CARMEN

CARMEN
PERTEMUAN TAK TERDUGA



Brian masih membuka lembar demi lembar sebuah galeri foto hasil karya Carmen. Caption yang Carmen sematkan dalam setiap foto tak luput dari perhatiannya.


"Dia puitis juga," Gumamnya. Ospek hari keempat telah berakhir. Rencananya dia ingin langsung pulang, tapi matanya terus saja tertarik dengan buku album foto yang dikumpulkan Carmen sebelum pulang tadi. Sederhana tapi menarik.


"Kenapa foto gue minim banget ya? padahal gue kapten tim," Ucapnya. Ia heran bagaimana bisa foto2 dia hanya 1 lembar saja, sedangkan pemain central adalah dia. Sedang asiknya membuka foto2, Doni datang merebut buku itu.


"Lihat apaan serius banget?" Katanya. Brian tak merebut kembali, ia hanya diam saja. Doni membuka dengan cepat.


"Dia punya bakat potografi juga, hasil jepretannya bagus juga," Kata Doni. Brian lagi-lagi hanya diam.


"Loe ada acara habis ini?"Tanya Doni. Brian menggeleng.


"Kita ke cgv yuk, ada film bagus Minggu ini, sayang kalau enggak nonton," Ajaknya. Brian mengangguk. Doni sempat heran. Tumben anak ini mau diajak nonton.


####


Suasana masih lengang saat Doni dan Brian duduk di kursi bioskop. Malam ini entah apa yang membuatnya mau membuang waktunya nonton film bersama sahabatnya itu. Sambil menunggu pemutaran, ia memainkan ponsel dan kepo dengan medsos Carmen.


"Foto dia sama sekali gak ada," Pikir Brian. Tapi entah kenapa dia lega, cewek yang beberapa hari ini menarik perhatiannya memang sesuai dengan tipe nya.


"Eh Yan, itu bukannya Carmen?" tunjuk Doni. Brian menoleh ke arah itu. Matanya melotot melihat Carmen sedang mencari tempat duduk, tepat di belakangnya cowok mengikuti langkah Carmen.


"Panggil enggak?"Tanya Doni.


"Gausah, dia lagi ngedate, jangan ganggu !!" Jawab Brian. Doni bukannya tidak mengenal Brian. Dia hanya memancing.


Sepanjang pemutaran film, Brian tidak fokus. Matanya terus melihat ke arah kursi Carmen. Meski dia mencoba mengendalikan diri. Tapi yang namanya indera tak mudah dibohongi bahwa dia sedang menaruh perhatian lebih pada cewek baru itu.


"Udah selesai. Kita cabut aja,"Ajak Brian setelah film selesai. Doni yang terheran-heran dengan sikap Brian segera menyusul sahabatnya itu.


Brian diam saja dari awal pemutaran sampai sekarang sudah sampai di parkiran. Doni segera memberi tepukan di pundak Brian dan berkata singkat.


"Mutiara emang banyak diperebutkan bro," Ucapnya. Brian kaget.


"Jangan sembarangan kalo ngomong ya, gue mana tertarik sama cewek begituan," Jawab Brian sebelum berlalu meninggalkan Doni.


####


Sebuah mobil berwarna hitam sudah memasuki halaman rumah yang berlantai 3 tersebut. Brian keluar dari mobilnya dan masuk ke rumah yang sangat besar tersebut. Yah, dia hanya tinggal sendiri dengan rumah sebesar itu. Orang tua nya sudah setahun terakhir pindah ke Singapura karena kepentingan bisnis. Sebagai anak tunggal dan harus menyelesaikan pendidikannya jadilah dia mendiami rumah besar sendirian hanya dengan beberapa asisten dan sopir yang jarang sekali dia minta bantuan.


Brian memang tipikal orang yang sangat tertutup. Ia berangkat pagi dan pulang malam. Jarang ada waktu berdiam di rumah ataupun sekedar ngobrol dengan pembantunya.


"Dasar, kenapa gue masih kepikiran juga,"Kesalnya. Handuk masih ia lilitkan. Ia baru saja selesai mandi dan menyalakan TV di kamar. Sambil memilih kaos dan celana pendek untuk persiapan tidur, ia kembali mengumpat.


"Sekali ketemu yang cocok, malah udah punya cowok," Fix dia tidak bisa tidur. Pikirannya menerawang jauh dan Carmen masih membayangi matanya.


Kisah masa lalu sudah ia kubur dalam-dalam. Dirinya sudah sepenuhnya move on dan menjalani kehidupan dengan normal hingga Carmen menarik perhatiannya. Yah, entah dari kapan ia merasa bahwa Carmen berhasil mengisi sebagian kekosongan di dalam lubuk hatinya. Meski hubungannya tak bisa dikatakan dekat, tapi Carmen adalah cewek yang ingin dia ajak bercerita tentangnya.


