Bad Girl But Genius

Bad Girl But Genius
Witte de Withstraat



Selang beberapa menit, bang Kevin sudah sampai di Paviliun. Dan saat itu, Dhafiena sedang menonton film di ruang tengah.


"Assalamu'alaikum."Ucap bang Kevin saat memasuki paviliun.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab salam Dhafiena. "Abang kok lama banget sih, tadi katanya bakal cepet pulangnya?" lanjutnya.


"Hehe iya maaf, tadi nanggung banget soalnya. Ya jadinya di selesaiin sekalian." Jawab bang Kevin, ya memang benar apa yang dikatakannya. Sebenarnya tadi sudah selesai, tapi ternyata masih ada beberapa dokumen yang terselip dan belum dibacanya.


"Besok jalan-jalan ke Rotterdam mau?" Tanya bang Kevin padanya.


"Mau dong, janji ya besok?" Jelas mau lah, siapa sih yang tidak mau diajak jalan-jalan yekan? hh


"InsyaAllah ya." Sahut bang Kevin.


..........................


Keesokan harinya, ternyata benar bahwa bang Kevin mengajaknya ke Rotterdam.


"Ini tujuan kita kemana sih, bang?" Tanya Dhafiena saat di perjalanan.


"Rotterdam lah." Jawab singkat abangnya.


"Maksudnya tempat tujuannya di Rotterdam nanti dimana gitu loh." Jelas Dhafiena yang tak puas dengan jawaban sang abang.


"Witte de Withstraat, disana nanti bakal banyak bangunan yang bagus-bagus. Di jamin, kamu pasti bakal suka banget." Penjelasan bang Kevin yang membuat Dhafiena semakin penasaran dengan tempat itu. Sebagus apa sih tempatnya?


"Affah iya?" Sahut Dhafiena yang tak yakin.


"Kamu nenye?" Jawab bang Kevin meledek adeknya


"Kamu bertenye-tenye?" Hal itupun di lanjut oleh sang adek.


"Gak boleh kayak gitu ya!" Tegur bang Kevin sambil mengusap kepala Dhafiena.


"Hehehe, becanda." Sahut Dhafiena cengengesan.



Setelah sampai disana, bang Kevin dan Dhafiena menyewa sebuah sepeda untuk berkeliling di daerah itu.


Di perjalanan, Dhafiena sangat bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah. Karena dia bisa berlibur, eh bukan berlibur sih karena ini kan dia ikut abangnya. Pemandangan disekitar juga tak kalah indahnya, selain itu daerah ini juga benar-benar bersih. Sangat berbeda jauh dengan di Indonesia. Jika sungai di Indonesia dipenuhi sampah, maka sungai disini tidak. Karena alirannya sangat bersih tak ada sampah apapun, airnya juga sangat jernih.


...........


Sore harinya, mereka berdua pergi ke salah satu cafe yang ada di persimpangan jalan. Suasana jalan saat itu bisa dikatakan tidak sepi, karena banyak orang berseliweran kesana kemari.




Kali ini, yang memilih makanan adalah bang Kevin. "Aku ngikut pilihan abang aja deh." Begitulah kata Dhafiena tadi saat ditanya bang Kevin hendak memesan makanan apa. Akhirnya bang Kevin memilih paket yang sederhana, karena menuruti kemauan sang adek. Padahal tadi bilangnya ngikut aja, eh ujung-ujung ikut nentuin juga kan, hahaha.



..........................


De Witte de Withstraat is een uitgaansstraat in Rotterdam met cafés, restaurants, kunstgaleries, diverse winkels en gemeentelijke monumenten. De straat verbindt de Schiedamse Vest met de Eendrachtsweg. De straat is in 1871 vernoemd naar de Rotterdamse vlootvoogd Witte Cornelisz. de With (1599 - 1658).


Yups bener banget, jadi Witte de Withstraat merupakan salah satu tempat menarik yang ada di Rotterdam. Itu sebenarnya salah satu jalan hiburan di Rotterdam dengan kafe, restoran, galeri seni, berbagai macam toko, dan monumen kota. Jalan ini tuh menghubungkan Rompi Schiedamse dengan Eendrachtsweg. Sekitar tahun 1900, Witte de Withstraat menjadi bagian dari jalur trem kuda, jalur trem pertama di Rotterdam. Pada saat itu, museum Foto untuk sementara ditempatkan di bekas gedung NRC, yang sekarang bertempat di Las Palmas di Wilhelminakade.


Pada tahun 1970-an, jalan tersebut memiliki reputasi yang buruk karena banyaknya cafe kumuh dan rumah judi ilegal. Sedangkan pada tahun 1990-an, metamorfosis ekstensif dimulai sebagai bagian dari Poros Seni yang menghubungkan Taman Museum dan Museum Maritim.


