CARMEN

CARMEN
SALAH PAHAM



Dengan langkah sedikit malas Carmen berusaha memantapkan niat ke kelas. Minggu ini akan menjadi hari berat karena ujian tengah semester sudah dimulai. Waktu terus berputar hingga tidak terasa sudah pertengahan semester. Padahal seperti baru kemarin ia ospek. Rio menepuk pundak Carmen yang membuatnya terhentak. Dengan mata melotot dan ekspresi dibuat-buat Carmen membalas Rio.


"Apaan sih Yo," Ucap Carmen. Rio hanya nyengir tak bersalah.


"Yo, gue minta tolong boleh?" Tanya Carmen.


"Apa?"


"Loe bisa kasiin ini ke Kak Brian?" Tanya Carmen. Ia lalu mengambil sebuah barang dari tasnya. Sebuah buku album foto.


"Lah kok gue? Loe kasih sendiri napa?" JAwab Rio.


"Yo, loe kan tahu, gue lagi menghindar sama dia,"Kata Carmen. Rio makin gemas dengan tingkah cewek manis itu. Ia lalu mencubit pipinya.


"uduh,, Car darikapan loe jadi mellow gini," Ucap Rio. Brian melihat perlakuan Rio terhadap Carmen. Ia sedikit kesal pasalnya akhir-akhir ini Carmen selalu menghindarinya. Bahkan sikap itu sudah ia tunjukkan sebelum kompetisi futsal berlangsung. Meski ia sudah mencoba bercerita dan meminta Dony menyelidiki tapi tetap saja taka da jawaban.


####


HAri dimana Carmen mulai menghindar.


Hari itu Brian tak bisa datang ke kampus karena ada urusan lain sehingga Carmen menitipkan ponsel Brin yang tertinggal di apartemennya kepada Dony. Ponsel adalah bendapaling penting saat ini, tapi bahkan Brian seperti tidak ada tindakan atau bahkan keinginan untuk segera mendapatkan. apa dia sebegitu tidak memerlukannya? Atau sebenarnya ponsel itu bukanlah ponsel satu-satunya? pikiran-pikiran semacam iitu yang terus menerus memenuhi kepala Carmen.


"Makasih ya kak, maaf aku repotin," Kata Carmen setelah memberikan ponsel Brian pada Dony.


"Wah udah sedekat itu ya sampai ponsel aja ketinggalan di rumah kamu," SAhut Dony menyelidik.


"Apaan sih kak, enggak kayak Kak Dony pikirkan," Jawab Carmen. Ia lalu kembali ke kelas. Semenjak itu Carmen tidak pernah lagi dekat dengan Brian, bahkan demi melakukan penghindaran itu ia sampai benar-benar menyibukkan diri dengan banyak aktivitas. Bahkan saat berlatih futsal, ia lebih sering berkumpul dengan pemain cewek-cewek lain daripada menemui Brian.


Brian bukannya tidak memperhatikan. Ia tentu merasakan keanehan Carmen. Beberapa kali ia sengaja menunggu Carmen keluar kampus tapi selalu saja tidak pernah ketemu. Pesan dan telpon jarang sekali dibalas, hanya sesekali ada jawaban, itupun saat ia menanyakan urusan futsal atau foto album timnya yang sengaja dikerjakan Carmen. Dony juga tak kalah heboh mencari petunjuk atas perubahan sikap Carmen, namun ia juga tak pernah menemukan titik terang.


Hingga suatu ketika dengan rasa penasaran yang sudah diubun-ubun dan ingin segera diluapkan, Brian menemui Rio yang merupakan teman dekat Carmen di kelasnya.


"Loe yakin enggak tahu apa-apa?" Tanya Brian. Rio menjawab tapi dengan ekspresi ragu.


"E..enggak kak, gue gak tau pasti. Intinya tolong banget jangan bikin dia enggak nyaman. Lagian fans loe kan emang banyak kak, wajar dong kalo dia merasa terganggu," Jawab Rio. Brian masih penasaran.


"Bukan salah gue kan kalo mereka ngefans sama gue, gini deh sekarang gue disini sama kayak kalian, mahasiswa juga, mereka yang mungkin kepo sama gue atau ngejadiin gue idolanya atau apalah itu mana bisa gue cegah," Jawab Brian. Rio cukup terkejut dengan jawaban Brian yang menurutnya terkesan narsis.


"Gini aja deh kak, sementara waktu jangan ganggu dia dulu ya," JAwab Rio mengakhiri perbincangan diantara keduanya.


