
Pagi-pagi sekali Brian sudah bersiap. Hari ini dia sudah janji akan menemani Carmen ke perusahaan Good idea, perusahaan yang cukup terkenal dibidang industri kreatif. Sebenarnya Brian memiliki tujuan lain yakni bisa berduaan saja dengan Carmen. Sepertinya dia memang sedang dimabuk cinta dan akhirnya menjadi budak cinta hahahah. Yah, dia sadar sepenuhnya jika hubungannya Carmen belum ke tahap pacaran. Dia hanya ingin Carmen juga merasakan indahnya jatuh cinta padanya.
"Mana ada cewek berpaling dari gue? jelas-jelas keren banget gini," Ucapnya saat bercermin membenarkan rambutnya. Ia sengaja berpenampilan kasual tapi tetap sopan. Setelah semua sudah selesai, ia keluar rumah menuju garasi untuk mengambil mobil.
"Tuan muda, saya hanya mengingatkan saja bahwa hari ini Nyonya pulang, harap nanti bisa menyempatkan waktu makan malam bersama," Kata pak Hari sekretaris pribadi keluarga Brian. Ia hanya menoleh lalu kembali melanjutkan rutinitasnya.
Mobil hitam sudah keluar dari kediaman Brian. Mobil melaju sedikit pelan karena hari masih pagi, ia yakin bahwa Carmen pasti belum siap. Brian hanya tidak ingin terlihat begitu excited. Ia harus menarik ulur. 30 menit kemudian setelah memarkir mobil, cowok tinggi putih tersebut sudah berada di lift menuju apartemen Carmen.
"Silahkan masuk kak," Ucap Carmen setelah melihat Brian sudah berdiri di depan pintunya. Keren banget nih cowok.
"Kamu udah siap?" Tanya Brian setelah duduk di sofa. Carmen masih berdiri di seberang sofa.
"Udah sih kak, tapi baru aja dapat pesan email, CEO nya baru bisa ditemui pukul 9. Kurang 2 jam lagi. Kak Brian udah sarapan? " Tanya Carmen. Brian menggeleng. Ia lalu memperhatikan Carmen yang sudah berjalan menuju dapur membuat sesuatu. 'Untung saja tadi gue engga sarapan dulu' Gumam Brian.
"Kak Brian maaf loh sekali lagi, gara-gara aku ngomong pagi-pagi banget sampai kak Brian enggak sempat sarapan," Kata Carmen sambil mengoleskan mentega di rotinya. Ia berencana membuat sandwich untuk sarapan mereka berdua.
"Santai aja Carmen, emang sengaja aku enggak sarapan biar bisa kamu buatin sarapannya," Jawab Brian tanpa ada rasa bersalah. Carmen yang mendengar ucapan tak terduga lagi-lagi dibuat salah tingkah. IA sada sepenuhnya bahwa aktifitas yang sedang mereka lakukan ini sangat akrab dan intens. Ia bahkan tidak berani membayangkan bahwa cowok ganteng dan terkeren di kampusnya itu saat ini bisa duduk manis di sofanya sementara dia membuatkan sarapan.
"Ini kak, kita sarapan ini aja ya?" Ucap Carmen sembari menyerahkan sepiring sandwich. Tanpa aba-aba Brian sudah mencomot rotinya.
"Portofolio yan diperlukan udah kamu siapkan?" Tanyanya di tengaj lahapnya makan.
"Udah semua kak,"
Mereka sudah berada di mobil dan bersiap berangkat, Carmen mengikat rambut terurainya agar lebih rapi sementara Brian menoleh ke kaca sebelum mulai menyetir. Mobil mereka berjalan lambat karena jalanan kota S yang mulai padat merayap meski tidak macet parah. Jam-jam berangkat kerja dan sekolah sudah menjdi maklum.
"Emang kamu udah tahu siapa CEO nya?" Tanya Brian.
"Aku enggak begitu mengikuti sih kak, Kayaknya dia baik deh. Lagian kada pak Bundi CEO nya ini keponakannya," Jawab Carmen membenarkan kembali polesan bedaknya.
"Yaudah nanti aku nunggu di lobinya aja ya?" Kata Brian. Carmen mengangguk. Kurang lebih 45 menit perjalanan karena jalanan yang memang ramai. Brian duduk di sofa ruang tunggu yang nyaman sementara Carmen sudah menuju ruang CEO di antar oleh sekretaris pribadi.
"Anda sudah kenal dengan pak Daniel sebelumnya?" Tanya Susi, sekretaris CEO.
