Bad Girl But Genius

Bad Girl But Genius
Bertemu Dia lagi



Setelah mengunjungi makam kedua orang tuanya, Dhafiena ikut bang Kevin ke Amsterdam karena ada kepentingan bisnis. Pasti sudah tidak asing dengan istilah Amsterdam bukan? Siapa sih yang tidak tau kota di Belanda itu?


Hari ini bang Kevin mengurus bisnis cabang rintisannya dari Indonesia. Karena Dhafiena bosen di paviliun sendiri, akhirnya dia memutuskan untuk keluar sekedar jalan-jalan. Namun sebelum itu, dia meminta izin pada abangnya terlebih dahulu. Bisa digorok ntar kalo gak izin.



๐Ÿ‘†Anggap saja itu Paviliun yang ditinggali Dhafiena dan bang Kevin


๐Ÿ“ž~panggilan suara berlangsung~


Dhafiena: "Assalamu'alaikum, bang adek mau izin keluar sebentar boleh?"


Bang Kevin: "Wa'alaikumsalam, mau kemana emangnya?"


Dhafiena: "Jalan-jalan, daritadi bosen ah di paviliun sendirian. Abang lama banget pulangnya."


Bang Kevin: "Tadi kan adek udh diajak buat ikut abang aja biar gak sendirian tapi gak mau."


Dhafiena: "Kalo disana nanti yang ada gabut kali bang."


Bang Kevin: "Iya deh iya, emang mau jalan-jalan kemana sih dek? Bahaya loh, ini kan di kota orang."


Dhafiena: "Paling cuma di deket-deket sini aja sih. InsyaAllah aman kok bang, tadi aja tetangga pada ngira adek itu mahasiswi loh."


Bang Kevin: "Iya kah? Ya udah gapapa, hati-hati ya, pulangnya juga jangan larut malam! Ini abang mau nyelesain urusan dulu, biar cepet pulang."


Dhafiena: "Siap abang, Assalamualaikum."


Bang Kevin: "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


๐Ÿ“ž~panggilan suara berakhir~


Setelah selesai siap-siap, Dhafiena memilih untuk jalan kaki, namanya juga jalan-jalan. Yakali naik bus. Dhafiena lewat gang di dekat paviliun, memang agak sepi daerahnya sih. Walaupun sepi, tapi keamanan tetap terjaga ketat. Banyak sepeda bergeletak di pinggir jalan ataupun samping gedung-gedung komplek. Namun, tak ada satupun yang mengambil sepedanya. Loh kok bisa sepedanya gak dicolong orang sih? Mungkin dari kalian ada yang berpikir seperti itu. Jawabannya simpel, disana memang rata-rata penduduknya memakai sepeda, hampir semua penduduk memeiliki sepeda. Jadi tidaklah mungkin jika ada maling sepeda, kurang kerjaan banget. Kalo ada paling-paling juga cuma ambil ban depan atau belakang. Itupun hanya terjadi di tempat penitipan sepeda atau parkir Universitas, yang dilakukan oleh orang gabut yang bingung mau ngapain. Tapi untuk menjaga rasa nyaman, sepeda para mahasiswa ataupun mahasiswi pasti dikunci pada tiang pembatas yang ada.


Tidak terasa, Dhafiena sudah berada di persimpangan jalan besar. Karena sudah masuk waktu sholat, Dhafiena mencari masjid terdekat untuk melaksanakan ibadah. Setelah selesai dengan aktivitasnya, Dhafiena kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari cafe, hanya sekedar main saja sebenarnya. Tidak lama kemudian, dalam jarak 0.5km, terdapat Cafe outdoor yang suasananya cukup menarik bagi Dhafiena.


"Lorenzya" Itulah kata yang tercetak di papan nama cafe tersebut. Cafe yang terletak di sisi kanan jalan itu diapit oleh gedung pencakar langit dan bank. Meja dan kursi yang berjajar rapi, menambah kesana aesthetic dengan bentuk ukiran meja yang khas, apalagi ditambah cahaya remang-remang yang cukup indah dimata Dhafiena. Dhafiena mengambil tempat duduk di ujung tengah yang tidak terlalu ramai, sambil menunggu coffee pesanannya, Dhafiena memilih untuk membaca buku yang disediakan oleh cafe itu. Tak lama kemudian datanglah seorang pemuda yang tiba-tiba menyapa Dhafiena.



"Boleh aku duduk disini kak?" Pertanyaan yang terlontar dari pemuda itu mengalihkan atensi Dhafiena dari buku yang dibacanya.


"Eh iya boleh, silahkan." Jawab Dhafiena dengan sedikit gugup karena pemuda itu memperhatikannya dengan serius.


"Tadi kita belum kenalan loh kak. Boleh aku tau nama kakaknya?" Lanjut pemuda itu setelah mendudukkan dirinya dikursi depan Dhafiena.


"Aku Dhafiena, kam---?" Belum selesai Dhafiena menjawab, sang pegawai cafe sudah lebih dulu datang menghantarkan pesanan Dhafiena.


