Bad Girl But Genius

Bad Girl But Genius
Kena Karma



"Terserah lah." Ucap Dhafiena berusaha berdiri, tapi tiba-tiba terdengar suara seseorang.


"Nah tuh Dhafiena." Ucap orang itu.


"Ya udah samperin aja yuk!" Sahut teman disampingnya.


Mereka berdua menghampiri Dhafiena yang sedang berdebat.


"Ngapain disini, Na?" Tanya orang tadi, Laura.


"Tidur, baca buku lah ngapain lagi coba?" Jawab Dhafiena.


"Ya udah yuk pulang, udah dibolehin pulang juga kok tenang aja." Kata Stefhani.


"Kuy lah cabut." Sambung Dhafiena menarik rangan Laura dan Stefhani keluar dari perpustakaan.


"Ngapain tadi lo sama Praka?" Tanya Laura.


"Gak ngapa-ngapain kok. Yuk ke kantin aja, laper gue." Jawab Dhafiena.


"Gas lah pokoknya." Kata Laura yang dianggurin Stefhani.


Mereka bertiga berjalan beriringan menuju kantin yang cukup ramai. Walau sudah diperbolehkan pulang, tapi masih banyak siswa-siswi yang menyempatkan ke kantin.


Dhafiena dkk memilih tempat seperti biasanya, meja belakang paling pojok.


Setelah memesan makan dan minum, mereka berbincang-bincang mengenai ketidakhadiran Dhafiena beberapa hari lalu.


"Ini neng bakso, kentang goreng, sama jus jeruknya." Ujar mbak-mbak penjual dikantin mengantar pesanan Dhafiena dkk.


"Makasihh, mbak." Ucap Dhafiena yang diangguki mbak kantin. Setelah mbak kantin balik ke tempat asalnya. Stefhani bertanya pada Dhafiena kenapa hanya memesan kentang goreng.


"Kenapa cuma mesen kentang goreng, katanya tadi lu laper kan?" Tanya Stefhani.


"Lagi pengen ini aja." Jawab sederhana Dhafiena.


"Ya udah yuk dimakan, ntar habis ini kita main ke rumah lo boleh kan Dhafiena yang cantik?" Sahut Laura.


Dhafiena hanya mengangguk sebagai tanda ia setuju dengan Laura.


Saat asik makan, tiba-tiba Ratu, Erika, dan Annabelle datang.


"Eh kayaknya enak nih bakso, boleh gak nih kita minta dikit?" Tanya Erika dengan senyum semirik menarik mangkok bakso milik Laura.


"Ga---," Belum selesai Laura berbicara, tiba-tiba Dhafiena langsung nyerobot pembicaraan Laura dengan Erika.


"Ambil aja gpp, ntr beli lagi ya, Ra." Sahut Dhafiena langsung mencegah tangan Laura hendak mengambil baksonya kembali.


"Huuh ya deh. Tuh ambil aja, katanya orang kaya, bakso aja ngerebut punya orang." Sindir Laura dengan sengit.


Tanpa memperdulikan sindiran Laura, Annabelle langsung mengambil lima sendok sambal dan dimasukkan ke dalam mangkok Laura tadi. Sedangkan Ratu langsung duduk di dekat Stefhani hanya memperhatikan kegiatan antek-anteknya itu.


Setelah selesai dengan kegiatannya itu, Erika langsung mengangkat mangkoknya tinggi-tinggi dan...,


"Biar lebih bagus kalo nih kuah bakso disiram ke kepala lo." Ucap Erika hendak menumpahkan kuah bakso itu ke kepala Laura yang duduk dideket Dhafiena.


Sebelum kuah itu tumpah, Dhafiena segera berdiri dan mendorong tangan Erika. Erika yang mendapati serangan dadakan dari lawannya terhuyung kesamping, hingga akhirnya kuah bakso cap lima sendok sambal tumpah mengenai muka Ratu.


"AKHHHH PANAS, PANAS, PANAS." Teriak Ratu dengan kencang karena rasa panas di wajahnya yang terkena kuah sambal tadi hingga membuat seisi kantin memperhatikan dirinya


"Eh Ratu gimana nih? Semua gara-gara kalian, kalo sampe Ratu kenapa-kenapa kalian harus tanggung jawab." Teriak Annabelle yang terkejut.


Kemudian datanglah beberapa anak PMR yang ada di kantin untuk menolong Ratu dan membawanya ke UKS untuk diberi tindakan lanjut dan diikuti dua antek-anteknya itu.


"HAHAHA, MAMPUS DAH TUH ORANG. KENA KARMA KAN AKHIRNYA. MAKANYA, JADI ORANG JANGAN JAHAT-JAHAT." Teriak Laura yang kegirangan karena kesengsaraan Ratu dkk.


"Iya rasain tuh, biar kapok." Tambah Stefhani yang di acungi jempol oleh beberapa anak yang tak suka pada Ratu dkk.


"Udah-udah kalian diem. Cepet abisin sebelum kalian dipanggil guru BK!" Teriak Jordan pada Dhafiena dkk.


