ALVARO EMILLIANO

ALVARO EMILLIANO
BAB 4



Jepang


Di sebuah bangunan tinggi yang berdiri dengan gagahnya melawan bangunan-bangunan lainnya. Seorang pria tampan sedang berkutat dengan banyaknya dokumen yang berada dimeja kerjanya.


Pria itu adalah Devan xavier Alexander putra sulung pasangan Axel Alexander dan Keyla Alexander . Devan sudah setahun menetap di Jepang karena perusahannya yang ada disini hampir saja bangkrut karena kelalaian pegawainya.


Sebenarnya masalah perusahaannya sudah teratasi. Dia sudah beberapa kali dihubungi oleh ibunya untuk kembali ke Indonesia tapi dia selalu mengabaikan perintah ibunya itu.


Durhaka emang.


Devan sekarang sedang fokus-fokusny menbaca dokumen perusahaan. Tapi tiba-tiba saja ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.


Ceting!


Devan melihat kearah ponselnya, dia menaikkan salah satu alisnya bingung saat melihat nama adik pertamanya tertera disanah. Tumben batinnya.


Devan mengambil pinselnya untuk membaca pesan yang dikirim oleh Davian. Siapa tau penting kan


^^^Davian^^^


^^^Cepatlah pulang!^^^


^^^Send a picture^^^


Saat melihat pesan adiknya itu alis devan mengernyit heran karena disitu terdapat satu gambar.


Deg!


Jantung Devan berdetak dua kali lipat saat melihat gambar yang dikirim Davian. Di sana ada seorang pemuda mungil yang sedang tertidur dengan mengemut pecifer. Tapi bukan itu fokus Devan melainkan pada wajah remaja itu. Wajah remaja itu sangat cantik.


'Bagaimana bisa seorang laki-laki dapat memiliki wajah seperti itu?'. Pikirnya


Devan langsung saja menghubungi jio sang asisten pribadi.


"Jio siapkan jet pribadi sekarang juga. Aku akan pulang ke Indonesia Tut." Panggilan langsung diakhiri oleh Devan. Dia harus segera bersiap-siap untuk pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Indonesia.


Mansion Axel Alexander


"Daddy. valo mau main di lual". Alvaro saat ini tengah merengek ingin main keluar.


Dia bosan jika harus tidur terus "Tidak boleh baby". Axel sebenarnya tidak keberatan membiarkan varo bermain di luar hanya saja sekarang itu sudah jam 8 malam... MALAM jadi mana bisa dia menbiarkan Alvaro main.


"Ihh valo mau main Daddy". Alvaro menatap Axel dengan tatapan Puppy eys nya.


"Hah...sekarang sudah malam baby besok saja yah". Axel menghela napasnya lelah.


"Baby sekarang udah malam besok saja yah". Kevin yang berada disamping Ayahnya juga ikut memberikan pengertian pada varo.


"Iya baby nanti besok abang bawa baby ke mall mau kan?". Alvaro terlihat berpikir, dia meletakkan jari mungilnya didagu dan tanpa sadar memiringkan kepalanya.


'Ugh benar-benar menggemaskan'. Batin mereka.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Alvaro ingin keluar. Ini merupakan salah satu kebiasaannya dikehidupan sebelumnya.


Dia hanya punya waktu bebas hanya saat pergi ke sekolah dan malam hari. Karena saat dirumah dia akan dikurung didalam gudang yang kotor oleh kedua orang tuanya.


Pernah sekali dia tidak pulang kerumah untuk menghindari kedua orang tuanya, tapi ayahnya langsung mencarinya. Saat ayahnya sudah menemukannya maka dia akan langsung dipukuli habis-habisan tanpa ampun.


"Tapi sekarang anda tidak akan merasakan itu lagi tuan rumah'. Celetuk zero


tiba-tiba.


'Ah kau benal zelo. Aku tidak akan melasakan itu lagi kan'.


"Hey baby kenapa melamun begitu".


Ian tersadar saat Axel membelai pipi gembulnya. Dia menatap kearah Axel dengan mata yang berkaca-kaca siap menangis.


Hiks


"Kalian tidak akan membuangku kan?". Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir tipis itu.


Kenangan hidup pertamanya membuat ia menjadi tidak percaya diri untuk berada dikeluarga ini. Ia takut dikucilkan dan pukul lagi. Axel dan Kevin tertegun saat Alvaro


bertanya dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipi bulat itu. Wajah varo kini telah memerah sampai ketelinga karena menangis.


