Bad Girl But Genius

Bad Girl But Genius
Teringat Kembali



"BANGUN, DHAFIENA FATIMAH VANDELYA. UDAH PAGI, NANTI TELAT KE SEKOLAHNYA." Teriak Bundanya Dhafiena.


"Lima menit lagi, Bun." Sahut Dhafiena.


"Gak ada lima menit lima menit lagi, cepetan bangun." Bunda Dhafiena menggoyang-goyangkan tubuh Dhafiena.


Bruk...


Terdengarlah suara orang terjatuh.


" Aduh, Bun. Sakit tau. Gak usah pake goyang goyangin Fiena juga lah. Kan jadinya jatuh, sakit, Bun." Keluh Dhafiena.


"Salah siapa, disuruh bangun, malah nggak bangun-bangun kayak kebo aja." Marah Bunda Dhafiena.


Tiba-tiba,


bruk.....


Dhafiena jatuh dari tempat tidurnya beneran.


"Aduh, sakit banget. Hah ternyata mimpi itu datang lagi." Gumam Dhafiena sedih.


"Aku kangen, Bunda. Hiks, hiks, hiks.


Kenapa Momy ninggalin Fiena sih, hiks. Bunda hiks, hikss, hikss. " Dhafiena teringat masa lalunya.


Tiba-tiba kepala Dhafiena terasa sakit.


"Aduh kepala ku kenapa jadi sakit begini sih?" Tanya Dhafiena pada dirinya sendiri sambil memegang kepalanya.


"Tambah sakit aja, gimana ini?" Ucap Dhafiena kebingungan.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu di ketok dari luar.


Tok tok tok.


Ceklek.


Suara pintu di buka.


"Loh adek, kenapa kamu di bawah gitu? Nangis juga lagi? " Tanya Bang Kevin khawatir.


"Terus megangin kepala lagi. Kamu kenapa sakit?" Tanya Bang Kevin lagi.


"Bunda, Bang." kata Dhafiena dalam isak tangisnya.


"Duh, kok inget lagi sih." Batin Bang Kevin pada dirinya sendiri.


"Hiiks hiks hiks." Dhafiena masih menangis.


"Dulu kata dokter udah sembuh, tapi ini kok? Akhh gimana lagi ya Allah?" Gumam Bang Kevin kebingungan.


"Udah nggak usah nangis, nanti cantiknya ilang loh." kata bang Kevin berusaha menghibur adiknya.


"Ish... Abang ma, kayak gitu." Dhafiena memasang muka kesal pada abangnya yang satu ini.


"Udah, nggak usah cemberut gitu lah. Sekarang bersih-bersih dulu, nanti turun buat sarapan sama minum obat! Abang bakal tunggu kamu di bawah ya." Perintah Bang Kevin yang diangguki Dhafiena.


Kemudian Dhafiena berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Setelah lima belas menit, Dhafiena turun ke bawah menuju meja makan untuk sarapan. dan meminum obat untuk meredakan sakit kepalanya. Dia tidak tahu itu obat apa, tapi kata bang Kevin yang penting diminum biar kepalanya gak sakit.


"Gimana nih, kalo adek sewaktu-waktu kambuh lagi. Bisa bahaya nanti." Ucap Bang Kevin dalam hati sambil mengaduk makanan di piringnya.


"Bang Kevin." Panggil Fiena pada abangnya. Namun tak ada respon apapun dari abangnya itu.


"BANG KEVIN." Teriak Dhafiena.


"Hah, iya kenapa?" Tanya Bang Kevin kaget karena teriakan adeknya.


"Abang itu yang kenapa, dipanggil gak nyaut. Makanan nggak dimakan, malah diaduk-aduk kayak gitu." Kata Dhafiena kesal pada abangnya.


"Maaf, adek abang yang cantik ini." Sahut Bang Kevin.


"Oh iya, Bang. Mau tanya boleh?* Tanya Dhafiena pelan.


""Mau tanya apa emangnya? Tanya aja gapapa." Tanya Bang Kevin balik mempersilahkan.


"Emmm... Bo... boleh ng... nggak a... aku se... sekolah la... lagi, Bang?" Tanya Dhafiena gugup, karena takut permintaannya akan ditolak oleh Abangnya.


"Kenapa sekolah lagi?" Tanya Bang Kevin.


" Biar ada kegiatan, Bang. Kalo di rumah terus bosen." Jawab Dhafiena mengutarakan maksudnya.


"Terus kemarin kamu sekolah di London buat apa?" Tanya Bang Kevin lagi.


