CARMEN

CARMEN
PERTUNANGAN MENDADAK 2



Mendapat pertanyaan sulit Carmen malah menyenggol lengan mamanya. berharap mamanya membatu disaat menegangkan ini. Namun, hanya anggukan penuh arti yang mama berikan. Ia lalu menatap papanya, kak Tio, Kak Andre bergantian. Keduanya masih menunggu jawaban Carmen. Ia beralih pandangan ke arah mami Nita yang tersenyum padanya dan ke Sosok cowok yang tiba-tiba pendiam. 'Sudaj tak ada yang bisa diharapkan lagi' Pikirnya.


Dari dalam lubuk hati Carmen ia justru kegirangan dengan kedatangan Brian dan keluarganya. Namun, disaat yang lain ia masih ingin menjalani hubungan ini dengan santai dan ingin tetap bebas sampai ia meraih cita-cita nya kelak. Carmen menghela nafas panjang, seluruhnya memasang telinga untuk mendengar jawaban dari gadis cantik itu.


"Saya masih terlalu muda Tante, maksud saya mami. Carmen masih baru kuliah, masih pengen menjalani kehidupan sebagai orang biasa tanpa ada embel2 atau tanggung jawab menjadi istri,"


"Ini terlalu mendadak, Carmen tidak bisa berpikir panjang dan jernih," jawab Carmen. Bukannya kecewa mami Nita dan mama sela tentunya malah tersenyum.


"Saya dan Brian memang berpacaran, dan kami salinh sayang tapi untuk ke arah yang lebih saya belum terpikirkan. Saya masih terlalu dini membicarakan itu mengingat saya punya kakak-kakak yang masih belum mengenalkan pacarnya pada keluarga,"


jawaban Carmen sukses memukul mundur kakak-kakak nya. Salah sendiri kakaknya tak memberitahu apapun dan memilih memihak pada mama. Keduanya saling pandang dan menundukkan muka masam.


"Sudah-sudah kok malah kakaknya yang disalahin. Semua orang punya waktu masing-masing. Mama papa enggak pernah membatasi kalian bertiga mana duluan yang harus menikah. Mama paham Carmen kamu masih muda masih ingin senang-senang masih ingin bermain sama temen-temen. Makanya mama tidak memaksa," Kata mama.


"Begini sayang, Mami tidak mengharuskan kalian harus menikah secepatnya. Yang penting kalian ini diikat dalam perjanjian saja. Boleh pertunangan dulu, nikahnya nanti. Maksud mami agar kalian ada komitmen bersama," Celah mami Nita.


"Om, Tante. sebelumnya Brian minta maaf belum memperkenalkan diri secara langsung. Jujur saja saya juga ada perasaan gugup disaat seperti ini. Saya pernah Katakan pada Tante Sela bahwa saya memang serius menjalani hubungan ini dengan Carmen. Kami tidak ada niat main-main pada perasaan kami berdua. Saya juga tidak memaksa Carmen untuk menerima perasaan saya dari awal. Kami memulai hubungan dengan alami dan mengalir begitu Saja. Jujur Carmen memang perempuan yang ideal buat saya. Dia sabar menghadapi saya dan kesibukam saya,"


"Semenjak papi meninggal, mami menjadi orang tua tunggal bagi saya. Saya sering ditinggal untuk urusan perusahaan berbulan-bulan dan itu sudah menjadi kebiasaan untuk saya. Bahkan diumur saya yang ke 17 tahun saya sudah harus membantu mami mengurus perusahaan kami. awalnya tidak mudah, saya banyak kehilangan Waktu dengan teman dan pergaulan. Tapi makin kesini saya sadar bahwa saya memiliki tanggung jawab besar atas kelangsungan hidup karyawan dan keluarganya di perusahaan,"


Papa dan mama nampaknya begitu salut dengan Brian, pun ekspresi sama ditunjukkan oleh kakak-kakak Carmen. Selama ini mereka merasa orang tuanya terlalu sibuk kerja padahal tiap akhir pekan merek selalu berkumpul. Membayangkan kehidupan Brian yang harus ia lalui betapa Meraka masih merasa beruntung.


"Sebagai kakak tertua Carmen, Saya menerima itikad baik kamu dan keluarga sudah mau meluangkan waktu dan kesibukannya untuk bersilahturahmi ke rumah kecil kami. Carmen adalah adik perempuan saya satu-satunya yang sangat saya sayang dan saya lindungi segenap jiwa saya. Carmen, Brian cukup baik untuk kamu. Kakak menerima Brian sebagai adik ipar, tapi kakak tidak mau kamu terbebani. Semua keputusan terserah kamu,"


Carmen masih menimbang-nimbang masukan dari orang tua dan saudaranya.


"Baiklah, saya terima tapi....,"


"Tapi apa syaratnya sayang?"Tanya mami Nita.


