CARMEN

CARMEN
Episode 19



Brian benar-benar menepati janjinya untuk tidak mempublikasikan hubungannya. Meski dalam hatinya ia sangat ingin mengatakan bahwa saat Carmen pacarnya dan hanya padanya ia akan mencurahkan perhatian tapi nyatanya ia lebih khawatir pada kondisi Carmen jika berita itu sampai menyebar. Walau begitu ia tetap menceritakan statusnya saat ini pada Dony berharap sahabatnya itu juga mengerti keadaanya.


"Seneng banget, akhirnya loe bisa kembali menjalani kehidupan normal," Kata Dony setelah Brian menceritakan.


"maksud loe gue enggak normal ? eh gue masih cowok tulen ya," Sahut Brian.


"Dari awal gue udah tebak kalo tahun ini loe pasti punya cewek, yah udahlah kita hidup itu melangkah ke depan. Masa lalu dijadikan pelajaran hidup aja,"


Brian terdiam sambil menghisab rokoknya. Sebenarnya ia sudah lama tidak merokok, namun setiap bertemu sahabat karibnya itu tak enak jika terus menolak.


"Soal perusahaan gimana? udah selesai kontraknya?" Tanya Dony.


"Udah gue handel, gue mungkin mau minta bantuan lagi sob," Jawab Brian. Mereka lalu terlibat pembicaraan yang serius. Tanpa mereka sadari Rio dan Carmen sudah berdiri di belakang mereka. Brian kaget bukan kepalang dan membuang sisa rokoknya.


"Kamu udah lama berdiri disini?" Tanya Brian pada carmen dan Rio.


"Barusan,"


"Yaudah kita cari makan dulu yuk,! "


Mereka berempat kemudian berjalan beriringan menuju mobil dan bersiap pergi makan siang. Sementara Rio dan Dony menyusul di belakang mobil Brian, suasana masih hening di dalam mobil. Brian merasakan perasaan yang tak enak.


"Kamu diem aja kenapa?"Tanyanya. Bukannya menjawab yang ditanya malah memainkan hapenya. Brian merebut hape dari tangan Carmen.


"Dari kapan Kak Brian ngerokok?" Tanya Carmen mengalihkan pembicaraan. Brian mulai paham, jadi ini masalahnya.


"Udah dari dulu, dari SMA. Tapi udah jarang sih, tadi itu karena ditawari Dony aja. Mau nolak lagi enggak enak," Jawabnya. Hape Carmen ia kembalikan lagi. Carmen masih diam.


"aku udah jelasin, kenapa kamu masih diem?"


"Enggak papa, emang lagi pengen diem aja. KIta mau makan dimana?" Tanya Carmen. Brian lalu berpikir sejenak.


"Kita makan sop iga favorit aku ya,"


"Iya"


"Eh tapi kamu keberatan enggak kalo aku masih ngerokok?" Tanya Brian kembali mempertegas. Ia tidak mau hal ini memicu keributan. Yah mumpung sekarang hubungan mereka masih anget-angetnya.


"Enggak papa, asal jangan di depan ku aja," Jawab Carmen. Untung aja pacarnya ini sangat terbuka dengan pergaulan. Brian lalu mengacak-acak rambut Carmen.


"Ihhh apaan sih kak? ini kan jadi berantakan,"


"Kamu kalo cemberut gitu malah cute,"


mobil melaju tak begitu kencang, Brian sengaja santai karena perkuliahan hari ini selesai. Sudah menjadi rutinitas seminggu terakhir pasangan baru ini akan makan setelah kuliah sebelum pulang tentunya. Meski keduanya sama-sama sibuk namun sebisa mungkin mereka bertemu meski hanya sekedar makan atau mengantar pulang.


"Lusa aku mau pulang ke Kota M. Kangen papa mama," Kata Carmen.


"Yah, aku ditinggal dong,"


"Ya ampun kak Brian. itu cuma weekend lo, habis itu aku balik ke sini lagi,"


"Yaudah jangan macam-macam ya disana, awas loe kalo macem-macem," Jawab Brian. Mereka sampai di restoran Iga yang juga menjadi restoran favorit Dony dan Brian. Dony dan Rio sudah lebih dulu sampai dan memesan tempat. Melihat pasangan itu masuk Dony malah meledek mereka berdua.


"duh duh yang masih baru pacaran, Naik sport car berasa naik bemo ya," Ledek Dony. Rio tak kalah sarkas.


"Pokoknya bahagia gue jadi teman mah cukup doakan terbaik,"


Sambil menikmati makanan mereka membicarakan banyak hal. Rio baru tahu jika Dony dan Brian memang baik dan asik juga Selama ini yang ia lihat di kampus mereka sangat cuek dan jutek dengan cewek-cewek. Daripada Brian, dony lebih baik karena masih merespon meski hanya formalitas saja.


