Bad Girl But Genius

Bad Girl But Genius
Akibat Jus Nanas



"Terus kenapa terlambat?" Tanya Bu Riska.


"Ya karena tadi saya naik sepeda, Bu." Jawab Dhafiena.


"Ya kan bisa lebih kenceng sedikit nyetirnya." Sahut Bu Riska.


"Kalo kenceng-kenceng nanti kecelakaan gimana, Bu?" Tanya Dhafiena.


"Terus mana bisa, Bu naik sepeda ontel nyetirnya kenceng. Yang ada itu nggayuhnya agak cepet." Lanjut Dhafiena.


"Kalo saya nggayuhnya kecepetan, yang ada saya nanti terbang kebawa angin loh, Bu." Tambahnya.


"Haduh, kamu ini yah..." Ucap Bu Riska geram.


"Kenapa lagi, Bu? Kan bener yang saya ucapin." Tanya Dhafiena.


Bu Riska diam mati kutu karena ucapan Dhafiena, memang benar sih yang dikatakannya, batinnya seperti itu.


Beberapa saat kemudian...


"Sudahlah pusing, Ibu mikirin kamu ini. Pasti kamu kesiangan kan bangunnya terus naik sepeda ontel biar tambah telat kan?" Geram Bu Riska yang di 'iya' kan Dhafiena.


"Sekarang, ikut Ibu ke lapangan. Lari keliling lapangan 10 kali!" Perintah Bu Riska menarik tangan kiri Dhafiena menuju ke lapangan.


Setelah sampai di lapangan...


"Ya Allah, Bu. Nggak kasihan sama saya gitu, ini panas banget lho, Bu?" Tanya Dhafiena.


"Ini hukuman buat kamu karena sudah terlambat. Lihat sekarang sudah mau jam istirahat kamu baru saja datang. Itu artinya kamu sudah tertinggal beberapa jam mata pelajaran." Marah Bu Riska sambil menunjuk jam tangan yang bertengger di lengan kanannya.


"Sekarang cepat laksanakan hukuman kamu." Tambahnya.


"Ya elah, Bu. Dikurangin dikitlah, ini panas banget, Bu." Keluh Dhafiena.


"Nggak ada kurang-kurangin, atau mau saya tambah lagi?" Tawar Bu Riska.


"Yah kok malah di tambah sih, Bu." Sahut Dhafiena.


"Ya sudah, kalo tidak mau ditambah, sekarang cepat lari keliling kalangan 10 kali." Kata Bu Riska.


Tiba-tiba ada siswa laki-laki lewat...


"Nak Praka." Panggil Bu Riska, ternyata siswa itu adalah Praka yang waktu pertama kali sekolah bertemu di gerbang sekolah.


"Ada apa, Bu?" Tanya Praka.


"Kamu darimana?" Bukannya menjawab, eh Bu Riska malah bertanya balik.


"Dari depan." Jawab Praka singkat.


"Oh iya, Ibu minta tolong. Kamu awasin Dhafiena disini, dia saya hukum keliling lapangan 10 kali. Soalnya Ibu mau ke ruang guru dulu." Kata Bu Riska meminta tolong pada Praka.


"Iya, Bu." Sambung Praka.


"Aelah, Bu. Nggak usah di awasin juga kali. Nggak bakalan kabur juga kok." Kata Dhafiena.


"Nggak, kamu harus tetep di awasin. Kalo gitu ibu tinggal dulu." Sambung Bu Riska.


Setelah Bu Riska pergi dari lapangan Dhafiena langsung menjalankan hukumannya sembari menggerutu menyesal.


"Huh tau gini gak jadi telat tadi." Gumam Dhafiena di sela-sela dia berlari sembari mengelap keringat di pelipisnya menggunakan tangan kirinya.


"Mana panas gini bikin kepala pusing aja." Lanjut Dhafiena.


"Haduh, perut gue juga kenapa jadi sakit gini. Apa gara-gara minum jus nanas tadi pagi ya?" Tambahnya sambil memegangi perutnya.


"Bomat lah, mending gue cepet selesai-in ini hukuman. Gue pasti kuat." Kata Dhafiena menyemangati dirinya sendiri.


Namun baru 7 kali putaran, tiba-tiba.......


BRUKH.......


Praka yang sedang mengawasi pun terlonjat kaget, namun tertutupi dengan muka cap datarnya saat melihat seorang gadis yang tengah berlari di lapangan terjatuh. Praka langsung berlari menuju Dhafiena.


Saat itu juga, Dhafiena melihat Praka berlari menuju ke arahnya sebelum dia menutup matanya, alias benar-benar pingsan.


Di saat yang bersamaan, Bu Riska sedang berjalan di Koridor melihat Dhafiena yang jatuh pingsan, karena saat itu Bu Riska menuju ruang guru.


