CARMEN

CARMEN
SENYUM PERTAMANYA



Suasana kampus sudah sepi saat Carmen berjalan menyusuri lorong di waktu petang. Jam menunjukkan pukul 8 malam saat Carmen baru saja keluar dari ruang 3 setelah menghadap ke salah satu dosen untuk keperluan kompetisi fotografi yang akan diikuti Carmen pekan depan. Dosennya itu memang sudah tahu bakat Carmen, sehingga mengajak nya untuk bergabung di UKM Fotografi. Tak banyak yang bisa katakan saat itu mengingat dia adalah anak baru di kampus ini.


"Baru pulang?" Tanya seseorang mengagetkan Carmen yang sebelumnya fokus berjalan.


"Kak Brian belum pulang?" Tanya Carmen. Brian memberi sebotol minuman yogurt.


"Mau sambil minum?" Kata Brian. Carmen mengambil minuman itu. Mereka kemudian duduk di kursi taman. Meski malam, taman masih ada orang. Kami duduk dalam keheningan sebelum akhirnya Brian memulai pembicaraan.


"Kamu jam segini baru pulang?" Tanya Brian.


"Iya, kak tadi ada ketemu sama pak Farid masalah kompetisi foto pekan depan," Jawab Carmen sambil meneguk minuman. Brian memandangi cukup lama, sampai akhirnya Carmen tak sengaja beradu pandang.


"Kenapa kak? ada yang salah?"Tanya Carmen.


"Enggak papa, kamu kalo capek jangan terlalu dipaksain, badan kamu ringkih gitu," Katanya. Carmen makin menatapnya tajam.


"Maksudnya apa?" Batin Carmen.


"Gini-gini aku juga atlit kak dulu tapi," Jawab Carmen asal. Inilah yang ingin Brian tegaskan. Akhirnya pembicaraan itu dimulai.


"Jadi kamu pernah jadi atlit apa Car?" Tanya Brian. Carmen kembali meneguk minuman sebelum menjawab.


"Dulu banget tapi pernah main basket, sempat juga memperkuat tim di ajang antar sekolah. Tapi..... udah dulu banget kak, setelah itu udah gak pernah lagi," Jawab Carmen.


"Tapi reflek kamu masih oke,"Katanya. Carmen berpikir sebentar sebelum akhirnya paham.


"Namanya aja upaya penyelamatan diri kak," Jawab Carmen sekadarnya. Brian tersenyum atas ucapan barusan. Carmen makin heran. Ia coba rapikan rambut panjangnya. Tidak ada yang salah. Lalu apa?


"Kamu mau enggak gabung di UKM futsal cewek, tenang aja nanti aku ajari pelan-pelan," Tanya Brian.


"Aku enggak pernah main futsal kak,"Jawab Carmen.


"Tapi kamu ada basic di bola. Jadi gini, salah satu pemain utama futsal cewek cidera sedangkan dua Minggu lagi akan ada pertandingan persahabatan dengan mesin. Kamu tahu kan, persahabatan itu hanya embel-embel saja karena sebenarnya ini adalah persaingan," Jelasnya. Carmen diam sejenak.


"Kenapa harus aku? aku masih awam kak,"Tanya Carmen. Brian seperti berpikir.


" enggak tau juga, feeling aku aja yang yakin kalo kamu mampu,"Jawabnya.


"eh btw Carmen, dari kapan ya kita mulai 'aku jamuan' gini?" Tanya Brian lagi. Aku mengangkat bahu.


"Tapi sepertinya kita gini aja kali ya?"Lanjutnya.


"Maksudnya kak?"Tanya Carmen masih bingung. Brian senyum lebar. Carmen makin heran dengan tingkah Brian. Untuk pertama kalinya ia melihat Brian tersenyum di depannya, bahkan ia masih bingung untuk apa dia tersenyum.


Meskipun tidak tahu kenapa Carmen merasa bahagia saja. Senang melihat senyum Brian yang pasti merupakan dambaan semua cewek di kampus ini untuk bisa melihat senyumannya.


"Jadi gimana Carmen? mau join klub kan?"Tanya Brian mengagetkan lamunan liar Carmen.


"Iya udah kak, tapi aku gak punya sepatu buat futsal, baju juga gak ada," Kata Carmen.


"Kamu tenang aja, Yuk sekarang kita beli barang yang kamu perlukan"Jawab Brian.


"Sekarang banget??" Tanya Carmen. Brian menarik tangannya.


####


Brian masih sibuk memilih beberapa setelan kaos dan celana untuk futsal. Ia memilih pakaian yang memang cocok dipakai Carmen. Meskipun ia sedikit paham bahwa Carmen adalah tipikal cewek yang akan pantas memakai pakaian jenis apapun. Tapi tetap saja ia begitu senang hubungannya ada perkembangan minimal belanja keperluannya bareng bukankah itu sudah Swittt kata anak jaman sekarang.


