ALVARO EMILLIANO

ALVARO EMILLIANO
BAB 19



.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


."Kakak, siapa anak itu?". Jesi bertanya sambil menelisik penampilan Alvaro.


Ia masih belum melihat wajah Alvaro dengan jelas karena varo sekarang malah menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Mateo


'Seperti anak SD'. Batinnya.


"Dia bungsu keluarga Alexander". Jawab datar sambil mengelus punggung sempit varo.


Jesi dan Syasa yang mendengar itu tentu saja kaget karena setau mereka bungsu keluarga Alexander adalah Syasa.


"Apa maksudmu kak? Jelas-jelas Syasa lah yang merupakan bungsu keluarga kita! Bukan anak tidak jelas itu". Seru Jesi dengan menatap jengkel Alvaro yang masih nyaman menyembunyikan wajahnya.


'Wah pengen di jambak ni ibu-ibu. Batin Alvaro kesal.


Mateo memandang datar Jesi namun tak dihiraukan sang empu. Tatapannya langsung jatuh pada Syasa yang juga menatap jengkel pada kehadiran Alvaro.


"Syasa bukanlah bungsu keluarga Alexander lagi". Ujarnya.


"Papa valo mau daddy". Cicit Alvaro. varo menatap wajah papanya dengan mata sayu yang berkaca-kaca dan bibir yang mencebik lucu. Sepertinya ia mengantuk.


"No baby". varo semakin menekuk wajahnya saat mendengar penolakan dari papanya, bahkan memberontak ingin turun dari gendongan Mateo dan tentu langsung dituruti oleh sang Papa karena takut varo terjatuh karena terus memberontak.


Setelah diturunkan, varo langsung menatap kearah dimana Syasa dan Jesi yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Ditatapnya wajah dua orang yang menampilkan ekspresi yang berbeda. itu dengan matanya yang menunjukkan binar binar kepolosan.


Syasa semakin menatap nyalang pada Alvaro yang juga menatap kearahnya. Sedangkan Jesi, wanita itu terlihat mematung saat melihat wajah Alvaro.


"APA YANG KAU LAKUKAN DI RUMAHKU?!!". Syasa berteriak marah pada Alvaro membuat Jesi tersadar dan melihat kearah Syasa yang sudah berjalan dengan marah menuju kearah varo


Syasa mendorong tubuh Alvaro dengan keras dan untung saja Mateo menahan tubuh kecil itu sehingga tidak terjatuh.


"APA YANG KAU LAKUKAN HAH?!". Mateo membentak Syasa yang masih menatap marah pada varo.


"Dia sudah merebut kalian dari Syasa PAPA! Syasa tidak suka dia!". Jawab Syasa lantang pada Mateo.


Ekspresi Mateo saat ini benar-benar tidak enak dipandang. Wajahnya memerah dengan urat-urat yang terlihat jelas karena marah, tangannya terkepal kuat siap untuk menghancurkan apa saja yang ada didepannya.


Sementara itu Alvaro terlihat ketakutan saat melihat tatapan yang dilayangkan Mateo pada Syasa. Tatapan itu sama dengan tatapan saat Ayahnya memukuli dirinya dikehidupan sebelumnya.


"P papa?". varo memberanikan dirinya memanggil Mateo yang terlihat menyeramkan.


Saat medengar suara Alvaro yang memanggilnya, Mateo langsung memandang varo dengan padangan yang sedikit lembut. Sebisa mungkin dia harus menahan emosinya agar tidak lepas kendali.


"Maafkan papa sudah menakutimu hm". Mateo mengangkat tubuh mungil Alvaro dalam gendongan koalanya.


Jesi menatap tidak percaya pada sikap lembut Mateo pada Alvaro. Selama menjadi menantu dikeluarga Alexander Jesi tidak pernah melihat Mateo bersikap selembut itu.


"Menyingkir dari hadapanku". Mateo berlalu dari sana menuju ke kamarnya yang berada di lantai paling atas mansion besar itu.


Setelah kepergian Mateo, Jesi menghampiri Syasa yang masih berdiri di tempatnya. Dapat Jesi lihat badan putri kesayangnnya itu bergetar dengan tangisan


"Sayang". Panggilnya lembut.


Jesi membalik tubuh Syasa agar menghadap dirinya dan dilihatnya wajah putrinya yang memerah dengan linangan air mata dipipinya.


