
Setelah sampai didepan pintu berwarna coklat dengan dinding bernuansa terang itu, ternyata sudah ada beberapa Bapak dan Ibu Guru yang sudah menunggu kehadiran kedua anak tersebut, Praka dan Dhafiena.
Dhafiena merasa akan ada sesuatu hal buruk yang akan terjadi. Otaknya segera berpikir dengan cepat untuk mencari cara agar bisa menghindari para guru-guru itu.
Tidak butuh waktu lama, Dhafiena sudah mendapatkan ide cemerlang untuk bisa kabur dari situasi ini.
"Gue mau ke toilet dulu. Lo masuk aja duluan, ntar Gua nyusul aja!" Kata Dhafiena pada Praka.
Praka langsung memandang Dhafiena dengan tatapan penuh selidik setelah mendengar ucapan dari Dhafiena. Entah apa yang dipikirkan olehnya.
"Jangan sampai nih bocah tau kalo gua mau kabur." Batin Dhafiena karena Praka diam saja tanpa menanggapinya.
"Hm." Jawab singkat Praka.
Tanpa berlama-lama, Dhafiena langsung berlari kembali menuju ke arah tangga untuk turun ke lantai bawah.
>>Ruang Guru<<
Praka langsung masuk ke ruang guru untuk segera menemui Bapak/Ibu Guru yang sudah menunggunya dari tadi. Dan Praka sudah tau apa tujuan para guru memanggilnya dengan Dhafiena untuk keperluan apa, karena tadi waktu di ruang BK sudah diberitahu telebih dahulu oleh Bu BK sebelum Dhafiena datang.
"Assalamu'alaikum." Ucap salam Praka menyapa Bapak dan Ibu Guru disana.
Suasana ruang guru agak sepi, karena jam segini masih dalam jam pembelajaran. Jadi wajar saja jika ruangan itu sepi.
"W**a'alaikumsalam. Sini duduk dulu, Nak! " Jawab salam Para Guru sekaligus mempersilahkan Praka untuk duduk terlebih dahulu.
Praka hanya menanggapi dengan menganggukkan kepalanya saja.
" Kamu sendiri saja? Kemana Dhafiena? " Tanya Pak Settho.
" Katanya lagi ke toilet sebentar, Pak. " Jawab Praka dengan sopan.
" Oh begitu, kita tunggu dulu saja yah! " Sahut Pak Settho.
" Baik, Pak. " Kata Praka.
>>Kembali ke Dhafiena
"Aduh gimana nih, kayaknya mau ada sesuatu yang bakal terjadi." Gumam Dhafiena sambil menatap cermin toilet.
"Kayaknya ucapan Bang Kevin bener deh. Bakal ada pemilihan Ketua sama Wakil Ketua OSIS. Apa jangan-jangan gua lagi, yang jadi wakilnya. Soalnya kemain Bang Kevin bilangnya Praka yang jadi Ketua OSIS dan pembahasan dari para guru hari ini juga..., akhh jadi pusing sendiri gue." Lanjutnya mengingat percakapannya kemarin dengan Bang Kevin.
Dhafiena memutar otaknya untuk menemukan cara supaya bisa kabur dari situasi yang akan mengakibatkan buruk pada dirinya.
Saat keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ada orang yang telah menunggunya di depan pintu.
"Astagfirullah." Ucap Dhafiena spontan karena terkejut.
"Huuh, ngapain lo disini?" Tanya Dhafiena pada orang itu.
"Buruan, lama amat." Tanpa menjawab, orang itu malah memerintahkan Dhafiena untuk segera mengikuti langkahnya.
"Sabar kali." Sahut Dhafiena segera mengikuti langkah orang tersebut.
Akhirnya Dhafiena pasrah pada situasi ini. Bodoamat mau dijadiin wakil ketua OSIS beneran lah atau apa itu, terserah Dhafiena sudah pasrah. Begitulah kira-kira menurut Dhafiena.
Karena jarak dari toilet ke ruang guru lumayan jauh, tiba-tiba bel tanda masuk sudah berbunyi.
"Gue ke kelas dulu, dah bel ntar dimarahin guru, yang ada." Kata Dhafiena pada orang itu.
Yah, dia emang Praka, si OSIS resek.
"Gak bakal, buruan cepet dikit jalannya!" Sahut Praka.
"Ck, iya-iya sabar napa." Celoteh Dhafiena.
