
Setelah kedatangan mereka taman terasa sepi, manusia yang sedari berkutat dengan kesibukan masing-masing seperti memberi waktu untuk dua orang yang saat ini masih diam tanpa suara. Keduanya masih dalam angan memikirkan dari mana harus memulai. Carmen yang sedari tadi sudah bengong karena sikap Brian yang menunggunya di luar kelas juga menunggu waktu untuk mulai mengajukan pertanyaan. Sementaa Brian masih duduk termenung mencari kata yang tepat untuk memulai.
"Kak,"
"Car," Keduanya bersama-sama yang semakin menambah canggung.
"Kak Brian duluan," Sahut Carmen. Brian menghembuskan nafas.
"Kamu kenapa menghindariku?" Tanya Brian. Carmen menunduk.
"Aku enggak menghindar kak," JAwabnya. Brian agak kesal dengan jawaban Carmen.
"Aku... cuma lagi banyak tugas aja," Lanjutnya.
"Banyak tugas?? aku hampir tiap hari nungguin kamu di depan lho Car," Jawab Brian. Ia lalu menengguk minuman untuk menstabilkan dadanya yang makin sesak. Jelas terlihat jika Carmen menghindarinya.
"Kalo aku ada salah, kamu ngomong aku bisa minta maaf," Kata Brian.
"Kak Brian jangan terlalu baik sama aku. Jangan buat aku bingung sama sikap kamu. Aku cuma mau membuat diriku nyaman di depan kakak tanpa ada maksud apa-apa," JAwab Carmen sedikit tebuka.
"Maksud kamu apa Carmen? jangan buat aku bingung?" Korek Brian.
Carmen menghela nafas, "Kak Brian terlalu baik dan perhatian sama aku, tiap hari antar aku pulang, ngasih perhatian bahkan udah sering ke rumah. Kak jangan buat aku terlalu nyaman di dekat kak Brian. Aku cuma enggak mau aja salah paham di antara kita,".
Brian terkejut, apakah perhatiannya selama ini hanya dianggap sebatas itu oleh Carmen. Padahal ini kali pertama ia memperlakukan cewek layaknya Carmen.
"Carmen dengerin aku. Semua yang aku lakuin ke kamu itu emang sengaja aku lakukan biar kamu nyaman di dekatku. Biar kamu bisa menyadari kehadiranku dan yang terpenting aku tulus," Ucap Brian. Carmen menatap Brian. Ia syok.
"Maksud Kak Brian?"
"Kamu dengerin ya, aku enggak bakal mengulanginya. Aku memang sengaja melakukannya aku pengen selalu dekat sama kamu, aku mau kamu bergantung sama aku," Jawab Brian.
"Alasan aku ngelakuin itu ke kamu, entahlah aku juga enggak tahu pasti Carmen. dan asal kamu tahu aja, aku enggak pernah memperlakukan cewek se spesial kamu. Mereka mau suka sama aku, mau ngefans sama aku. mau gimana sama aku. kamu dengerin, aku enggak peduli. Yang aku peduliin kamu," Lanjutnya. tubuh Carmen seketika mematung. dia benar-benar terkejut dengan Brian. Apakah itu artinya sebuah pengakuan?
"Kak Brian, terus siapa cewek yang sering telpon Kak Brian bahkan saat kita lagi bersama?" Tanya CArmen. Brian mengambil ponselnya dan memberikan pada Carmen.
"Maksud kamu dia?" Tanya Brian. Carmen mengangguk.
"Namanya Aurel, dia mentan pacar aku," JAwab Brian singkat. Carmen hanya diam terpaku.
"Sedekat itukah hubungan kalian berdua?" Tanya Carmen.
"Kami putus 5 tahun lalu, waktu aku masih SMA. Kita juga enggak pacaran lama, hanya beberapa bulan saja sebelum akhirnya kita harus berpisah karena dia harus ikut ortunya pindah ke Thailand. Sejak saat itu hubungan udah enggak sehat lagi, kita rawan konflik dan sering banget salah paham. Kadang aku yang cemburu, kadang dia yang cemburu. Setelah bertahan LDR selama 2 bulan, kita memutuskan untuk berpisah," Cerita Brian.
"terus kenapa dia masih menghubungi Kak Brian" Selidik Carmen.
