
Apartemen Carmen sudah gelap tersisa penerangan temaram lampu dinding di setiap sudut. Brian sudah berjalan pelan menuju mobil setelah mengantarkan Carmen sampai rumah dengan selamat. Tak lupa ia memberikan satpam apartemen pacarnya itu oleh-oleh dan meminta agar satpam sigap menjaga Carmen. Setelahnya ia pulang ke rumahnya yang kira-kira membutuhkan waktu Setengah jam untuk sampai. Jalanan masih ramai, musik kali ini juga sangat pas dengan perasaan hatinya.
Malam panjang telah berganti pagi cerah yang tak secerah biasanya. Gadis itu sudah mengobrak-abrik lemarinya mencari baju yang akan dia pakai. Entah mengapa hari ini moodnya ingin memakai baju itu. Setelah pencarian panjang yang berujung pada isi lemari berantakan akhirnya baju ketemu.
Ia poles tipis wajahnya dengan make up seadanya, rambut dibiarkan terurai dan kemeja hijau Armi dengan baggy pants sudah ia kenakan. Ia lalu berjalan menuju dapur, mengambil roti mengoleskan selai diatasnya dan mencomot dengan satu kali gigitan.
Ia langkahkan kaki ke bawah, menunggu sang penjemput datang. Tak lama mobil hitam yang tak lain Brian datang, tanpa turun ia meminta Carmen segera naik.
"Kamu buru-buru?" Tanya Carmen.
"Iya, ada pretest katanya.."
"Udah sarapan?"
"Mana sempat?"
Carmen mengambil roti yang sebelumnya ia taruh di sebuah kotak makan kecil. Sebenarnya ia ingin memakan saat istirahat nanti. Tapi hatinya lebih teriris jika melihat sang Casanova tampan itu kelaparan.
"Nih makan, aku gak mau ya teman-teman mu ngomongin aku gabisa rawat kamu karena makin kurus,"
Brian menerima suapan pertama dengan hati riang gembira.
"Aku nyampein pesan mami tadi. Tapi enggak maksa. ... "
"Daripada kamu tinggal di apartemen sendirian. Mami mempersilahkan kamu tinggal di rumah,"
Carmen malah mencibir.
"Itu mah alasan kamu aja, enggak deh. lagian lebih dekat dari apartemen daripada rumah kamu,"
"Saran mami aja sayang,"
Brian langsung berlari setelah memarkir mobilnya meninggalkan Carmen yang masih ribut dengan rambutnya yang sukses diacak-acak oleh Brian.
Rio terperangah tak percaya setelah kedatangan Carmen dan cerita dibalik cincin yang ia sudah dipakai. Ia memang menduga bahwa dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu pasti akan menikah. tapi ia sama sekali tak menyangka akan secepat itu.
"Terus keluarga loe setuju?"
"Iyah gimana enggak setuju Yo, yang ngadain acara itu mama gue, papa nurut aja,"
Rio mencubit lengan Carmen gemas.
"Tapi loe juga enggak nolak kan?"
"Menurut loe??"
Rio kembali menggoda sahabatnya itu.
"Terus kalian udah ke hotel berapa kali? jangan-jangan loe udah...." Sengaja tak ia lanjutkan dan malah membuat ekspresi aneh tak mampu dijelaskan.
"Iuhhh ya enggak lah, kita gak pernah macem-macem,"
"Tepatnya belum,"
Carmen tak menjawab malah menyilang kedua tangannya. Suara tak terduga malah membuat seisi kelas gempar. Angel datang dan menarik tangan Carmen karena kaget melihat ada sebuah cincin cantik terselip di jari teman sekelasnya itu.
"Widih...cincin apaan tuh yang dipakai Carmen?" Katanya setengah teriak dengan suara khas bataknya. Sontak seluruh aktivitas kelas yang menunggu kedatangan dosen menjadi hening sebentar. Semua mata menoleh ke arah sumber suara dan secara bergantian menatap jari Carmen yang masih dipegang Angel.
"Ihh apaan sih njel, ini gue beli di toko mas kemarin," Jawab Carmen ngasal.
"Yaealah, anak kecil juga tahu kalo ini cincin lamaran? Loe mau nikah Car?" Tanyanya lagi, kali ini dengan nada menyelidiki.
