
HAPPY READING
.
.
.
.
.
"Hah. Kali ini apa yang terjadi?. Apa kalian tau varo demam tinggi! Demamnya bahkan mencapai 42° dia bisa saja terkena hipertermia". Penjelasan Bagas selaku dokter pribadi keluarga Alexander itu mampu membuat kepala Axel berdenyut nyeri begitupun dengan hatinya.
Rasanya Axel tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Rasa marah, sedih, dan kecewa bercampur aduk menjadi satu.
Axel menatap kearah Keyla yang terdiam dengan pandangan lurus kearah Ruang Rawat Alvaro. Digenggamnya tangan sang istri dengan lembut untuk memberikan ketenangan.
Axel tau, walaupun Keyla tidak mengatakan apapun tapi dia yakin kalau Keyla saat ini sedang menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Alvaro.
"Ini salahku mas". Lirihnya itu mampu membuat Axel langsung membawa Keyla dalam pelukan hangatnya.
"Tidak, ini salah kita semua karena meninggalkan baby sendirian di mansion besar itu". Keyla menangis dalam dekapan Keyla dan mencengkram erat kemeja belakang Keyla.
"Mom, Dad" Axel menatap kearah Kevin dan juga Davian yang sedari tadi berdiri dibelakang mereka.
"Hmm".
"Apa yang akan kita lakukan pada gadis itu?". Davian bertanya dengan nada datarnya saat mengingat gadis yang sudah membuat adik bungsunya seperti sekarang Syasa sudah mencelakai varo sebanyak dua kali dan adiknya harus kembali kerumah sakit untuk kedua kalianya.
"Gadis itu akan Kuhabisi dia nanti". Kevin bergumam pelan dengan tangan yang terkepal kuat sehingga urat-urat di tangannya terlihat jelas.
Bagas menantap ngeri keluarga setan yang ada dihadapannya saat ini. Bahkan bisa Bagas rasakan bulu kuduknya berdiri saat melihat ekspresi menyeramkan Axel.
"Sial, kenapa gue bisa berteman dengan makhluk menyeramkan seperti Axel?".
"Apa aku bisa menjenguk Alvaro?". Suara Keyla mampu mengembalikan Bagas yang tadi melamun memikirkan nasibnya.
"Ah yah kalian bisa menjenguknya".
"Terima kasih Bagas". Bagas hanya menganggukkan kepalanya dan segera berlalu pergi dari sana tidak ingin lama-lama berhadapan dengan keluarga iblis depannya itu.
Ceklek
Keyla membuka pintu itu perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah varo yang sedang terbaring di ranjang pesakitannya dengan masker oksigen yang melekat diwajah mungil itu.
Kevin meringis dalam hati saat melihat tangan mungil Alvaro di tempeli dua jarum kecil. Dia yakin jika adiknya terbangun nanti dia akan merengek sambil menangis meminta mereka untuk melepas benda itu dari punggung tangannya.
"Ssh panas sekali". Bisa Axel rasakan suhu tubuh Alvaro yang sangat panas saat ia menyentuh dahilan.
Dielusnya rambut hitam yang biasanya terasa lembut itu yang kini lepek akibat suhu tubuh Alvaro.
"Eumhh hiks di dingin". varo bergumam dalam tidurnya. Axel yang mendengar gumaman itu langsung naik keatas ranjang, membuka pakaiannya hingga hanya meninggalkan celana nya saja.
Axel menyingkap sedikit pakaian Alvaro hanya sebatas perut, dan langsung membawa tubuh mungil dengan hati-hati kedalam pelukannya.
Orang bilang jika anak sedang sakit itu, maka Ayahnya harus memeluk sang anak dalam keadaan topless dan menempelkan badannya mereka agar sang anak dapat merasakan kehangatan.
'Katanya' -autor😑
Axel mengelus rambut Alvaro dengan pelan dan sesekali akan dibubuhi sebuah kecupan dikening hangat Alvaro hingga varo kembali tertidur.
"Dad biar aku saja".
Axel menatap tajam pada putra keduanya itu. Mana mau dia membiarkan putra kesayangannya ini dipeluk oleh orang lain.
"Tidak". Jawabnya dengan nada datar yang membuat Davian berdecih tidak suka.
Keyla yang melihat kelakuan suami dan anak keduanya hanya dapat menggelengkan kepalanya, sudah biasa.
Setelah kedatangan Alvaro, keluarga mereka yang tadinya hanya mementingkan bisnis dan dunia bawah kini telah berubah. Mereka bahkan mulai membuka diri mereka untuk keluarga, berkumpul bersama, bahkan tertawa bersama yang mana hal itu tak pernah terjadi sebelumnya.
Axel yang dulunya hanya akan menghabiskan seluruh waktunya untuk 'bekerja menjadi lebih sering pulang kerumah. Bahkan dia rela menghendel pekerjaannya saat Alvaro memintanya untuk ditemani main.
