
Saat ini Dhafiena sudah ada dirumah, karena tadi sudah pulang dari sekolahan.
‘’Udah baikan, Non?" Tanya Bi Siti.
‘’Udah, Bi.’’ Jawab Dhafiena.
‘’Si Non kena batunya pasti. Udah di bilangin masih ngeyel sih. Besok-besok nggak boleh minum jus nanas kalo pas lagi sarapan." Sambug Bi Siti ngomel-ngomel sambil berkacak pinggang layaknya emak-emak yang mengomeli anaknya.
‘’Iya, Bibi ku sayang.’’ Sahut Dhafiena.
‘’Em Bi minta tolong dong ambilin laptop di meja itu ya." Kata Dhafiena meminta tolong pada Bi Siti sambil menunjuk laptopnya yang ada di ata meja belajarnya.
‘’Nih buat apa emangnya, Non.‘’ Tanya Bi Siti sambil menyerahkan laptop pada Dhafiena.
‘’Buat nonton, Bi. Ayo ikutan sekalian aja, Bi!" Ajak Dhafiena.
‘’Nonton apaan emangnya, Non.‘’ Tanya Bi Siti pada Dhafiena.
‘’Emmmm apa yah. Gimana kalo Train to Busan aja, Bi." Jawab Dhafiena.
‘’Ihh enggak mau. Nyeremin filmnya. Yang zombie di kereta itu kan, Non." Balas Bi Siti yang diangguki Dhafiena.
‘’Enggak aja, Non. Bibi takut, eh bukan takut sih, tapi gimana gitu liat zomie-zombienya itu." Tolak Bibi Siti.
‘’Ya udah gakpapa kok, Bi." Sahut Dhafiena yang memaklumi Bi Siti.
‘’Kalo gitu Bibi ke belakang dulu ya. Nanti kalo ada apa-apa panggil Bibi aja yah.‘’ Ucap Bi Siti pamit pada Dhafiena.
‘’Oke lah, Bi." Jaab Dhafiena.
Kemudian Bi Siti keluar dari kamar Dhafiena menuju dapur. Sedangkan Dhafiena sudah fokus pada layar laptopnya.
"Parah emang itu orang. Enak aja dia pergi sendiri gak nolongin it…" Gumaman Dhafiena saat menonton film Train to Busan terhenti karena suara getaran handphonenya yang berbunyi.
📞 "Ngapain sih nelfon segala?" Tanya Dhafiena dengan nada sedikit ketus karena terganggu acara menontonnya.
📞 "Aelah santai aja kalik." Sahut orang di seberang sana, yang ternyata adalah Stevani.
📞 "Buruan mau ngapain lo nelfon gue?" Tanya Dhafiena.
📞 "Sans gitu dong, cuman mau nanya. Udah sehat belum ko?" Balas Stevani.
📞 "Emang gue gila?" Tanya Dhafiena.
📞 "Maksud gue udah baikan belum keadaan lo?" Jelas Stevani.
📞 "Udah." Jawab Dhafiena.
📞 "Syukur deh kalo gitu." Kata Stevani.
📞 "Emangnya kenapa?" Tanya Dhafiena.
📞 "Besok mau gue ajak bolos sama si Laura." Jawab Stevani.
📞 "Hm, oke." Sahut Dhafiena.
📞 "Ya udah gue tutup dulu mau tidur." Pamit Stevani.
📞 "Molor aja kerjaan lo." Celetuk Dhafiena.
.
📞 "Biarin, bye." Sahut Stevani.
Tut, panggilan di putuskan langsung oleh Stevani.
Keesokan harinya di sekolah Dhafiena, yang tak lain dan tak bukan yaitu SMP Perjuangan telah ramai siswa-siswi yang berlalu lalang di koridor sekolah. Ada yang duduk di teras depan ruang kelas. Ada juga yang berkerumun sambil bergosip. Ada juga yang hanya berjalan-jalan sambil melihat-lihat.
