
Sesampainya di apartemen Carmen menuju ruang peyimpanan yang biasa dibuat meletakkan barang-barang lama dan kardus bekas. Tangannya terus menyibak tumpukan barang mulai dari kardus berisi buku lama, karpet extra sampai akhirnya ia menemukan sebuah kardus berwarna coklat dengan debu tebal di atasnya. Sebelum membawanya keluar gudang ia bersihkan dulu debu dan sedikit ia intip apakah masih lengkap isinya.
"Untunglah masih ada," Ucapnya. Ia lalu berjalan keluar, menutup pintu dan duduk di sofa. Sebelum membuka isi kardus ia lap-lap lagi untuk memastikan debunya hilang. Akan repot jika debu mengotori sofa. Barang-barang dalam kardus masih lengkap, ada beberapa buku diary lama, foto dan barang-barang kecil seperti gelang, kalung, boneka dan bunga mawar merah yang sudah diawetkan.
"masing-masing barang memiliki ceritanya, aku mana bisa lupa," Kata Carmen berbicara sendiri. Yang pertama ia ambil adalah sebuah diary. Buku itu sepasang, warna hitam dan merah muda. Ia buka dari halaman awal sampai akhir dengan cepat. Carmen masih ingat betul itu adalah buku diary yang sengaja dibelikan mantan pacarnya saat ulang tahunnya ke 15 tahun.
Yah mantan pacar itu adalah Daniel Reigan. Mereka bertemu pertama kali saat Carmen baru masuk SMA di kota M, saat itu Daniel merupakan mahasiswa yang sedang melakukan observasi di sekolah Carmen. Yah, lewat pertemuan itulah benih-benih cinta monyet khas anak SMA tumbuh. Daniel memiliki perawakan yang tinggi dengan dada bidang dan rambut yang ia biarkan sedikit panjang. matanya sedikit sipit dan kulitnya putih bersih. Mesi begitu satu hal yang menjadi daya tarik Daniel adalah karena ia memiliki alis yang tebal dan bibir yang simetris cocok dengan wajahnya. Pantas saat itulah dari 4 mahasiswa yang observasi selama 3 bulan di sekolahnya, Daniel lah yang menjadi idola.
"Carmen, cuma kamu cewek yang mau membantuku dengan tulus. bukan karena ingin dekat denganku saja," Ucap Daniel suatu sore saat mereka sedang berjalan usai menyelesaikan tahap akhir observasi. carmen yang saat itu masih gadis baru gede hanya bisa tersenyum malu-malu dan memberikan senyum terbaiknya.
singkat kata, mereka menjadi semakin akrab mesti observasi telah usai. Daniel masih sering menemui Carman bahkan mengajaknya bertemu hingga sebulan kemudian mereka memutuskan pacaran. Carmen kembali membaca isi diary kedua berwarna hitam. Itu adalah buku diary yang ditulis Daniel yang berisi tentang puisi-puisi yang ditujukan untuk Carmen. Sengaja ia memberikan buku itu saat anivesary hubungan mereka kedua. Meski sederhana bagi Carmen itu adalah kado termahal yang pernah ia dapat dari Daniel. Ya, sebuah seni dan tulisan yang secara tulus ia persembahkan untuk kekasihnya jauh lebih berharga dari kado-kado yangs ering Daniel kasih.
"Oh aku hampir lupa dengan kalung ini," Kata Carmen saat mengambil sebuah kalung dengan liontin huruf. Huruf inisial C itu adalah pemberian Daniel saat mereka baru saja jadian. Daniel memang sangat loyal pada Carmen. Ia tak pernah absen memberikan kado-kado untuk pacarnya itu. Bahkan momen disaat ulang tahunnya sendiri ia mengajak Carmen makan malam romantis. Bayangkan saat itu keduanya masih sekolah menengah dan Daniel masih mahasiswa.
Setelah flashback sebentar dengan barang-barang lama itu, Carmen kemudian menutup kardus dan meletakkannya sembarangan di bawah meja. Ia lalu merapikan sedikit rumahnya dan lekas bersiap-siap untuk istirahat. Hari ini menjadi hari yang panjang.
Brian tak hentinya menghisap rokok di ruang kerja sekaligus belajarnya. Meskipun ia masih kuliah, orang tuanya sudah memberikan tanggung jawab perusahaan untuk Brian. tanpa sepengetahuan teman-temannya tentunya. Jika pagi sampai sore ia akan kuliah, malamnya ia akan bekerja. Mengecek laporan-laporan dari stafnya, memberikan saran untuk proyek perusahaan dan banyak lagi yang harus diurus. Semenjak ia kenal Carmen, banyak pekerjaan yang ia tuntaskan. Pikirannya terpecah.
Setelah mendengarkan laporan harian dari sekretaris pribadinya, Brian kembali mengamati isi email yang baru saja ia terima dan membenarkan posisi duduk.