Salah satu galeri seni yang ada disitu adalah Kunstinstituut Melly, institusi seni di Rotterdam yang menghadirkan dan mempertanyakan karya-karya kontemporer seniman visual dan budayawan. Tidak hanya itu saja, tetapi ada juga Galeri de Aanschouw, Galeri Ecce, dan TENDA Rotterdam.


Sedangkan untuk Monumen kota ada beberapa, diantaranya,


Witte de Withstraat 15



Witte de Withstraat 16



Witte de Withstraat 38



Witte de Withstraat 40



Witte de Withstraat 45



Witte de Withstraat 50




...........


Tak lama kemudian, bang Kevin izin untuk ke kamar mandi sebentar. Dan saat Dhafiena memainkan handphonenya, tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.


"Kak Iena." Panggilnya dengan senyum manis.


Saat Dhafiena menoleh, ternyata orang yang ditemuinya kemarin di taman.


"Eh iya, kok kamu ada disini?" Tanya Dhafiena.


"Ohh, mau jemput mamah kak." Jawabnya tidak panjang lebar seperti biasanya.


"Mamah? Emang Mamah kamu ada di-..." Belum juga Dhafiena selesai mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba ada suara perempuan yang memanggil anaknya.


"Boy." Panggil perempuan itu sambil melambaikan tangannya pada orang di depan Dhafiena.


"Wait, Mom!" Teriaknya.


"Eh kak, aku duluan ya. Takut mamah nungguin kelamaan." Pamitnya undur diri.


"Iya, hati-hati dijalan. Titip salam buat mamah kamu ya." Balas Dhafiena tersenyum simpul.


"Oke siap, byee." Ucapnya sembari melambaikan tangan ke Dhafiena, tak lupa dengan senyumannya.


Kemudian pemuda itu langsung menghampiri mamahnya dan langsung menggandengnya keluar dari cafe tersebut. Saat melewati Dhafiena, pemuda itu kembali melambaikan tangannya lagi.


"Itu yang kemarin kan, Boy?" Tanya mamah pemuda tadi saat di perjalanan.


"Yes, mom." Jawabnya masih fokus pada stir mobil.


"Mom sepertinya pernah melihatnya, tapi lupa kapan dan dimana." Mamahnya sedikit mengingat-ingat wajah Dhafiena.


"Oh iya, mom dapat titipan salam dari dia tadi." Kata sang pemuda.


...........


🔻Kembali ke cafe


"Kok belum dimakan itu?" Tanya bang Kevin yang baru datang kembali.


"Kan nungguin abang dulu, masa aku makan duluan. Itu namanya tidak sopan bukan? Hehe." Jawab Dhafiena, tumbenan bener ygy hh:)


"Yaudah yuk sekarang dimakan." Kata bang Kevin yang diangguki Dhafiena.


Setelah selesai makan, Dhafiena ingin mengajak abangnya mencari masjid disekitar situ. Sambil jalan-jalan liat suasana malam katanya hh. Bang Kevin yang tak mau ambil pusing pun menyetujuinya. Kebetulan kan, sekalian menjalankan ibadah dulu.


"Bang, kita baliknya kapan?" Tanya Dhafiena yang masih fokus melihat kota ini.


"Habis ini langsung balik." Jawab bang Kevin yang masih setia menggandengnya.


"Maksudnya balik ke Indonesia, bukan ke paviliun." Sahut Dhafiena memperjelas.


"Lha kamu maunya kapan? Besok?" Tanya balik bang Kevin.


"Besok juga gapapa, aku kangen sama Indonesia." Jawab Dhafiena yang sudah tak sabar ingin pulang ke negaranya.


"Kangen Indo apa kangen Indo?" Tanya bang Kevin meledeknya.


"Apa sihh..." Elakkan Dhafiena.


"Oh iya, temen-temen kamu bawain apa nanti?" Tanya bang Kevin mengubah topik pembicaraan.


"Ada deh, kemarin aku udah beliin." Kemarin Dhafiena sudah membeli beberapa barang untuk teman-temannya. Kurangnya bisa dibelikan besok sebelum ke bandara.


..._-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_...


...Alhamdulilah akhirnya comeback juga kan?...


...How are you, readers?...


...Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat yaaa🤗...


...Oh iya, maaf ya untuk revisi nanti kalau sudah selesai semuanya saja biar enak....


...Maaf kalau masih banyak typo hehe...


...Thanks buat teman-teman yang sudah setia menanti part ini di up....


...Jangan lupa tungguin part selanjutnya ya,...


...see you :)...


..._-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_...