"Jadi kalian belum ada rencana mau go publik nih?" Tanya dony. Brian angkat bahu memberi isyarat bahwa keputusan di tangan Carmen.


"Belum dulu deh kak, Aku harus ngumpulin mental dulu," Jawab Carmen.


"Kamu tenang aja Car, kan ada gue sebagai sohib . Siapapun yang berani gangguin loe pasti gue kasih pelajaran," Bela Rio.


"Enak aja loe yang ngebelain. Peran gue jadi pacarnya apa dong" Sela Brian.


"Loe cukup manja-manjain Carmen aja. hahaha," Sahut Dony. Mereka lalu tertawa lepas.


"Meskipun kak Brian bisa cuek sama mereka, tapi aku kan enggak. Pacaran sama idola sejuta umat kayak Kak Brian emang susah,"


Brian lalu menggenggam tangan Carmen.


"Kamu tenang aja. Hal itu enggak akan terjadi. Tapi aku juga enggak mau buat kamu cemburu kalau sampai mereka dekati aku. Makanya boleh ya aku pasang profil udah pacaran," Kata Brian memelas.


"tapi Kak...."


"Menurut gue sih, Brian ada benarnya Car. Dia enggak perlu menyebut secara langsung nama kamu. Tapi minimal dia sudah mengumumkan ke fans-fansnya itu kalo dia udah punya pacar dan mereka bisa lebih menjaga jarak," Potong Rio.


"Gimana? Boleh enggak" Tanya Brian.


"Yaudah yaudah...boleh," Jawab Carmen. Selesai makan mereka pulang ke rumah masing-masing. Brian langsung mengantar Carmen ke apartemennya, ia tidak mampir karena ada pekerjaan kantor yang harus segera ia cek.


Carmen sudah merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya setelah seharian berkutat dengan rutinitas. Seminggu ini ia bekerja di Good idea tanpa berhenti karena project yang memang cukup besar dan rumit. Waktunya untuk tidur sangat singkat karena paginya ia harus kuliah. Untung saja Carmen selalu mendapat jam kuliah pagi. Jadi, ia bisa mengatur waktunya untuk magang di good idea.


Dilihatnya jam baru menunjukkan pukul 7 malam saat bel apartemennya berbunyi. Ia beranjak dari kasur dan mengintip dari balik kaca cembung di pintu. "lohh Daniel kesini ngapain?" Batin Carmen. Ia lalu membuka pintu.


"Pak Daniel malam-malam gini kesini ngapain?" Tanya Carmen.


"aku kebetulan tadi di daerah sekitar sini. Trus keinget apartemen kamu," Jawabnya. Carmen mmpersilahkan bos sekaligus mantan pacarnya itu masuk. Daniel duduk di sofa dan memandangi seluruh interior rumah Carmen.


"Silahkan pak," Kata Carmen sembari membawa minuman. Ia lalu duduk di kursi yang terletak tepat di depan sofa.


"Maaf ya Carmen jam segini aku malah bertamu. aku cuma pengen tahu aja gimana keadaan tempat tinggal kamu,"


"Iya pak," jawab Carmen. Mereka lalu terlibat percakapan yang biasa saja seputar kuliah dan pengalaman magang Carmen di perusahaannya.


"Setelah putus dari kamu, aku menghabiskan waktu untuk karir dan membangun Good Idea sampai ke titik sekarang...Andai saja kita masih pacaran, aku pasti punya support sistem," Kata Daniel. Carmen masih diam.


"Sebenarnya keputusan kita untuk pisah bukanlah keputusan yang benar, Carmen aku menyesal. Aku merasa bahwa selama ini kamu masih di hati aku," Lanjutnya lagi. Kali ini Carmen tegas menjawab.


"Maaf Kak Daniel. Hubungan kita sudah lama putus dan itu kamu yang mengakhirinya. Jika masih ingin menjaga hubungan baik sebagai rekan kerja saya harap kamu jangan mengungkit-ungkit masalah itu lagi,"


"Kenapa carmen? Apa kamu sudah punya pacar baru?"


"Iya, Aku sudah punya pacar. Aku sudah katakan bahwa aku berterimakasih sama Kak Daniel. Berkat kamu aku bisa belajar lebih hati-hati. Aku tidak pernah menyesal atas hubungan kita dulu karena bagaimanapun dulu kita pernah saling sayang. Tapi sekarang keadaaannya berbeda kak. Aku sudah punya seseorang yang harus aku jaga perasaaanya," Jawab Carmen. Suasana menjadi hening. Daniel pamit pulang dengan perasaan malu luar biasa.


Ia berjalan dengan sayu, sandainya saja dulu ia tidak egois. Bukankah Carmen masih menjadi miliknya. Ia begitu sedih saat hatinya tak pernah berubah, namun Carmen telah membuangnya. Sama seperti ia dulu yang sudah mencampakkan Carmen begitu saja. Inikah sakitnya? inikah takdirnya?