"Astagfirullah." Kaget Bu Riska melihat Dhafiena pingsan, segeralah islam menuju ke Dhafiena.


"Eh ini kok Dhafiena panas banget." Kata Bu Riska memegang dahi Dhafiena.


" Ayo cepet bawa ke UKS, Praka!" Perintah Bu Riska menepuk bahu kanan Praka.


"Iya, Bu." Jawab Praka mengangkat tubuh Dhafiena menuju ke UKS.


"Eh, Nak. Kesini sebentar." Panggil Bu Riska saat melihat di koridor ada siswi perempuan yang sedang berjalan, ya kali terbang ya. 😂


"Lho, Bu. Itu kan Dhafiena. Dia kenapa di angkat sama Praka, Bu?" Tanya Mita khawatir.


"Dia pingsan tadi saat menjalankan hukuman." Jawab Bu Riska.


"Ya udah, ibu ke UKS dulu. Tolong Kamu bawa kan ini ke ruang guru dan berikan ke Pak Dani!" Perintah Bu Riska yang di angguk Mita dan Meisie.


Setelah dari ruang guru sesuai perintah Bu Riska, Meisie dan Mita langsung ke ruang kelasnya.


BRAK...


"WOY WOY, GAWAT GAWAT, GAWAT DARURAT." Teriak si Mita.


"Heh, Mita. Kalo teriak jangan pas di telinga gue dong. Sakit nih." Keluh Meisie mengusap-usap jilbabnya yang pas bagian telinganya yang di balas cengiran Mita.


"Napa lo berdua?" Tanya Jordan.


"Tau tuh, kirain guru." Sambung Dhimas.


"Ye maaf kale, itu si Dhafiena..." Kata Mita belum selesai bicara sudah di sahut Laura.


"Kenapa Dhafiena?" Tanya Laura dengan wajah kekhawatiran nya saat mendengar nama Dhafiena.


"Ye Mita belum ngomong malah lo nyaut langsung." Sindir Meisie.


"Maklum dia khawatir sama sobatnya." Sahut Wahyu.


"Gimana sama, Dhafiena?" Tanya Stevani.


"Iya hampir lupa, tadi dia di gendong Praka ke UKS sama Bu Riska." Jawab Meisie.


"Kok bisa?" Tanya Stevani dan Laura bersamaan.


"Kata Bu Riska sih di hukum tadi terus pingsan gitu." Jawab Mita.


"Ya udah kita ke sana dulu." Kata Stevani menarik tangan Laura keluar kelas menuju UKS.


Disini lain...


"Gimana keadaannya, dok?" Tanya Bu Riska setelah Dhafiena di periksa oleh dokter.


"Cuma kecapekan sama asam lambungnya kambuh, kayaknya dia salah makan atau salah minum tadi pagi pas sarapan mungkin." Jelas Bu Dokter.


"Oke, terimakasih, Dok." Kata Bu Riska yang di angguki Bu Dokter.


"Oh iya, ini obatnya. Kalau sudah bangun suruh minum langsung!" Perintah Bu Dokter menyerahkan obat yang harus di minum Dhafiena.


Setelah itu Bu Riska dan Bu Dokter tadi keluar dari UKS masih berbincang-bincang, tak lupa tadi sudah menyuruh Praka menjaga Dhafiena sampai bangun.


Praka di UKS hanya memainkan handphone nya sambil duduk di sofa yang ada di UKS.


"Aduh kepala gue kok sakit banget ya?" Gumam Dhafiena pelan saat membuka matanya, tanpa di ketahui Praka karena dia fokus pada layar ponselnya.


Saat Dhafiena hendak turun dari brankar UKS tiba-tiba...


Bruk....


Dhafiena terjatuh kembali karena dia masih pusing dan perutnya juga belum sembuh. Praka yang fokus pada layar ponselnya kini mengarahkan pandangannya ke arah suara tadi.


"Kalo nggak bisa sendiri, minta tolong aja." Kata Praka berjalan ke arah Dhafiena yang masih terduduk di lantai. Jangan dilupakan muka datarnya. Heehe.


"Gue gak tau ada lo di sini." Sahut Dhafiena.


Saat Praka hendak meraih tangan Dhafiena...


"Berhenti, mau ngapain lo?" Tanya Dhafiena.


Namun tak ada respon apapun dari Praka, dia malah di bentak langsung oleh Dhafiena.


"Diem disitu aja bisa ga, lo." Bentak Dhafiena.


"Bantuin lo bangun." Jawab Praka singkat.


"Gue bisa sendiri." Sahut Dhafiena.


Namun saat hendak mencoba berdiri Dhafiena gagal terus. Dan terakhir...


...…………………...


...Nih maaf telat update soalnya author kemarin itu baru bantu-bantu buat nyiapin acara nikahan sodara....


...Maaf banyak typo....


...Terus dukung author yah.......


...✨...