"Kalo abang lagi kerja, aku gak ada temennya dirumah. Kalo nggak boleh ya nggak apa-apa." Kata Dhafiena sedih.


Bang Kevin nampak berfikir.


"Ada benernya juga kata adek. Kalo di rumah terus dia pasti bosen. Trus inget lagi, bisa jadi masalah juga nanti. Biarin aja lah dia sekolah. Semoga aja dia bahagia dan bisa cepet sembuh." Kata Bang Kevin dalam hati.


"Boleh kok, siapa bilang gak boleh." Kata Bang Kevin tersenyum.


"Neneran boleh, Bang?" Tanya Dhafiena memastikan perkataan abangnya.


"Iya boleh. Apapun buat kamu, asalkan kamu bahagia." Jawab Bang Kevin.


"Makasih, Abang." kata Dhafiena berterimakasih pada abangnya.


"Sama-sama." Sahut Bang Kevin.


"Habis ini kita ke mall ya, Bang. Beli peralatan sekolah!" Ajak Dhafiena.


"Aku pengen langsung aja, Bang. Sekalian beli buku. Dan aku nggak bakal kecapekan. Yakin deh sama aku." Kata Dhafiena serius.


"Oke deh. Habis ini kita langsung berangkat."


Kata Bang Kevin.


Setelah selesai sarapan, Bang Kevin dan Dhafiena siap-siap pergi ke mall.


Dhafiena memakai rok warna navy di padukan dengan cardigan warna abu-abu dan jilbab pashmina warna navy, serta sepatu converse warna keabu-abuan. Tak lupa tas slempang abu-abu dengan rantai warna putih. Sangat cocok dikenakan oleh Dhafiena.



Sedangkan Bang Kevin memakai celana jeans hitam, dipadukan dengan kemeja pendek warna biru muda dan memakai sepatu Piero warna hitam.



Di dalam mobil...


"Dek, mana ada mall yang buka jam segini. Ini masih pagi." Tegur Bang Kevin.


"Kita ke taman dulu aja bentar, Bang." Usul Dhafiena.


"Oke." Kata Bang Kevin.


Kemudian mobil Bang Kevin menuju ke taman kota, kalau pagi-pagi masih banyak orang yang jogging.


"Bang, beli Sandwich yok!" Ajak Dhafiena.


"Yok." Jawab Bang Kevin.


Mereka membeli sandwich disana. Hampir satu jam lebih mereka disana hanya untuk sekedar beli makan.


"Ke mall sekarang apa nanti?" Tanya Bang Kevin.


"Sekarang aja, gak usah lama-lama." Jawab Dhafiena.


Di dalam perjalanan hanya ada keheningan. Dhafiena melihat keluar jendela mobil dan Bang Kevin yang fokus menyetir.


Setelah 25 menit dalam perjalanan, Dhafiena dan Bang kevin sudah sampai di parkiran mall.


"Masih sepi juga ternyata." Kata Dhafiena.


"Ya iyalah. Kamu kecepetan kesininya." Sahut Bang kevin.


"Biar ga terlalu rame, ntar kalo dah rame nggak enak aja rasanya. Males banget." Ucap Dhafiena.


"Ya udah, yuk masuk." Ajak Bang Kevin.


Setelah membeli seragam dan peralatan sekolah. Kemudian Dhafiena membeli buku.


Di toko buku...


"Beli buku apa, dek?" Tanya Bang Kevin.


"Novel, Bang." Jawab Dhafiena.


"Dirumah kan ada banyak. " Kata Bang Kevin.


"Kan udah dibaca semua." Sahut Dhafiena.


"Hah, apa? Udah dibaca semua? Nggak salah denger nih abang? " Tanya Bang Kevin terkejut.


"Iya udah semua." Jawab Dhafiena santai.


"Banyak banget itu buku di rumah, gila cepet amat bacanya." Ucap Bang Kevin kagum.


"Dhafiena, gitu lho. Nanti yang di rumah bisa dikirim ke perpus umum." Ucap Dhafiena bangga.


"Ya udah beli banyak sekalian biar jadi stok." Saran Bang Kevin oada Dhafiena.


"Siap, Bang." Sahut Dhafiena dengan penuh semangat.


.................................................


...Jangan lupa kalo dah baca tinggalkan jejak dengan cara ✅...


...klik like...


...👍...


...komen...


...📃...


...vote...


...⭐⭐⭐⭐⭐...


...dan jadikan favorit yah....


...❤...


...✨...


............................................


Maaf banyak typo dalam cerita ini. 😅


Ig : ad_rmdh


Dah segini dulu buat hari, tunggu kelanjutannya yah. 👋