
"Hai baby. Kita bertemu lagi".
Hah apa?Aa Siapa?.
Alvaro menatap bingung pada pria yang ada di depannya saat ini. 'Lah anjil ini sapa dah?' Batinnya.
'Dia Andrea tuan rumah'.
Oh benar pria yang saat ini ada di depannya adalah Andrea. Sial bagaimana gue bisa lupa pikirnya.
"Abang yang di mall". Andrea tersenyum senang saat Alvaro mengingat dirinya.
"Ah kamu masih mengingatku ternyata".
"Abang ngapain di sini?. Mau ketemu abang Dev?". Alvaro berdiri dengan dibantu Andrea. Andrea menepuk-nepuk baju varo yang kotor dan tanpa sengaja matanya terarah pada sesuatu yang menggantung di leher varo.
Yah itu adalah sebotol susu.
varo yang melihat arah tatapan Andrea langsung memeluk botol susunya erat takut andrea merampasnya. Hal itu membuat Andrea terkekeh gemas begitupun dengan sosok Liam yang berdiri dibelakang Andrea.
Liam berjalan kearah Andrea yang masih sibuk memeluk botol susunya posesif. Liam langsung mengangkat badan Alvaro dan menggendongnya menuju kearah dimana Devan yang terlihat sibuk dengan laptopnya.
'Eh? Eh? Siape nih?. varo menatap bingung Liam yang menggendongnya. Dia sesekali akan menyedot susu yang ada di dalam botol itu dan menatap wajah tampan Liam.
'Gila ganteng banget. Tapi masih gantengan gue'. Batinnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Andrea yang ditinggalkan dibelakang berdecak dan langsung menyusul kakaknya.
"Abang. Nama abang siapa?". varo mencolek-colek dada bidang Liam hingga liam menatapnya.
"Liam". Mendengar jawaban singkat Liam, Alvaro langsung mencebikkan bibirnya. Dia melihat kearah samping dimana Andrea berjalan dan bertanya pada Andrea sambil sidikit mencondongkan kepalanya kesamping.
"Abang namanya siapa?". Andrea tersenyum tampan sambil menjawab pertanyaan Alvaro.
"Nama abang Andrea. Kalau baby?". varo mengangguk-nganggukkan kepalanya mengerti dan setelahnya menjawab.
"Nama valo itu Alvalo pake 'L' bukan I". Awas ya kalau lu nggak ngelti maksud gue batinnya.
"Ah abang tau. Alvaro kan". varo mengangguk cepat dan menatap berbinar pada Andrea.
Sedangkan Andrea? Dia tersenyun gemas dan langsung mencium pipi bulat kemerahan itu membuat sang empu memerah malu.
Liam yang dari tadi hanya menyimak langsung mendekap erat badan Alvaro dan menyembunyikan wajah varo pada dada bidangnya.
Dia cemburu Liam menatap tajam pada adiknya itu, sedangkan Andrea tersenyum mengejek pada Liam.
Saat mereka sudah mulai dekat dengan Devan, varo langsung menyembulkan kepalanya keluar dari dada bidang Liam.
"Abang Li tulunin valo". Ia bergerak brutal ingin turun dari gendongan Liam. Saat sudah di turunkan, dia langsung berlari menuju Devan yang sedang duduk di sebuah kursi dengan laptop di pahanya.
"Abang dev. Abang dev".
varo menarik-narik ujung pakaian Devan meminta perhatiannya Devan menutup laptopnya dan mengalihkan atensinya ada Alvaro dan mengangkat tubuh gembulnya itu
"Ada apa baby?".
"Abang tau nggak. valo ketemu sama abang yang kemalin di mall". varo berbisik pelan menjawab pertanyaan Devan.
Devan membelalakkan matanya saat mendengar perkataan Alvaro, alaram bahaya langsung berbunyi nyaring di dalam otaknya.
"Dimana?". Devan bertanya dengan tergesa-gesa.
"Itu". Devan mengikuti arah yang ditunjuk varo dan lagsung melihat atensi Andrea dan liam adik sepupunya.
Devan menatap datar Andrea yang menampilkan wajah menyebalkannya. 'Sial aku kecolongan'.
"Halo bang Dev". Andrea tersenyum sinis pada Devan yang menatapnya datar.
