CARMEN

CARMEN
GARA-GARA RIO



Rio sedang menikmati es tehnya diplastik siang itu. Cuaca sangat terik, kelas baru saja usai. Kebiasaan Rio duduk di taman kampus sambil menunggu Carmen yang belum selesai urusannya dengan dosennya. Rio merasa kasian dengan sahabatnya itu akibat insiden resign dari good idea, Carmen harus menghadap dosen yang merekomendasikan dia dulu.


Sedang asik menikmati es teh bahunya ditepuk dengan keras oleh seseorang yang tak lain adalah Brian.


"Mana Carmen?"


"Lagi ke ruang dosen kak, biasa gara-gara dia keluar dari good idea. Sekarang dia dipanggil,"


Brian duduk sebelah Rio melihat es teh cowok itu rasanya tenggorokannya ikut haus.


"Siniin minuman loe,"


Tanpa bisa merebut kembali, Rio pasrah saja. Brian segera menyeruput minuman itu dengan rakusnya. Dan benar saja ia lalu tersenyum karena lega.


"Emang Kak Brian bisa minum Es teh plastikan gini? nanti kalo sakit?" Tanya Rio waspada. Ia teringat cerita Carmen betapa Kaya rayanya Brian.


"Santai aja,"


Tak lama Carmen datang membuyarkan obrolan ringan dua cowok itu. Sebenarnya hari ini ia ada tugas dengan Rio, sekalian ada Brian ia izin mengerjakan Saja.


"aku antarin aja ya,"


"enggak usah kak, kan ada Rio. Lagian tempatnya enggak jauh dari kampus," Tolak Carmen.


Brian akhirnya memahami dan mengizinkan pacarnya itu untuk mengerjakan tugas dengan Rio. Toh mereka sahabatan, dan Rio cukup tanggungjawab. mereka lalu berpisah ke tujuan masing-masing. Sementara Carmen dan Rio pergi menemui temannya yang lain. Brian pulang ke rumahnya. Ada beberapa pekerjaan yang harus ia rampungkan.


####


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Brian menutup dokumen yang baru saja ia tanda tangani di meja kerjanya. Pelan-pelan ia berjalan keluar menuruni tangga menuju dapur. Tenggorokannya panas karena haus. Sedari siang tadi ia merasakan haus yang sangat, bahkan sekarang ditambah dadanya panas dan sesak.


Setelah meneguk segelas air putih ia mengecek ponselnya berharap Carmen sudah memberi kabar. Tidak ada notifikasi dari Carmen, samar-samar ia merasakan pusing tapi tidak ia rasakan. Mungkin efek setelah bekerja tadi pikirnya. Pak Bundi berjalan mendekati tuannya itu.


"Tuan muda tidak sehat?"


"Sehat,"


Pak Bundi meletakkan tangannya di dahi Brian. Dan nampak terkejut.


"Tuan muda demam, sebaiknya istirahat di kamar. Saya akan panggilkan dokter,"


Brian berjalan ke kamarnya. Ia selimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Kesadarannya berangsur melemah, ia bermimpi aneh dan tak masuk akal mulai dari saat ia ditinggal papinya untuk selama-lamanya. Kesepiannya saat masih sangat muda dulu hingga Carmen yang kini mengisi hatinya menghindari nya.


Setengah jam kemudian dokter pribadi keluarga Wijaya memeriksa keadaan Brian. Menyuntikkan vitamin sekaligus obat untuk demamnya. Wajah tampan itu menjadi pucat, matanya belum sepenuhnya bisa ia buka karena berat. keringat dingin membasahi sekujur tubuh. Brian lemah.


Pak Bundi mengangkat telpon berdering di ponsel Brian. Sekilas beliau melirik nama pemanggil itu yang malam-malam mengganggu tidur tuan mudanya. -Carmen-


Arghh ia ingat nama itu, tunangan tuan Brian.


-Halo nona Carmen


-Iya, Brian kemana? bukankah ini Ponsel Brian?


-Iya nona, Tuan muda sedang tidur.


-Tidak biasanya.


-Tuan Muda sedang sakit.


Tak lama Telpon dimatikan. Pak Bundi malah kebingungan, takut salah bicara dan membuat keduanya salah paham. Ia letakkan ponsel di atas nakas dan meninggalkan tuan mudanya tidur. Keadaannya sudah lebih baik dari tadi. Sudah tidak lagi mengigau dan berceloteh aneh-aneh. Kebiasaan tuannya jika sakit, apapun akan diucapkan. Bentuk sebuah kekhawatiran.


Sekitar sejam kemudian bel rumah mewah nan megah itu berbunyi. penjaga membukakan pintu setelah tahu siapa yang datang. Carmen berjalan menaiki tangga menuju kamar Brian setelah pak Bundi menjelaskan keadaannya.