Beberapa anak berjalan menuju Carmen untuk memastikan cincin yang sedang dipakainya. Rio hanya diam. Keadaan sudah tak mungkin menyerang, mereka hanya bisa bertahan. Pertanyaan sama dilontarkan teman-temannya yang kepo.
"Kalian udah kembali ke tempat masing-masing," Jawab Carmen.
"Loe belum jawab pertanyaan kita,"
"Terserah ya apapun yang mau kalian simpulkan. Itu hak kalian,"
Carmen diam. Serangan balik yang ia lancarkan tak berhasil. Beribu alasan telah ia ucapkan mulai dari beli sendiri di toko emas, ditemani ortunya untuk beli dan modelnya simpel hingga tak ia duga bahwa itu cincin tunangan dan masih banyak lagi. Kericuhan bisa mereda setelah dosen datang dan memulai kelas pagi.
"Yo, selesai kelas ini gue langsung cabut duluan. Enggak kuat gue ditanyain sama netijen," Bisiknya pada sahabatnya. Rio hanya mengangguk.
Dan benar saja, setelah jam kuliah selesai. Carmen berlari meninggalkan kelas, menuju parkiran. Seharusnya dia tahu jika Brian masih ada kelas. Ia urungkan Langkahnya saat akan mendekati mobil Brian. Langkahnya berhenti ketika ia melihat Dony sedang memperhatikan tingkah pacar sahabatnya itu.
"Helllooo kenapa loe ngendap-ngendap- kayak maling gitu?" Gertakmya. Carmen terperanjat.
"Ish ish ish....apaan sih kak Don?"
"Loe ngapain ngendap-ngendap gitu? loe habis maling ya?....eh iya maling hatinya Brian kan?" Katanya disambung dan tertawa lebar.
"Puas ketawanya?"
"Mau kemana loe masih jam segini?"
"Mau balik apartemen, kuliah udah beres,"
Dony agak aneh, baru jam segini buru-buru banget dia. Tapi tak sempat ia tanyakan lebih lanjut karena kuliahnya akan segera dimulai. Ia pamit pada Carmen membiarkan gadis itu kembali melakukan aksinya. Kegiatan endap-endapan itu selesai setelah ia keluar parkiran. Kakinya melangkah dengan sedang menuju apartemen yang jika jalan kaki membutuhkan waktu 15 menitan.
Carmen merebahka tubuhnya di sofa, memejamkan matanya. Lelah, padahal tak selama biasanya ia kuliah. kembali ia mengangkat tangannya kanannya dan melihat cincin itu dengan seksama.
"Padahal benda ini kecil dan tak terlalu mencolok. Kenapa bisa jadi pusat perhatian ya?"
Cincin pertunangan itu tak begitu mencolok, tak begitu terlihat bahkan terkesan seperti perhiasan pada umumnya. Tapi entahlah teman-temannya bisa jeli. Carmen yang awalnya tak menduga dibuat kelabakan.
" Brian emang ngerti banget selera gue,"Katanya tersenyum geli. Ia mengedarkan pandangan ke semua arah rumahnya. Tak ada yang berantakan, hari ini ia ingin bermalas-malasan setelah kuliah tadi. Disetel Tv dan mencari acara. Meski sedikit membosankan tak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Hapenya berdering membuyarkan fokusnya menonton TV. Brian.
-Iya Kak,
-Kamu dimana?
-Apartemen
- Heh, kenapa enggak nungguin aku selesai kelas?
-Aku ngantuk berat tadi
Carmen menjawab asal-asalan. Setelah menanyakan lokasinya sekarang telpon di tutup . Tak lama kembali panggilan masuk kali ini Daniel.
- Halo Carmen
- halo pak Daniel
-Kamu resign? kenapa?
-Hem saya sudah berikan alasan saya keluar pak, saya pikir saya harus fokus kuliah karena semester ini mulai padat.
-Bisa kita ketemu? ada yang ingin saya bicarakan
Carmen diam, memikirkan sesuatu.
-Tapi pak...
-tunggu Carmen hanya ini saja. Ada yang perlu saya jelaskan kesalahpahaman ini ke kamu.
-Baiklah pak
-Oke, besok sore pukul 4, tempatnya saya kirim lewat pesan ya
heeehhhh
nafas Carmen berat. Bagaimana ia harus meminta izin pada Brian. Cowok dominan itu sudah pasti tidak akan mengizinkan dengan mudah apalagi menyangkut Daniel, mantan pacar Carmen.