>>Dikelas Dhafiena<<
"Fifi mana sih? Kok lama banget." Tanya Laura pada Stefhani.
"Tau tuh, mana udah bel masuk, bentar lagi pasti gurunya bakal dateng." Kata Stefhani.
Tiba-tiba sang guru pun masuk ke ruang kelas.
"Assalammualaikum, selamat pagi anak-anak." Ucap salam Bu Reni.
"Wa'alaikumsalam, pagi juga, Bu." Jawab salam mereka kompak.
"Ada yang tidak masuk?" Tanya Bu Reni.
"Nihil, Bu." Jawab Angga.
"Itu kok kursinya kosong?" Tunjuk Bu Reni pada tempat duduk Dhafiena.
"Tadi di panggil ke ruang BK ada sedikit urusan, Bu." Jawab sang ketua kelas.
"Baiklah, langsung saja kita mulai pembelajaran hari ini. Silahkan baca buku paket halaman 153-157! Setelah itu akan saya jelaskan." Perintah Bu Reni.
"Baik, Bu." Jawab satu kelas bersama.
>>Kembali ke R.Guru<<
Dhafiena dan Praka sudah berada di ruang guru.
"Sebelumnya maaf, Nak Praka dan Nak Dhafiena. Karena Bapak dan Ibu guru akan ada rapat, bagaimana kalau besok saja kita bahas tentang tadi?" Ucap Pak Settho.
"Uh, Selamat." Batin Dhafiena bersorak senang.
"Baik, Pak. Kalau begitu kita pamit dulu, Assalamu'alaikum." Pamit Praka dan setelah dijawab salamnya, dia dan Dhafiena keluar dari ruang guru.
Dhafiena tidak kembali ke kelas, melainkan berjalan menuju ruang perpustakaan.
"Halo, Bu Ike." Sapa Dhafiena pada petugas perpustakaan.
"Eh iya, kok jam segini ada diperpus? Bukannya ini udah jam pelajaran?" Tanya Bu Ike.
"Iya, Bu. Katanya tadi gurunya ada rapat. Jadi saya kesini aja." Jawab Dhafiena.
"Oh begitu." Sahut Bu Ike.
"Ya udah, Bu saya mau cari buku dulu." Pamit Dhafiena yang diangguki Bu Ike.
Dhafiena menyusuri ruang perpus dari rak satu ke rak lainnya untuk mencari buku yang akan dibacanya.
Ruangan berwarna oranye itu sangat sunyi, tapi damai. Dhafiena sangat menyukai tempat ini karena ruangannya cukup sepi.
Sampai akhirnya, dia berada di depan rak ke-9.
"Itu dia bukunya." Ucapnya sambil melihat buku yang dicarinya sedari tadi.
"Eh tapi, tinggi amat dah gimana cara ngambilnya ya?" Gumamnya kebingungan.
"Nah pake kursi aja biar nyampe ke atas." Lanjutnya.
Dhafiena mengambil satu kursi dan segera dia naik ke atas untuk mengambil buku itu.
Tangannya masih kurang nyampe di buku itu, tinggal sedikit lagi bisa. Karena terlalu fokus, tiba-tiba...
"Eh eh...." Ucap Dhafiena yang tak seimbang berdiri di atas kursi dan berakhir dirinya berada di udara. Dhafiena memejamkan matanya, sudah pasti ia akan terjatuh.
"Kok gak sakit ya jatuhnya? Apa gue udah disurga kali ya?" Gumamnya pelan dan masih belum membuka matanya.
"Lo belum mati." Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Sontak Dhafiena langsung membuka matanya, dan dilihatnya ternyata ada seseorang yang menangkap dirinya sebelum terjatuh.
Setelah tersadar dari situasi bengongnya,
"Lepasin!" Perintah Dhafiena pada orang itu.
BRUKKK
Alhasil Dhafiena terjatuh dilantai.
"Ih, dasar OSIS resek lu ya. Sakit tau." Omel Dhafiena yang merintih kesakitan.
"Lo sendiri yang nyuruh." Sahut orang itu, ya dia adalah Praka.
"Terserah lah." Ucap Dhafiena berusaha berdiri, tapi...
..._-_-_-_-_-_-_-_-_-_...
...Kira-kira kenapa ya?...
...Jangan lupa like, comment, dan vote ya😉...
...Tunggu part selanjutnya oke?...
...Maaf banyak typo...
...🤗...
..._-_-_-_-_-_-_-_-_...