Bad Girl But Genius

Bad Girl But Genius
Paku Berkarat



Saat hendak keluar menuju ruang OSIS, eh di depan pintu ada tiga orang yang sudah menunggu, entah siapa mereka. Soalnya cuma kelihatan tasnya doang. Karenakan posisinya membelakangi Kelas VIII B.


" Heh, minggir gue mau lewat! " Kata Dhafiena mengusir ketiga cowok itu.


Sontak cowok-cowok itu membalikkan badan mereka.


" Lo nyuruh kita pergi? " Tanya Hamdan.


" Hm. " Dehem Dhafiena.


" Enak aja, kita udah nunggu lama disini. Lo langsung nyuruh pergi gitu aja? " Tanya Galaksi dengan muka tak percaya.


" Siapa kalian? " Tanya Dhafiena.


Entah si Dhafiena itu bagaimana. Jelas itu adalah teman-teman Praka. Orang yang selalu menggagalkan rencana bolosnya.


" Gak usah pura-pura lupa. " Kata Hamdan tak di gurbis Dhafiena.


" Lo di suruh Bu Riska ikut piket razia pulang sekolah kan? " Tanya Praka.


Yah jelas, hal itu membuat Hamdan dan Galaksi melongo di buatnya. Biasanya tak pernah bicara, lah sekarang? Kalian tahu sendiri kan?


Ok, lanjut.


" Tau darimana lu? " Tanya Dhafiena.


" Tadi, Bu Riska bilang sendiri ke kita-kita. " Jawab Hamdan yang sudah sadar dari keterkejutannya.


" Ya udah, ini sekarang mau ngapain? " Tanya Dhafiena yang ingin cepat-cepat pulang.


" Gue sama Hamdan razia di gedung Utara. " Kata Galaksi.


" Bentar, Galaksi sama Hamdan. Berarti gue sama nih orang? " Tanya Dhafiena menunjuk Praka.


" Ya iyalah, masak ya iya dong. " Jawab Hamdan.


" Ogah gue, mendingan sendiri aja. " Tolak Dhafiena.


" Gak bisa gitu dong. Ini udah peraturan, gak boleh sendiri-sendiri. " Kata Galaksi.


Tanpa tunggu lama, Galaksi langsung mendorong Hamdan supaya cepat jalan ke gedung Utara.


" Buruan. " Kata Praka yang berjalan mendahului Dhafiena.


" Huh. " Dhafiena membuang nafas dan hanya bisa pasrah mengikuti Praka.


" Sebenernya apa sih yang mau di razia. Orangnya aja udah pada pulang semua. " Kata Dhafiena yang bingung dengan piket anak OSIS itu.


" Daripada banyak omong, buruan cek di loker loker meja! " Titah Praka.


" Mau nyari apaan sih? Nyari nyamuk? " Tanya Dhafiena sebal.


" Udah buruan, mau cepet pulang gak? " Tanya Praka.


Terpaksa? Oh sudah jelas. Kalau bukan karena hukuman dari Bu Riska, mana mau dia ikut piket ginian. Kalau di rumah, sudah pasti bisa nonton film kan.


Dhafiena berjalan menuju meja paling depan.


" Astagfirullah, apaan nih jorok banget deh. " Kaget Dhafiena saat melihat sampah-sampah di loker.


" Ya udah buruan bersihin! " Sambung Praka.


" Ogah, ngapain gue. Lo aja sono. " Kata Dhafiena keluar kelas menuju kelas sebelah.


" Alkhamdulilah, cuma daerah kertas sama buku yang ketinggalan aja di jelas ini. Oh iya, ini kan kelas tuh trio resek, pantes aja bersih. " Gumam Dhafiena mengangkat buku-buku yang tertinggal di laci.


" Woy OSIS resek. Ini buku di apain? " Tanya Dhafiena pada Praka yang sudah selesai merazia gedung selatan itu.


" Di makan. Yah di balikin ke perpustakaan lah. " Jawab Praka kesal.