"Ada beberapa laporan yang sudah aku tandai ini diperbaiki lagi dan dicari kesalahannya. Untuk proposal kerjasama dengan Good Idea, sudah ada tindak lanjut?" Tanyanya.
"Tadi pagi kami sudah menghubungi CEO langsung tuan. Dan sudah dibuat kesepakatan mengenai kerjasama," Jawab Sekretaris itu.
"Oke, berhati-hatilah dengan mereka," KAta Brian memberikan kode agar orang di depannya segera keluar. Ia kembali melihat layar komputer di depannya dan membuka sebuah file yang baru saja dikirimkan oleh sekretarisnya.
"Siapa sebenarnya dia, kenapa setelah bertemu dengan dia, ekspresi Carmen menjadi berubah? dia seperti tidak fokus saat makan dan perjalanan pulang," Ucap Brian mengingat kejadian tadi. Carmen sama sekali tidak fokus dengan makannya. Bahkan ia juga hanya diam melihat jalanan dari arah kaca mobil. Tidak ada percakapan apalagi obrolan setelah interviewnya. Padahal jelas-jelas dia diterima kerja part time disana.
Brian sebenarnya keberatan dengan keputusan Carmen bekerja disana, meskipun hanya part time dan tidak harus ke kantor alias flexsibel namun baginya jelas akan menyita waktu keduanya utuk sering bertemu. Tanpa kerjaan begitu saja ia susah bertemu Carmen apalagi ini dtambah kesibukan. Tapi ia sadar sepenuhnya bahwa cewek yang sedang ia kejar ukanlah cewek yang mudah. Ia harus melakukan pendekatan yang lain dan sabar menghadapinya.
"Carmen...carmen..." Katanya sambil menghela nafas panjang.
Lapangan sudah riuh sorak penonton setia dari jurusan Komunikasi saat para pemain inti sudah memasuki lapangan futsal dengan begitu percaya dirinya. Brian Dony dan pemain lainnya sedang melakukan diskusi kecil untuk mengatur strategi permainan. Sementara Carmen dan pemain cewek duduk di bangku official memberikan dukungan. Carmen menyiapkan kamera kesayangannya sambil sesekali mengecek posisi trippod yang akan ia gunakan. Hari ini spesial untuk pertandingan perdana kompetisi futsal antar fakultas ia menyiapkan peralatan kamera yang lengkap. Setengah tahun ia merengek kepada kakaknya agar dibelikan, dan hari ini ia benar-benar akan mengeksekusi.
"Loe harus main bagus hari ini, Tuh Carmen juga nonton," KAta dony pada Brian. Cowok cool itu hanya menoleh sebentar dan kembali fokus pemanasan.
"Loe yang minta dia motret kita kali ini?" Tanya Dony.
"Enggak, itu inisiatif dia aja," JAwab Brian sekenanya. Ia lalu melihat ke arah Carmen yang dengan tak sengaja tatapan mata mereka bersinggungan. Carmen tersenyum ke arahnya. Ia membalas senyuman manis cewek imut itu dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gilak, Fokus...fokus brian," Gumamnya. Pertandingan dimulai. Kedua tim bermain sangat cepat dan lincah, tak ada yang mau mengalah saling serang dan ngotot bahkan hingga pertengahan babak. Dony sudah beberapa kali terjatuh untuk berusaha merebut bola, brian juga tak kalah garang terus melakukan tendangan-tendangan jarak jauh untuk menggetarkan lawan. Meski begitu, Carmen tetap dengan ekspresi datarnya terus memotret setiap momen dari mulai tendangan, sikutan, saling dorong, sampai mengelap keringat. Ia benar-benar fokus dan tenang memainkan lensanya.
Setelah cukup puas dengan hasil jepretannya, ponselnya bergetar tanda bahwa ada panggilan masuk. Carmen keluar arena untuk mencari tempat yang tenang. Daniel.
-Halo
-Carmen ya, ini Daniel
-iya pak, ada apa?
-Kamu bisa datang ke tempat saya sekarang.Ada beberapa hal yang harus dibicarakan mengenai tugas perdana kamu.
-Iya pak, saya segera berangkat.
Carmen kembali ke kursinya dengan tergesa-gesa. Ia lalu membereskan barangnya dan berjalan keluar. Brian sempat melihat Carmen pergi tapi ia tetap harus fokus pada pertandingan kali ini.
"Kemana lagi anak itu, pergi tiba-tiba di tengah pertandingan pentingku," Gumam Brian. Ia lalu menuju pinggir lapangan dan mengelap keringatnya.
"Kata teman-temannya ia harus pergi menemui bosnya. Ada kerjaan mendadak," Sahut Dony setelah bertanya pada salah seorang cewek di sebelah Carmen.
Brian melanjutkan ke arena lapangan dan terus melakukan perlawanan kepada lawan.