngapain kesini?"
"Jemput loe lah Car?"
Carmen menoleh kanan kiri. menatap puluhan mata menyaksikan pemandangan gratis ala oppa-oppa Korea. Ia lalu menarik tangan Aldo dan mengajaknya beranjak ke tempat sepi.
"Mustahil Car, ini jam makan siang,"
"Loe juga ngapain ke kampus gue,"
"Gue cuma pengen tau aja...lagian seru kali jadi anak kampus,"
"Loe mau jadi brondong jagung dibawa tante- Tante,"
Mereka sampai di pinggir danau kampus yang saat itu memang sedang sepi. Carmen meneguk sebotol minuman sampai habis. nafasnya terengah menerik paksa Aldo keluar dari kerumunan.
"Al, Cowok gue itu terkenal disini, sekali ada gue ketahuan dijemput cowok lain bakal viral,"
"Bukannya sejak loe pacaran sama dia hidup loe emang udah viral?"
"Enggak usah nebak,"
"Nebak apa?" Suara yang tak asing terdengar dengan nada berapi-api membuat bulu kuduk Carmen merinding. Perasaan sama dialami Aldo. Aura dingin, kejam tanpa ampun seperti baru saja datang. Mereka menoleh ke arah sumber suara bersamaan.
"Apanya yang ditebak Carmen sayang?" Ucap Brian menahan emosinya. meski lebih pantas terlihat sudah emosi.
"Bukan ... anu... apa ya? " pikiran Carmen mendadak kosong.
"Kamu nyuruh aku percaya sama kamu? semakin aku percaya semakin kamu berani... terang-terangan bawa dia ke kampus,"
"Aku enggak bawa dia kesini...dianya sendiri yang mau kesini,"
Brian beradu mata dengan Aldo yang juga tak kalah tajam.
Aldo memandang perawakan Brian dari ujung rambut sampai kaki. Semua yang dia pakai bagus dan bermerek, wajahnya juga lumayan, stylenya bagus terlihat dia suka memperhatikan diri. Namun ad sesuatu yang membuat Aldo ragu terlihat dari tatapan bahwa Brian adalah pribadi yang keras, dingin dan batu.
"Lumayan juga selera loe," ucap Aldo membuat Brian bingung.
"Maksud loe apa?" tanyanya setengah emosi. Carmen memegang tangan Brian.
"Udah Al, jangan dipancing," Kata Carmen.
"Dia siapa Car?"
"Dia Aldo,"
"Gue enggak tanya namanya, Gue nanya apa hubungan kalian?" setengah teriak karena frustasi dengan ekspresi Carmen yang seperti tak ada masalah.
"ssssttt Carmen gabisa diajak ngomong teriak. biar gue aja yang jelasin,"
"Kenalin gue Aldo, sahabat kakaknya Carmen sekaligus tetangga rumahnya dari kecil," Ucap Aldo sambil menatap Brian serius.
Brian masih diam.
"Gue seorang model dan udah lama di kota J, kebetulan ada kerjaan disini untuk pemotretan dan gue secara eksklusif meminta Carmen jadi fotografer pribadi gue selama proses pemotretan,"
"Apa loe ada perasaan sama Carmen,"
"Iya sejujur nya gue ada perasaan sama dia, perasaan seorang kakak ke adik..gue bungsu dan gue udah anggap Carmen kayak adik gue sendiri,"
"gue minta maaf karena belum sempat memperkenalkan diri ke loe, akhirnya ada salah paham begini, dan....tolong jagain Carmen kayak gue dan kakak-kakak Carmen jagain dia, "
Selesai sudah kesalahpahaman berhari-hari antara Brian dan Carmen. Brian lega kecurigaan nya tak terbukti. Carmen lega Brian tak lagi meragukannya, dan Aldo lega akhirnya bertemu langsung dengan Brian. Tidak buruk, selera Carmen emang terbaik dari dulu. setidaknya ia masih merasa bahwa dialah yang paling tampan dari cowok yang dekat dengan Carmen.
proyek kerjasama selesai dalam seminggu. Aldo diantar Brian dan Carmen kebandara untuk kembali ke kota J. Entah kenapa Aldo merasa kini ia memiliki 2 orang adik yang keduanya memiliki karakter unik . ia memeluk Carmen dengan lama melepas kembali adiknya itu dan menyerahkan ke Brian. Setelahnya ia memeluk Brian membisikkan kata-kata yang membuat Brian tertegun dibuatnya.
"Jagain Carmen perlakukan dia seperti seorang tuan putri seperti kami memperlakukan dia selama ini, kalo loe bikin dia sedih, gue kakak yang akan pertama nonjok muka tampan loe itu,"
Ia tersenyum simpul menandakan restu telah ia berikan pada keduanya. Brian memeluk bahu Carmen sambil menyambut ucapan perpisahan dari Aldo. Jika dilihat Aldo memang tampan dan cocok menjadi model. Ia lalu menatap Carmen dengan dalam.
"gue janji sama loe Al, gue bakal jagain dia,"
mereka meninggalkan bandara dengan saling berpegangan erat