
Kini Dhafiena sudah semingguan bersekolah di sekolah barunya itu. Dhafiena yang mulai membuat ulah. Dari datang terlambat lah, selalu ngerjain guru lah, tidur di kelas lah dan masih banyak lagi.
Tapi sayangnya kalau mau bolos bersama dua sahabatnya, yang tak lain dan tak bukan Laura dan Stevani selalu gagal. Itu semua gara-gara trio abal-abal bin resek bin nyebelin yang super duper itu. Selalu saja mereka menghalangi niat bolos Dhafiena dkk.
Tapi juga, kalau sedang tidur di kelas dan sebagai hukumannya mengerjakan tugas di papan tulis, Dhafiena selalu menjawab dengan benar.
Terkadang para guru-guru bingung dengan Dhafiena. Di satu sisi, selalu membuat onar dan segala macamnya itu. Tapi di sisi lain, dia juga sangat pandai dalam berbagai mata pelajaran.
Bingung? Itulah satu kata yang dapat mendeskripsikan pemikiran para guru-guru. Mereka bingung, kenapa Dhafiena yang pandai, harus sering membuat ulah dan menyebabkan Bu BK, yah Bu Riska. Dia selalu pusing mikirin Dhafiena.
Seperti saat ini, Bu Riska sedang menasehati murid tercintanya itu. Siapa lagi kalau bukan Dhafiena coba? Haha.
" Huft, Dhafiena kamu ini kenapa sih kalau di kasih tahu itu masih aja tetep ngeyel? " Tanya Bu Riska yang sudah bosan memberi nasihat pada Dhafiena nampaknya.
" Enakan juga tempe kali, Bu. Lebih renyah. " Celoteh Dhafiena.
" Kamu pikir saat sedang membicarakan makanan? " Tanya Bu Riska menahan marah yang sudah hampir di ujung tanduk.
Eh, emang Bu Riska punya tanduk yah? Bodoamat lah, iyain aja gitu kali ya? Hehe.
" Ibu tadi bilang tahu, Bu. Kalo buat saya lebih enak tempe. " Jawab Dhafiena santai dengan muka tampak tak bersalah sama sekali.
" Kamu disini itu baru satu minggu, belum juga satu bulan kelakuan kamu kayak gini? Gimana nantinya kalau 3 tahun eh 2 tahun disini? Bisa-bisa saya darah tinggi terus gara-gara kamu. " Omelan Bu Riska yang menurut Dhafiena tak ada faedahnya sama sekali.
" Sudahlah, Ibu capek. Di kasih hukuman apapun kamu tetap aja gak jera. Untuk kali ini kamu akan ibu kasih hukuman nanti ikut beberapa anggota OSIS yang jadwal piket hari ini untuk razia sepulang sekolah.! " Perintah Bu Riska.
" Razia seluang sekolah, Bu? Nggak salah tuh? " Tanya Dhafiena.
" Kenapa emangnya? " Tanya Bu Riska balik.
" Gajadi deh, Bu. Saya permisi mau ke kelas dulu, bye bye. " Jawab Dhafiena langsung pamit.
" Astagfirullah, sabar-sabar. Orang sabar di sayang Allah. " Kata Bu Riska berusaha sabar.
Pelajaran dimulai seperti biasa. Hari ini adalah jadwal matematika di jam pertama.
" Assalamu'alaikum, anak-anak. " Sapa Bu Setta saat memasuki ruang kelas.
" Wa'alaikumsalam, Bu. " Jawab salam anak-anak kelas VIII B kompak.
" Oke, hari ini kita ada Ulangan Harian. " Kata Bu Setta memberitahu.
" APA??? " Teriak satu kelas bersamaan kecuali Dhafiena.
Kenalan harus matematika yang ulangan harian secara dadakan seperti ini.
" Udah ayo, masukin buku-buku kalian ke dalam tas. Di atas meja hanya boleh ada alat tulis saja! " Perintah Bu Setta.
" Kenapa juga harus ulangan dadakan kayak gini coba. " Kira-kira begitulah keluhan anak-anak penghuni kelas itu.
" Gak usah pada ngeluh, kalau tadi malem kalian belajar pasti bisa ngerjainnya. " Kata Bu Setta.
" Atau jangan-jangan kalian belajar cuma mau ada ulangan saja? " Tanya Bu Setta curiga pada anak-anak didiknya itu.
" Jangan su'udzon lah, Bu. " Kata Angga.
" Sudah cepat kerjakan, hanya 40 menit saja. ' Kata Bu Setta setelah selesai membagikan lembar ulangan dadakan itu.
" Hah? 40 menit, Bu? " Kaget kebanyak siswa-siswi.
" Iya, kenapa mau dikurangi juga gak apa-apa. Itu cuma lima soal. " Tawar Bu Setta.
" Lima sih lima, Bu. Tapi soalnya beranak, Bu. Kan jadi banyak. " Kata Wahyu yang tak setuju dengan tawaran Bu Setta.
" Ya sudah kalo tidak mau, cepat kerjakan! " Titah Bu Setta.
Mau tidak mau, bagaimana lagi. Sudah nasib lah kalau begini hanya bisa pasrah dan meminta keajaiban dari Allah.
Belum ada sepuluh menit, Dhafiena sudah berjalan ke depan.
" Mau kemana kamu Dhafiena? " Tanya Bu Setta yang mengundang perhatian para penghuni kelas.
" Nih, Bu. " Bukan menjawab, Dhafiena langsung menyodorkan lembar ujiannya.
" Sudah? " Tanya Bu Setta yang di angguki Dhafiena.
