CARMEN

CARMEN
BRIAN SEMAKIN GENCAR



Sebuah telpon masuk mengagetkan Brian yang sudah bersiap untuk tidur malam itu. Ia terkejut setelah tahu siapa yang menelponnya malam-malam dan membuatnya sedikit was-was. Carmen menelponnya dan menanyakan prosedur izin tidak masuk penutupan ospek besok. Sial, padahal ia sedang tidak bersemangat.


Sedari tadi ia memang jengkel karena ajakan Doni untuk menonton film di cgv berujung pada pertemuannya dengan Carmen. Awalnya dia senang tapi setelah mengetahui ada cowok yang bersamanya hatinya tiba-tiba saja kesal dan marah. Belum juga reda marahnya, Carmen malah menelpon malam-malam hanya untuk minta izin besok.


"Ngapain juga dia enggak hadir?? keperluan mendadak apa yang membuatnya sampai meninggalkan penutupan penting?" Katanya setelah menelpon Doni untuk mengizinkan Carmen.


Bagaimana pun gadis itu tetaplah tanggung jawab nya karena ia mentor. Seminggu ini Brian menjadi mentor untuk kelompok Carmen. Cewek imut itu tidak terlalu mencolok di kelompoknya. Ia bahkan cenderung pendiam dan irit bicara, hampir sama dengannya. Tapi dia memiliki daya tarik majis yang membuatnya selalu ingin tahu.


waktu itu benar-benar ia manfaatkan untuk lebih mengenal Carmen. ia sengaja mengundang Carmen memfoto pertandingannya alih-alih membantu tugasnya, Ia juga meminta Carmen yang menyerahkan tugas harian kelompok padanya secara pribadi. Bahkan ia meminta Carmen menyiapkan kopi kesukaannya saat akan memberi bimbingan dan mentoring. Sejujurnya ia tidak biasa memperlakukan orang seperti itu, apalagi ini cewek tapi entahlah pikiran apa yang sudah merasukinya.


Ia lalu berbaring dan sedikit demi sedikit mulai terlelap dalam tidurnya.


Setelah penutupan ospek selesai, ada jeda libur 2 hari karena memang weekend. Seninnya aktivitas perkuliahan akan berlaku normal, biasanya jadwal awal semester tidak terlalu padat hanya seputar kontrak belajar dan garis besar mata kuliah yang diampu. Maka Brian sedikit agak tenang dan tidak terburu-buru saat hari pertamanya masuk kuliah ini. Sambil berjalan ia membenarkan letak tasnya yang kurang nyaman dipakai, hingga brakkkkkk


ia menabrak seseorang. Dilihatnya cewek itu yang sedang membereskan buku-bukunya dan buku Brian tentunya.


"maaf...maaf...,"Katanya. Brian seperti familiar dengan suaranya.


"Makanya, lihat-lihat dong kalau jalan," Ia lalu berdiri dan segera menuju kelasnya setelah cewek yang tidak lain Carmen sudah lebih dulu berlari. Maba baru hari pertama udah telat. pikirnya.


Ia duduk di bangku tengah, sambil mendengarkan dosen memberi arahan tentang mata kuliahnya ia fokus membaca sebuah buku yang tak sengaja terbawa olehnya. yah, Carmen meninggalkan buku itu tadi ketika tertabrak. Ada perasaan bersalah juga karena membentak Carmen. Kejadian di Bioskop benar-benar membuatnya kesal.


"Apa hak gue juga marah sama dia??" gumamnya.


"dia jelas-jelas bukan siapa-siapa gue, kalo gue kasih buku ini aduh mau ditaruh mana muka gue,"


Doni yang memperhatikan sobatnya itu gelisah dan tak fokus sambil melihat buku menggoyangkan lengannya.


"Loe kenapa sih?"


"nih, Loe kasih ke Carmen, minta tolong gue,"


"Lah kenapa enggak loe kasih ke dia langsung. Sekalian tanya tentang cowok waktu itu,"


"enggak ada urusan sama gue,"


Selesai kelas mereka berjalan beriringan menyusuri lorong kampus yang sudah ramai setelah kelas selesai. Rata-rata kelas dimulai bersamaan yang berarti selesai bersamaan.


