
...Maaf yah teman-teman semua, aku jarang up part baru. Soalnya lagi ga ada ide lagi. Dan fokus sama dunia nyata dulu....
^^^InsyaAllah bakal aku usahain buat nyari ide-ide baru lagi. Biar bisa up part baru lagi nantinya. Do'akan saja yah.^^^
.................................................
" Serah deh, capek ngomong sama lu. " Kata Praka.
" Ya udah kagak usah nanya-nanya mulu. " Balas Dhafiena.
Karena suasana menjadi canggung, Dhafiena membuka lagi.
" Lu ko suka si ikut organisasi gitu? " Tanya Dhafiena.
" Serah gue lah. " Jawab Praka.
" Di tanya tuh jawab yang bener kali. " Sewot Dhafiena.
" Buat ngatur murid bandel kaya lo tuh. " Jawab Praka.
" Lo ngatain gue bandel? " Tanya Dhafiena.
" Kalo iya kenapa? " Tanya balik Praka.
" Ngeselin banget sih lo jadi orang. " Kata Dhafiena menatap Praka dengan sinis.
" Lo lebih ngeselin lagi tuh. " Sahut Praka.
" Kok gue sih? " Tanya Dhafiena.
" Ya kan lo ngeselin, suka bikin masalah. " Jawab Praka.
" Lo yang ngeselin bukan gue. " Kata Dhafiena.
" Lo tuh. " Ngeyel Praka.
" Lo kali. " Sahut Dhafiena.
" Bukan gue, tapi lo. " Kata Praka
" Serah lu deh OSIS resek. " Ujar Dhafiena.
" Dasar murid bandel. " Ejek Praka.
" Serah lu deh, serah. Mau ngomong apa gue gak peduli. " Kata Dhafiena.
" Hmm, sama-sama ngeselin aja biar adil. " Kata Praka.
" Serah, gue gak peduli. " Sambung Dhafiena.
" Hmmm. Marah ni? " Tanya Praka.
" Ga. " Jawab singkat Dhafiena.
" Marah tu pastinya. " Kekeh Praka.
" Kalo gue marah mau apa lo, ha? " Tanya Dhafiena.
" Emang lo mau apa? " Tanya balik Praka.
(Tumben tu si Praka jadi ngeselin kayak gitu. Biasanya kan cuek minta ampun kan yak?)
" Elu gak sekolah ntar di cariin tuh sama guru BK. " Kata Dhafiena mengalihkan pembicaraan.
" Biarin, gue gak peduli. " Balas Praka.
" Dih, gak kreatif amat lo jadi orang. " Sewot Dhafiena.
" Apanya? " Tanya Praka.
" Tuh tadi omongan gue, lu ikut-ikut aja. Gak kreatif namanya. " Jawab Dhafiena.
" Biarin lah. " Kata Praka.
" Lu jadi orang ngeselin amat dah. " Kata Dhafiena.
" Biarin. " Bakas Praka.
" Diem, lu. Berisik tau gak. " Sinis Dhafiena.
" Masa? " Sahut Praka.
" Serah. " Kata Dhafiena.
" Iya-iya dah diem, nih. " Lanjut Praka.
Tiba-tiba Bang Kevin datang mengagetkan kedua insan tadi.
" Woyy. " Kaget Bang Kevin.
" Astaga, Bang Kevin ga usah ngagetin dong. " Sahut Dhafiena.
" Maaf, hehe. " Kata Bang Kevin.
" Tumben jam segini dah pulang, Bang? " Tanya Dhafiena.
" Kerjaan dah selesai semua. " Jawab Bang Kevin.
" Oh. " Sahut Dhafiena.
" Tadi kata dokter, kamu dah boleh pulang nanti sore. " Kata Bang Kevin.
" Alkhamdulilah. " Ucap syukur Dhafiena dan Praka bersamaan.
" Kalo gitu Abang ke depan dulu ngambil obat bentar. " Pamit Bang Kevin.
" Hm. " Kata Dhafiena.
" Kalo lo masih ada urusan balik duluan gpp. " Kata Dhafiena pada Praka.
" Ngusir nih ceritanya? " Tanya Praka.
" Oh, hari ini ga ada urusan apa-apa kok. " Sambung Praka.
Dhafiena hanya mengangguk untuk menanggapi perkataan Praka.
Sore hari telah tiba. Setelah bersiap-siap, dan perban di tangan Dhafiena di lepas. Mereka bertiga, Bang Kevin, Dhafiena, dan Praka sudah berada di halaman depan rumah sakit untuk mengambil kendaraan.
" Mau main ke rumah ga, Ka? " Tanya Bang Kevin pada Praka.
" Lain kali aja, Bang. Udah sore juga ini. " Tolak Praka.
" Iya juga sih. Btw makasih udah jagain Dhafiena tadi. " Kata Bang Kevin.