"Ini hanya pertunangan saja, belum ada yang namanya lamaran, pernikahan atau apalah itu sampai Carmen cukup umur dan selesai kuliah. Bagaimana mami? ma pa?"


mereka setuju dan saling berpelukan. Untuk menandai pertunangan itu, Brian menyematkan cincin di jari Carmen dan menyalami Papa mama serta kakak-kakak Carmen. Setelah cukup perbincangan itu, kedua keluarga segera menuju ruang makan, menyantap makanan yang sudah mama dan Carmen siapkan. Rona kebahagiaan tergambar jelas diantara kedua keluarga itu, Brian mendapatkan kehangatan kedua kakak Carmen yang ternyata sangat baik dan akrab. Mami Nita tak henti-hentinya mengelus tangan halus calon menantunya itu. Mereka hanyut dalam perbincangan hangat sampai malam setelahnya keluarga Brian pamit pulang.


Carmen meregangkan otot-otot tangan dan kakinya selepas cuci piring. Ia lalu menatap jarinya yang sudah terpasang cincin dengan berlian berwarna putih mengkilap sederhana tapi mewah dan ia yakin itu pasti mahal. Mama duduk disebelah Carmen dan memberikan potongan buah apel.


"Bisa-bisanya mama ngerencanain acara itu tanpa izin dulu ke Carmen?" Kesal Carmen.


"tapi kamu enggak nolak juga kan? sayang mulai sekarang kalo ada apa-apa kamu cerita ke mama. Apapun ..."


Setelah perbincangan itu, mereka terlelap dalam kamar masing-masing. Carmen harus segera tidur karena besok ia harus kembali ke kota S.


####


hari sudah siang, Carmen masih bermalas-malasan tidur di kamarnya padahal sedari pagi baik papa, mama, dan kakaknya bergantian membangunkan anak dan adik tersayang mereka itu. Dilihatnya notifikasi diponsel yang sudah entah berapa banyak jumlahnya panggilan dari Brian. Ia buka pesan yang sudah Beratus dan benar saja tak lama Brian kembali menelpon.


-morning sayang


-morning apaan? udah siang ini Carmen


-hehehe kecapekan


-sejam lagi aku jemput kamu. Kita balik kota S


-trus apa fungsinya aku ke sini kalo kamu enggak ikut sekalian??


Carmen geli mengingat kedatangan Brian semalam.


-Yaudah, aku siap-siap


Carmen melangkah gontai menuju kamar mandi, setengah jam kemudian ia memasukkan beberapa baju yang sudah tersusun rapi dan wangi karya papa. pakaian kotor yang sebelumnya ia bawa pulang telah bersih, wangi dan rapi. Dengan senyum mengembang ia berjalan membawa tas besar menuju ruang makan. Nampak kak Andre masih menonton acara TV.


"Kak Tio kemana?"


"Udah balik Jakarta dek, kamu makan sana bentar lagi Sayang kamu mau sampai,"


"loh kamu kok tau kak?"


"Semua orang dirumah ini juga tau kalo telpon berdering dan itu dari Brian," jawabnya sedikit iri dan dengki karena adek kecilnya itu sudah milik laki-laki lain.


Carmen mencomot sembarang makanan di meja.


"Kak andrre enggak balik ?"


"Enggak deh, aku ambil libur aja. pengen dirumah manja-manja sama mama,"


"Ihh anak mama,"


Carmen duduk sebelah Andre makan sambil menunggu Brian.


"Nih, dari mama buat jajan sebulan. Karena pacar kamu itu udah kaya raya, konglomerat jadi dikasih mama segini,"


Carmen menatap kakaknya itu dalam-dalam.


"Kak Andre suka enggak sama Brian?"


"So far masih suka, dia kelihatan baik dan berterus terang. Tapi kalo Sampek bikin kamu nangis gue sendiri yang bakal bikin perhitungan sama dia,"


Carmen memeluk kakaknya itu dengan bahagia . Tak lama Brian sudah sampai rumah Carmen, berbincang singkat dengan Andre kemudian pamit kembali ke kota S dengan Carmen.


"Kamu bawa barang banyak banget?"


"itu baju kotor yang aku bawa kemarin, trus dicuciin deh sama papa,"


"idih....udah gede masih ngrepotin ortu aja, " cibir Brian.


heheh Carmen hanya nyengir.


"Mulai sekarang kamu belajar enggak nyusahin ortu lagi, kamu belajar jadi nyonya Brian Wijaya hahahaha"


Carmen hanya mencubit lengan Pacar gantengnya itu. Mobil melaju cukup kencang membuat Carmen tertidur nyenyak sementara Brian masih fokus menyetir sambil cengar-cengir sendiri.


"semua serasa mimpi," Gumamnya pelan.