"Noh ceweknya," tunjuk Brian. Doni berjalan mendekati Carmen dan memberikan buku itu. Sementara Brian berbelok ke ruang baca.


Setelah hari itu, mereka tak pernah bertemu. Brian semakin sibuk dengan pekerjaan dan kuliah. matanya terlihat sayu setiap kali masuk kelas, meski begitu semua mata kuliah ia lahap dengan otaknya yang tercipta jenius itu. Sahabatnya sampai heran, dengan kesibukannya yang sampai larut harus mengurus kerjaan kantor bagaimana ia bisa belajar.


"Gue laper,,kita ke kantin aja ya jeda kuliah dikit,"


"terserah loe deh Don," sahut Brian saat sahabatnya itu mengajaknya makan. Sampai di taman mereka melihat carmen sedang duduk sendirian.


Brian bersyukur memiliki sahabat pengertian kayak Doni. Ia seperti bisa membaca pikiran Brian, bertanya hal yang selama ini mengganggu hidupnya. Dan saat mendapat jawaban dari Carmen tentang fakta sesungguhnya hatinya bersorak yyeesssssss 'ternyata itu bukan cowoknya, dan dia pulang ke kota M nungguin bokapnya sakit,' Gumam Brian.


"Syukur deh gue masih ada kesempatan deketin dia," pikirnya lagi.


Mereka selesai menyantap makanannya dan sebelum mengakhiri kegiatan makan Brian berpikir untuk mulai berbicara pada Carmen. Sedari tadi ia hanya diam seperti mendiamkan Carmen tanpa alasan.


"mau nambah minum lagi enggak?"


hanya kata itu yang sanggup ia katakan. Ia harus lebih hati-hati dan tidak gegabah. Gengsinya terlalu tinggi untuk menunjukkan betapa ia tertariknya dengan Carmen. .


"Sabar Yan, step by step," gumamnya.


Brian menyetir mobilnya pelan saat masih di lingkungan kampus. Ia sengaja mencari Carmen dipinggir trotoar karena akhir-akhir ini ia sering melihat gadis itu berjalan sendiri saat pulang. Pucuk dicinta ulampun tiba, ia melihat sosok Carmen berjalan sendiri sambil menenteng buku. Malam-malam gini jalan sendirian.


Ia lalu memberi tumpangan Carmen setelah setengah memaksa, misinya kali ini mencari rumah Carmen. Setelah kurang lebih 10 menitan ia sampai di komplek apartemen sekitar kampus. memang dekat, pikirnya.


Carmen turun dari mobil dan memberi salam hangat. Cewek itu memberi senyuman manisnya yang membuat Brian hampir tidak bisa mengendalikan diri. Ia kembali menyetir mobilnya pulang dan menyetel musik favoritnya.


"Ternyata gue salah paham aja selama ini, bodoh banget gue," katanya dalam mobil sambil menganggukkan kepala saking menikmati musik itu.


malam ini ia bisa tidur pulas dan mengatur misi selanjutnya untuk mendekati Carmen. Sepertinya harapan masih ada, ia hanya lelah lima tahun sendirian dan tak ada hubungan dengan cewek manapun. Selama ini ia terlihat gonta-ganti cewek padahal mereka-mereka aja yang mendekati nya dengan berbagai cara.


Cewek jaman sekarang lebih frontal dan terus terang, Brian tentu saja hanya menganggap angin lalu. Lumayan bisa dijadikan teman nongkrong atau sekedar main-main saja. Ia bahkan sudah lupa bagaimana cara berusaha mengejar cewek karena saat itu ia belum bisa mengganti sosok Aurel, mantan pacarnya.


Brian mencoba menelpon Doni untuk membahas sesuatu. sebuah rencana.


-halo...ada apa malam-malam gini ?


-Don, anggota futsal cewek yang cidera masih belum bisa main kan?


-belum bisa bro, nunggu beberapa bulan lagi


-gimana kalo kita secepatnya hire Carmen?


-dia emangnya bisa?


-Dia bisa belajar, gue yang tanggung jawab


-terserah loe deh..bro


dalam perjalanan pulang Brian mengatur rencana perekrutan Carmen. ia harus sering bertemu agar bisa cepat akrab, besok ia akan menemui Carmen dan mengajaknya ikut tim futsal putri. Yah, ini ada rencana yang bagus.