
Setelah 30 menit di toko buku, Dhafiena dan Bang Kevin memutuskan untuk pulang ke rumah.
Setelah samapai di rumah...
"Beli novel apa aja tadi di sana?" Tanya Bang Kevin.
"Banyak, Bang. Bentar, ada novel karya Risa Saraswati judulnya Samantha, Danur, Maddah, 5 ghost forever terus masih banyak lagi itu di kardus. Lupa judulnya. Hehehe... " Jawab Dhafiena mengingat-ingat sambil cengenges.
"Karya kak Risa Saraswati kan hampir semua novelnya genre horor. " Kata Bang Kevin yang film angguki Dhafiena.
"Terus, 5 ghost forever? Novel keluaran paling terbaru tuh?" Tanya Bang Kevin.
"Itu bukan novel keluaran baru. " Jawab Dhafiena.
"Lha itu tadi apaan coba?" Tanya Bang Kevin lagi.
"Huft, itu loh novel judulnya Peter, William, Hans, Janshen, Hendrick. Masak kagak tau, Bang? " Dhafiena menghela nafas, kemudian menjelaskan maksud novel 5 ghost forever.
"Aelah, kirain novel baru. Ternyata yang itu." Sahut Bang Kevin.
"Ya udah, buruan beresin sana di library room!" Perintah Bang Kevin oada Dhafiena.
"Bantuin lah, Bang. Masa aku sendirian. Kan banyak bukunya itu, nanti kelamaan kalo aku sendiri yang beresin." Ucap Dhafiena kesal.
"Siapa suruh beli buku banyak-banyak." Sahut Bang Kevin.
"Udah lupa apa gimana, Bang? Tadi abang sendiri yang bilang bisa banyak sekalian biar jadi stok." Tanya Dhafiena mengingatkan.
"Eh iya juga ya, maaf dah lupa hehe." Sambung bang Kevin.
Kemudian Bang Kevin dan Dhafiena pergi ke ruang library room. Jadi itu raungan yang dimaksud adalah ruang khusus untuk belajar dan tempat menaruh buku-buku. Tempatnya ada disebelah kamar Dhafiena.
Dhafiena merupakan salah satu pecinta Novel. Jadi tidak heran jika di library room banyak novel-novel milik Dhafiena.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Malam hari telah tiba, kini Dhafiena, Bang Kevin, Bi Siti, dan Pak Ferdi sedang makan malam.
Bi Siti dan Pak Ferdi : adalah pembantu di rumah Dhafiena dan Bang Kevin. Dia sudah dianggap seperti orang tua kandung oleh mereka berdua. Mereka tidak pernah membedakan kedudukan.
"Bi, mulai besok aku masok sekolah." Kata Dhafiena memberitahu Bi Siti dengan girang.
"Kenapa, Non? Bukannya sekolahnya di luar negeri dah tamat." Tanya Bisa Siti heran pada Dhafiena.
"Iya, Bi. Kalo di rumah nggak ngapa-ngapain aja tuh bosen, Bi." Kata Dhafiena.
"Oh gitu, terserah Non saja." Sahut Bi Siti.
"Aduh, Bi. Aku udah bilang berkali-kali panggil nama aja!. Nggak usah pake, Non!" Perintah Dhafiena.
"Hehehe, belum terbiasa, Non." Jawab Bisa Siti.
"Bi, Pak. Kalo manggil kita itu langsung nama aja ya. Kita udah menganggap kalian seperti orang tua kita sendiri, yakan dek?" Kata Bang Kevin yang diangguki Dhafiena.
"Aduh gimana yah? Kan kita disini cuma pekerja tuan muda." Sahut Pak Ferdi.
Kira-kira seperti itu perbincangan mereka. Sampai waktu menunjukkan pukul 21:12 mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Tak terkecuali dan tak lain, Dhafiena pun juga kembali ke kamarnya.
Sampai di kamarnya, Dhafiena memilih ke balkon kamarnya dulu.
"Açık gökyüzü ve çok güzel yıldızlar." Kata Dhafiena saat melihat langit dari balkon kamarnya.
(langit cerah dan bintang yang sangat indah)
"Bunda, Ayah adek kangen sama kalian." Gumam Dhafiena pelan.
"Adek mau ikut kalian, tapi kasian Bang Kevin nanti sendirian disini." Lanjut Dhafiena menuju kursi di balkon.