" Sama-sama, Bang. Kalo gitu duluan yah Bang, Na. " Pamit Praka pada Bang Kevin dan Praka.
" Hati-hati di jalan. Makasih juga tadi dah nemenin. " Kata Dhafiena.
" Oke. " Jawab singkat Praka.
Setelah Praka mengendarai motornya keluar dari parkiran rumah sakit, Bang Kevin melajukan mobilnya menuju ke rumah bersama Dhafiena.
Tak memakan waktu lama, Bang Kevin dan Dhafiena sudah sampai di rumah. Karena kaki Dhafiena juga sudah lebih baik, jadi bisa berjalan sendiri dengan hati-hati.
" Assalamu'alaikum, Bi Siti. " Ucap salam Dhafiena dari depan pintu rumah.
" Wa'alaikumsalam, eh Non sudah balik? " Jawab salam Bi Siti sekaligus bertanya.
" Alkhamdulilah dah mendingan, Bi kata dokter. Jadi boleh pulang hari ini. " Kata Bang Kevin.
" Alkhamdulilah kalo gitu. Yuk masuk, makan dulu aja. Bibi habis masak makanan kesukaan Non Fiena. " Sambung Bi Siti.
" Makanya bau masakannya harum dari depan. " Kata Dhafiena.
Tak menunggu waktu lama, semua sudah berada di meja makan. Seperti biasa, semua makan bersama.
Setelah selesai makan, Dhafiena di suruh istirahat saja di kamar.
Tiba-tiba ada yang mengetok pintu kamar Dhafiena.
tok tok tok
" Dek, ini abang. Boleh masuk? " Tanya Bang Kevin yang ternyata mengetok pintu kamar Dhafiena.
" Masuk aja, Bang. " Sahut Dhafiena dari dalam.
Lalu, Bang Kevin masuk kedalam kamar Dhafiena sambil membawa sesuatu di tangannya. (yakali di kaki yekan, haha)
" Kenapa, Bang? " Tanya Dhafiena.
" Nih abang kasih sesuatu. " Jawab Bang Kevin menyerahkan sebuah paperback kecil berwarna biru tua.
"Apaan nih, Bang? " Tanya Dhafiena menerima paperback yang telah di berikan Bang Kevin.
" Buka aja. " Jawab Bang Kevin.
Tanpa basa-basi, karena ini bukan nasi basi. Canda kali :) Dhafiena langsung membuka paperback itu.
" Aih, ini kan handphone Bang? " Kata Dhafiena.
" Iya, emang itu handphone. Kan handphone kamu hilang kemarin waktu kamu jatuh kan? " Tanya Bang Kevin.
" Hehe, iya sih, Bang. Makasih banyak abang ku tersayang. " Jawab Dhafiena sambil memeluk sang abang. Siapa lagi kalau bukan Bang Kevin.
" Iya sama-sama adik abang yang paling cantik. " Sahut Bang Kevin.
" Eh, Bang. " Panggil Dhafiena.
" Kenapa? " Tanya Bang Kevin.
" Inikan handphone Falcon Supernova iPhone 6 Pink Diamond yg harganya Rp 662 miliar. itukan? " Tanya Dhafiena.
" Iya, emang kenapa? " Jawab Bang Kevin.
" Kan mahal banget ini, Bang. " Kata Dhafiena.
" Iya, gpp kali. " Kata Bang Kevin.
" Ih, uangnya ntar habis buat beli handphone kayak gini loh. " Sambung Dhafiena.
" Gpp, sekali-kali gitu. " Kata Bang Kevin.
" Ya udah, iya deh. Maksih banget loh, Bang. " Kata Dhafiena.
' Iya sama-sama. Abang keluar dulu kalo gitu. "
Pamit Bang Kevin yang di angguki Dhafiena.
Jadi handphone yang di kasih ke Dhafiena itu kayak gini loh.
[ Hp termahal di dunia adalah Falcon Supernova iPhone 6 Pink Diamond. Tahun 2014 lalu, hp ini dibanderol dengan harga Rp 662 miliar atau sekitar lebih dari Rp 662 miliar.
Yang membuatnya mahal karena terbuat dari emas 24 karat dan menempatkan sebuah berlian berwarna merah muda di bagian belakang. Belum termasuk lapisan platinum untuk proteksi terkuat.
Hp berharga miliaran ini dimiliki Nita Ambani, istri seorang pengusaha India Mukesh Ambani, salah satu orang terkaya di Asia. Layak mendapat predikat iPhone termahal. ]
(Haluin aja dulu yekan:)
Karena lelah, Dhafiena memutuskan untuk tidur dulu saja setelah menjalankan ibadah sholat ashar.
...………………………………………………...
Maaf banyak typo, jangan lupa tinggalkan like, komen, dan vote.
Thank you, readers yang udah setia nungguin ini lanjutan novel.
Tunggu part selanjutnya yah.