Devan putra pertamanya yang tak pernah pulang ke rumah setelah dirinya berhasil membuat perusahaan sendiri kini telah kembali dan berkumpul lagi bersama mereka.
Davian yang tadinya merupakan pribadi yang datar dan sulit untuk diajak bicara kini terlihat lebih hidup dan sedikit jahil.
Kevin yang hampir sama dengan Davian tapi masih memiliki sifat hangat saat bersama kini lebih terang-terangan menampakkan sifat jahilnya terlebih saat menjahili Alvaro.
Kehadiran Alvaro sungguh mampu membuat keluarganya yang tadinya monoton berubah menjadi keluarga yang hangat.
"Pun...am..pun...kit...sa...kit..hiks..ay...ah...a m..ampun".
Axel yang tadinya hampir saja tertidur langsung terbangun saat merasakan Alvaro yang bergerak tak nyaman dalam tidurnya, begitupun dengan Keyla, Davain dan juga Kevin.
"Baby?". Axel mengguncang pelan tubuh Alvaro yang ada dalam pelukannya saat Alvaro mulai bergumam sesuatu yang tidak mereka mengerti, belum lagi tubuh lemah itu mulai bergetar ketakutan.
"Am..pun..a.aya..h..ampun..hiks...sakit..s a..kit huks..akh". Alvaro tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya membuat Axel, Keyla, Davain dan juga Kevin terperanjat kaget.
Mereka bisa melihat tubuh mungil itu menjauh dari Axel, pandangannya tidak fokus dan was-wa entah karena apa.
"Baby? Hey, ada apa?".
Axel berusaha meraih tubuh mungil yang masih bergetar itu untuk kembali direngkuh kedalam pelukannya namun respon yang Alvaro berikan padanya membuat Ia membeku.
"TIDAK! Pe pelgi!! Pelgi!! Takut! Jangan, jangan pukul lagi hiks sakit. Sakit sekali hiks". Alvaro berteriak panik saat melihat Axel berusaha menggapainya dia bahkan melempar Axel dengan bantal yang ada disampingnya.
"Sa sayang, tidak ada yang akan memukulmu". Keyla berusaha mendeti Alvaro menggantikan Axel yang masih mematung mendapat penolakan dari Alvaro.
"TIDAK!! TIDAK!! Ibu jahat!! Jahat, pelgi!!!". varo juga malah kembali melempari Keyla dengan barang-barang yang ada di dekatnya.
"Tuan rumah sadarlah!! Yang ada dihadapan anda saat ini bukanlah orang tua lama anda'. Zero berusaha membuat Alvaro sadar kalau yang ada dihadapannya saat ini bukanlah orang tuannya yang dulu melainkan orang tua barunya, Axel dan Keyla.
'T tidak i itu itu ayah dan ibu, me meleka akan memukuliku lagi hiks aku, aku takut'. varo menggelengkan kepalanya brutal sambil terus berusaha menjauh dari Axel dan Keyla yang berusaha meraihnya.
Davian berusaha mendekati Alvaro dari belakang sedangkan Keyla telah pergi untuk memanggil dokter untuk segera menangani Alvaro yang sedang histeris.
Grep
Davian memeluk Alvro untuk menghentikan pergerakan Alvaro, bahkan infus yang ada ditangannya telah terlepas sehingga mengeluarkan darah segar.
Ah sekarang mereka mengerti kenapa Alvaro sampai sehisteris ini. varo bahkan tak mengenali Axel dan Keyla yang ada dihadapannya. Pandangan anak itu mungkin tidak fokus sehingga mengira Axel dan Keyla merupakan orang-orang yang pernah melukainya.
"Hei baby, ini Daddy sayang. ini Daddy". Axel mengelus pucuk kepala Alvaro yang masih memberontak dalam pelukan Davian memberikan ketenangan.
Alvaro kembali menatap Axel dan kali ini dia dapat melihat dengan jelas wajah. orang yang ada didepannya. Wajah yang awalnya dia kira Ayahnya itu kini berubah.
Dengan perlahan Alvaro mulai tenang dan berhenti memberontak. Ia sekarang telah kembali dari khayalannya tentang masa lalunya.
Melihat Alvaro yang sudah tenang, Axel langsung mengambil alih tubuh putranya itu dan memeluknya sembari membubuhi pucuk kepala putranya dengan kecupan.
BRAK!!
Pintu ruangan itu dibuka dengan kasar oleh Bagas diikuti Kevin di belakangnya yang membuat mereka terperanjat kaget untuk kedua
"Bagas sialan!. Tidak bisakah kau membuka pintu secara perlahan?!". Bagas tersenyum saat mendengar makian yang dilontarkan Axel padanya, belum lagi tatapan datar yang diberikan oleh Davian dan juga Keyla membuat dirinya menjadi Tremor seketika
Tadi dia sedang meminum kopi di ruangannya sambil menonton video 'Ekhem' dan tiba-tiba saja Kevin datang dan langsung menyeretnya untuk keluar memeriksa Alvaro yang tengah histeris.
