
" Kamu? " Tanya Bang Kevin karena terkejut.
" Eh, tuan kok ada disini? " Tanya balik Orang bernama Jodi.
" Saya mau cari adik saya, tadi kecelakaan Katanya. " Jawab Bang Kevin.
" Adik tuan perempuan? " Tanya Kak Jodi.
" Hm. " Jawab singkat Bang Kevin.
" Ma.... " Belum juga selesai bicara, eh si dokter udah keluar duluan.
" Dok, gimana keadaan pasien tadi? " Tanya Kak Jodi.
" Alkhamdulilah, lukanya tidak terlalu parah. Tapi apa tadi kakinya terluka sebelum mengalami kecelakaan? " Tanya sangat dokter.
" Iya, dok. Tadi kena paku kakinya. " Jawab Praka yang sedari tadi hanya diam.
" Apa pakunya berkarat? " Tanya dokter lagi.
" Sedikit. " Jawab Praka.
" Luka di kakinya sedikit robek, karena tadi mungkin kakinya saat jatuh dari kendaraan terkena batu. " Kata Dokter itu.
" Apa pasien sudah siuman, Dok? " Tanya Kak Jodi.
" Belum, karena efek dari obatnya, mungkin nanti malam atau besok pagi. " Jawab Sang Dokter.
" Boleh kita masuk, Dok? " Tanya Bang Kevin.
" Oh, silahkan. Kalau gitu saya pamit dulu. Permisi. " Kata Dokter itu dan langsung pergi ke ruangannya.
kemudian ketiga pemuda masuk ke ruang IGD sebelum di pindahkan ke kamar rawat inap.
CEKLEK...
Terlihatlah seorang gadis cantik yang terbaring di atas brankar rumah sakit.
" Kenapa Dhafiena bisa pulang sore banget? " Tanya Bang Kevin pada Praka.
Kemudian Praka menceritakan kejadian awal dari di hukum sampai waktu terjatuh dari atas motor tadi.
" Oh, benar begitu ceritanya? " Tanya Bang Kevin.
" Hm. " Jawab singkat Praka sambil mengangguk.
" Maaf, Tuan. Saya tadi benar-benar nggak sengaja. " Kata Kak Jodi.
" Tidak apa-apa. Kau boleh pulang sekarang. Biar saya yang ngurus semua. " Sambung Bang Kevin.
Setelah pamit, Kak Jodi langsung pulang.
" Itu tadi sekertaris saya, namanya Jodi. " Kata Bang Kevin memberitahu Praka.
" Siapa namamu? Sepertinya mukamu tak asing. " Tanya Bang Kevin.
" Praka. " Jawab Praka menyebut namanya saja.
" Apa Praka anaknya Om Sagraha? " Tanya Bang Kevin lagi.
Praka bingung, kok dia bisa kenal sama nama orang tuanya.
Praka hanya menjawab dengan anggukan kepala.
" Aku Kevin. Dulu kau sering main ke rumah bareng Dhafiena waktu kecil. Apa kau tak ingat? " Tanya Bang Kevin.
Praka berusaha mengingat-ingat apakah benar yang di katakan oleh orang di depannya itu.
Tak lama kemudian, Praka nampak sedikit tersenyum.
" Ingat kan? Dulu lo pernah ke rumah ngajakin Dhafiena buat hujan-hujan pas sore-sore. " Tanya Bang Kevin.
Praka hanya mengangguk.
" Oh iya, Om Agra sama Tante Vasha gimana kabarnya? " Tanya Bang Kevin.
" Alkhamdulilah, baik-baik aja. " Jawab Praka.
" Emm, baju lo basah. Mending pulang dulu aja. biar gue yang jaga Dhafiena. " Kata Bang Kevin.
" Beneran gapapa? " Tanya Praka memastikan.
" Yoi, santai aja. Kalo lo mau, balik aja besok kesininya. " Jawab Bang Kevin.
" Sekali. lagi maaf, Kak. Gak sengaja tadi. Andai aja gue bolehin dia pulang duluan. " Kata Praka meminta maaf.
" Iya, gakpapa. Manggilnya Abang aja, kayak dulu." Sahut Bang Kevin.
" Ya udah, Bang pamit dulu. Assalamu'alaikum. " Pamit Praka.
" Wa'alaikumsalam. " Jawab salam Bang Kevin.
Kemudian Praka keluar dari ruangan itu menuju ke parkiran depan mencari taksi.
βIn the hospital
Bang Kevin menelfon Bi Siti untuk tidak mengkhawatirkan Dhafiena. Kalau mau jenguk besok lagi aja sekalian. Ini juga udah malem.