"Kenapa tidak memberi tahu". Suara liam terdengar sangat datar di pendengaran Alvaro. Dia menatap ngeri pada wajah datar Liam yang terlihat menyeramkan.
"Untuk apa aku memberitahu kalian".
Devan tersenyum miring saat menjawab perkataan Liam. Dia dengan sengaja memeluk Alvaro dengan erat dan menaruh dagunya di pundak sempit varo serta mencium ujung bibir Alvaro.
Liam dan Andrea yang melihat itu menggertakkan gigi mereka cemburu.
Kondisi Alvaro? Oh dia kini sedang menundukkan kepalanya malu. Seumur-umur dia belum pernah
diperlakukan seperti ini dan ini membuatnya sangat malu~.
Dia memainkan jari-jari panjang dan kokoh Devan karena malu. Bahkan dia kini mengigit gigit ****** buatan itu dengan gigiz mungilnya.
'Asu gue malu banget!'.
... apa itu asu?'. Zero
Axel, Keyla, Davian dan Kevin beserta Javier dan Alaric kini tengah berada di subuah ruangan yang jika dilihat sangat mirip dengan ruang rapat. Mereka sedang berdiskusi tentang pengamanan untuk Alvaro.
Bagaimanapun Axel dan yang lain (-Alexo, Jesi, Syasa) mereka semua terjun dalam dunia bawah. Jadi, tidak menutup kemungkinan bahwa keberadaan varo saat ini sudah di ketahui oleh para musuh-musuh mereka.
Hal itu pasti akan sangat membahayakan Alvaro yang sudah menjadi permata mereka yang harus dijaga dengan sangat ketat, mereka pasti akan menargetkan Alvaro yang untuk melemahkan mereka.
"Bagaimanapun kita harus memperketat penjagaan Alvaro". Suara Davian terdengar.
"Yah kau benar davian Kita harus memperketat keamanan varo.
Mereka sudah mulai bergerak dengan memata-matai kita". Keyla mengetuk-ngetuk meja sambil mengigit kuku jarinya. Dia tidak ingin varo diambil darinya.
"Kalau saja Javier tidak melihat orang itu, mungkin sekarang keberadaan varo akan di ketahui".
Yah memang. Tadi, saat Axel memperingati Alvaro agar tidak terlalu jauh dan berlari, Javier tiba-tiba saja melihat seseorang yang mencurigakan sedang mengamati Alvaro.
Dalam diam, dia mengkode Davian untuk melihat arah orang mencurigakan itu.
Davian yang mengerti langsung menekan jam yang ada ditangannya yang langsung terhubung pada semua penjaga yang ada dimansion.
Davian juga langsung menginformasikan pada semua orang yang ada disana dan meminta devan untuk menjaga Alvaro
sementara mereka berunding dan mengeksekusi orang mencurigakan itu. Makanya saat tadi Alvaro menemui Devan, saat itu devan sedang memperkuat keamanan mansion ini melalui laptonya.
Tok tok tok
Ceklek
Roi asisten Axel masuk kedalam sambil membawa beberapa berkas penting mengenai orang yang baru saja ditangkap.
"Jadi? Siapa orang itu?". Axel bertanya jepada Roi yang berdiri tegap di depan mereka.
"Pria itu bernama Baron Antonio. Dia merupakan seorang pembunuh bayaran profesional. Dia dibayar untuk memata-matai keluarga Alexander untuk mengetahui kelemahan keluarga Alexander. Dia sudah dua hari mulai memata-matai tuan muda dan saya juga menemukan sebuah pistol jenis desert eagle. Sudah jelas bahwa dia berencana untuk membunuh tuan muda".
Axel dan yang lainnya yang mendengar penjelasan Roi menggeram marah.
"Siapa yang menyewa orang itu?". Davian bertanya dengan nada tenangnya bertanya pada Roi.
"MARVERNON". Mendengar nama itu membuat mereka semakin tersulut amarah yang sangat besar.
Marvernon yang memiliki arti Gesit itu merupakan kelompok mafia yang selalu mencari masalah kepada keluarga mereka.
"BERANINYA MAFIA KECIL SEPERTI MEREKA INGIN MELUKAI PERMATAKU!".
Axel mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat membuat mereka yang ada disana tersentak kaget begitu pun dengan Roi.
Sudah bertahun-tahun dia bekerja untuk Axel dia belum terbiasa dengar aura mematikan Axel. Badannya tarasa lemas dan gemetaran jika Axel sudah mengeluarkan aura itu.