Semantara Carmen memiliki alasannya sendiri kenapa dia menhindar dari Brian. Telpon dari cewek malam itu benar-benar telah membuat pikirannya berubah. Carmen adalah cewek yang tidak suka disinggung, jadi sebisa mungkin ia tak mau menyinggung. Ia hanya berusaha untuk tahu posisinya, Brian menurutnya memiliki level jauh di atasnya dan ia tak mau lebih jauh. Apalagi kemungkinan besar dengan tipikal cowok yang banyak digemari cewek sangat tidak mungkin jika dia masih jomblo. Siapapun pasti sudah antri untuk bisa jadi pacarnya, dan mungkin saja Carmen adalah salah satu dari antriannya. Sungguh ia tak suka berkompetisi soal cowok.


####


"jadi dia kemana?" Tanya Brian.


"Dia ada urusan mendadak kak, jadi enggak bisa ngasih sendiri," Jawab Rio.


"Kabarnya gimana?"


"Sehat, baik-baik aja," Jawab Rio.


Brian semakin heran, percakapan ini seperti dia dan Carmen sedang Ldr saja padahal mereka masih satu kampus, satu jurusan pula. Rio lalu pamit pergi karena akan segera memulai ujian tengah semester sementara Brian masih duduk di taman memeriksa album foto hasil jepretan Carmen.


"Dia memang punya bakat bro," Kata Dony membuyarkan kefokusan Brian.


"Iya, emang jepretannya bagus dan punya makna," Jawab Brian.


"Sabar aja, namanya juga cewek tergantung mood," Kata Dony menyemangati sahabatnya itu. Dony tahu betul bagaimana sobatnya itu.


Jarang sekali ia tertarik pada cewek, sekali suka pasti itu karena suka beneran. Dia bukan tipikal cowok fakboy yang gonta-ganti pasangan. Kalo dia mau, udah dari dulu dia ngelakuin itu mengingat cewek antri buat jadi pacarnya.


Di kelas lantai dua, Carmen duduk di dekat jendela yang bisa langsung melihat taman. Matanya sendu melihat Brian sedang melihat album foto karyanya. Dalam hatinya masih tak karuan, ingin rasanya ia mendengar suara Brian. Pikiran seperti itu bahkan ia tak tahu dari kapan mulai muncul. Ia bahkan tak percaya apakah benar perasaannya ini memang untuk Brian atau hanya sekedar mengagumi seperti cewek-cewek lain. Rio duduk di sebelah Carmen setelah sampai kelas.


"Kenapa sih loe enggak ma uterus terang aja dan Tanya apa cewek itu emang pacarnya Brian?" Tanyanya.


"ini itu terlalu rumit Yo, gue gak mau kepedean," JAwab Carmen.


"Tapi Carmen sayang, hidup kayak gini itu enggak enak tahu, loe itu cantik banyak banget yang ngebet deket sama loe. Mereka juga punya kesempatan sementara loe juga masih sendiri aja," Rio lalu membuka bukunya untuk sedikit mereview materi.


Carmen terdiam ia sedang kalut benar-benar kalut.


"apa gue coba tanyain aja ya? Tapi kok terkesan gue yang kepedean?" batinnya.


Dosen datang membawa lembar soal untuk UTS, sepanjang ujian Carmen tidak terlalu bisa fokus. Beberapa kali ia salah menjawab meski keseluruhan dia sudah mampu menyelesaikan. Setelah satu jam lebih menegangkan dan membuat otak sedikit bekerja keras, ujian hari ini usai. Dosen belum enggan keluar kelas sehingga mahasiswa menghormati untuk tidak keluar kelas.


"Lama banget dosennya keluar," Bisik Rio. Tak lama dosen pun pamit dan satu persatu anak sudah keluar. Dengan kecepatan kilat Carmen berusaha untuk keluar kelas dan segera pulang. Ia berharap tidak melihat atau terlihat oleh Brian. Saat pintu kelas dibuka, cowok tinggi, putih bersih dengan mata tajam menatap Carmen. Cewek cantik itupun kaget bukan kepalang.


"Kak Brian," Sahutnya. Beberapa cewek dikelasnya mulai terlihat histeris.


Carmen ada yang pengen aku tanyain, bisa kita ngobrol sebentar? Kata Brian masih menatap Carmen yang membuat cewek di depannya itu hanya mengangguk dan mengikutinya dari belakang.


####