Penghuni kelas nampak melongo, baru seluruh menit, udah selesai? Amazing lah itu si Dhafiena, soal kayak gini tuh sulit sulit semua.
Bu Setta langsung mengecek jawaban Dhafiena. Namun hasilnya sungguh terlalu.
" Alkhamdulilah, jawaban kamu sudah benar semua. " Kata Bu Setta yang membuat para penghuni kelas kembali terkejut.
" Saya boleh keluar gak nih, Bu? " Tanya Dhafiena.
" Boleh, ke perpus aja baca-baca buku biar tambah pinter. " Jawab Bu Setta.
" Kalo gitu, saya pamit. Assalamu'alaikum. " Pamit Dhafiena yang kemudian keluar kelas.
" Wa'alaikumsalam. " Jawab dalam semua penghuni kelas, termasuk Bu Setta.
" Bu Setta sudah tahu kemampuan Dhafiena, jadi tak usah ragu-ragu lagi.
Dhafiena ke perpustakaan? Oh jelas tidak dong. Dua melangkahkan kakinya menuju kantin.
" Bu, Saya pesen nasi goreng sama es jeruk. " Kata Dhafiena memesan pada Bu kantin.
" Iya, kok sudah keluar? Kan belum waktunya istirahat ini? " Tanya Bu Kantin.
" Kalo saya mah bisa keluar kapan aja, Bu. " Jawab Dhafiena.
Bu kantin hanya menggelengkan kepalanya saja. Mereka uty sudah akrab, jadi bisa guyon-guyon gitu.
Beberapa saat kemudian Bu kantun mendatangi meka Dhafiena untuk mengantarkan pesanan nasi goreng dan es jeruk tadi.
" Emang mau ngapain? " Tanya balik Bu Kantun.
" Di hukum Bu Setta buat ikut razia pulang sekolah nanti sama anak OSIS. " Jawab Dhafiena.
" Kalo yang loket sih gak tau, soalnya kan banyak OSIS disini. " Jawab Bu Kantin.
" Ya udah, nanti saya coba tanya temen lain aja. " Kata Dhafiena.
" Ya udah, Ibuk mau ke belakang dulu. " Sambung Bu kantin yang di angguk Dhafiena.
Dhafiena langsung menyantap nasi goreng yang dia pesan tadi. Sampailah datang waktu istirahat. Dhafiena hanya memainkan ponselnya.
Tiba-tiba Meisie lewat di depannya.
" Woy, Sie. " Panggil Dhafiena.
" Apaan? " Tanya Meisie.
" Lo anak OSIS bukan sih? " Tanya Dhafiena.
" Bukan. Tumben tanya-tanya tentang OSIS? " Jawab Dhafiena.
" Lo punya kenalan anak OSIS gak? " Tanya Dhafiena.
" Emm, anak kelas sebelah. " Jawab Meisie.
" Ntar tolong tanyain siapa yang jadwal loket nanti pulang sekolah! " Kata Dhafiena meminta tolong.
" Mau ngapain? " Tanya Meisie.
" BIASALAH, tugas negara. " Jawab Dhafiena.
" Ye tugas negara darimananya. Itu mah kasti hukuman dari Bu Riska kali. " Sahut Meisie yang sudah tau maksud dari kata TUGAS NEGARA. Sudah pasti dia di hukum.
" Ya udah, mau bantuin gak nih? " Tanya Dhafiena.
" Ntar gue chat aja. " Jawab Meisie.
" Oke gue tunggu. " Kata Dhafiena.
Setelah Meisie pergi memesan makanan, datanglah dua sahabatnya.
" Lama amat lo berdua? " Tanya Dhafiena.
" Tidur dulu tadi. " Jawab Laura.
" Lo aja yang kecepetan. " Sambung Stevani.
" Gue laper tadi, jadi buru-buru aja ke kantin. " Jawab Dhafiena.
" Eh gimana kalo kita besok lagi aja. " Kata Stevani.
" Ntar kallo ketahuan sama anak OSIS gimana? " Tanya Laura.
" Gini aja, besok datang pagi, langsung ke atap ajalah. Pasti kagak bakal ketahuan. " Jawab Stevani.
" Oke. " Sahut Dhafiena.
" Oke, besok dateng pagi. " Kata Laura semangat.
Tiba-tiba ada yang nge-chat Dhafiena.
📩 Meisie
\=) Katanya sih yang piket Praka, Hamdan, sama Galaksi.
📩 Dhafiena
\=) Tuh tiga orang aja?
📩 Meisie
\=) Kayaknya iya, nanti lo ke ruang OSIS aja.
📩 Dhafiena
\=) Ya udah, Thnks.
📩 Meisie
\=) Yoi.
Begitulah isi chat dari Meisie memberitahu Dhafiena siapa anak OSIS yang piket hari ini.
Kemudian Dhafiena lanjut mengobrol dengan Stevani dan Laura. Hingga waktu istirahat berakhir. Waktu pelajaran kembali dimulai hingga pulang sekolah.
" Dhafiena, gue duluan yah. Udah di jemput. " Kata Stevani.
" Gue juga duluan, udah janji mau bantuin bersih-bersih rumah. " Sambung Laura.
" Iya, duluan aja. Gue masih ada urusan bentar. " Kata Dhafiena mempersilahkan dua sobatnya untuk pulang duluan.
Dhafiena masih membereskan buku dan alat tulis yang ada di atas meja.
Saat hendak keluar menuju ruang OSIS....
………………………………………
Yuk terus kasih dukungan buat author yah! Maaf banyak typo. ✨