"Hiks mami, anak itu hiks Asa tidak suka dia menjadi bagian dari kita hiks. Dia sudah merebut hiks semuanya dari Syasa". Tangis Syasa dengan memeluk Jesi yang tentu dibalas tak kalah erat.


"Apa dia anak yang sudah membuat tangan putri kesayangan ini melepuh?". Tanya Jesi lembut sambil mengelus rambut halus sang putri. Dapat Jesi rasakan pelukan Syasa semakin mengerat padanya.


"Hiks i iya". Jawab Syasa dengan suara paraunya karena menagis.


"Kita akan membalasnya nanti. Akan mami pastikan dia tidak akan bertahan di keluarga kita". Jawab Jesi dengan sedikit keraguan dalam suaranya.


Syasa yang mendengar itu tentu sangat senang, dia tersenyum kecil dalam dekapan Jesi.


"Apa yang kalian lakukan?". Alexo yang baru saja kembali dari kantornya merasa heran dengan Istri dan juga putri angkatnya yang sedang menangis.


"Mas, kamu sudah pulang?". Alexo berdehem menjawab pertanyaan Jesi yang sudah jelas jawabannya.


Alexo menatap kearah Syasa yang juga menatapnya dengan mata melasnya yang berkaca-kaca.


"Ada apa?".


"Papi, hiks Papa membawa anak yang membuat tangan Syasa melepuh". Jawab Syasa dengan memegang tangannya yang diperban.


"Bukankah itu kesalahanmu sendiri". Syasa terdiam saat mendengar jawaban sarkas dari Alexo. Ditatapnya wajah Alexo yang menatap datar


"Ti tidak! Ini salah anak tidak tau diri itu". Bantah Syasa dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Benar mas, Anak yang dibawa kak Mateo lah yang salah". Alexo menatap datar istrinya yang membela Syasa padahal dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Dari mana kau tau kalau anak itu pelakunya?". Tanya Alexo membuat Jesi tak mampu menjawab karena dia hanya mendengar dari Syasa saja.


"Tapi tangan putri ku terluka mas! Tangan Syasa melepuh karena terkenah kuah yang panas". Jawabnya.


"Dia sendiri yang menumpahkan kuah itu ketangannya karena tidak sengaja menabrak putri bungsu dari keuarga Anderson yang terkena separuh dari kuah panas itu dipunggungnya". Alexo menatap datar pada Syasa yang terlihat menunduk dengan badan yang sedikit gemetar saat mendengar apa yang dikatakan olehnya.


"Tidak mungkin". Elak Jesi masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya.


"Terserah kau saja".


m( 0 )m


.


.


Ceklek


Mateo keluar dari ruang kerjanya yang di sudut kamar mewah itu dengan membawa beberapa berkas penting yang harus dia kerjakan.


Saat keluar dia mendapati Alvaro yang terduduk di kasur king size nya dengan bibir mungilnya yang masih sibuk mengedot susu sedang menatap kearahnya dengan tatapan polosnya.


Plop


"Papa lama". Serunya setelah melepas botol susunya dengan bibir yang dipoutkan.


Mateo terkekeh pelan saat melihat pemandangan menggemaskan didepannya. Di dekatinya Alvaro yang memandang marah padanya dengan mata bulatnya yang melotot gemas.


Dia mengangkat Alvaro untuk didudukkan dipangkuannya lalu mengecup gemas wajah bulat itu hingga menimbulkan rengekan dari sang empu.


"Papa". Rengek Alvaro sambil berusaha menjauhkan wajah Mateo dari wajahnya.


Mateo kembali terkekeh dan kali ni lebih keras, dia tidak bisa menahan untuk tidak mengecupi wajah bulat dihadapannya ini. Jika dia melihat pemandangan ini terus menerus, bisa-bisa dia akan melahap habis makhluk menggemaskan yang ada dihadapannya ini.


varo mencebikkan bibirnya saat mendengar dari Mateo. Dia beralih menjadi membelakangi Mateo dan kembali menyedot susunya yang tinggal setengah.


"Baby". Mateo memanggil Alvaro dengan nada manjanya yang hanya dianggap angin lalu oleh Alvaro.


"Baby". varo masih belum juga menjawab, menolehpun tidak.


"Baby?"


"By"


"By"


"Sayang?"


