
Sepagi ini Brian sudah duduk manis di sofa apartemen Carmen sambil memainkan handponenya. Sementara Carmen sibuk bersiap-siap berangkat ke stasiun. Yah, weekend ini Carmen ingin pulang ke kota M. kangen rasanya ingin bertemu mama dan papa apalagi kakak-kakaknya juga pulang.
"Carmen udah siap belum? udah jam 6 nih,"Ucap Brian mengingatkan Carmen untuk segera bergegas.
"Iya kak, bentar lagi siap," Jawab Carmen. Ia lalu berjalan ke arah Brian.
"ayo kak berangkat,"
"ayo," Jawab Brian sembari berdiri dan mengambil kunci mobilnya. Mereka naik ke mobil setelah memastikan bahwa semua sudah siap.
"Kita Beli sarapan take away aja ya," Kata Carmen. Brian hanya mengangguk dan menghentikan mobilnya di sebuah food truck pinggir jalan. Setelah makanan ready mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Inget, jangan macem-macem disana," Kata Brian melepas kepergian Carmen di stasiun.
"Siap komandan," Kata Carmen menirukan sikap tentara-tentara. Brian lalu mengelus lembut rambut Carmen dan setelah memastikan Gadisnya naik gerbong ia kembali pulang.
ponsel Brian terus berdering sampai-sampai yang awalnya dia cuek saja harus melihat notif yang masuk. Dilihatnya panggilan dari aurel, Mantan pacarnya. Ia berpikir sejenak apakah harus mengangkat atau membiarkan, tapi ya begitulah Aurel akan terus menelpon sampai Brian mengangkat.
-Halo ada apa Rel?
-Kamu dimana?
-dijalan
-Kamu bisa enggak jemput aku di bandara sekarang. Aku udah dilobi
-bandara? Kamu ke Indonesia?
-Surprise in kamu lah sayang....pokoknya kamu harus jemput aku, kalo kamu enggak datang aku akan tetap di bandara.
Perasaan Brian benar-benar kacau. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia tahu persis bagaimana keras kepalanya Aurel, Cewek itu pasti akan tetap kekeh dengan omongannya. Ia lalu menelpon Dony dan menjemput sahabatnya itu untuk pergi berdua. Brian tidak ingin memberi harapan apapun pada Aurel dan berusaha untuk menjaga perasaan Carmen.
"Gila, kenapa dia bisa muncul lagi sih?" Tanya Dony saat sudah masuk ke mobil Brian. Brian hanya diam dengan mata yang nampak sayu.
"Bro.. pokoknya kali ini loe jangan mikir macem-macem. Inget ada Carmen sekarang,"
"Iya gue tau, makanya gue ngajakin loe buat jemput berdua," Jawab Brian. Mereka menuju bandara dan sesampainya disana Aurel sudah menunggu di depan lobi. Sama persis sesuai dengan telponnya. Dony kembali menatap sahabatnya itu, ia tahu pasti bagaimana keadaan Brian setelah 5 tahun tidak pernah bertemu Aurel.
"Hai Dony...Hai Sayang," Sapa Aurel yang membuat Brian sedikit tidak nyaman. Ia lalu masuk ke mobil disusul Dony yang sudah meletakkan tas di bagasi.
"Eh Rel kenapa loe duduk disitu sih?" Tany dony. Brian masih diam tanpa suara.
"Biarin napa Don, Gue kan kangen banget sama Brian," Jawab Aurel manja sambil mengalungkan tangannya di leher Brian. Ia memang duduk di belakang Brian dan sengaja mengalungkan tangannya pada badan Brian. Cowok itu hanya diam tanpa ada suara apapun.
"Kita anter kemana ini?" Tanya Brian.
"Ke hotel aja, aku udah booking," Jawab Aurel. Mereka melaju menuju hotel tempat Aurel tinggal sementara. Suasana hening tidak ada satupun percakapan. Brian entahlah saat ini perasaannya tak menentu sedangkan Dony mencoba untuk tidak ikut campur.
"Bri...kamu kenapa sih cuek banget sama aku?"TAnya Aurel yang mulai geram.
"Cuek apa? biasa aja,"
"Kamu enggak seneng aku balik ke Indonesia? Bukannya kamu yang mohon ke aku dulu buat tinggal disini,"
"udah stop aurel, aku lagi nyetir," Kata Brian sedikit meninggikan suaranya. Kini Dony ikut bersuara.
"Loe lama di sini?" TAnyanya.
"Sementara mungkin 2 mingguan untuk ngurus kepindahan. Setelah itu gue bakal nyari tempat tinggal dan menetap disini," Jawab Aurel yang membuat Brian semakin kesal.
