Bad Girl But Genius

Bad Girl But Genius
Boleh saya bertanya?



‘’’Astagfirullah." Kaget siswi itu karena tiba-tiba ada siswa laki-laki di belakangnya membuat dirinya terkejut.


Dan karena tidak sengaja siswi itupun menumpahkan minumannya di sepatu cowok tadi.


‘’Sorry kagak sengaja gue. Lo sih ngagetin aja." Siswi itu merasa bersalah karena sepatu cowok tadi basah karenanya, tapi tidak mengakui jika semua karenanya.


‘’Jadi karena ini? Dia jadi incaran anggota OSIS tadi." Batin Praka saat melihat sepatunnya yang sedikit basah, dan secara tidak sengaja dia melihat sepatu yang dikenakan siswi didepannya itu.


‘’Nih orang malah bengong. Minggir dong gue mau ke kelas nih." Siswi itu hendak pergi, namun dengan cepat Praka menarik lengan kiri siswi itu dan di seret menuju ruang BK.


‘’Eh, lepasin gak! Main tarik-tarik aja lo." Kata siswi itu sambil berusaha melepaskan tangannya yang di tarik oleh Praka.


‘’Woy lepasin gak!" Bentak siswi itu, namun tak dihiraukan oleh Praka.


Siswi itu terus meronta-ronta minta dilepaskan, tapi Praka seolah-olah tuli tak mendengarkannya.


Hingga sampailah mereka di ruang BK.


‘’Nah ini dia pagi-pagi buat ulah dan langsung kabur tadi." Sambutan dari Bu Riska saat Praka dan Siswi tadi masuk keruangannya, yang tak lain dan tak bukan yaitu ruang BK.


‘’Kenapa lagi sih, Bu. Saya izin ke kelas dulu deh, Bu. Ini udah mau bel masuk nih. Nanti kalo saya nggak masuk ke kelas dikira saya bolos. Terus nanti dihukum sama, Ibu.‘’ Ucap Siswi itu yang ingin ke kelasnya.


‘’Jalah kamu ini gak usah banyak alesan deh. Mana sepatu kamu?" Tanya Bu Riska pada siswi yang ada dihadapannya itu.


‘’Ibu gak liat saya ini pakai apa gitu, Bu. Kan udah jelas ini sepatu bukan sandal, Bu.‘’ Jawab siswi itu.


‘’Haduh kamu ini yah. Ke sekolah itu pakai sepatu sekolah, bukan pakai sepatu roda kayak gitu." Omel Bu Riska sambil menunjuk sepatu yang dimaksud oleh si siswi pembuat onar.


‘’Dhafiena, kamu itu disini masih murid baru. Jadi jangan aneh-aneh dong." Peringatan dari Bu Riska. Yah siswi tadi memang si Dhafiena, dia memakai sepatu roda saat di koridor depan ruang kelas tadi. Kurang kerjaan bukan? Sekolah pakainya sepatu roda bukan sepatu sekolah. Emang parah si Dhafiena itu.


‘’Soalnya saya sekalian olahraga aja gitu, Bu. Males kalo cuma lari-lari biasa. Nanti kalo telat juga di hukum sama, Ibu. Makanya saya pake sepatu ini biar cepet.‘’ Celoteh si Dhafiena yang membuat Bu Riska semakin geram dengannya.


‘’Kamu ini yah kalo di bilangin ngejawab terus." Sahut bu Riska.


‘’Yee, si Ibu gimana sih. Kalo gak dijawab salah, di jawab juga salah." Kata Dhafiena.


‘’Udahlah kamu itu bikin Ibu darah tinggi aja. Sekarang mana sepatu kamu?" Tanya Bu Riska.


‘’Itu, Bu." Jawab Dhafiena sambil menunjuk sepatu roda yang sudah dilepapsnya. Ntahlah kapan si Dhafiena melepaskan sepatunya itu. Haha.


Bu Riska bingung dengan satu siswi barunya ini. Selama ini tidak pernah ada berani kepadanya kalau sedang di nasehati seperti itu. Sedangkan Dhafiena? Sudahlah kalian pasti tahukan gimana si Dhafiena itu kan? Oke lanjut.


‘’Sebagai hukumannya, kamu hormat bendera di lapangan selama tiga puluh menit! Untuk sepatu roda kamu, Ibu sita dan boleh di ambil nanti sewaktu pulang sekolah.‘’ Perintah Bu Riska yang di angguki Dhafiena.


‘’Nak Praka, tolong kamu awasin Dhafiena yah, takutnya nanti pingsan lagi kayak kemarin." Pinta Bu Riska pada Praka.


Praka hanya mengangguki perintah Bu Riska.


Dhafiena lebih dulu keluar dari ruang BK menuju lapangan dengan cekeran, eh maksudnya tanpa alas kaki apapun gitu yah. Paham bukan? Oke paham gitu aja yah.