"Iya, buruan ntar kalian bisa kena hukuman Bu Galak." Tambah Dhimas.


"Kita kan ga salah, jadi ga mungkin lah kita di hukum." Sahut Laura yang diangguki Stefhani. Sedangkan Dhafiena melanjutkan makan kentang gorengnya dengan tenang.


"Ya udah si seterah kalian aja." Kata Jordan.


Setelah selesai menghabiskan pesanan mereka, tak lupa membayarnya dan hendak kekuarangan dari kantin tiba-tiba terdengar suara pemberitahuan.


"Perhatian-perhatian. Mohon untuk ananda Dhafiena, Laura dan Stefhani segera ke ruang BK. Terimakasih." Kira-kira begitulah pemberitahuan yang disampaikan dari sekolah melalui speaker.


Tanpa babibu segeralah mereka bertiga menuju ruang BK.


Tanpa disuruh duduk, Dhafiena dkk langsung duduk di sofa ruang BK.


"Oke, langsung saja. Ada yang mau menjelaskan ini kenapa Ratu bisa sampai seperti ini?" Tanya Bu Setta memulai pembicaraan.


Terlihat wajah Ratu memerah dengan sedikit bintik-bintik, mungkin efek kena kuah bakso sambal tadi kali ya, wkwk.


"Ini semua gara-gara mereka Bu, mereka yang nyiram muka Ratu pake kuah bakso yang banyak sambalnya." Jawab Annabelle dengan menunjuk-nunjuk ke arah Dhafiena, Laura, dan Stefhani.


"Iya, Bu. Kita lihat sendiri kok, mereka yang nyiram Ratu." Tambah Erika sang pelaku yang menuduh korbannya.


Sedangkan Ratu hanya diam tanpa berniat komentar sedikit-pun.


"Mereka bohong, Bu. Orang mereka duluan yang mulai. Nih si Erika mulutnya minta dijahit. Orang dia mau nyiram saya, Bu. Eh malah kena ke Ratu. Ya kan Stef, Dhaf?" Sahut Laura dengan mengatakan hal sejujurnya.


"Mereka bohong, Bu." Elak Erika.


"Lo tuh yang bohong." Sangkal Laura.


"Lo tuh."


"Lo kali."


"Lo."


"Lo."


"Lo."


" Lo tuh yang nuduh nuduh gue."


"Lo kali."


"Lo ya bukan gue, enak aja."


"STOPPP!" Bentak Bu Setta.


"Kenapa kalian malah ribut sendiri?" Tanya Bu Setta.


"Laura ngomong jujur ko, Bu. Semua orang yang ada di kantin jadi buktinya kalo Ibu gak percaya sama omongan Laura." Sahut Jordan yang tiba-tiba datang bersama Dhimas.


Kemudian Dhimas membantu menjelaskan semua yang terjadi di kantin, tanpa menambah nambahi atau menguranginya.


Setelah masing-masing pihak mendapat hukuman. Dan Dhafiena dkk disuruh hormat dilapangan selama 30 menit. Gila aja tuh guru, udah siang-siang gini panasnya minta ampun. Eh malah disuruh berdiri dilapangan selama itu. Sedangkan Ratu dkk disuruh membersihkan seluruh toilet yang ada di sekolah ini. Kalau Dhafiena lebih memilih berdiri dilapangan sambil panas-panasan daripada ngebersihin toilet.


Baru 10 menit, tiba-tiba Laura pingsan karena memang tadi baru makan sedikit langsung di serobot Erika. Laura ditemani Stefhani di UKS. Sedangkan Dhafiena dilapangan diawasi oleh si OSIS resek, Praka.


"Dari sekian banyaknya anggota OSIS, kenapa harus nih orang sih yang ngawasin gue? Jadi bikin mood gue hancur aja." Gumam Dhafiena menggerutu sebal.


"Gak usah banyak ribet, tinggal berdiri gitu aja protes." Sindir Praka.


"Siapa juga yang protrs, sotoy lu jadi orang." Balas Dhafiena tak mau kalah.


"Gue tau lu sebenernya ga salah, karena emang tuh tiga nenek sihir aja yang hobi cari masalah." Celetuk Praka yang masih bisa didengar Dhafiena.


"Ya kalo gue gak salah, ngapain gue harus dihukum sih?" Tanya Dhafiena mengelap keringat di dahinya.


"Tanya tuh ama Bu Setta." Jawab Praka.


"Curang nih, lu pasti yang jadi provokator biar Bu Setta nge-hukum gue sama temen-temen gue kan? Ngaku lu!" Kata Dhafiena dengan kesal.


"Kalo Iya kenapa?" Tanya balik Praka.


"Sumpah ya, lu tuh ngeselin banget. Dasar OSIS resek. Gue do'ain biar lo jatuh ke got." Sahut Dhafiena dengan cepat.


"Emang gue....


..._-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_...


...Maaf banyak typo😄...


...Jagan lupa like, komen, share, dan vote ya☺...


...Makasih buat yang udah setia nungguin kelanjutan cerita ini😊...


...~•~...


...Gimana lanjut ga nih?...


..._-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_...