"Kenapa bertanya begitu humm. Kami tidak akan membuang mu. Mulai sekarang kamu adalah permata kami jadi bagaimana mungkin kami membuangmu". Penjelasan Axel membuat tangis Alvaro pecah saat itu juga, membuat dua titannya


gelagapan karena ia yang menangis keras.


"Ada apa ini? Kenapa baby ku menangis".


Keyla yang sudah kembali dari dapur membuat susu untuk Alvaro bertanya dengan nada khawatir saat melihat baby nya menangis kencang dengan Axel yang memeluknya dan Kevin yang berusaha membuat tangis varo reda.


"Baby ada apa? Kenapa menangis hmm?" Keyla meletakkan gelas susu hangat diatas meja setelahnya mengambil alih badan Alvaro yang sudah mengehentikan tangisannya tapi masih terdengar sesegukkan itu untuk digendong.


Alvaro menggelengkan kepalanya pelan tidak ingin menjawab. Dia meletakkan kepalanya dipundak mommy nya.


Keyla yang tudak mendapat jawaban dari Alvaro hanya dapat menghela napas, kemudian menatap Suami dan Anak ketiganya meminta penjelasan. Tapi yang dipandang mengangkat bahunya tanda tidak tau.


"Haaah baby diminum dulu susunya yah". Keyla mengkode suaminya untuk mengambilkan segelas susu yang tadi dia letakkan dimeja untuk diberikan pada varo.


Mengerti kode sang istri Axel langsung saja mengambil susu itu dan berjalan menuju kearah Keyla yang sedang menepuk-nepuk punggung varo pelan.


"Baby dimin-". Perkataan Axel terhenti saat melihat alvaro yang berada dogendongan istrinya telah tertidur.


"Kenapa dad?"


"Haah.. baby tertidur". Axel menghapus jejak air mata dipipi gembul Alvaro yang terlihat memerah.


"Berikan dia padaku. Aku akan meletakan varo ketempat tidur kita". Axel mengambil badan gempal Alvaro.


Eungh


Alvaro melenguh pelan, merasa terganggu. Axel menepuk-nepuk bokong alvaro agar kembali tertidur dengan nyaman.


"Bagaimana dengan susunya".


"Taruh disini saja mom". Davian datang dari arah lift dengan membawa sebuah botol dot bergambar beruang kecil.


Keyla mengambil botol dot itu dan menuangkan susu itu kedalamnya dan langsung memberikan pada alvaro yang tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka karena pipinya terhimpit dada bidang daddy nya.


Alvaro tanpa sadar menghisap nipel buatan itu dapat ardian rasakan rasa manis yang masuk kedalam indra perasanya. Lama kelamaan hisapan pada nipel buatan itu semakin kencang dan pipi gembul itu ikut bergerak karena hisapan


"Gemas sekali".


Keyla menggigit kuku jarinya melampiaskan rasa gemasnya sedangkan para pria menggigit pipi dalam mereka.


◇◇


Matahari telah kembali menampakkan sinarnya dengan bangga, membangunkan orang-orang untuk kembali melakukan aktifitas seperti biasa.


Disebuah kamar yang luas terdapat segumpal daging yang sedang tertidur nyanyak. Tidak terganggu dengan sinar matahari yang masuk dari sela-sela jendela kamar yang mengenai wajahnya.


Alvaro tertidur dengan sangat nyaman, ini adaah pertama kalinya dia dapat tidur senyaman dan senyenyak ini.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan seorang pria berusia 45 tahun yang masih terlihat tampan dan OMG lihatlah perut yang penuh akan roti sobek itu.


Axel berjalan kearah kasur dan melihat kearah buntalan yang masih tertidur itu. Lihatlah bagaimana varo tertidur, dia terlihat persis seperti bayi. Tangan yang terkepal di kedua sisi kepalanya, mulut yang aktif menghisap pecifer, dan badan yang terlilt selimut lembut sebatas dada. Benar-benar seperti bayi.


"Baby bangun sayang". Axel mengguncang pelan badan varo agar empunya terbangun.


"Eungh, daddy".


Alvaro melenguh pelan sebelum terbangun. Dia mengedipkan matanya pelan menyesuaikan cahaya yang baru saja masuk mengenai retina. Saat hendak mengucek kedua matanya, tangan kecilnya langsung ditahan oleh tangan besar Axel.


"Jangan dikucek baby nanti matamu memerah". Axel mulai mengangkat badan Alvaro yang masih setengah sadar itu dan membawanya kekamar mandi untuk dimandikan.


