Bad Girl But Genius

Bad Girl But Genius
Ternyata...



Duk


Pelipis kepala Dhafiena terbentur ujung meja.


" lShhhh Awww...." Rintih Dhafiena bersamaan keluarnya darah dari pelipis kepalanya.


"Keras kepala banget sih, lo dibilangin." Omel Praka yang langsung mengangkat Dhafiena kembali ke atas brankar yang di tempatin dia tidur tadi, eh pingsan maksudnya yah.


"Eh apa-apaan sih lo main ngangkat gue aja." Kata Dhafiena pelan karena menahan sakit kepalanya yang bertambah.


"Makanya kalo dibilangin jangan ngeyel, kalo gak bisa sendiri, minta tolong aja sama orang lain." Ceramah Praka yang membuat kepala Dhafiena bertambah sakit.


"Aww aduh duh." Rintihan Dhafiena memegang kepalanya yang berdarah karena terbentur ujung meja tadi.


"Sakit?" Tanya Praka.


"Ya iyalah, dah tau masih aja nanya." Gumam pelan Dhafiena namun masih bisa terdengar Praka.


Praka mengambil kotak obat yang ada di meja dekatnya.


Jadi gininya, sebenarnya Praka itu orangnya perhatian. Yah tapi gitulah tertutup dengan muka cap datarnya itu. Cuma orang tertentu yang tau gitu, hahahah.


Dengan sigap, Praka langsung mengobati kepala Dhafiena yang berdarah dengan pelan, tapi pasti, eeaaakkk...


"Aww..." ucap pelan Dhafiena saat Praka membersihkan darah di kepala Dhafiena dengan alkohol.


"Huft... huft... huft..." Praka meniup pelipis kepala Dhafiena dengan pelan.


"Ngapain sih, lo?" Tanya Dhafiena pelan menahan sakit kepalanya.


"Lo gak liat ini ngapain?" Tanya balik Praka dengan muka datarnya.


"Huft..... " Dhafiena menghembuskan nafasnya perlahan karena sakit kepalanya bertambah.


"Masih pusing?" Tanya Praka yang di angguki Dhafiena.


"Minum obat dulu, kalo udah tidur aja disini!" Perintah Praka saat melihat Dhafiena masih memegangi kepalanya.


Praka menyodorkan beberapa obat yang tadi di berikan Bu Dokter.


Setelah minum obat, Dhafiena menurut sesuai perintah Praka, yah dia tidur untuk menghilangkan sakit kepalanya.


Ntah kenapa tiba-tiba saja Dhafiena bangun dari tidurnya sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Auh.... Ssttttt..." Rintih Dhafiena yang terdengar jelas di telinga Praka.


Praka kebingungan karena tiba-tiba saja Dhafiena kembali memegang kepalanya. Padahal dia baru saja meminum obatnya.


"Kenapa?" Tanya Praka namun tak di jawab Dhafiena.


Praka kemudian melihat obat yang berada di meja dekat Dhafiena, apa mungkin obatnya kadaluarsa. Begitu mungkin pikir Praka.


"Hah?" Kaget Praka saat melihat obat yang baru saja di minum Dhafiena.


"Diminum 1 kapsul semua ini?" Tanya Praka yang di angguki Dhafiena.


"Huh, seharusnya cuma setengah. Kenapa ini diminum semua?" Sahut Praka.


" L... lo.. ng.. nggak... bil... bilang... ta... tad... tadi.. " Jawab Dhafiena terbata-bata.


"Udah istirahat aja, nanti juga sembuh." Kata Praka menenangkan Dhafiena.


Tiba-tiba saja ada tiga siswi masuk ke UKS, yah dia mengintip kejadian itu dari tadi. Siapa lagi kalau bukan Mak Lampir, eh maksudnya Ratu dkk yah. 😂


Plak....


Bugh...


Ratu menampar dan menonjok pipi kanan dan kiri Dhafiena.


"Aduh..." Kata Dhafiena yang terbangun dari istirahatnya.


"Heh lo murid baru belagu amat. Gak usah sok caper deh lo. Sok-sokan sakit segala, biar di perhatiin sama Praka gitu. Biar di gendong sama Praka. Hah?" Kata si Ratu yang mulai mencak-mencak gak jelas.


"Iya tuh, pasti biar Praka peduli sama dia." Sambung Annabella yang memanaskan suasana.


"Diem." Bentak Praka.


"Lo tu yah gak bisa apa diem. Mulut lo tuh harusnya di kunci. Buat masalah aja hobi lo. Gak capek apa? Kerjaan kalian bertiga cuma buat masalah aja dari dulu. Nggak bully adek kelas lah, malak anak nerd, nyuruh ngerjain tugas lo pada, dan masih banyak lainnya sampe nggak bisa di hitung pakai jari tangan masalah yang udah kalian bikin." Marah Praka.


Ratu dkk terkejut karena ini adalah pertama kalinya Praka berbicara panjang lebar, tapi bukan bicara baik-baik, eh malah marah-marah.


"Tapi emang bener, Ka. Dia cuma caper aja. Mungkin itu kali yang di ajarkan orangtuanya. Caper ke orang-orang biar dapetin perhatian gitu." Sambung Si Ratu yang tak terima di marahi Praka.


"APA MAKSUD LO NGOMONG KAYAK GITU, HAH???" Bentak Dhafiena.


"Emang bener kan, ini yang di ajarin ortu lo. Suruh caper sana sini." Sahut Erika.


"Nggak nggak ortu gue nggak kayak gitu..." Sambung Dhafiena menggelengkan kepalanya dengan kuat.


Tiba-tiba saja....


