
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🐻❤❤...
PRANG!!
Reo menghancurkan barang-barang yang ada dikamar itu dengan brutal. Ia mengamuk karena tidak mendapati Alvaro ada disana padahal ia hanya meninggalkan anak itu sebentar saja dan dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Akkhh SIALAN!!" Teriaknya kesal.
"Awas saja jika aku menemukanmu anak manis, aku akan benar-benar menghancurkan mu". Monolognya.
Reo mengeluarkan handphone kamera tiganya dan langsung menghubungi nomor ayahnya guna mengetahui bagaimana keadaan disana.
Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, mohon coba sesaat lagi-
Beberapa kali Reo mencoba menghubungi nomor ayahnya tapi tetap saja hasilnya tetap sama. Nomor ayahnya benar-benar tidak dapat dihubungi.
"Aiss ada apa dengan pria tua itu!!". Decaknya.
Ia keluar dari dalam kamar yang ia gunakan untuk menyekap Alvaro menuju kebawah.
Reo akan mencari keberadaan Alvaro karena ia yakin anak itu pasti belum pergi jauh dari sini mengingat kondisi kaki dari kucing manisnya.
"Keke aku yakin kau masih ada di sini kucing manis".
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Zelo, apa bang Liam baik-baik saja?". Bisiknya.
'yah tuan rumah, Liam baik-baik saja dan sekarang ia dan anggota keluarga Alexander yang lain sedang menuju kesini. Jadi anda harus terus bersembunyi sampai mereka datang.
"Benalkah?".
Zero mengangguk walaupun tau kalau Alvaro tidak dapat melihatnya karena anak itu sedang menutup matanya guna menahan sakit yang mendera pergelangan kakinya, ditambah dengan tempat yang ia gunakan untuk bersembunyi begitu sempit membuat ia kesulitan bernafas.
"Zelo, apa aku akan mati lagi?".
Pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan Alvaro membuat Zero mematung dan tak mampu untuk menjawab pertanyaan itu.
Karena walaupun ia sudah di upgrade sedemikian rupa, ia bukanlah Tuhan yang mengetahui kapan manusia akan mati. Ia hanyalah sistem yang ditugaskan untuk menemani dan melindungi bukan menentukan takdir.
"Begitu yah, hehe setidaknya aku sudah mendapatkan kasih sayang yang belum pelnah aku dapatkan sebelumnya. Terima kasih Zelo, kau adalah yang telbaik".
'jangan berbicara seperti itu tuan rumah! Anda akan selamat bagaimanapun caranya! Saya akan membuat anda keluar dari sini!!!.
Alvaro tersenyum mendengar perkataan sistem yang selama ini menemaninya.
'tapi pelasaanku tidak enak Zelo, perasaanku mengatakan aku akan meninggalkan kalian semua. Daddy, mommy dan yang lainnya bakalan
khawatil nggak yah?'. Monolognya dalam hati
"Hey anak manis, dimana kau bersembunyi?".
Deg!!
Alvaro menutup mulutnya saat mendengar suara yang familiar. Ia menatap takut-takut pada celah yang ada di guci itu. Alvaro melihat Reo yang sedang berdiri disamping guci yang ia tempati.
'tuan rumah, jangan membuat suara sekecil apapun.
"Oh ayolah kucing manis, aku tau kau ada disekitaran sini. Ayolah tidak perlu takut, kita akan melakukan hal yang menyenangkan nanti, kau pasti akan menyukainya".
Alvaro menggeleng mendengar perkataan pria itu, air matanya mulai mengalir di pipi gembilnya yang pucat.
'Daddy, Valo takut'.
"Oh apa ini? Aku tidak tau kalau ada guci disini".
Tubuh kecil itu bergetar ketakutan saat melihat tangan Reo yang ingin membuka penutup guci yang ia tempati, air matanya kian deras mengalir membuat ia semakin kesulitan bernafas karena panik.
Dor!
"Akh".
Reo tiba-tiba saja terkena tembakan pada paha kirinya membuat ia terjatuh disamping guci yang ditempati Alvaro.
"Akh sialan!!". Teriaknya
"Dimana adikku bajingan!". Reo menoleh kearah belakang mendapati semua anggota Alexander berdiri menatap tajam dirinya.
Devan yang mendengar itu semakin memanas ia kembali melayangkan sebuah tembakan pada bahu kiri Reo.
"Akh!!. Hahahaha kalian tau? Mulut kecilnya terasa sangat nikmat".
Reo tertawa semakin kencang saat melihat wajah marah keluarga Alexander, itu membuat ia semakin bersemangat memancing amarah mereka.
'Daddy datang!, Zelo Daddy datang!!.
'yah tuan rumah, tetaplah di dalam sampai saya memberitahu anda untuk keluar'.