Jadi dengan segenap jiwa dan raga dia langsung berlari meninggalkan Kevin dibelakangnya untuk memeriksa anak mungil nan cantik yang sayangnya terjebak dalam keluarga yang di isi para iblis.
"Apa yang kau lakukan?, Cepat periksa adikku". Davian menatap kesal pada yang sedari tadi tidak melepaskan cengiran bodohnya.
"Ah iya". Bagas mulai mengambil sebuah suntikan dan memasukan obat octocot Alfa kedalamnya dan langsung menyuntikkan obat tersebut ketangan Alvaro.
"*** hiks sa..kit". Gumamnya pelan. Axel mengelus punggung tangan Alvaro yang sudah diperban dengan hati-hati takut melukai putra kesayangannya.
"Daddyh...di dingin". varo kembali bergumam.
Keyla yang mendengar gumaman Alvaro langsung mengambil sebuah selimut dari nakas dan memakaikannya pada Alvaro.
Keyla menepuk-nepuk punggung varo pelan agar itu kembali tertidur nyenyak.
.
\\\\\\\\\\\\\
.
Siang ini Syasa sedang berkumpul dengan teman-teman nya di sebuah restoran bintang lima yang juga milik keluarga Alexander.
Syasa sedang mentraktir teman-temannya makan di sini. Sebenarnya dia hanya ingin menunjukkan kepada teman-teman barunya itu bahwa dirinya adalah anak dan cucu kesayangan keluarga Alexander.
"Wah Syasa, Restoran ini sangat mewah yah. Sepertinya menjadi cucu keluarga Alexander sangat menyenangkan". Ucap salah satu temannya yang bernama Lia dengan senyum yang terkesan mengejek.
'cih. Seharusnya kau beruntung aku mengundangmu juga dasar ******'. Batin. Syasa.
"Hmm, iya sangat menyenangkan. Mereka sangat menjaga dan memanjakan Syasa. Mereka juga memberikan semua yang Syasa minta". Jawabnya dengan senyum manis.
Lia tersenyum sinis saat mendengar perkataan Syasa. Tidak dipungkiri di dalam dirinya juga terdapat rasa iri akan kehidupan mewah yang Syasa jalani.
"Wah. Pasti menyenangkan". Syasa tersenyum manis saat mendengarnya.
"Syasa pasti sangat dimanja yah, lihat semua barang yang Syasa kenakan saat ini merupakan barang-barang keluaran terbaru".
"Ah benarkah? Syasa tidak tau itu, soalnya semua ini diberikan oleh mami untuk Syasa. Eum tas ini juga, ini pemberian dari papi". Jawabnya dengan senyuman polos.
"Benarkah? Wah, beruntungnya". Syasa tersenyum manis saat mendengar pujian yang dilontarkan teman-teman barunya itu.
Syasa terus berbincang dengan teman-temannya itu tidak menyadari sosok Devan yang sudah berdiri di belakang tubuhnya.
"Eh, maaf anda siapa yah?". Tanya Lia saat melihat sosok pria tampan berdiri menjulang dibelakan Syasa.
Syasa yang penasaran tentu langsung membalikkan badannya dan mendapati Devan yang sedang menatapnya dengan wajah khasnya.
"Eh Abang dev? Abang ngapain di sini? Mau jemput Syasa yah?". Syasa berdiri dari duduknya dan langsung memegang lengan Devan.
Sret
"Akh". Syasa merintih kecil saat pergelangan tangannya di cengkram oleh tangan besar Devan.
"Pulang". menyeret Syasa keluar dari restoran itu meninggalkan teman-teman Syasa yang menatap kepergian mereka dengan pandangan bingung.
"Akh, Abang lepas ini sakit". Devan tidak menghiraukan rintihan Syasa, dia berjalan cepat kearah mobilnya dan menghempaskan Syasa secara kasar kedalamnya setelahnya dia melaju dengan kecepatan tinggi untuk kembali ke mansion utama.
"A Abang pelan-pelan, Asa takut". Syasa memejamkan matanya saat merasakan. mobil yang ia tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi.
Selang beberapa menit akhirnya mereka sampai. Devan kembali menyeret Syasa masuk kedalam.
"Abang lepas, tangan Asa sakit". Syasa bergerak brutal ingin melepaskan cengkraman tangan Devan dari tangannya.
PLAK?!
Sebuah tamparan keras berhasil menggapai pipi Syasa hingga membuat limbung dan jatuh ke lantai.
Suara keras dari tamparan itu juga mengagetkan Jesi, Alexo, dan juga Mateo.
"Ada apa ini?".
..
.
.
.
.
.
.
.
.
THANK YOU❤