CARMEN

CARMEN
CARMEN



Di sebuah lorong kampus berpagar putih masih sibuk lalu lalang orang dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang sedang menahan kantuk dengan kantong mata hitam, ada yang sudah rapi dengan tatapan penuh keyakinan, ada yang terlalu santai hingga tak tahu kemana ia harus melangkah. Carmen, cewek berumur 18 tahun sedang berjalan agak terburu-buru. Sambil terus melihat jam tangannya ia terus menoleh kanan-kiri memperhatikan ruang yang akan ia tuju. Masih terus setengah berlari hingga tak terlihat sesuatu berhasil ia tabrak dan bruakkkk. Beberapa buku jatuh berserakan di lantai.


"Maaf ... maaf...," kata Carmen sambil membereskan buku2 itu. Namun ia sama sekali tidak melihat sosok yang ditabraknya.


"Lain kali kalo jalan liat depan ! ," katanya ketus. Carmen kaget lalu menaikkan wajahnya. Dia kaget. Pantas saja ia menabrak Brian, seniornya.


"Iya kak, maaf," Jawabnya. ia langsung lari karena sudah terlambat ke kelas. Sementara itu cowok yang itu masih terbengong melihat cewek tomboi itu. Dasar Maba jaman sekarang... keluhnya dalam hati.


Dengan sedikit taktik pengendapan Carmen berhasil masuk kelasnya tanpa disadari dosen. Ia pun duduk dibelakang dan membuka bukunya. Tapi..uppsss kemana bukunya. Ia cari di dalam tas, di bawah meja di bawah kursi tapi tak juga ditemukan.


"Mati gue,,, jangan-jangan kebawa kak Brian waktu jatuh tadi," ujarnya pelan sambil menepuk jidatnya. Akhirnya dia menyerah dengan keadaan dan memperhatikan dosen di depan tanpa ada buku mata kuliah saat itu.


####


3 sks untuk mata kuliah pagi ini. Aku merenggangkan tangannya ke samping setelah kelas selesai. Hari ini melelahkan untuk perdana masuk kelas sebagai mahasiswi baru. Baru juga aku selesai melemaskan otot, Rio teman baru sekelasku mengajak pergi ke foodcourt kampus untuk sarapan.


"Udah jam 11 gini masih nyebutnya sarapan?" Tanyaku setengah bergurau.


"Mulai sekarang sebagai mahasiswa kita harus biasa sarapan jam segini Car,"Jawabnya sambil menyeretku untuk segera beranjak dari tempat duduk. Kami berjalan agak jauh dari kelas. Aku tenang saja, kelas kedua akan dimulai pukul 1 siang sekalian biar lebih mengenal area penting kampus.


Rio adalah teman baruku di kampus ini. Yah, aku hampir lupa memperkenalkan diri. Namaku Carmen, aku adalah putri tunggal dari 3 bersaudara di dalam keluargaku. Papa mamaku adalah pasangan jaksa yang ditugaskan di kota M, kakak pertamaku seorang pengacara di kota B dan kakak keduaku mahasiswa hukum tingkat akhir di universitas ternama di ibukota. Sementara aku, jauh dari bidang kedua orang tua dan kakak-kakakku. Yah, aku adalah mahasiswi ilmu Komunikasi di kampus di kota S. Meski aku tak memilih jalur seperti keluargaku yang lain, tapi mereka mendukung dan menerima keputusanku.


Aku kuliah di kota S. Tinggal sendiri di apartemen milik orang tua. Yah sebelum pindah tugas di Kota M, mereka tinggal di kota S dan memiliki sebuah apartemen. Kini akulah yang menempati apartemen ini selama aku kuliah.


Kami sudah duduk di meja pojok dan Rio sudah menuju tempat pesanan. Dia baik juga mau memesankanku makanan, gumamku. Sedetik kemudian Rio sudah sampai di kursi depanku.


"Dari tadi gue perhatiin loe kayaknya badmoood, ada apa?" Tanya Rio. Aku yang ditanya sontak menjawab,


"Itu tuh, tadi pas mau ke kelas gue gak sengaja nabrak Kak Brian. Eh, malah dijutekin, "Jawabku sedikit kesal.