"Kak, gimana sama sepatu ini?" Tanya Carmen menunjukkan sepatu yang ia pakai ke Brian.


"Bagus juga selera kamu Car, nyaman dipakai enggak?" Jawab Brian.


"Iya nyaman kak, yaudah aku Bungkus ini aja ya? " Sahut Carmen. Dia kemudian menuju ke petugas toko untuk mengkonfirmasi. Setelahnya ia kembali ke Brian.


"Udah dapat belum kak? sementara beli 2 setel aja kak, kan aku proses mencoba,"Kata Carmen. Brian kemudian memberikan 3 setel kostum futsal.


"Ini kamu cek ukurannya," Kata Brian. Carmen melihat dan mencoba pakaian itu. Ternyata sangat pas. "Kak Brian bisa tahu banget ukuran gue," Gumamnya.


Ia lalu menyerahkan ke mbak toko lagi. Setelah itu ia ke kasir dan sudah mendapati Brian di kasir menyerahkan kartu debitnya.


"Enggak usah kak, biar Aku bayar sendiri aja,"Sanggah Carmen. Brian menoleh Carmen.


"Udah terlanjur diterima Carmen, gapapa,"Jawab Brian singkat.


"Yaudah habis berapa mbak," Tanya Carmen pada mbak kasir.


"Satu juta tiga ratus dua puluh lima mbak,"Jawab mbak kasir.


"Kak kirim nomer rekening kak Brian,"Kata Carmen. Brian diam tak menghiraukan. selesai transaksi ia lalu mengambil tas belanjaan Carmen dan berlalu pergi. Carmen mengikuti dari belakang.


Brian masih diam seribu bahasa. Ia lalu berjalan menuju sebuah restoran Jepang di mall itu. Carmen masih mengikuti dari belakang. Ia mengambil tempat duduk di pojokan kemudian memanggil pelayan disana.


"Kamu mau makan apa Carmen?"Tanya Brian.


"Beef bowl aja kak, minumnya lemonade,"Jawab Carmen. Brian lalu memesan beberapa makanan. Sambil menunggu pesanan datang, Carmen kembali bertanya kepada Brian tentang pembayaran tadi.


"Kak, jadi mana Nomer rekeningnya, biar aku bisa langsung transfer?"Tanya Carmen. Brian menghentikan aktivitas nya bermain ponsel.


"Carmen aku tau kamu ceweknya enggak mau menerima pemberian cowok, tapi boleh sekali aja aku beliin sesuatu buat kamu. Anggap saja ini sebagai tanda terimakasih karena kamu budah mau gabung sama futsal," Jawab Brian. Carmen agak tiday enak hati, tapi lebih tidak enak hati lagi jika masih berargumen dan malah menyinggung Brian.


Makanan pun datang. Carmen dengan lahap menikmati makanan itu, maklum perutnya sudah lapar dan makanan ini sungguh benar-benar enak. Brian hanya tersenyum melihat cewek didepannya makan dengan lahapnya.


"Pelan-pelan makannya nanti kesedak Lo," Goda Brian. Carmen hanya nyengir saja. Dia sedikit malu karena kekhilafan nya. Mereka kembali fokus makanan masing-masing.


"Stop kak, kali ini aku yang bayar!"Kata Carmen memegang lengan Brian. Carmen menatap Brian dengan tatapan memohon, akhirnya Brian luluh juga dengan Carmen.


Setelah membayar makanan mereka berjalan beriringan menuju parkir mobil. Suasana mall kala itu lengang, maklumlah sudah malam. Carmen juga sudah letih. Setelah memasang self belt ia benar-benar menyandarkan punggungnya. Brian melihat Carmen sekilas.


"Capek ya?"Tanyanya. Carmen hanya mengangguk. Mobil melaju meninggalkan parkiran. Sepanjang jalan Carmen hanya diam mendengarkan musik yang sengaja disetel Brian. Setengah jam kemudian mereka sampai apartemen Carmen.


"Kak, makasih ya buat hari ini, makasih juga sepatunya," Kata Carmen sebelum dia pergi meninggalkan Brian yang masih menunggu sampai Carmen benar-benar masuk ke dalam. Dalam perjalanan pulang dia sangat bahagia dan tak henti senyum-senyum sendiri sambil mendengarkan musik yang masih disetel.


"Jadi gini ya rasanya kencan pertama," Katanya diselingi musik dan mobil yang melaju membelah jalanan kota S yang makin malam masih rame lalu lalang kendaraan.


####