Perasaanya masih campur aduk. Ia masih kesal melihat Carmen jalan dengan cowok lain. Mungkinkah itu pacarnya? Padahal planing itu sudah tertata. Seusai ospek dia ingin menjalin hubungan lebih dekat dengan cewek cantik itu. Tapi apalah mau dibuat yang Brian tahu saat ini Carmen sudah punya pacar. Hubungan sedekat apa jika levelnya sudah nonton bareng.


Ponselnya berdering. Carmen memanggil dari seberang sana. Ada apa? Tumben?


-Halo kak Brian?


-Iya, ada apa Carmen?


- Kak maaf ganggu malam-malam. Aku mau tanya kalo izin enggak bisa masuk ospek besok aku harus kemana ya?


Brian semakin kesal. Malam-malam begini telpon cuma mau tanya perizinan.


-Enggak bisa izin, ospek harus tetap masuk. Lagian cuma tinggal besok aja kenapa izin segala.


- Ada kepentingan keluarga mendadak kak.


Setelah menjelaskan kepada Carmen. Brian menutup telpon dan kembali bersandar di sofa kamar. Kepentingan mendadak se penting apa sampai malam-malam gini telpon. Ia kembali mengotak-atik ponselnya. Mencari nama kontak sahabatnya.


-Don, besok Carmen enggak bisa ikut penutupan ospek. Dia izin ada kepentingan keluarga mendadak


-Oke Yan, loe gapapa kan?


-Apaan sih loe. Udah gue mau tidur


Kalo saja dia mau tanya kepentingan apa secara detail tidak perlu dia kepikiran dan gelisah begini. Argghhh dasar gengsi terlalu tinggi membuatnya repot sendiri. Tapi yaudah lah, Brian berusaha untuk tetap tidur. Besok akan menjadi hari yang panjang.


Sementara itu, Carmen bersandar di sofa setelah memasukkan beberapa baju ganti. Satu jam sebelumnya, mamanya menelpon dan memberi kabar bahwa papanya tiba-tiba pingsan di kantor dan sekarang sedang berada di ruang ICU. Ia cemas tapi tetap berusaha tenang. Tiket kereta sudah ia pesan, Sejam lagi jadwal keberangkatan. Tidak terlalu jauh jarak stasiun dengan apartemennya. Sambil menunggu taxi online yang ia pesan dia menelpon Brian. Carmen hanya mengerti nomer kontak cowok dingin itu karena posisinya sebagai mentor kelompok. Sebenarnya sayang sekali ia melewatkan ospek terakhir. Tapi bagaimana lagi, papa lebih penting.


Suara panggilan diujung sana. Nadanya sinis. Tapi Carmen harus tetap mengatakan. Tak ada jawaban pasti, Brian tak memberi jawaban pasti yang melegakan. Hanya "Yaudah gue coba ijinin besok," Jawab Brian di ujung sana. Bersamaan dengan itu taxi sudah datang. Carmen menarik koper keluar rumah dan menemui sopir taxi online.


"Malam-malam begini berangkat sendirian mbak ke stasiun?" Tanya bapak sopir yang ia perkirakan umurnya sama dengan papanya.


"Iya pak, ada urusan keluarga penting ke kota M," Jawab Carmen. Mobil melaju cepat menuju stasiun. Carmen memperhatikan jalanan kota S yang masih ramai padahal hari sudah larut malam. Pikirannya tak bisa tenang. Semakin mendekat semakin jauh melangkah bayangan papa terus terngiang-ngiang di pikirannya.


"Non, sudah sampai," Tiba-tiba pak sopir membuyarkan lamunannya.


"Jangan terlalu kepikiran non, yang penting sampai tujuan dengan selamat," Tambahnya dengan suara khas bapak-bapak yang mapan dan terbiasa melewati hidup yang tak terduga ini. Carmen tersenyum dan menarik kopernya, duduk di kereta, melihat lalu lalang orang yang juga sibuk membenarkan posisinya. Kereta malam tidak terlalu ramai. Butuh waktu 4 jam untuk sampai lokasi Kota M. "Syukurlah masih ada waktu sebentar untuk tidur," Gumam Carmen.


Kereta terus berjalan cepat. Carmen sudah terlelap. Hanya suara bunyi kereta dan keheningan malam. Suara keramaian beberapa orang juga sudah mulai tak terdengar. Semua sudah lelap dalam tidurnya. Udara dingin dan hembusan angin menemani tidur malam di dalam kereta. Berharap esok semua akan baik-baik saja dan kembali seperti biasa.


####