"Sayang". Ok varo mulai jengah sekarang karena panggilan Papanya dan juga pipinya yang terus diunyel-unyel oleh Mateo.


"Papa"!". varo merengek dia berbarin telentang diatas kasur dan menggerakkan anggota badannya kesal dengan kakinya. yang menendang-nendang udara membuat Mateo kelabakan sendiri.


Ceklek


Pintu kamar Mateo terbuka menampilkan Alexo yang berdiri sana.


"Bang". Panggil Alexo pada Mateo tapi tatapan matanya terpaku pada buntalan UwU yang berbaring di samping Mateo.


"Ada apa?" Mateo bertanya pada Alexo yang tak kunjung masuk kedalam dengan pandangan yang terpaku pada satu tempat.


"Apa dia-?".


"Yah dia bungsu baru keluarga kita". Mateo memotong kaliamat yang akan di ucapkan Alexo karena dia sudah mengetahui apa yang akan diucapkan olehnya.


Alvaro menatap bingung interaksi antara Mateo dan juga orang yang tidak dikenalinya itu. Ditatapnya Alexo yang juga menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Papa. Dia siapa?". Varo akhirnya bertanya kepada Mateo karena sudah tidak tahan dengan padangan intens yang diarahkan orang tidak dikenal itu padanya. 'Kek pedo anying. Batinnya.


"Dia adikku". Jawab Mateo singkat.


Varo mengubah posisinya yang tadinya telentang menjadi duduk dengan menghadap kearah Mateo langsung.


"Adik Papa ada belapa?".


"Hanya Axel dan Alexo ". varo menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang diucapkan Papanya.


Intinya Mateo memiliki dua adik dan keduanya adalah laki-laki.


"Eum, valo halus panggil apa?". Alvaro kembali menoleh kearah Alexo yang masih berdiri di pintu kamar dengan tatapan polosnya, tidak lupa dengan pose berpikirnya yang sangat menggemaskan dengan jari mungilnya mengetuk-ngetuk dagunya dan bibir yang mencebik lucu.


"Papi". Jawab Alexo cepat.


"Eum Papi! Heheheh valo punya banyak Papa sekalang! Mulai dari Daddy, Papa, dan Papi!". Seru Alvaro Riang. Saking riangnya dia bahkan melompat-lompat kecil dalam duduknya dan bertepuk tangan heboh tak lupa dengan tawa khasnya yang terdengar merdu dan membuat candu.


Mateo dan Alexo ikut terkekeh melihat tingkah menggemaskan Alvaro. Bahkan Alexo langsung masuk kedalam dan menerjang Alvaro dengan kecupan dilanjutkan dengan dengusan kasar dari


Mateo saat melihat kelakuan Alexo


Mereka terus tertawa bersama yang mana hal itu sangat jarang terjadi bahkan sepertinya tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka terus terlarut hingga tidak menyadari kehadiran Syasa dan Jesi


yang mengintip mereka sedari tadi.


Jesi dia menatap aneh sikap tidak biasa dari suami dan kakak dari suaminya itu, pasalnya hal ini merupakan pemandangan pertama yang dia lihat. Dia bahkan tidak tau bahwa sang suami bisa tertawa selepas itu.


Sementara itu, Syasa dia menatap marah pada kejadian itu. Tangannya terkepal erat dengan kuku-kukunya yang memanjang menembus pada kulit tangannya. Urat-urat kemarahan terlihat jelas saat melihat interaksi mereka bertiga. Alexo tidak pernah tertawa selepas itu


saat bersamanya, bahkan senyum pun dia tak pernah melihatnya. Alexo hanya akan tersenyum jika bersama Alicia dan selalu Alicia. Karena itulah dia selalu berusaha mengambil perhatian sang Papi dari Alicia.


Bukan hanya Papinya saja, tapi Jesi, Andrea, dan Liam pun Syasa selalu berusaha mereput perhatian yang diberikan mereka kepada Alicia.


Semua usahanya tentu berhasil, Jesi benar-benar terjerat padanya, Andrea juga mulai memperhatikannya, Alexo pun begitu. Hanya Liam orang yang sangat susah dia dekati.


Dan sekarang! Alvaro muncul dalam keluarganya dan merebut apa yang sudah dia dapatkan dengan susah payah. Dia tidak akan pernah memafkan hal itu. Lihat saja, dia akan membuat Alvaro menderita dalam keluarga ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


👐👐👐