Anak itu tersenyum lebar walau nafasnya mulai tersendat sendat, Ia senang saat mendengar suara keluarganya.
Axel yang mendengar kata-kata yang diucapkan Reo semakin marah. Ia menggerakkan giginya dan berjalan kearah Reo menghajarnya habis-habisan hingga wajah Reo tak berbentuk lagi.
"Beraninya kau berbicara kotor tentang permataku!".
Bugh bugh
Pukulan demi pukulan Reo terima membuat ia kehilangan kesadarannya dengan muka yang tak berbentuk akibat kerasnya pukulan yang dilayangkan Axel padanya.
"Da Ddy" Axel tersentak saat mendengar suara lirihan yang sangat mirip dengan permatanya.
"Alvaro? Baby?!".
"D dedy"
Grek
Penutup guci yang ada disebelah Axel sedikit bergeser dan muncul jari-jari kecil yang terlihat berusaha membuka penutup guci itu.
"BABY!". Axel dengan sigap langsung menyingkirkan penutup guci itu dan melihat siapa yang ada didalam sana.
Axel melihat permatanya sedang meringkuk didalam guci itu dan langsung menggendongnya, memeluknya erat takut jika Alvaro akan menghilang lagi.
"Adek!". Alicia yang melihat Axel mengangkat Alvaro berlari kearah Axel dan memeluk tubuh kecil itu.
"Hah hah Valo kangen hehe". Ucapnya lirih.
Keyla menangis sambil ikut memeluk erat tubuh mungil putranya itu setelah ia mengambilnya dari Axel.
la dengan sayang mengelus punggung sempit itu agar sang anak bisa bernafas dengan perlahan apalagi saat mendengar deru nafas anak itu tidak beraturan membuat ia semakin khawatir.
" sst bernafaslah perlahan baby, sekarang putra mommy ini sudah aman".
Alvaro mengangguk sambil menatap satu persatu anggota keluarga barunya yang datang, dan tatapan matanya terpaku pada Liam yang terluka.
"Abang li-nya luka gala-gala Valo".
Liam mendekati Alvaro saat anak itu melihatnya dengan mata berkaca-kaca siap menangis. la mengelus pelan punggung tangan Alvaro saat tangan kecil itu terulur untuk menjangkaunya.
"Abang tidak apa-apa, Adek tidak perlu khawatir". Ucapnya sembari tersenyum.
"Abang keke sama bang Lea juga luka. Apa itu sakit?".
Kevin dan Andrea menggelengkan kepalanya pertanda luka yang mereka dapatkan bukanlah masalah besar jadi Alvaro tidak perlu khawatir.
Alvaro kembali mengedarkan pandangannya, mengabsen satu persatu orang-orang yang menjemputnya. Ada Mommy, Daddy, bang Liam, Bang Andrea, Abang Dev, Abang keke, dan kak Cia.
"Papa, papi sama Abang yang lain mana?". saat tidak melihat kehadiran dari Davian, Javier dan Alaric serta papa dan papinya.
"Mereka ada di Rumah menunggu kita sayang". Jelas Keyla, tidak sepenuhnya benar, karena faktanya mereka saat ini sedang memberikan hadiah pada orang-orang yang menyerang mereka di suatu tempat yang tidak jauh dari mansion utama Alexander.
"Mommy ayo pulang Valo mau susu, Valo lapel".
"Adek juga harus banyak makan jangan hanya minum susu aja!". Seru Alicia
"Iya nanti Valo mam banyak, supaya Valo bisa cepat besal telus bisa jagain mommy sama kak Cia, telus Valo bisa jadi supelhelo, kalena itu mommy Valo mau mam banyak-banyak, kangkungnya jangan lupa, woltelnya juga!. Daddy tau Ndak waktu Valo naik mobil sama Abang Li mobilnya bisa bicala sendiri telus ngelualin suala doll doll gitu".
Axel dan yang lainnya terkekeh saat mendengar ocehan dari mulut kecil itu. Bagiaman bisa ia dengan cepat ceria kembali setelah semua yang ia alami?.
Terlalu sibuk mendengarkan ocehan Alvaro, mereka tidak sadar bahwa Reo yang tadinya pingsan kini kesadarannya mulai kembali.
Reo melihat Alvaro yang sudah ada digendongan Keyla dan mulai mengeluarkan pistol yang berada di pinggangnya.
"Tuan rumah hati-hati!".
Alvaro tersentak saat mendengar suara Zero yang tiba-tiba saja muncul. Ia dengan cepat menoleh kearah belakang dan mendapati Reo yang sedang tersenyum sambil menyodongkan pistol kearah Alicia
'kak Cia? TIDAK!!'.
DOR!!
Deg!!.
"A Adek?!".
"Baby!!".
'TUAN RUMAH?!'.
"Ugh uhuk".
.
.
THANK YOU❤❤❤