"Bagaimana bisa cowok sekuat dia keracunan," Batin Carmen. Raut kekhawatiran terlihat jelas.


"Pak Bundi, biar saya yang tungguin dia. Bapak bisa istirahat," Kata Carmen. Pak Bundi menurut saja pada calon Nona muda keluarga Wijaya itu. Untuk pertama kalinya ia melihat dan berbicara kepada Nona Carmen. Dan ia tahu kenapa Tuan muda begitu menyukai gadis cantik itu.


Carmen duduk di kursi samping ranjang Brian. Cowok itu tertidur dengan pulas dengan plester pendingin demam di dahinya yang sudah mulai mengering. Ia lepaskan dan menempelkan yang baru. Ia usap keringat yang bercucuran deras di wajahnya. Carmen pijat lengan kuat dan tangguh Brian agar ia cepat sadar kembali.


Ting Ting


ponsel Carmen menotif ada pesan masuk. Dari Rio.


Carmen lalu menggelengkan kepalanya. setelah membaca pesan Rio.


"Awww," Teriak Brian.


"Loh...udah sadar??"


Carmen buru-buru berdiri mengambil segelas air putih. Lalu mendudukkan Brian dan menyuruhnya minum.


"Tadi pak Bundi pesan kalo kamu terbangun minum air,"


Brian menurut saja. Ia habiskan segelas air itu. Kembali merebahkan tubuhnya yang masih lemah.


"Kamu diantar siapa kesini? atau dijemput sopir?" Tanya Brian.


"Enggak, pake gojek tadi Buru-buru kesini pas denger kamu sakit,"


Brian tersenyum bahagia karena kekhawatiran Carmen. sekilas ia memiliki ide cemerlang agar bisa dimanja-manja Carmen.


"Aku belum makan,"


"mau makan? yaudah aku panggil pelayan biar dibuatin bubur ya"


Brian menahan lengan Carmen.


"Enggak mau dimasakin mereka, kamu buatin aja,"


Carmen sedikit menggerutu tapi tetap dilakukan saja. Ia berlaku sabar karena Brian sedang sakit. Dapur berada di lantai utama yang jaraknya lumayan jauh dari kamar Brian. Sesampainya di dapur ia melihat isi kulkas dan mengambil beberapa sayuran dan beras untuk dibuatkan bubur.


Carmen melangkah ke kamar Brian membawa nampan dengan semangkok bubur. masih panas karena baru saja matang. Brian meletakkan ponselnya begitu Carmen datang.


"Bisa duduk kan?"


"Enggak bisa, bantuin," Ucapnya dengan nada merengek. Ya ampun Brian, makin nyusahin kalo sakit.


Beberapa bantal ia tata untuk menegakkan badan Brian. Ia lalu memberikan semangkok bubur di depannya.


"Pelan-pelan masih panas,"


"Suapin,"


Lagi-lagi Carmen menghembuskan nafas panjang dan dalam. 'Sabar, nih bocah lagi sakit,'


Suapan pertama sukses masuk ke mulut Brian.


"Panas enggak?"


Brian hanya menggelengkan kepala.


"Enak enggak?"


"Hambar,"


'ahh bodoh banget loe Carmen, ya jelas hambar lah doakan lagi sakit'


Meski tak dapat merasakan apapun, Brian tetap berusaha menghabiskan bubur buatan pacarnya. Ia sangat senang dengan keadaannya sekarang Carmen jadi lebih perhatian padanya.


"Udah malam Yan kamu tidur istirahat biar cepat sembuh,"


Brian menatap Carmen dengan mata sayunya. Ia lalu merebahkan tubuhnya setelah sebelumnya Carmen membantu menata bantal. Carmen berencana akan tidur di kamarnya dulu saat masih tinggal di rumah ini. Brian masih saja menatapnya.


"Ada apa lagi?"Tanya Carmen.


"Tidur sama aku, aku gabisa tidur,"


"Kamu gila, udah jangan aneh2,"


Terlambat Brian sudah menarik lengan Carmen yang membuatnya kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh menindih tubuh Brian. Jantungnya deg degan tak menentu. Ia coba melepaskan pelukan Brian tapi sia-sia saja.


"Kamu ini sakit tapi masih kuat aja ya," Kata Carmen mulai sebal.


"Malam ini saja, temani aku," Kata Brian melemah. Ia lalu sudah tidur pulas. Carmen tak tega melihat kekasihnya itu. Dengan terpaksa ia ikut tertidur di pelukan Brian berharap tak terjadi apa-apa karena Brian sedang sakit.