Untung cuaca hari ini tidak terlalu panas, jadi kaki Dhafiena tidak akan kepanasan.


‘’Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.... ‘’ Saat sudah hormat pada sang saka merah putih, Dhafiena mulai berhitung. Kayaknya sih dia menghitung sampai angka terakir saat sudah tiga puh menit.


30 menitpun telah berlalu, kini Dhafiena berjalan menuju ruang kelasnya. Koridor sekolah juga sudah sepi tak ada yang berlalu lalang. Yah jelas dong, inikan sudah waktunya jam pelajaran dimulai.


Saat di depan kelasnya, Dhafiena melihat kalau teman-teman sekelasnya pada ribut semua. Ia juga sempat melirik ke arah meja guru, tapi masih kosong. Berarti belum ada guru yang masuk.


"Gue kerjain aja tuh bocah-bocah." Ucap Dhafiena dalam hati.


Dhafiena sekarang berdiri tepat di depan pintu ruang kelasnya. Dan…..


Tok tok tok


Ternyata Dhafiena mengetuk pintu ruang kelasnya itu dengan sedikit keras, supaya terdengar jelas di dalam ruang kelasnya. Begitu pikirnya.


Suasana kelas yang tadinya sangat amat ramai, kini menjadi tenang. Mereka semua telah duduk rapi di tempatnya masing-masing.


DOR…


Teriak Dhafiena sangat kencang, sehingga membuat teman-temannya itu pada terlonjat kaget.


"Uhuk uhuk uhuk…" Dhimas yang sedang memakan cemilan yang tadi di belinya di kantin juga langsung tersedak.


"Noh buruan minum." Sahut Angga yang merasa kasihan pada teman sebangunya yang tersedak.


"DHAFIENA….." Teriak teman sekelasnya bersamaan.


Sedangkan sangat empu pemilik nama hanya menatap mereka dengan muka tak berdosanya itu.


"Lo ngapain disitu?" Tanya Laura.


"Bernafas." Jawab Dhafiena dengan muka datar.


"Ye itu mah, gue juga tau kali." Sahut Laura.


"Ngapain sih, Dhafiena lo itu? Bikin kaget aja. Kita kira guru tadi yang dateng." Kata Jordan.


Belum sempat menjawab datanglah guru perempuan, memiliki paras cantik, di tambah hidungnya yang sedikit mancung. Memakai hijab warna hijau muda, dengan baju batik warna hijau juga, dan rok berwarna hitam. Tak lupa kacamata yang berwarna hitam kebiru-biruan. Kira-kira tingginya ± 170 cm. Dan terlihat masih muda, mungkin umurnya baru 25 tahunan.


"Assalamu'alaikum, semua." Sapanya.


"Wa'alaikumsalam. Bu." Jawab salam para penghuni venus, eh penghuni kelas VIII B maksudnya gitu.


"Ayo semuanya duduk di tempat masing-masing! Ini kenapa masih ada disini?" Tanya Bu guru cantik itu.


"Maaf, Bu. Ini murid baru di kelas kami. Baru beberapa hari juga disini." Jawab Jordan.


"Oh iya? Nama kamu siapa?" Tanya Bu guru cantik itu.


"Hai, Bu. Saya Dhafiena." Jawab Dhafiena sambil menjabat tangan Bu guru cantik itu. Sumpah ngakak banget, jabatan tangan kayak jabatan sama temen aja tuh si Dhafiena.


"Oh, Dhafiena. Perkenalkan, nama saya Idda Rahmawati, bisa di panggil Bu Idda. Saya mengampu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial disini." Sekarang Bu guru cantik itu yang memperkenalkan diri pada Dhafiena. Namanya Bu Idda yah.


"Salam kenal, Bu Idda cantik." Celoteh Dhafiena.


"MasyaAllah, kamu bisa aja." Balas Bu Idda tersenyum ramah.


"Saya permisi duduk dulu, Bu." Pamit Dhafiena yang di angguki Bu Idda.


"Baiklah, pembelajaran hari ini langsung saja kita mulai. Sekarang materi yang akan kita pelajari mengenai Perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda." Pembukaan dari Bu Idda.


"Nanti kalau ada yang penting, tolong di catat di buku catatan masing-masing!" Perintah Bu Idda.


"Siap, Bu Idda cantik." Jawab satu kelas bersamaan.


Bu Idda langsung memulai menjelaskan materinya. Sesekali juga ada yang bertanya, mengenai bagian yang belum di mengerti.


"Bu, bolehkah saya bertanya?" Tanya Dhafiena sambil mengangkat tangan kanannya ke atas. ✋


"Boleh, mau tanya apa?" Jawab Bu Idda mempersilahkan Dhafiena.




Kira-kira Dhafiena mau tanya apa ya?


.


Gimana seru nggak ceritanya? Maaf yah banyak typo dan di part ini agak gimana gitu. Ayo dukung author yah,!