CARMEN

CARMEN
PERTEMUAN TAK TERDUGA



Mobil mewah berwarna hitam sudah terparkir di depan sebuah kompleks apartemen yang berada dipusat kota. Carmen turun dari mobil diikuti Brian yang sebelumnya menyapa penjaga. Setelah melalui malam panjang dalam cerita masa lalu masing-masing mereka bergandengan tangan menuju apartemen Carmen yang terletak di lantai 4. Dengan sesekali menebar tawa karena candaan mereka dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu perlahan-lahan berjalan beriringan ingin segera melepas lelah.


Brian tentu saja tak ingin cepat pulang, diperjalanan pulang tadi ia memesan makanan untuk dinikmati setelah Sampek apartemen Carmen. Tiba-tiba mata mereka tertuju pada sosok cowok berkemeja rapi sambil menenteng makanan dan tas sedang berdiri di depan pintu rumah Carmen.


"Kak Daniel.." seru Carmen. Ia ingin melepaskan tangannya dari lengan Brian tapi buru-buru didekap erat.


"Ehmmm...tadi barang kamu ada yang ketinggalan di kantor," Jawab Daniel canggung. Ia sempat memperhatikan Brian.


Carmen melangkah mendekati Daniel dan mengambil barangnya. Brian menatap tajam Daniel dan memperhatikan Carmen sesaat.


"Jadi bos kamu di kantor itu dia??" tanya Brian selidik.


Carmen hanya mengangguk.


"makasih pak, maaf merepotkan. harusnya tadi ditinggal aja gak papa, besok bisa saya ambil,"


daniel tidak menjawab. Ia ikut menatap Brian lekat.


"oh iya pak, kenalkan ini Brian," buru-buru carmen mencairkan suasana.


"Brian mengulurkan tangannya ke arah Daniel. Daniel menjabat tangan itu.


"Brian, pacarnya Carmen," ucap Brian penuh penekanan.


betapa kagetnya Daniel mendengar ucapan cowok ganteng yang ia prediksi berumur 2 tahun di bawahnya. Daniel tidak menjawab.


"Kita berdua mau makan di rumah, sekalian aja ayo masuk. Anggap saja sebagai pacar saya mengundang atasan pacar saya untuk makan bersama," ajak Brian lagi-lagi dengan memberi penekanan pada kata pacar.


Daniel menerima tawaran itu, sebenarnya ia ragu awalnya tapi ia menjadi ingin tahu seperti apa hubungan mantan pacarnya dengan pacar barunya itu. Daniel duduk di sofa sementara Brian menuju dapur untuk menyiapkan peralatan makan. Mata Daniel sangat geram dengan Brian karena terlihat jelas bahwa cowok itu sering ke apartemen Carmen. Terlihat dari bagaimana ia begitu hafal dengan letak peralatan dapur.


Makanan sudah tersaji, mereka berdua sudah duduk sementara Carmen masih mandi.


" kayaknya untuk posisi sebagai pacar love sering ya datang kesini?" selidik Daniel tajam.


"Iyah, setiap hari. Tempat ini begitu nyaman untuk ku datangi setiap hari," jawab Brian tak kalah tajam.


"Sudah berapa lama loe kenal Carmen?,"


"Sepertinya pertanyaan ini berasal dari mantan pacar bukan atasan,"


"seberapa banyak yang dia ceritakan tentang gue?"


"Enggak banyak, hanya seputar bagaimana cara kalian kenal, bagaimana cara kalian berpisah,"


"loe cuma iseng apa serius sama Carmen?"


"Pertanyaan yang tidak perlu gue jawab kan?"


"Inget ya, gue adalah orang yang akan berdiri di belakang Carmen saat low selesai sama dia,"


"Bukannya itu yang sekarang gue lakuin. Gue adalah orang yang berdiri di belakang Carmen saat dia sudah selesai sama loe,"


"oh iya, perusahaan yang sekarang menjadi client terbesar loe apa loe enggak tertarik siapa direkturnya?" tanya Brian.


"Gue bisa aja mempersulit kalo loe masih gangguin kehidupan Carmen dan gue," lanjut nya.


Daniel sudah tak mampu berada di tempat itu. ia segera keluar dan pergi meninggalkan Brian yang sudah tersenyum puas. Carmen keluar kamar sambil mengeringkan rambutnya. Brian terkejut dengan aktivitas itu.