"kamu mending tetep di sana aja deh, enggak usah balik kesini,"
"kenapa kamu ngomong gitu Bri?"
"siapa yang akan jagain kamu disini ?" Ucap Brian. Aurel memundurkan duduknya.
"Kamu tau enggak perjuanganku bisa sampai kesini lagi? ngasih pengertian sama ortu biar aku diijinkan,"
Brian yang sudah tidak sanggup lagi menepikan mobilnya.
"Apa dia sudah punya pacar?" Tanya Aurel. Dony diam, ia semakin bingung.
"Don, jawab," Tanya aurel lagi. Ia semakin menangis menjadi-jadi.
"Udah rel, kita ke hotel dulu ya, nanti kalo udah tenang aku ceritain semuanya," Kata Dony. ia lalu mengantarkan Aurel ke hotel. Dony menunggu aurel di restoran hotel, ia sengaja menunggu Aurel sampai keadaannya membaik. Sambil menunggu pesanan makan siang, ia mengirim pesan kepada Brian dan mengatakan bahwa Aurel sudah sampai hotelnya dengan selamat. Tanpa ia sadari Aurel sudah menghampirinya.
"Loe udah lebih tenang?" Tanya Dony.
"Ceritain ke gue gimana keadaan Brian dan kenapa dia bisa cuek banget sama gue," Kata Aurel.
"Rel, loe makan dulu,"
"Udah ayo ceritain,"
"Butuh 5 tahun setelah hari itu buat Brian bisa ngebuka hatinya buat orang baru. Selama ini hidupnya benar-benar kacau rel. Gue mohon sama loe jangan ganggu kehidupan dia lagi ya...pliss,"
"Siapa pacarnya sekarang? apakah dia lebih baik dariku?"
"Biar Brian sendiri yang jelasin. Gue enggak berhak," Jawab Dony. Ia lalu pamit undur diri dari aurel dan pergi ke rumah Brian untuk mengembalikan mobil.
Sesampainya di rumah Brian, Dony langsung menuju kamar Brian. Dony memang sering ke rumah sahabatnya ini hingga ia sudah hafal betul setiap ruangan disini. Ia duduk di sofa kamar Brian yang sangat luas sambil menunggu cowok dingin itu keluar kamar mandi. 'sepertinya itu anak benar-benar dalam masalah'Gumamnya. Brian keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang ia lilitkan dipinggang.
"Dari kapan loe disini?" Tanya pada Dony.
"Nungguin pangeran kodok mandi,"
"Udah loe antar sampai hotelnya?"
"loe beneran enggak bales pesan gue ya? gimana perasaan loe? udah lebih tenang?"
"Gue masih syok aja sama kedatangan dia,"
"trus udah tau gini, loe gimana?"
"Gimana apanya? kita udah lama putus Don, sekarang gue udah ada Carmen,"
"Tapi dia kesini buat loe Yan. Mending loe jelasin sendiri aja deh. Kalo perlu lo kenalin Carmen sama dia," Kata Dony. Brian hanya diam. Ia lalu duduk di sofa setelah mengganti pakaian dengan kaos dan celana boxer.
"Gimanapun juga loe harus segera selesaikan sebelum ini akan jadi boom waktu antara kalian bertiga," Lanjut dony. Ia sudah bersiap berdiri dan pamit pulang.
"mau kemana loe?"
"Gue pulang Yan, ada kerjaan tadi di rumah. Loe sih telpon panik gitu gue pikir ada apa?"
Dony sudah keluar rumah Brian, ia sudah memesan taxi dan pergi meninggalkan rumah besar dan megah kelarga Brian. Sementara Brian masih saja duduk diam memikirkan banyak hal. Tentang bagaimana ia harus menjelaskan pada Carmen, menyelesaikan hubungannya dengan Aurel dan banyak lagi. Tiba-tba ponselnya berbunyi panggilan dari Carmen.
-aku udah sampai rumah dengan selamat pa bos
-syukurlah kalau kau udah sampai rumah. Sekarang lagi ngapain?
-nunggu masakan kakakku selesai, trus makan. Kamu udah makan?
-yah, bentar lagi aku makan. Yaudah hati-hati ya disana. Besok aku jemput di stasiun.
-Iya..dadada aku family time dulu ya
-iya sayangggg
Panggilan selesai. Ia lalu berjalan menuju kasur dan merebahkan diri melepas penat.
"Bagaimana bisa aku ragu, padahal aku sudah komitmen sedari awal. Maaf Carmen aku sempat bingung namun sekarang aku tak akan ragu lagi," Ucapnya pada diri sendiri.