"Dia bukannya cuek ya orangnya,"Katanya. aku hanya mengangguk tanpa ada jawaban karena makanan pesanan kami sudah datang.


Setelah menikmati makanan kami, Rio mengajakku kembali ke kelas. Waktu sudah pukul setengah 1, sambil menunggu dosen datang, aku membaca sekilas pesan WhatsApp. Tertera nama mama yang terus memberiku pesan. Aku membalas dengan singkat sampai kulirik sekilas dosen sudah duduk di mejanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku baru saja keluar kelas sore dan bersiap pulang. Belum jauh dari kelas, aku dikejutkan oleh suara panggilan dari belakang. Segera aku menoleh ke arah sumber suara.


"Carmen !!"


Aku masih terbengong.


"Gue ada titipan dari Brian, katanya punya loe," Katanya. Aku mengangguk dan menerima buku itu.


"Makasih kak," Jawabku singkat sambil tersenyum. Dia membalas dengan senyuman dan menjabat tangan.


"Kalo ketemu di kampus, sapa aku ya Carmen," Sahutnya. Aku mengangguk dan lanjut berjalan pulang.


###


Carmen masih berjalan sambil sesekali melihat bukunya. Ia merasa sedikit kesal karena bukan dari tangan Brian sendiri buku itu kembali. Apa susahnya mengembalikan buku ini ke gue, gumam Carmen. Hari ini sungguh melelahkan untuknya. Bagaimana tidak, baru awal masuk kuliah ia sudah terlambat, tidak sengaja menabrak cowok super cuek dan dingin si Brian dan kesialan yang lain. Langkahnya terus melaju seiring dengan terus berputarnya waktu. Rasanya ingin sekali ia segera sampai rumah dan merebahkan badan ke kasur empuknya.


Untunglah apartemen tidak jauh dari kampus. Carmen merebahkan tubuh setelah selesai bebersih diri dan makan malam. Matanya masih sejenak terpejam sementara tangannya tetap memegang gawai dan baru saja ada riwayat panggilan dari mamanya. Ia menggulingkan badan ke kanan dan kiri sambil memikirkan sesuatu. Yah, pikirannya memusat pada ingatan seminggu yang lalu saat orientasi kampus berlangsung. Hari itu, pertama ia bertemu dengan cowok cuek dan dingin yang mereka panggil Brian. Hampir tak ada satupun orang yang berhasil membuatnya tersenyum. Raut mukanya selalu terlihat datar tanpa ada ekspresi dan tanpa ada aura keakraban. Meski begitu, tak sengaja Carmen melihat ia tersenyum kepada teman yang paling dekatnya yaitu Doni. Mereka memang berteman sangat akrab.


Carmen masih begitu mengingat bagaimana Brian dengan begitu angkuhnya memarahi Carmen karena ia terlambat orientasi. Maklumlah saat itu Carmen memang begadang karena tugas yang begitu banyak. Dengan pakaian asal-asalan Carmen datang dan telak sudah nasibnya. Ia mendapat hukuman akibat ulahnya itu. Pernah suatu ketika Carmen memberontak kepada senior karena menurutnya orientasi itu bukan sebuah perkenalan tapi lebih pada perpeloncoan. Akibatnya Carmen menjadi bulan-bulanan senior dan saat itu hanya Rio yang menemani Carmen menyelesaikan tugas hukumannya.


"Gue ngerasa enggak salah soal itu," ungkapnya pada Rio.


"Udah Car, kita ini Maba bisanya nurut aja,"Jawab Rio menenangkan.


Kembali Carmen menatap layar hapenya. Pesan masuk bertubi-tubi dari Rio mengingatkan bahwa besok kuliah dimajukan agak pagi karena dosen ada rapat setelah kelas. Ia kemudian membalas pesan itu dan sesekali menengok jam dinding di depannya.


"Susah banget jadi Mahasiswa baru, harus tepat waktulah, harus nurutlah harus ini harus itu," kata Carmen mengumpat dalam keheningan rumahnya.


Tak sadar waktu sudah semakin larut, matanya mulai sedikit berat. Setelah ritual sebelum tidur selesai ia langsung terlelap dalam mimpi yang indah dan bersiap untuk menyambut hari esok yang entah akan menjadi seperti apa.


####