" pak Daniel kemana?" tanyanya


"pamit pulang, ada keperluan mendadak," jawab Brian.


"yakin ?? enggak kamu usir kan?"


"udah...itu enggak penting, yang penting sekarang jangan bawa handuk dengan rambut basah di depan cowok lain selain aku,"


"yeee. kenapa emangnya?? rambut aku belum kering,"


"selain aku enggak boleh ada yang liat, udah ayok makan,"


mereka menikmati makan malam dengan suka cita.


"untung aja aku udah ceritain ke kamu masa laluku," kata Carmen.


"Sayang, kamu keluar aja dari perusahaan dia. Kalo kamu masih mau kerja di tempat aku aja ya,"


"mulai deh posesifnya,"


"aku enggak posesif aja, aku cuma....,"


"kamu percaya kan sama aku?"


Brian mengangguk. Carmen memberi kecupan di pipi Brian.


"yaudah, kamu percaya sama aku. mana mungkin aku berpaling dari cowok paling keren dan famous kayak kamu," hahahahah


"ohhh udah mulai genit ya kamu," kata Brian mencubit pipi Carmen yang membuat gadis manis itu kesakitan.


####


Daniel menyetir mobilnya dengan lambat dan tak fokus. Jari jemarinya tak henti dimainkan seperti orang yang tak tenang. meski pandangan ke depan, tapi terlihat dari sorot matanya tak fokus. Dia benar-benar aneh dengan dirinya sendiri. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, mulutnya ikut komat-kamit mengucap segala sesuatu yang tentang penyesalan dan kesedihan. Dia sedang terluka.


"seandainya dulu loe lebih bijak Niel," teriaknya di mobil. Hanya suara mesin dan klakson kendaraan lain yang terdengar. Daniel seperti orang linglung tak tau tujuan. cewek yang selama ini dia pikirkan akhirnya hilang sudah. Cukup penyesalan karena telah menyakitinya berharap akan memperbaiki semuanya, ia malah mengetahui sebuah fakta bahwa ia telah menjadi milik orang lain.


mobilnya memasuki sebuah rumah mewah yang didominasi cat cokelat dengan interior klasik nan elegan. Mobil ia parkir sembarangan karena ia bergegas masuk rumah, menuju kamarnya dan mengambil sebuah kotak tua terbuat dari kayu jati. Kotak yang selalu ia bawa kemana-mana bahkan saat ia harus lama merawat sang kakek di Singapura. Perlahan ia buka kotak kayu itu dan mengambil sebuah foto.


yeah foto dirinya bersama Carmen dulu saat masih pacaran masih ia simpan. tak terasa air mata mengalir dari sudut matanya menandakan bahwa ia benar-benar menyesal pada dirinya sendiri.


"Gue emang terlambat mengetahui, gue salah Carmen. jangan hukum gue kayak gini," ujarnya dengan kepala menunduk.


ia duduk di kursi yang cukup besar di pojok kamarnya. Menyulut sebatang rokok dan dalam-dalam merenungi kehidupannya. Kepada siapa lagi dia berharap, sedangkan sosok itu telah bersama orang lain. Brian, tak mungkin mudah lepas dari genggaman cowok itu jika tidak ia dibuang. Dia orang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis dan sangat dihormati.


"Haruskah aku menjalani hidup tanpa tujuan seperti ini. Carmen kamu benar-benar membuatku tidak bisa melihat perempuan lain," desahnya lagi sambil menatap dalam foto gadis yang selalu ada dalam hatinya itu.


Awalnya dengan memutuskan cinta dengan Carmen akan membuatnya baik-baik saja. Tapi ternyata salah, ia tak baik-baik saja. Ia hidup dalam kesedihan, kesepian dan penyesalan. Ia tahu bahwa ia sudah menyakiti Carmen berkali lipat sejak membawa perempuan lain sambil memutuskan hubungan dengan Carmen. Sungguh tindakan yang angkuh.


Tak berapa lama petir menyambar di langit malam kota S. Menemani lelaki yang sudah tak tau lagi harus kemana, segala upayanya untuk merebut kembali gadis yang ia cintai telah sirna dalam sekejap mata. Untuk pertama kalinya ia merasa gagal atas rencananya sendiri.