Setelah selesai, Axel menuju ke walk in closet untuk memakaikan baju untuk varo begitupun dirinya.


Axel memakaikan varo baju kaos berwarna


soft pink dipadukan celana pendek berwarna abu-abu. Sedangkan dia memakai setelan jas, dia akan berangkat ke kantor untuk bekerja.


"Nah sekarang baby sudah wangi". Axel mengecupi seluruh wajah Alvaro, tak terkecuali bibir kecil semerah cerry itu.


"Thh daddy sudah valo udah lapel sekalang pengen makan".


Alvaro merengek pelan kepada Axel yang masih setia mengecupi wajanya.


"Ah baby sudah lapar ternyata. Baiklah ayo kita kebawah untuk sarapan".


...****************...


"Selamat pagi mommy, abang". varo menyapa Keyla, davian dan juga Kevin yang sudah berada dimeja makan dengan senyuman lebar sehingga memperlihatkan dimpel nya.


"Pagi baby".


Merka menjawab dengan kompak membalas sapaan Alvaro. Axel duduk dikursi meja makan dan mendudukkan Varo di selebahnya.


"Loh baby mana".


Kevin yang berada diseberang meja tidak dapat melihat Alvaro. Semua yang ada disana kompak melihat kearah kursi yang ditempati Alvaro. Benar saja mereka tidak melihatnya, yang terlihat hanya rambutnya saja.


'Anjil kenapa mejanya tinggi banget woy'. Batin kesal kesal.


"Daddy valo nggak sampai hiks". varo merengek saat tidak dapat melihat karena pandangannya terhalang meja makan.


Tawa langsung menggelegar begitu saja. Para pekerja yang ada di mension besar itu tertegun untuk sesaat, mereka baru pertama kali mendengar tawa yang terdengar tulus itu keluar dari belah bibir majikan mereka.


Selama mereka bekerja disini, baru pertama kali mereka melihat para majikannya tersenyum apalagi tertawa sebesar itu. Selama ini majikannya hanya menunjukkan satu ekspresi yaitu datar dan datar. Tapi sekarang apa, karena


kedatangan anggota baru keluarga Alexander mension jadi terlihat lebih hidup dan hangat.


"Thhh jangan ketawa hiks".


"Belaninya kalian meneltawakanku'.


Alvaro menangis keras saat mereka tidak memberhentikan tawa mereka. Mereka yang mendengar tangisan keras Alvaro langsung gelagapan karena sudah membuat baby mereka menangis.


Davian langsung berdiri dan mengangkat badan kecil Alvaro, menepuk-nepuk punggung yang bergetar kecil karena menangis itu pelan.


"Sudah dong baby. Kami minta maaf ok, nanti abang kasih ice cream". Tangis varo langsung berhenti saat mendengar kata ice cream walaupun masih sesegukkan.


"Benelan? Abang nggak boong kan? Janji?". varo mengangkat jari kelingkingnya mengahapkan kewajah Davian agar mengaitkan jari kelingkingnya juga.


"Janji".


Davian menautkan jari kelingking besarnya dengan jari kelingking kecil milik alvaro berjanji, setelahnya mengecup bibir merah varo membuat wajah sang empu yang tadinya sudah memerah karena menangis jadi tambah merah seperti kepiting rebus.


Mereka yang melihat wajah merah alvaro terkekeh pelan. Sungguh manis sekali baby mereka ini.


"Nah sekarang baby duduk bersama abang ok".


varo mengangguk pelan tanda setuju.


Setelah davian duduk dengan varo dipangkuannya mereka langsung nemulai sarapan mereka.


Tapi, belum beberapa menit mereka datang, tiba-tiba seorang bodyguard datang membisikkan sesuatu kepada Axel. Axel terlihat mengangguk pelan setelahnya bodyguard itu pergi saat melihat tuan besarnya mengagguk tanda setuju.


Saat mereka akan melanjutkan makan mereka, tiba-tiba datang seorang pria tampan dengan badan tegap besar berjalan menuju kearah mereka.


DING!!


"Tuan rumah. Dia adalah anak pertama Axel Alexander. Devan Xavier Alexander'.


'Ahh babu selanjutnya telah datang'. Alvaro tersenyum senang dalam hati saat melihat calon babu barunya telah datang.


Tatapan mata Alvaro dan Devan bertemu dan saling memandang satu sama lain selama beberapa menit.


"Well ternyata kamu masih mengingat rumah Devan Xavier Alexander".


.


.


.


.


.


.


THANKS YOU GAYS