"Kami mengakhirinya dengan baik-baik, sama-sama menyadari dan dewasa. aku enggak pernah sekalipun menganggapnya spesial setelah hari itu, tapi aku juga tidak bisa melarangnya untuk menelpon. Carmen kamu percayakan sama aku?" Jawab Brian. Ia menatap Carmen lekat. Merasa dipandangi dengan tatapan mendalam, Gadis cantik itu mengedarkan padangan matanya ke segala arah. Brian tersenyum, terlihat jelas bahwa gadisnya itu sedang salah tingkah.
"Kak, aku masih ada urusan lain. Aku pergi duluan," Kata CArmen canggung. Saat ia akan pergi, Brian menarik lengan Carmen.
Brian masih diam di dalam mobilnya sementara Carmen memainkan ponselnya. Meski ia sekarang tak ubahnya seperti kepiting rebus karena sikap groginya. Brian melirik ke arah Carmen yang sedari tadi menunduk, ia tersenyum singkat.
"mulai hari ini, kamu harus terbiasa dengan kehadiran mereka. Jangan malah malu karena justru mereka akan semakin menjadi-jadi," Kata Brian berusaha menenangkan Carmen.
"Kak, kamu terlalu menjadi pusat perhatian buat aku yang enggak pernah diperhatiin,' Jawab Carmen malah membuat Brian tertawa lepas.
hhahahahah "Cuek aja udah, enggak usah dianggap. Seberapa sinis tatapan mereka ke kamu, nyatanya cuma kamu yang aku lihat," Ucap Brian. Muka Carmen makin memerah.
"udah-udah kak, pulang aja," Sahut Carmen. Brian sudah menghentikan tawanya. Ia lalu membenarkan sikap duduknya. Semenit kemudian mobil mewah itu sudah melaju meninggalkan kampus. Sementara Brian fokus menyetir, Carmen berusaha mendinginkan dirinya. hari ini benar-benar membuatnya begitu berantakan.
"Udah sampai," Kata Brian membuyarkan lamunan Carmen. Ia lalu terperanjat dan keluar mobil dengan segera.
"Tunggu !!! kamu enggak ada rencana nyuruh aku mampir?" Tanya Brian. Carmen lagi-lagi gugup.
"Maaf kak, hari ini orang tuaku lagi di apartemen," Jawab Carmen. Brian sedikit kecewa tapi kemudian ia memahami posisi Carmen. Setelah pamit dan basa-basi sebentar ia lalu pergi meninggalkan lobi apartemen. Carmen menuju rumahknya dengan diiringi tawa ringan.
"Ternyata kak Brian emang peduli sama gue," Katanya pelan. Ia lalu mengambil ponselnya dan bersiap membalas chat Rio yang sedari tadi sudah memenuhi notifikasi. Maklumlah tidak pernah terbayangka Rio kedekatan sahabatnya itu dengan Brian.
-halo Yo
- eh Car\, gimana? loe dimana sekarang?
-gue udah di apartemen. Enggak ada apa-apa
-ehh dasar loe ya enggak pernah cerita apa-apa sama gue. Udah bisa hidup sendiri loe?
hahahahh
-maaf Rio sayang, besok gue ceritain semua deh Udah dulu ya gue mau mandi beres-beres dulu daaaaadaaaa
Carmen langsung menuju kamarnya sesampai di apartemen. Mama Papanya sudah ada di sofa dan sejenak memperhatikan muka letih putri kesayangannya itu. Sementara carmen masih dikamar, mama memasak makan malam.
"Carmen, ayok sini makan malam sayang," Panggil mama Carmen.
"Iya ma," Jawab Carmen yang baru saja selesai mandi. Ia lalu keluar kamar menuju ruang makan.
"Kayaknya capek banget kamu ya?" Tanya papa. Carmen lalu memeluk papanya yang sudah lama ia rindukan. Mamanya lalu memberi sepiring nasi.
"Makasih ma,".
Momen paling bahagia yang selalu dirindukan Carmen adalah saat makan bersama mama papa dan kedua kakaknya. Meski kakak-kakaknya tak bisa bergabung, kehadiran mama papanya yang sengaja berkunjung membuatnya bahagia. Setidaknya apartemennya ini bisa disebut sebagai rumah baginya.