" Lah, kalo yang punya besok nyariin gimana? " Tanya Dhafiena.


" Tinggal ambil sendiri lah di perpus. " Jawab Praka.


" Woy ribut aja kalian. " Kata Hamdan baru saja sampai dengan Galaksi.


" Ini tempat sampah kemana semua? " Tanya Praka.


" Udah di belakang semua. " Jawab Galaksi.


" Kita tadi langsung buang sampah-sampah di belakang gedung, biar di beresin sama tukang bersih-bersihnya. " Lanjut Galaksi.


" Kita mau pulang duluan, gue mau ada acara keluarga. " Kata Hamdan.


" Gue juga mau duluan. Dah mendung nih. " Sambung Galaksi.


" Ya udah sono pulang aja. " Sahut Praka.


" Ngusir luh? " Tanya Hamdan.


" Udah yok kita pulang. " Kata Galaksi menarik lengan Hamdan supaya tak banyak bicara.


Dhafiena melihat kalau Hamdan dan Galaksi keluar dari gerbang sekolah mengendaradi sepeda motor. Soalnya kelihatan dari gedung kelas VIII.


" Mereka naik motor? " Tanya Dhafiena.


" Hm. " Jawab Praka singkat.


" Emang boleh yah? " Tanya Dhafiena.


" Cuma OSIS. " Jawab Praka.


" Curang amat, cuma OSIS yang boleh. Pilih kasih nih guru-guru. " Kata Dhafiena.


Setelah selesai mengembalikan buku ke perpus...


" Woy dah adzan aja nih. Cepet amat. Kita mau lanjut lagi? " Tanya Dhafiena.


" Ke mushola dulu. " Jawab Praka.


Mereka ke mushola untuk melaksanakan sholat ashar bersama guru-guru lain yang masih ada di sekolah. Mungkin sedikit lembur kali, jadi pulang sore.


Setelah sholat ashar Dhafiena kembali ke depan mushola memakai sepatunya kembali.


" Woy, OSIS resek. " Panggil Dhafiena.


" Gue punya nama. " Sahut Praka.


" Serah lo deh. Gue cuma mau ngomong. Habis ini langsung pulang gue udah sore, mana mau hujan lagi. " Kata Dhafiena.


" Gak boleh, kerjaan aja belum selesai. " Sahut Praka.


" Itu kerjaan lo sebagai OSIS. Gue bukan jadi bisa pulang. " Kata Dhafiena.


" Gue laporin ke guru BK biar di perpanjang masa hukuman lo. " Ancam Praka.


Daripada di perpanjang satu minggu, lebih baik menyelesaikan hari ini saja. Dhafiena pasrah, toh juga tinggal sebentar.


" Ini mau ngapain lagi? " Tanya Dhafiena.


" Buang sampah aja. " Jawab Praka santai.


" Ogah lo aja. " Tolak Dhafiena.


" Lo juga harus bantu. " Sahut Praka.


" Gak capek gue. " Alesan aja di Dhafiena mah kalo di suruh, kebanyakan ngeles.


" Enak aja lo, nyantai disini. " Sahut Praka.


" Terserah gue lah. " Kata Dhafiena santai.


" Gak lo bawa kardus ini, cuma kertas-kertas aja isinya. " Kata Praka menyodorkan kardus di depan Dhafiena.


" Ya sudah ikuti saja biar cepet selesai, toh cuma kardus yang di bawa. Daripada tuh orang. " Gumam Dhafiena pelan.


Dhafiena mengikuti langkah Praka.


" Lama amat, masih jauh kagak sih? " Tanya Dhafiena.


" Bentar lagi. " Jawab Praka.


Hingga sampailah mereka di belakang gedung sekolah.


" Ini nanti siapa yang beresin? " Tanya Dhafiena.


" Nanti ada orang yang di tugasin bersihin. " Jawab Praka.


Saat hendak kembali ke gedung sekolah...