Dan ada juga yang berdiri di depan pintu kelas sambil membawa buku dan bolpoin dengan menyebut nama siswa ataupun siswi yang baru saja masuk ke ruang kelas. Dia sedang mengabsen sepertinya, sebenarnya kurang kerjaan gitu sih kelihatannya. Kan bisa di dalem kelas tanpa harus nunggu di depan pintu kayak gitu. Emang aneh kan ya. Hahaha.
Tiba-tiba saja para siswa-siswi yang tengah berjalan dengan santai menjadi geger karena ulah salah satu siswi yang menyerobot jalan mereka.
‘’HEY MINGGIR-MINGGIR. GUE MAU LEWAT NTAR PADA KE TABRAK KALO PADA KAGAK MAU MINGGIR SEMUA." Teriak siswi itu yang membuat murid-murid lain menjadi heboh pada berdesak-desakan untuk segera minggir, daripada ketabrak sama sang pembuat ulah.
‘’MINGGIR WOY CEPETAN GUE BURU-BURU MAU LEWAT NIH.‘’ Teriak siswi tadi semakin menaikkan nada suaranya suapaya terdengar jelas oleh siswa-siswi disitu.
Siswi yang membuat keributan di pagi hari tersebut teriak-teriak karena sedang dikejar beberapa anggota OSIS dibelakangnya.
Sedangkan yang diteriaki malah mempercepat kelajuan sepatu larinya. Tapi anehnya siswi itu sama sekali tidak tergelincir ataupun terjatuh di atas lantai koridor itu. Dengan gerakan yang lincah, siswi itu dengan mudah menghindari segala rintangan.
Belok kanan, lurus, belok kiri. lurus sedikit, belok kiri, dan shittttttt…… Siswi itu menghentikan aksinya saat berada tepat didepan tangga.
‘’Pasti nanti gue diseret ke ruang BK nih kalo ketangkap sama mereka.‘’ Gumam siswi itu pelan.
‘’Mending ke belakang tangga ini aja. Pasti bakal aman ntar." Lanjut perkataan siswi itu.
Kemudian siswi itu bersembunyi di belakang tangga tadi. Tepat di saat para anggota OSIS yang mengejarnya tadi sampai di depan tangga.
‘’*Huft huft huft*." Sepertinya anggota OSIS pada mengatur nafasnya yang terengah-engah karena berlarian mengejar mangsa mereka.
‘’Mana lagi tuh bocah pembuat onar pagi-pagi gini." Ucap salah satu anggota OSIS yang tadi berteriak untuk menghentikan sang pembuat onar.
‘’Udah ayo buruan kita lurus aja kesana. Sebelum Bu Riska ngamuk nanti." Sambung salah satu anggota OSIS lainnya menarik lengan kedua kawannya.
‘’Bentar napa. Capek kalik dari tadi lari terus." Keluh salah satunya.
‘"Woy, Ka. Sini bentar lo.‘’ Panggil siswa yang hendak menarik lengan kedua kawannya itu.
Merasa namanya di panggil, Praka menoleh ke arah sumber suara, dan mengangkat salah satu alisnya.
‘’Ntar kalo ketemu sama siswi baru yang pake tas warna biru tua, langsung bawa ke ruang BK menghadap Bu Riska!" Jawab siswa OSIS itu yang mengerti maksud Praka.
Praka membalas ucapan anggota OSIS tadi dengan menganggukan kepalanya saja.
Kemudian ketiga siswa anggota OSIS tadi melanjutkan misinya unttuk mencari sang pembuat onar.
Disisi lain siswi yang menjadi incara para OSIS merasa lega setelah kepergian mereka. Kemudian dia meminum air mineral yang dibelinya tadi di kantin.
‘’Huh, untung aja.‘’ Siswi itu menghela nafas dan hendak berbalik menuju kelasnya. Dan………
......……………………………………......
...*Apa yah kira-kira*?...
...*Pada penasaran nggak kalian, readers*?...
...*Ayo di like, komen, dan kasih vote yah*....
...*Selalu dukung author dong biar semangat buat up*....
...✨...