"Hanya pesan ini saja kakak?" Tanya pemuda itu.


"Iya, kalau kamu mau pesan makanan silahkan sekalian aja." Ucap Dhafiena dengan santai.


"Oh oke." Kemudian pemuda itu mengatakan apa yang di pesannya pada pegawai tadi. Dilanjutkan dengan obrolan ringan sambil menunggu pesanan. Lalu setelah kurang lebih lima belas menit, pesan sudah diantarkan


....



...


"Yuk kak, dimakan bareng." Ajak pemuda itu.


"Aku pesan sendiri aja gapapa." Tolak Dhafiena hati-hati.


"Eh tidak perlu, ini aja dimakan bareng. Aku emang sengaja pesen ini buat kakaknya sama aku." Bantahnya dengan nada sedang.


"Tapi kan?" sebenarnya Dhafiena agak ragu sih, yakali baru kenal malah ngrepotin.


"Udah gapapa makan aja, anggap sebagai traktiran perkenalan." Finalnya yang disetujui Dhafiena.


"Kok aku liat hari ini kakak jalan sendiri terus ya? Emang disini tinggal sama siapa kak?" Tanyanya pada Dhafiena dengan penuh rasa ingin tahu.


"Sama saudara, lagi ada kerjaan dianya. Kalo kamu sendiri?" Setelah menjawab, Dhafiena balik mengajukan pertanyaan.


"Sama orang tua kak, biasalah bisnis. Gak tau kenapa aku disuruh ikut, ya udah akhirnya ikut. Lumayan lah bisa jalan-jalan, kapan lagi yekan?" Jawabnya dipenuhi dengan tawa.


"Kakak rajin ibadah ya?" Tanyanya random banget emang, hadehh.


"Kenapa bisa bilang gitu, nyimpulin?" Dhafiena malah bertanya balik.


"Keliatan dari aura wajah kakak, soalnya orang yang sering ibadah sama engga itu pasti keliatan banget." Jawabnya penuh semangat.


"Andai kamu satu agama sama aku." Batin Dhafiena penuh rasa haru.


"Kamu pasti juga rajin ibadah kan?" Tanya Dhafiena.


"Tau aja sih kakaknya. Namanya juga ibadah kak, wajib dilaksanakan. Kalo ditinggalkan nanti dapet dosa. Semua agama punya cara ibadah masing-masing, dan itu wajib dilaksanakan semua yang menganut agama. Kecuali orang yang tidak punya agama, atau istilahnya atheis. Aneh banget ya orang atheis itu, masa hidupnya gak ada pedoman dan aturan apapun. Terus dia selama hidup itu ngapain? Apa manfaatnya hidup tapi nggak punya agama." Ocehannya panjang kali lebar, sedangkan Dhafiena hanya menjadi pendengar yang baik.


"Oh iya hampir lupa, kakak tinggalnya di daerah mana ya?" Lanjut pemuda tersebut menanyakan tempat tinggal Dhafiena.


"Komplek X paviliun deket persimpangan gang." Jawab Dhafiena menunjukkan tempat tinggalnya.


"Oh lumayan deket berarti, kalo aku di komplek sebelahnya sih rumah nomor 11. Kapan-kapan boleh kalau kakaknya mau mampir, hehehe." Basa-basinya menyuruh Dhafiena mampir jika berkenan.


Karena sudah sampai persimpangan, akhirnya mereka berpisah pulang ke tempat masing-masing.


"Where are you from, boy?" Tanya sang Dady pada pemuda tadi.


"Take a walk, Dad." Jawabnya.


"With a girl huh? Mom saw you eating together with a girl in Lorenzya earlier." Momynya ikut nimbrung karena tadi melihat anak laki-lakinya berada di cafe bersama seorang perempuan.


"Yes, we just meet by accident." Jawabnya dengan jujur.


"Okey, no problem. Now it's time to rest." Ucap sang Momy.


"Yeah, then I'll go to room first. Good night." Pamit pemuda itu untuk kekamar terlebih dahulu.


"Good night, boy." Balas Dady dan Momy.


...โ€ขโ€ขโ€ข...


...๐Ÿ—ฃ: "Tempatnya di Amsterdam, kok gak pakai bahasa resmi Belanda?"...


...๐Ÿ‘ฉโ€๐Ÿ’ป : Jadi gini, kalau percakapannya aku kasih pakai bahasa resmi Belanda, nanti kalian gak tau artinya kan repot. Harus cari translate dulu kan pasti? Jadi biar mudah aku buat pakai bahasa Indonesia aja, lagipula mereka sama-sama dari Indonesia kok....


...~...


...Maaf banyak typo๐Ÿ˜…...


...Jagan lupa like, komen, share, dan vote yaโ˜บ...


...Makasih buat kamu yang udah setia nungguin kelanjutan cerita ini๐Ÿ˜Š...


...~...


...Gimana mau lanjut ga? Sabar ya๐Ÿ˜‰...


...~...


Oh iya, untuk revisi belum aku lanjutin ya hehe.


...Ya udah gitu aja, see you di next episode....


...๐Ÿ˜Œ...