CARMEN

CARMEN
KEBAKARAN



Brian menatap sebuah foto dihapenya dengan perasaan tak menentu. Sepasang cowok cewek dengan seragam


sekolah dan tersenyum manis sambil membawa es krim ditangan masing-masing. Yah,ia menatap lekat kenangan foto bersama mantan pacarnya yang sudah sangat lamaia simpan di dompet. Terasa klasik memang, tapi faktanya Brian memang cowok romantis dan setia. Dia tidak pernah melupakan kisah masa lalunya dan membawa hingga Carmen datang. Sedetik kemudian tangannya mengambil foto dan membuangnya ke sampah di meja kerjanya.


"Akan bertemu hal baru dengan orang baru," Pikirnya. Ia tidak pernah menyangka bahwa hatinya saat ini telah terisi oleh Carmen. Bahkan ia sudah memantapkan hati untuk mengatakan pada Carmen. Brian bersiap berangkat menuju kampus hingga telponnya berdering. Carmen..


-Halo


-Halo kak maaf aku ganggu kamupagi-pagi gini (suara terdengar cemas)


-iya carmen kenapa?


-Kak tadi gas elpiji dirumah bocor, tanganku kebakar dikit...ini rasanya sakit banget


-kamu tetap disana aku berangkat kesana.


 Betapa terkejut Brian mendengar panggilan telpon Carmen. Ia tahu gadis itu sangat mandiri, tapi untuk kali ini


sudah kelewat mandiri. Ia tidak mneghiraukan sarapannya, pelayan rumahnya maupun sekretaris pribadinya yang sudah menunggunya. Brian berlari keluar rumah, menuju mobil da melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga 30 menit kemudian sampailah di apartemen Carmen.


"Kak maaf aku ngrepotin, ini tanganku panas banget," Kata Carmen yang sudah membalut luka ditangannya


dengan handuk basah. Sementara menatap Carmen dengan tatapan khawatir.


"Kita kerumah sakit sekarang, itu tangan kamu bisa melepuh," Jawabnya menarik lengan Carmen. Saking khawatirnya Brian sampai tak mempedulikan apapun. Mereka lalu menujurumah sakit terdekat. Setelah ditangani oleh dokter untuk lukanya yang melepuh, Brian menelpon pihak pengelola apartemen untuk mengevakuasi semua barang di rumah Carmen. Setengah jam kemudian dokter keluar dari ruang perawatan. Setelah berbincang singkat dengan dokter, Brian masuk menemui Carmen.


"Masih sakit?" Tanyanya dengan nada khawatir. Carmen hanya menggeleng, ia melihat pergelangan tangan


kanan carmen sudah terbalut perban.


"Maaf kak, aku udah ngrepotin," Kata Carmen.


 "Kamu itu ngomong apa sih Car, Aku justru makin khawatir kalo kamu kenapa;kenapa," JAwab Brian. Ialu mengelus rambut carmen agar tenang.


"Aku udah menghubungi pengelola apartemen kamu, dan sementara mereka melakukan perbaikan kamu jangan


tinggal disana ya," Kaya Brian. Carmen mengangguk. Ia paham betul Brian pasti sudah mmengurus semua. Setelah sudah tenang sejam kemudian keduanya keluar rumah sakit.


"Kak, nanti aku tinggal dimana?" Tanya Carmen. Brian masih menyetir tanpa menjaawab Carmen. setengah kemudian mereka sampai di rumah megah dan besar, tampak pelayan yang terburu berdiri di depan pintu utama begitu melihat mobil Brian masuk pekarangan rumah. Sementara Carmen masih takjub dengan kemegahan rumah yang saat ini ia bahkan tak tahu rumah siapa.


"Ayo turun," Ajak Brian. Carmen mengikuti saja dan masih diam.


"Siapkan kamar untuk temanku," Kata Brian kepada seorang pria paru baya yang sudah berdiri menyambut kedatangan mereka. Carmen lalu dipersilahkan duduk di ruang tamu yang begitu mewah dan besar. Ia masih saja takjub dengan interior yang ada.


"Kak," Kata Carmen terputus oleh Brian.


 "Ini rumahku Carmen, sambil menunggu perbaikan apartemen kamu sementara tinggal disini ya," Kata Brian.


"Tuan kamarnya sudah siap," Kata pelayan kepada Brian.


"dia temanku namanya Carmen, layani dengan baik segala keperluannya," Jawabnya. Brian lalu mengajak Carmen menuju ruangan yang nanti selama seminggu akan menjadi kamar Carmen.