" Awh... " Ringis Dhafiena kesakitan.


BRUKKK...


Sampai akhirnya Dhafiena terjatuh ke di atas tanah.


Praka yang ada di depan menoleh kebelakang, terlihatlah Dhafiena yang sedang terduduk kesakitan di belakang.


" Ngapain lo duduk di situ? " Tanya Praja yang masih diam di tempat.


" Gue bukan duduk, tapi jatuh. " Jawab Dhafiena pelan menahan sakit.


" Gak usah nge-prank. " Sarkas Praka.


" Siapa yang nge-prank. " Bentak Dhafiena.


Praka melihat ada yang aneh di sekitar kaki Dhafiena.


" Lo jatuh? " Tanya Praka mendekat ke arah Dhafiena.


" Masih tanya lagi. " Sahut Dhafiena.


Praka melihat ada beberapa paku kecil yang sudah berkarat di sekitar sepatu Dhafiena.


" Kaki lo kenapa? " Tanya Praka.


" Gak tau, sakit lah pokoknya " Jawab Dhafiena.


Praka memegang sepatu Dhafiena dan sedikit di angkat....


" Kenapa kaki lo bisa kena paku kek gini? " Tanya Praka sedikit khawatir.


" Yah mana gue tau coba. Kalo tau gak mungkin juga lewat sini. " Jawab Dhafiena.


" Kaki lo kena paku yang udah agak berkarat ini namanya, bisa kena rabies entar. " Kata Praka.


" Rabies pala kau. Kalo kena paku berkarat namanya tetanus bukan rabies. " Sahut Dhafiena.


" Canda kali. " Kata Praka.


Dhafiena berusaha berdiri, namun tak bisa soalnya kakinya kan sakit banget guys. Bisa kena rabies entar, eh tetanus deng.


" Udah sini gue bantu ke UKS. " Kata Praka yang geram karena Dhafiena yang sedari tadi tak bisa berdiri juga.


" Awas lo macem-macem. " Peringkat Dhafiena.


" Iya ya Allah, ribet amat lo jadi orang. " Sahut Praka tak di gurbis Dhafiena.


Setelah sampai di UKS...


" Lo lepas dulu sepatunya! " Titah Praka mengambil kotak obat di dalam lemari UKS.


Dhafiena melepas sepatunya pelan-pelan. Sedikit kesakitan, namun di tahan supaya tak terlihat lemah lah yah.


" Siniin kakinya. " Kata Praka yang sudah duduk di bawah.


" Gak usah, ntar juga sembuh kok. " Tolak Dhafiena.


" Ntar kalo infeksi siapa yang susah? Kena rabies entar, eh tetanus maksudnya. " Tanya Praka membuka kotak obat yang ia ambil tadi.


" Huft... " Hela nafas pasrah Dhafiena.


" Udah tenang aja, gak bakal di apa-apain. Cuma di bersihin doang lukanya, aelah lama amat lo. " Kata Praka.


Praka langsung meneteskan alkohol di kapas yang dia bawa dari kotak obat tadi.


" Awh,... " Ringis Dhafiena sedikit kesakitan.


" Gue manggil Bu Dokter dulu deh, ini gak bisa gue ngambil pakunya. " Kata Praka yang sudah selesai membersihkan darah di sekitar kaki Dhafiena.


Praka langsung keluar UKS menuju ruang Bu dokter di sebelah UKS. Jadi tidak perlu jauh-jauh.


Tak menunggu lama, Praka dan Bu dokter sudah berada di UKS.


" Pasti sakit banget yah ini? " Tanya Bu dokter yang di angguki Dhafiena.


Setelah selesai dengan acara menangani luka kaki Dhafiena yang terkena paku karatan tak lama juga sih.


...- - - - - - - - - - - - - - - - - - -...


...Hehe seru gak sih part ini?...


...Maaf yah kalau kurang seru....


...Maaf juga banyak typo....


...Hehe....


...Tunggu kelanjutannya oke?...