Bruk...


Dhafiena terjatuh dari brankar UKS...


Praka yang mendengar suara orang terjatuh pun segera mengedarkan pandangan ke seluruh sudut UKS dan berhenti pada tempat Dhafiena.


"Gak apa-apakan?" Tanya Praka mendekat ke arah Dhafiena yang masih terduduk di lantai.


Bukannya menjawab malah melamun si Dhafiena.


Praka langsung membantu Dhafiena berdiri dan mendudukkan dirinya di sisi pinggir brankar UKS.


Praka sedikit kebingungan karena Dhafiena diam saja tak berbicara.


Tiba-tiba saja Dhafiena teringat akan bayang-bayang orang tuanya.


"Hiks hiks hiks..." Suara tangisan Dhafiena pelan, tapi masih bisa di dengarkan Praka, bagaimana tidak, Praka saja masih didepan Dhafiena.


"*K*enapa juga ini malah nangis, apa kesakitan waktu jatuh tadi. Hmmmm... tapi kenapa juga bisa jatuh, bukannya tadi dia masih pingsan daritadi." Batin Praka.


"Ada yang sakit?" Tanya Praka pada Dhafiena.


Dhafiena mendongakkan kepalanya untuk melihat sumber suara yang bertanya padanya tadi. Dan...


Gerb...


"Bang... Abang kepala Fiena sakit Bang, hiks... Mereka juga ngatain orang tua kita, Bang. Huhuhu..." Tangis Dhafiena pecah saat memeluk laki-laki dihadapannya.


Padahal itu si Praka, eh dikirain Abang Kevin sama si Dhafiena. Haduh, malu sudah kamu Fienfien kalo sadar.


"*A*pa dia kata tadi? Abang? Dikira gue abangnya apa?" Tanya Praka dalam hati.


"Ga usah nangis, istirahat aja!" Kata Praka tenang.


"Tapi mereka ngehina orang tua kita, Bang. Huhuhu..." Sahut Dhafiena yang masih menangis.


Praka memeluk Dhafiena, yah pikirnya supaya bisa menenangkan siswi yang nangis di pelukkannya itu. Maybe.


"Jangan dengerin omongan orang lain. Dah istirahat aja." Nasihat Praka.


Setelah itu Dhafiena pun kembali tertidur.


Praka masih menunggu Dhafiena di UKS. Toh ini sudah jam istirahat. Praka pun ikut tertidur di sofa yang letaknya tak jauh dari Dhafiena.


Disisi lain...


"Ayo, Ra cepetan kita susul Dhafiena di UKS." Kata Stevani.


"Bentar gue haus, minum ini dulu." Sahut Laura.


"Lo ih lama banget." Keluh Stevani.


"Udah, ayo." Kata Laura selesai meminum jus alpukatnya.


Kemudian mereka berdua menuju UKS melihat kondisi Dhafiena.


Saat tiba di UKS...


Brak


Stevani dan Laura langsung mendobrak pintu UKS yang membuat penghuninya terlonjat kaget karena mereka tertidur.


"Dhafiena..." Teriak Laura mendekat ke arah Dhafiena yang di ikuti Stevani.


"Astagfirullah." Kaget Steavni saat mendengar suara dobrakan pintu karena ulah Laura.


"Fin, lo nggak papa kan? Mana yang sakit? Kaki? Tangan? kepala? Atau..." Tanya Laura yang langsung di bekap oleh Stevani.


"Bisa diem nggak lo. Udah tau di UKS ya pasti sakitlah." Kata Stevani menasehati Laura.


"Kok malah tidur." Kata Laura memelankan suaranya.


"Tanya sama Praka itu aja." Sambung Stevani.


"Dhafiena kenapa, Ka?" Tanya Laura.


"Istirahat." Jawab Praka singkat.


"Itu gue juga tau Praka." Geram Laura.


"Kalian balik aja, udah jam masuk." Pinta Praka.


"Ogah kita mau disini nemenin Dhafiena." Sahut Laura yang di angguki Stevani.


Tiba-tiba Bu Riska masuk ke UKS.


"Gimana Dhafiena?" Tanya Bu Riska to the point.


"Allhamdulilah sudah mendingan." Jawab Praka.


"Ya sudah, lho kalian ngapain disini. Udah masuk ini kalian balik ke kelas!" Kaget Bu Riska melihat Stevani dan Laura.


"Kalo kita balik ke kelas, gimana Dhafiena, Bu?" Tanya Stevani.


"Kan ada Praka, gimana sih." Jawab Bu Riska.


"Kan udah jam masuk juga, Bu. Jadi Praka harus balik ke kelas dong." Sewot Laura.


"Jamkos kelasnya." Sahut Bu Riska.


"Udah ayo kalian balik ke kelas atau Ibu hukum kalian." Ancaman dari Bu Riska, sambil menarik dua siswi itu supaya keluar dari UKS.


Praka memilih memainkan handphone mya sambil bersandar di dinding UKS. Lagipula jamkos kelasnya, pasti pada ribet nanti.


Tapi kenapa kagak di tegur Bu Riska kalau jamkos biasanya pada berisik, yah sudah di ketahui kelas Praka sangatlah taat peraturan. Walaupun jamkos tetap saja belajar. Sungguh rajin sekali mereka :) Al.


……………………………………………


Ayolah readers, masak cuma jadi ghost reader. Kasih like, komen atau vote dong. Biar author semangat bikin ceritanya. 🤗


Mohon maaf kalau banyak typo dan ceritanya kurang menarik. 🙏


Author cuma minta hargain karya yang udah author bikin yah. 👌


Thnks all. ✨