"Kita harus memusnakan mereka sesegera mungkin. Pria itu pasti sudah memberikan informasi tentang Alvaro". Kevin berdiri dari duduknya dan langaung keluar dari ruangan itu.
"Kevin benar". Alaric yang dari tadi hanya diam menyimak kini bersuara setuju dengan apa yang dikatakan Kevin.
Kembali kesisi Alvaro. Kini mereka sedang berada diruang tamu mansion dengan aura yang tidak mengenakkan.
Alvaro dia sudah tertidur karena kelelahan bermain padahal hari sudah sore. Dia ditidurkan di sofa panjang yang bisa ditarik menjadi sebuah kasur.
"Pulanglah. Kami sudah cukup menerina dua tamu tak diundang.". Mendengar perkataan Devan, Liam dan Andrea menaikkan alinya bingung.
Apa ada anggota keluarga lain yang datang ke mansion ini? Pikir mereka.
"Kami tidak mau". Liam menyilangkan kedua tangannya dan mngangkat kaki kirinya menimpa kaki kanannya pose angkuh.
Ck
Devan berdecih melihat kekeras kepalaan kedua anak dari papa nya ini.
'Pengganggu.
Devan masih menatap datar pada kedua orang tak diundang itu yang seenaknya masuk kedalam mansion mereka.
Mereka terus bertatapan hingga bunyi lift terbuka dan menampilkan Axel, Keyla dan anak2nya beserta Javier dan Alaric.
Liam dan Andrea kaget saat melihat Javier dan Alaric yang juga ada dimansion ini. Setau mereka, Javier dan Alaric berada di Paris mengurus perusahaan mereka, tapi kenapa mereka bisa ada di sini?
"Bang Javier, bang Alaric?". Javier dan Alaric yang merasa namanya dipanggil langsung melihat kearah datangnya suara.
Bukan hanya Javier dan Alaric yang menoleh, tapi juga Axel, Keyla, Davian, dan Kevin Mereka kaget tentu saja saat melihat Liam dan Andrea yang ada di mansion mereka.
'Apakah keberadaan Alvaro sudah diketahui oleh semua keluarga?' Pikir mereka.
"Kenapa kalian kemari?". Axel bertanya dengan marah kepada kedua orang itu. Dia sudah sangat terpaksa menerima Javier dan Alaric untuk tinggal sementara, dan sekarang Liam dan Andrea juga datang sial besok siapa lagi yang akan datang. Rutuk Axel dalam hati.
"Menemui Alvaro".
Astagah? Lagi? Axel bisa gila jika begini!!. Belum lagi jika Mateo kakaknya tau dia mungkinakan langsung memonopoli putra kesayangnnya ini. Dia bahkan belum menyebut Ibunya. Bisa-bisa stres Axel.
"Kami sedang tidak menerima tamu lagi. Jadi! Pulanglah". Keyla berkata sambil tersenyum manis.
"Tid-".
"Mommy valo mau susu~". Alvaro bergumam pelan dalam tidurnya meminta susu, dia juga menggeliatkan badannya merasa terganggu.
Devan yang paling dekat dengan Alvaro langsung berdiri dan berbaring disamping varo dan membawanya dalam pelukan sambil menepuk-nepuk punggung itu pelan.
Alvaro tanpa sadar mendusel-duselkan kepalanya mencari kenyamanan dalam pelukan hangat Devan.
Keyla datang dari arah dapur sambil membawa satu botol berisi susu hangat rasa coklat dan langsung memeberikannya pada Devan.
Devan mengangkat badan ringan varo dan membaringkan sang empu di dadanya dan langsung mengarahkan \*\*\*\*\*\* buatan itu
kemulut Alvaro.
Mereka semua yang ada disana menggigit pipi dalam mereka karena gemas dengan Alvaro. Mereka rasanya ingin menguyeli pipi gembul itu.
"Sial. Dia sangat menggemaskan'. Batin Liam masih dengan wajah datarnya.
"Ah benar!. Kami akan pulang, tapi alvaro harus ikut". Andrea tersenyum sinis kepada mereka yang ada disana Dapat Andrea rasakan aura membunuh yang sangat pekat berasal dari Axel yang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"BER-".
"ADA APA INI?".
DEG!!