Kira-kira pukul 21:30 tiba-tiba Dhafiena....
" Aduh... " Rintih Dhafiena memegangi kepalanya.
Bang Kevin yang duduk di dekatnya pun mendengar.
" Alkhamdulilah, dah sadar juga, dek. " Kata Bang Kevin menyediakan segelas air putih pada Dhafiena.
" Siapa, Lo? " Tanya Dhafiena.
" Hah? Ya abang kamu yang paling ganteng dong. " Jawab Bang Kevin.
" Narsis amat. Kenal juga enggak. " Sahut Dhafiena.
" Hah? Gak kenal? Jangan-jangan amnesia nih? " Kata Bang Kevin.
" Mending konfirmasi sama dokter deh. " Lanjutnya hendak keluar dari ruangan Dhafiena.
" Hahaha, becanda kali Bang. Mau kemana? " Tanya Dhafiena tiba-tiba.
" Hush, kamu suka banget becanda. " Sahut Bang Kevin kembali ke tempat semula.
" Oh iya, Bang. Tuh OSIS resek gimana keadannya? " Tanya Dhafiena.
" Hah? OSIS resek saha? " Tanya Bang Kevin yang kebingungan.
" Gak jadi. Mana makanannya, Bang. Laper nih. " Tanya Dhafiena.
" Makan apa? " Tanya Bang Kevin.
" Makan rumput. " Jawab Dhafiena asal-asalan.
" Heh, beneran mau makan apa? "Tanya Bang Kevin.
" Seadanya aja. " Jawab Dhafiena.
" Oke, tunggu bentar. " Kata Bang Kevin kemudian keluar dari ruangan Dhafiena untuk membeli makanan.
Tak lama kemudian Bang Kevin sudah kebali ke ruangan Dhafiena membawa dua bungkusan.
" Di depan cuma ada pedagang nasi goreng aja, nih. " Kata Bang Kevin memberitahu Dhafiena sambil menyerahkan satu bungkus nasi goreng yang tadi di belinya.
" Makasih, Bang. " Sambung Dhafiena.
" Kok kaki gue tambah sakit, Bang? " Tanya Dhafiena.
" Kena paku pas di sekolah? " Tanya balik Bang Kevin dan di jawab anggukan oleh Dhafiena.
" Tadi laa jatuh kena baru tuh kaki, jadi agak robek sedikit kata dokternya. " Lanjut Bang Kevin.
Dhafiena nampak mengangguk-angguk tanda ia sudah paham.
Karena sudah larut malam, Bang Kevin menyuruh Dhafiena istirahat saja buat cepet sembuh.
Waktu terus berjalan. (Eh emang bisa waktu berjalan yah? Kan gak punya kaki jamnya, mana bisa jalan dong.) Becanda doang kok. π
Hingga akhirnya waktu subuh telah tiba.
Dhafiena wudhu di bantu Bang Kevin. Setelah sholat subuh, Bu Siti sudah datang membawa sarapan kayaknya sih.
" Assalamu'alaikum. " Ucap salam Bi Siti saat masuk ke ruangan Dhafiena.
" Wa'alaikumsalam. " Jawab salam Bang Kevin dan Dhafiena bersamaan.
" Non, gimana keadaannya? " Tanya Bi Siti.
" Alkhamdulilah sehat kok, Bi. " Jawab Dhafiena.
" Untung aja, Non gak kenapa-kenapa. " Kata Bi Siti.
" Ini Bibi bawain sarapan buat Non sama Aden. " Lanjut Bi Siti.
Bang Kevin memakan sarapan duluan, sedangkan Dhafiena katanya nanti saja. Belum lapar. Gitu keknya.
" Emm, Bi bisa tolong jagain Dhafiena nggak? Aku mau ke kantor pagi-pagi. Ada client yang mau bikin kontrak kerja di perusahaan cabang. " Tanya Bang Kevin pada Bi Siti.
" Iya, biar Bibi yang jagain si Non. " Jawab Bang Kevin.
Setelah pamit, Bang Kevin langsung pulang ke rumah dulu buat siap-siap ke kantor.
Di rumah sakit
Di ruangan, Dhafiena berbincang-bincang bersama Bi Siti. Entah apa yang dibicarakan. Walau lelucon atau cerita dari Bi Siti tentang kampung halamannya dukung sebelum kenal dengan Pak Ferdi.
Tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangan rawat inap Dhafiena.
Ceklek.........
...β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦β¦...
...Maaf ceritanya di gantung, tunggu kelanjutannya yah....
... Maaf juga banyak typo dan lama nggak up new part. ...