
Mentari pagi masuk di sela-sela cendela besar kamar Brian. Meski sudah terlihat jelas bahwa hari sudah mulai terang, dua insan yang sedang terlelap dalam mimpi tak juga ada tanda-tanda akan bangun. Suara kicauan burung yang ada di kebun samping rumah megah itu bersahutan silih berganti. Carmen merasakan sesuatu hangat dan lembut menempel di pipinya cukup lama. Tak lama tangan halus menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telinga. Sedikit ia rasakan hembusan nafas pelan dan ia memutuskan untuk segera membuka mata mengikuti firasatnya yang semakin membuncah.
"Brian, kamu ngapain?" Tanyanya kaget melihat Brian yang sudah begitu dekat dengan wajahnya.
"Morning sayang,"
Carmen menatapnya tajam, bersiap bangun. Tangan Brian menahan tubuh Carmen.
"Kamu mau kemana?"
"Udah siang, aku mau bangun"
Brian tetap menahan agar tubuh Carmen tidak bergerak. Ia lalu menatap mata indah Carmen dan tersenyum.
"Kamu cantik kalo bangun tidur gini. Makasih ya udah nemenin dan jagain aku semalaman,"
Carmen hanya mengangguk. Ia lalu membalas dengan tersenyum manis kepada Brian. Setelahnya ia bangun dari tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
"Minta tolong pelayan ambilkan bajuku di kamar sebelah. Aku mau mandi dulu," Kata Carmen. Brian memanggil pelayannya dan memberikan instruksi sesuai keinginan Carmen. Tak lama, pak Bundi datang menemuinya dan membawa alat pengukur suhu.
"Syukurlah Tuan muda baik-baik saja,"
"Pak Bundi tenang aja. aku cuma butuh istirahat lebih awal saja. Berkas yang kemarin selesai aku periksa bawa ke kantor. Nanti malam aku tidak bisa melanjutkan pekerjaan. Ada urusan lain,"
"Baik tuan,"
Kamar besar itu kembali sunyi hanya terdengar gemericik air di kamar mandi. Brian tersenyum membayangkan betapa senangnya ia nanti saat Carmen benar-benar sudah menjadi istrinya. Senyumnya Tiba-tiba berubah misterius.
"Sadar Yan sadar, "
15 menit kemudian Carmen sudah keluar kamar mandi dengan pakaian rapi dan cocok dengannya. sebuah dress selutut berwarna putih membuatnya terlihat begitu menawan. Brian sampai tak berkedip melihat penampilan Carmen.
"aneh ya? habisnya kamu siapin baju gini semua," Jawab Carmen.
"enggak kok, kamu cantik banget,"
"Udah sana mandi dulu, aku tunggu dibawah ya,"
Carmen mendorong tubuh Brian menuju kamar mandi. setelah berhasil membawanya masuk, gadis itu segera keluar kamar dan menuju dapur menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Setelah semua siap, Brian juga sudah keluar kamar menuju meja makan.
"Loh, kamu tapi banget? ke kampus?" tanya Carmen. Brian hanya mengangguk sambil mengunyah makanan.
"Kalo masih sakit, gak perlu masuk,"
"terus kamu gimana pulangnya?"
"aku bisa naik taksi,"
"enggak boleh, harus aku yang anterin kamu,"
Carmen hanya menggelengkan kepalanya melihat betapa keras kepalanya Brian. Selesai sarapan Brian sudah menunggu Carmen dimobilnya. Sementara Carmen masih berbincang singkat dengan pelayan rumah mewah itu.
"Kamu ngomong apa sama pelayan?" tanya Brian.
"untuk nyiapin makan buat kamu nanti, obat kamu harus tetap diminum sampai benar-benar sembuh,"
"Aku nanti kerumah kamu aja,"
"yah kita tidur di kamar kamu,"
Carmen diam tak membalas. percuma saja jika Brian sedang sakit begini ada saja yang ia minta. urusan itu biar nanti saja dipikirkan. Mobil melaju sedang, suasana jalanan tak begitu ramai dan setengah jam kemudian mereka sampai kampus.
Kebucinan Brian kembali terjadi saat mereka keluar mobil. Brian langsung menggenggam tangan Carmen dan menggandeng nya melewati lorong kampus. Ia ingin menunjukkan bahwa Carmen lah gadis yang telah mengisi hatinya berharap cewek-cewek yang selama ini mendekati nya sadar diri. Sedangkan Carmen menunduk saja, memasang muka cuek dan diam seribu bahasa.
