Bad Girl But Genius

Bad Girl But Genius
Lunchbox



Keadaan Dhafiena sudah mulai membaik, jadi sudah bisa kembali ke ruang kelas untuk mengikuti pembelajaran.


Dhafiena ke kelas di antar Praka, karena kan searah jadi sekalian. Banyak yang menatap mereka, ada yang memuji kalau cocok, ada juga yang menghujat karena iri. Biasalah manusia memiliki sifat yang berbeda-beda.


Dhafiena sangat malas sekali kalau menjadi pusat perhatian, dia mempercepat jalannya supaya cepat sampai ke kelas. Sedangkan Praka jangan ditanya lagi, dia masih tetap sama dengan muka triplek bin datar bin dingin.


Sesampainya di kelas, Dhafiena langsung masuk dan duduk di tempat duduknya sepeti kemarin.


Teman-teman sekelasnya pun mulai mendekat ke arahnya.


"Lo gak apa-apa kan, Dhaf?" Tanya Mita yang di balas anggukan oleh Dhafiena.


"Lo dah makan belum?" Tanya Dhimas yang mulai ikut mendekat.


Dhafiena nampak berpikir, dia juga lupa udah makan apa belum, dengan perlahan dia menggelengkan kepalanya.


"Tunggu bentar ya!" Sahut Dhimas kembali ke tempat duduknya.


Semua orang yang ada dikelas menatap Dhimas dengan raut wajah kebingungan.


Tak butuh waktu lama, Dhimas kembali mendekat ke tempat duduk Dhafiena sambil membawa lunchbox berwarna biru.


"Nih." Kata Dhimas memberikan lunchbox ke hadapan Dhafiena.


"Apaan ini?" Tanya Meisie mewakili semua yang penasaran sambil menunjuk lunchbox yang dibawa Dhimas.


"Lo gak liat ini apa?" Bukannya menjawab, eh Dhimas malah bertanya balik.


"Kotak makan." Jawab Meisie yang di angguki lainnya.


"Tuh tau." Sahut Dhimas.


"Udah jangan banyak tanya deh lo pada. Lo makan aja Dhaf." Sambungnya.


"Inikan punya lo." Kata Dhafiena.


"Udah makan aja gapapa. Gue udah makan tadi di kantin. Sebenernya gue males bawa ginian, bikin ribet. Di paksa sama Mami gue." Jelas Dhimas.


"Bener nih gakpapa?" Tanya Dhafiena, kebetulan dia mulai lapar tapi malas ke kantin buat beli makanan.


"Ck, iya gakpapa. Udah makan aja." Jawab Dhimas.


"Hm." Dehem Dhafiena kemudian dia membuka lunchbox yang di berikan Dhimas. Isinya ada nasi putih, cumi-cumi asam manis, Swedish meatball, sama sedikit sayur.


"Banyak amat ni, kagak habis kalo gue sendiri yang makan, ayo yang mau ikut makan sini makan bareng." Ajak Dhafiena menatap teman-temannya.


"Tau aja kalo gue laper, Dhaf." Balas Renata salah satu teman sekelasnya.


"Bukannya tadi lo ikut gue makan di kantin?" Tanya Susi, teman sebangku Renata.


"Kan sekarang laper lagi." Jawab Renata.


"Dasar lo." Sambung Susi.


"Udah ayo makan bareng yang laper sini." Sahut Dhafiena.


"Mau gue suapin sekalian gak?" Tanya Dhimas pada Dhafiena.


"Tumben lo baik, Dimsum." Celoteh Jordan.


"Dhimas Syahputra yang ganteng sejagat raya emang baik dari dulu. Lo aja yang baru tau." Jawab Dhimas dengan bangga.


Sedangkan teman-temannya hanya memutar bola matanya dengan malas dengan ke narsisnya si Dhimas.


"Narsis amat lo. " Sahut Meisie.


"Kepedean lo." Sambung Renata.


"Muka kek monyet aja bangga lo." Sahut Wahyu.


"Hahaha." Yang lain hanya menertawakan Dhimas yang cemberut karena di olok-olok.


"Serah deh." Balas Dhimas yang malas meladeni olokan teman-temannya.


"Udah nih, makasih Dhimas ganteng." Kata Dhafiena mengucapkan terimakasih pada Dhimas sambil mengembalikan kotak makannya.


"Sama-sama, uh dipanggil ganteng ga tuh." Balas Dhimas dengan senyum penuh kesaltingan.


"Ini guru pada kemana kok belum masuk?" Tanya Dhafiena.


"Palingan juga telat atau gatau juga sih." Jawab Meisie.


"Berarti jamkos dong. Kalo gitu gue ke kantin dulu ya mau beli minum." Izin Dhafiena.


"Nggak usah biar gue aja yang beliin." Sahut Dhimas buru-buru keluar kelas.


"Kita-kita sekalian yah, haus nih." Sambung Mita dengan berteriak.


"Igah beli sono sendiri." Balas Dhimas yang sudah keluar dari ruang kelas.


" Tumben tumben tu anak baik, kesambet setan mana?" Heran Laura yang di angguki Stevani.


"Allhamdulilah dong punya temen baik." Sahut Angga.


Beberapa saat kemudian Dhimas masuk ke ruang kelas dengan mengangkat satu kardus air mineral botol kecil-kecil.


"Nih ambil aja yang mau minum." Kata Dhimas membuka kardus itu dan mengambilnya dua botol.


"Nih Dhaf buat lo. Yang ini buat gue." Kata Dhimas memberikan satu botol air mineral ke Dhafiena dan satu lagi untuknya.


"Eh, thanks, Dhim." Sahut Dhafiena menerima botol air mineral yang diberikan Dhimas.


"Sama-sama, kalo butuh bantuan hilang aja ga usah sungkan." Jawab Dhimas.


......…………………………………......


...Mohon maaf banyak typo....


...Ayo di like, komen, dan vote supaya author semangat buat up....


...Maaf yah readers telat up...