"Kalo kamu ada perlu apa-apa panggil saja pelayan ya, jangan sungkan-sungkan,' Kata Brian setelah membuka


pintu kamar. Kamarnya sangat luas dan besar. Carmen sampai terheran-heran. Ia pernah sekali tidur ditempat mewah begini saat di hotel bintang lima. Tidak menyangka bahwa sementara waktu ia akan tidur disini.


Setelah memapah Carmen sampai kasurnya, Brian keluar kamar memberikan ruang untuk Carmen sendiri. Carmen


duduk di pinggir kasur, melihat sekeliling dan masih dengan perasaan yang tak menentu. Sungguh ia tidak menduga bahwa cowok yang dingin dan cuek itu bisa begitu perhatian terhadapnya. Saat ini yang ada dipikirannya hanya perasaan yang tak jelas, dan apa yang harus dia lakukan.


Sedang terhanyut dalam pikiran tak menentu, Tiba-tiba suara pintu dketuk. Brian membuka pintu setelah dipersilahkan Carmen.


"Kamu sarapan dulu, tadi belum sempat kan?" Kata Brian membawa semangkuk bubur di depannya.


"Kak ....aku benar-benar bingung," Jawab Carmen blak-blakan. Brian kemudian menatap lekat ke arah Carmen.


"Carmen, Kamu jangan mikir macem-macem. Kamu kenapa-kenapa aku juga khawatir, lakukan kayak gini lagi ya


kalo kamu ada apa-apa kamu langsung telpon aku," Jawab Brian menenangkan Carmen. Mereka lalu menikmati sarapan di dalam kamar Carmen.


Setelah semua, Carmen istirahat sementara Brian menuju meja kerjanya melanjutkan pekerjaan, ia sengaja tidak


menuju kampus hari ini. Meski ada perasaan khawatir akan keadaan Carmen tapi ia juga senang karena dalam kondisi seburuk apapun Gadis cantik itu menghubunginya.



Malam telah tiba, Carmen baru saja bangun dari tidur sorenya yang panjang. Sangat jarang dia bisa tidur senyenyak itu bahkan ketika dirumahna sendiri. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Belum ada tanda-tanda Brian mengetuk pintunya. Ia lalu bangun dan duduk sebentar seblum akhirnya menuju kamar mandi untuk bersih diri. Dalam kamar mandi yang luas dan mewah ia perlahan melepas perban ditangan kanannya dengan susah payah. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa kejadian seperti kebakaran dan sebagainya akan terjadi saat dia benar-benar dirumahs endirian. Yah, selama ini sebagai anak bungsu Carmen hanpir tidak pernah diitnggalkan orang sendiri.


"Lukanya lumayan besar," Keluhnya saat memperhatikan dengan seksama tangannya. Ia lalu mulai membasahi tubuhnya dan rambut panjangnya. Sementara Carmen mandi, Brian sudah celingak-celinguk melihat kamar yang kosong. Namun setelah mendengar gemericik air di kamar mandi ia yakin bahwa Carmen sedang disana. Ia lalu duduk di sofa yang ada di kamar itu.


15 menit kemudian Carmen keluar kamar mandi masih dengan handuk dan rambutnya basah. Ia kaget melihat Brian disana.


"Maaf Carmen kamu ganti baju aja dulu, aku keluar sebentar. Kalo udah selesai kamu panggil aku ya," Kata Brian yang tak kalah kaget. Ia lalu berjalan cepat untuk keluar kamar. Selesai ganti baju, Brian sudah berada di kamar dan duduk di sofa kembali. Sementara Carmen berusaha menggunakan tangan kirinya untuk mengeringkan rambut dengan hairdryer.


"Biar aku bantu ngeringin rambut kamu," Kata Brian. Carmen kaget.


"Enggak usah kak, aku bisa kok," Jawabnya asal.


"Udah jelas susah gitu...udah sini gapapa," Sahut Brian yang sudah merebut hairdryer dari tangan kiri Carmen. Ia lalu dengan lembutnya mengeringkan rambut Carmen. Sedang gadis itu menahan malu terlihat dari wajahnya yang sudah memerah.


"Habis ini kita makan malam ya," Kata Brian. Carmen mengangguk pelan.Ia benar-benar tak menduga bahwa ia harus berada dalam momen seperti ini. Brian yang terkenal cuek dan dingin bisa begitu perhatian padanya. Tanpa Carmen sadari dari awal bahwa mungkin saat ini hatinya sudah mulai terisi atau bahkan ia mulai bergantung pada Brian? entahlah iapun tak tahu pasti. Yang jelas untuk saat ini yang ia mau hanya tetap berada disini menikmati setiap detiknya.