"Kamu jangan nakal ya? see you nanti pulang kuliah aku tunggu di parkir ya" kata Brian nyaris membuat cewek disampingnya yang sedang berjalan pingsan. Tidak menyangka apa yang barusan ia dengar dari mulut cowok yang banyak digilai cewek itu.
Jika selama ini Brian terkenal begitu dingin dan cuek, untuk pertama kalinya ia melihat cowok tinggi itu begitu perhatian dengan pacarnya yang tak lain Carmen. bahkan cewek tadi sama sekali tak menyangka bahwa Brian akan terkena virus kebucinan seperti pasangan lainnya.
"Udah kak, sana .... malu diliatin orang-orang," Jawab Carmen. ia lalu berjalan menuju kelasnya masih dengan muka tertunduk. betapa ia sebenarnya tidak begitu nyaman namun ia sadari bahwa itu adalah salah satu cara untuk mempertegas hubungan nnya dengan Brian.
####
Carmen meneguk sekaleng minuman dingin di taman setelah Rio datang membawanya. Mereka masih larut menikmati minumannya masing-masing.
"Jadi bener penyebab Brian sakit adalah es teh bungkusan kemarin," kata Rio tetap tidak percaya bahwa sang cowok idola itu sakit hanya karena meminum es tehmya.
" loe juga aneh-aneh aja Yo, pake loe kasih es teh...udah tau dia orang tajir mana pernah minum es teh plastikan gitu," Jawab Carmen cemberut.
"Car, mana gue tau, dia juga yang tiba-tiba nyerobot langsung ambil katanya haus. Gue mana bisa nolak,"
Rio memang tahu bahwa Brian kaya raya tentu saja karen Carmen yang bercerita. Tapi ia tak pernah menduga akan se kaya itu sampai alergi dengan es teh plastikan. Rio lalu menatap sahabatnya itu lekat. sorot mata kasihan terlihat jelas.
"Gue sekarang tau car, kenapa loe susah banget beradaptasi sama itu cowok,"
"yah begitulah awalnya gue sama sekali gak berharap lebih sama dia. Tapi gimana lagi, dia dan keluarganya ternya datang kerumah gue ngelamar gue dengan tulus tanpa meminta apapun,"
"Car, gue yakin mereka tulus sama loe. Yah emang udah takdir loe aja bakal berjodoh sama konglomerat," Kata Rio menenangkan Carmen. ia lalu menepuk pundak Carmen. setelah selesai berkeluh kesah, Carmen menuju parkiran menuju mobil Brian dimana cowok ganteng itu sudah berada di mobil sejam yang lalu.
"udah lama?" Tanyanya.
"Kamu baru selesai?"
"udah setengah jam lalu, tadi aku nongkrong bentar sama Rio. Kak Brian udah makan?"
Brian hanya menggeleng.
"Yaudah mau makan apa ?" Tanya Carmen.
"Kamu yang masak ya?"
"Iya udah ayok ke apartemen,"
Mobil meninggalkan parkiran menuju apartemen yang tak jauh dari kampus mereka. Sesampainya di apartemen, Brian duduk bersandar di sofa sambil nonton acara TV. sedangkan Carmen sudah sibuk di dapurnya memasak. Ia sudah membersihkan sayuran, dan memotong ayam menjadi beberapa bagian kecil-kecil. Sepertinya sup ayam akan menjadi makanan mereka kali ini.
Nasi sudah ia hidangkan di meja, tinggal mengangkat sup yang masih di kompor. Brian sudah duduk di meja bar dapur sambil memperhatikan gerakan cekatan pacarnya itu. Ia memperhatikan dengan seksama, dan senyuman lolos dari bibirnya.
"taraaaaaa....makanan siap," Kata Carmen membuka tutup panci sup ayam. Asap langsung menyeruak dan bau sedap masakan membuat perut Brian menyanyi-nyanyi dengan merdu.
"kamu makan yang banyak kak, biar cepat sembuh,"
Mereka larut dalam makanan yang spesial karena Carmen memasaknya dengan sepenuh hati untuk pacar ganteng nan baiknya itu.