Kemudian Dhafiena mengambil gitarnya dan mulai memetik senar gitarnya dan mulai menyanyikan sebuah lagu. 🎸
(〃∀〃)ゞ
🎵 Kemarin seventeen 🎵
🎶 Kemarin engkau masih ada di sini
Bersamaku menikmati rasa ini
Berharap semua takkan pernah berakhir
Bersamamu
Bersamamu
🎶 Kemarin dunia terlihat sangat indah
Dan denganmu merasakan ini semua
Melewati hitam-putih hidup ini
Bersamamu
Bersamamu
🎶 Kini sendiri di sini
Mencarimu tak tahu di mana
Selamanya
🎶 Aku selalu mengingatmu
Doakanmu setiap malamku
Selamanya
🎶 Kini sendiri di sini
Mencarimu tak tahu di mana
Selamanya
🎶 Aku selalu mengingatmu
Doakanmu setiap malamku
Selamany
(〃∀〃)ゞ
Tak terasa bulir bening jatuh dari pelupuk mata Dhafiena dan mengalir ke pipinya.
Sesaat setelah menyanyikan lagu itu, suasana hening seketika.
Tak terasa hingga waktu menunjukkan pukul 22:15. Dan Dhafiena memutuskan untuk masuk ke kamar kembali, karena diluar udaranya mulai dingin.
•••
Keesokan harinya, sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar seorang gadis yang masih berada dalam alam mimpinya. Kalau kalian menebak itu adalah Dhafiena, jawabnnya benar, karena kalau salah bukan benar namanya.
Karena wajahnya terkena cahaya mentari, hingga membuat sang empu terbangun dari tidurnya yang nyenyak.
"Woam, jam berapa nih?" Dhafiena menguap dan segera melihat jam yang berada di atas nakasnya.
"Oh, baru jam setengah tujuh." Gumam Dhafiena saat melihat ke arah jamnya.
Beberapa detik kemudian...
"WHAT? ASTAGFIRULLAH JAM SETENGAH TUJUH?" Teriak Dhafiena terkejut karena baru sadar kalo dia kesiangan.
"Haduh, hari pertama masuk sekolah telat nih. Gak bagus banget kesannya nanti. Tapi bodoamat lah yang penting masuk yekan. " Gumam Dhafiena masuk ke kamar mandi.
Setelah 15 menit dengan ritual mandinya, Dhafiena langsung memakai seragam sekolah barunya. Dan langsung menuju ke arah meja makan.
"Loh bang, kok belum berangkat ke kantor?" Tanya Dhafiena saat melihat abangnya masih di meja makan.
"Ya kan nungguin kamu, nanti abang aja yang anter." Jawab Bang Kevin.
"Hm, oke-oke." Kata Dhafiena dengan santai.
Kemudian Dhafiena menyelesaikan sarapannya.
"Bik, Fiena berangkat sekolah dulu yah." Pamit Dhafiena sambil mencium punggung tangan Bi Siti yang di ikuti oleh Bang Kevin, setelah sarapannya selesai.
"Iya, Non, Den. Hati-hati di jalan." Ucap Bi Siti.
Kemudian Dhafiena berangkat semobil sama Bang Kevin. Di perjalanan mereka berbincang-bincang.
"Inget jangan buat masalah kayak dulu lagi ya!" Kata Bang Kevin memberitahu Dhafiena.
"Gak janji. Kan abang tahu kebiasaan adek kayak gimana. Hehehe." Sahut Dhafiena sambil menunjukkan deretan giginya.
"Yang penting utamakan kejujuran. Karena kejujuran akan membawa mu ke dalam kebaikan." Kata Bang Kevin bijak.
"Oke-oke, bisalah diatur." Sambung Dhafiena.
Hening sesaat, dan.....
"Bang Kevin, nama sekolahnya kemarin itu apaan dah? Kok adek belum tahu." Tanya Dhafiena.
"Ya Allah, dek. Kamu ga tau?
Padahal itu sekolah bakal jadi punya kamu lo." Kata Bang Kevin terkejut.
"Lagian kamu ini, kemarin kan udah lulus Sarjana di London, ngapain sekolah SMA lagi disini?" Tanya Bang Kevin bingung.
"Siapa yang mau ke SMA?" Tanya Dhafiena balik.
"Lah gimana sih, ini kan perjalanan ke SMA." Kata Bang Kevin.
"Aku maunya ke SMP bukan SMA abang Kevin." Kata Dhafiena.
Citttttttttt....
…………………………………
Jangan lupa kalo dah baca tinggalkan jejak dengan cara ✅
klik like ❤
komen 🗯
vote ⭐⭐⭐⭐⭐
dan jadikan favorit yah.
✨
Maaf banyak typo dalam cerita ini. 😅
Ig : ad_rmdh
Dah segini dulu buat hari, tunggu kelanjutannya yah. 👋
Mohon maaf telat up, soalnya author lagi banyak tugas. Mohon dimaklumi yah. Ini juga udab author sempet-sempetin buat para readers yang setia menunggu cerita ini.
See you, readers.
🤗