"Belum pernah bertemu, tapi saya mendapat rekomendasi dari dosen,"
Mereka sudah sampa di sebuah ruangan yang sangat luas dan tertata rapi dengan beberapa alat peraga dan meja besar untuk tamu. Susi mempersilahkan Carmen untuk menunggu di kursi itu, CEO masih ada kepentingan sebentar, dengan hati tak karuan dan pacuan jantung yang makin cepat Carmen kembali membaca portofolio yang sudah ia siapkan semalaman. Saking seriusnya membaca ia bahkan tidal menyadari kehadiran orang di depannya.
"apa kamu mahasiswa yang direkomendasikan Pak Bundi untuk part time di sini?" Tanya orang itu. Carmen mangangkat kepalanya dan bersiap-siap menyapa orang di depannya. Namun, betapa terkejutnya Carmen setelah tahu siapa sosok di depannya.
"Daniel??" Ucap Carmen dengan ekspresi yang susah dideskripsikan. campur aduk. Daniel juga tak kalah keget dengan sosok cewek di depannya. Sosok yang selama ini ia rindukan dan ia inginkan untuk bertemu.
"Carmen?" Sahutnya. Carmen membenarkan letak kacamatanya. 'benar, dia Daniel Reigan' GUmam Carmen. Daniel Reigan adalah mantan Carmen saat masih SMA. Ia memang berpacaran dengan cowok yang lumayan jauh selisih umurnya. Sekitar 4 tahun di atasnya.
"JAdi kamu mahasiswa rekomendasi om Bundi?" Tanyanya balik.
"Kamu apa kabar Carmen, sudah lama kita enggak ketemu. Kamu makin cantik saja," TAnya Daniel memecah kecanggungan yang terjadi.
"Baik Dan, maksud saya baik presdir seperti yang anda lihat," Jawab Carmen. Daniel tertawa lepas.
hahahah "JAngan terlalu sopan sama aku, mari kita bicarakan sambil duduk santai," Ucapnya. Mereka lalu duduk dan Carmen menyerahkan portofolionya. Daniel memeriksa dengan seksama setiap lembarnya. Suasana hening beberapa waktu hingga Daniel membuka pembicaraan.
"Aku sudah tau pasti kemampuan kamu di bidang ini Tidak perlu aku ragukan lagi," JAwabnya. Carmen hanya mengangguk saja. Cowok itu lalu menatap Carmen sekilas.
"Kamu datang kesini sama siapa?" Tanyanya.
"maaf pak saya pikir itu bukan pertanyaan yang berkaitan dengan karya saya," Jawab Carmen.
hahahahahah " kamu masih sama seperti dulu. Tak terduga," Jawbnya. Suasana kembali hening.
"Ada beberapa foto dan konsep yang saya coret dan tandai bisa kamu perbaiki. Ini sudah bisa masuk dalam project kami selanjutnya," Katanya penuh penekanan.
"Maksud Pak Presdir? Saya diterima kerja part tim disini?" Tanya Carmen. Daniel mengangkat alis.
"Menurut kamu? rekomendasi dosen terbaik tidak mungkin salah kan?" Katanya sambil tersenyum. Carmen tersenyum senang. IA lalu membicarakan tentang banyak hal berkaitan dengan pekerjaannya ini. Ia bersyukur karena part time di sini tidak melulu ke kantor alias bisa dikerjakan flexsibel. Itu berarti tidak mengganggu kuliahnya.
"Kalau begitu saya pamit undur diri pak presdir," Ucap Carmen.
"Tunggu, kamu enggak ada rencana buat tanya kabar aku gitu? kita udah ama lho enggak ketemu," SAhut Daniel.
"Iya maaf pak, bagaimana kabar bapak?" Tanya Carmen.
"Tadi pagi saya masih bisa makan dengan tenang, tapi setelah ketemu kamu saya jadi enggak baik-baik saja," Jawabnya. Carmen diam.
"Maaf pak saya undur diri dulu, terimakasih," Kata Carmen. Daniel terlihat kecewa dan sedih dengan respon carmen.
Carmen sudah berjalan menuju pintu utama perusahaan, Brian melihat Carmen dengan heran. Bagaimana bisa dia dilupakan carmen Pdahal jelas ia sudah menunggui di sana.
"Carmen!! gimana??" Tanyanya mendekat. Carmen terkejut.
"eh iya,, Aku udah diterima dan bisa menjadi part timer jobs disini dibagian konten foto," Jawabnya.
"Syukurlah, ayo udah sore juga. kita cari tempat makan," ajak Brian. Carmen mengikuti langkah Brian di belakang dengan perasaan yang sama. Tidak fokus.