
Happy Reading!!
"Dia siapa Dad?". Davian putra kedua Axel bertanya kepada sang ayah tapi matanya
tidak lepas dari wajah Alvaro yang saat ini juga menatapnya polos. Kevin yang berdiri dibelakang sang kakak kedua juga terus memperhatikan bagaimana wajah menggemaskan itu menatap kearah kakaknya dengan binar polosnya.
"Ah benar. Mulai sekarang varo akan menjadi bagian dari keluarga kita". Axel mengalihkan pandangannya kepada para putranya saat mendengar pertanyaan Davian.
"Daddy, daddy apa meleka kakak valo?". Alvaro menapat berharap kepada Axel. Dan itu sukses membuat pria yang sedang menggendongnya itu gemas dan langsung menghujani wajah manis itu dengan kecupan, membuat sang empu terkekeh geli.
Davian dan Kevin yang melihat itu hanya dapat menatap ayah mereka datar. Sial mereka juga ingin mengecup wajah bulat itu.
"Tuan rumah sepertinya sekarang anda sudah berhasil membuat anak2 Axel (-Devan) menyukai anda'. Suara zero membuat Alvaro bingung. 'Pelasaan gue belum ada ngapa-ngapain tuh' batinnya.
'Itu karena mereka sudah terpesona dengan keimutan anda tuan rumah'.
'Aseekkk belalti gue hanya pellu buat meleka semakin teljelat ajakan.. gila sih gue kayaknya belbakat buat jadi altis he he he. Alvaro bersorak kemenangan dalam hati. Tapi tiba-tiba saja dia merasakan tubuhnya berpindah. Saat dia melihat siapa pelakunya, ternyata itu adalah Davian.
Davian mengambil alih varo kegendongannya. Ia iri melihat ayahnya menciumi pipi adiknya.
"Hai baby aku adalah abang keduamu". Davian mengcup pipi bulat yang akan tumpah itu saat melihat tatapan polos varo.
"Baby dan aku adalah kakak ketigamu. Apa kau mengerti baby?". Kevin yang berada dibelakang Davian pun maju selangkah dan berdiri tepat disamping kakaknya itu, setelahnya mengelus pelan pipi bulat bak moci itu.
"Ha halo abang". varo memberika cengiran lebarnya pada Davian dan juga Kevin sehingga membuat pipi bulat itu semakin membulat dengan satu dimple dipipi bagian kanannya.
Melihat senyuman Alvaro membuat Kevin langsung merebut varo dari kakaknya itu dan dibalas tatapan datar kakaknya tapi apa pedulinya.
"Hey baby siapa namamu hmm?". Kevin bertanya apa varo yang saat ini berada dalam gendongan koalanya. Mengabaikan keberadaan ayah dan kakaknya yang menatap datar dirinya dengan aura membunuh yang sangat pekat.
"Alvalo emiliano. Kalau abang?". varo memiringkan kepalanya saat bertanya. Sebenarnya dia sudah tau nama mereka, akan aneh jika dia mengenali nama mereka padahal baru saja bertemu. Lagian dia harus melakukan ini agar mereka berada dipihaknya saat bertemu dengan tokoh 'protagonis' yang kata sistem bertingkah tidak sesuai dengan yang seharusnya.
"Alvalo yah". Mendengar itu lan langsung mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ishh bukan abang. Tapi 'Alvalo'." Alvaro mengerakan kakinya dengan brutal dalam gendongan Kevin. 'Salah lagi, salah lagi". Batinnya kesal
"Namanya Alvaro dia cadel". Kali ini Axel yang berbicara memotong Kevin yang akan membuka suara kembali.
"Ah maafkan aku baby. Abang nggak tau kalau kamu cadel". varo hanya dapat mengangguk dengan bibir yang mengerucut. Sepertinya dia masih kesal karena namanya salah disebut.
"Berikan padaku". Davian membuka suara dengan nada dinginnya meminta Kevin untuk memberikan varo padanya. Ia baru saja selesai menghubungi asistennya untuk membeli beberapa barang dan sekarang barang itu sudah ada dikamarnya. Cepat sekali
"Ck". Berdecih pelan, walau enggan dia tetap memberikan badan gempal varo kepada kakak keduanya itu.
"Baby ayo kekamar abang. Abang punya sesuatu untukmu". Davian berjalan kearah life dan menuju kekamarnya yng berada dilantai dua.
Kamar para anak-anak Axel berada dilantai dua, berbeda dengan kamar Axel yang berada di lantai tiga. Untuk para pekerja mereka tinggal di mansion berlantai dua yang berada tidak jauh dari sanah.
Sesampainya Davian dikamarnya yang bernuansa hitam itu, dia langsung meletakkan badan varo diatas kasur king sizenya.
"Baby tunggu sebentar yah. Abang mau mandi dulu jangan kemana-mana okay". Davian tersenyum lembut pada Alvaro. Jika ada yang melihat itu pasti mereka akan terkena struk mendadak. Baimanapun juga Davian adalah orang yang sangat dingin dan kejam bahkan dengan keluarganya.
"Eum".
Davian langsung saja masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Alvaro yang terdiam sambil melihat-lihat isi kamar Davian.
'Kamal ini tellihat sedelhana tapi elegan. Tidak banyak balang yang ada di sinih, hmm ini telasa nyaman". Batin Alvaro. '
Ah benal zelo bagaimana dengan alul novelnya? Apakah sudah dimulai?". varo bertanya pada zero mengenai alur novel yang sekarang dia masuki. Harusnya sih sudah dimulai.
'Alurnya sudah berjalan selama sebulan ini tuan rumah'.
'Ah benar, coba celitakan ulang bagaimana alul novel ini. Aku sudah melupakan sebagian dali celitanya'.
'Baik tuan rumah'. Zero mulai
melaksanakan perintah alvaro.
Ding
'Novel love you baobei bercerita tentang seorang gadis lugu dan polos yang berada di panti asuhan. Gadis itu bernama Syasa. Syasa bertemu dengan keluarga Alexander pada saat keluarga itu berkunjung kepanti asuhan tempat Syasa tinggal. Saat pertama kali melihat syasa mereka langsung terpana akan kecantikan dan keluguan Syasa dan langsung mengadopsinya. Semuanya berjalan lancar seperti permulaan novel pada umumnya. Syasa sangat disayangi dan dimanja oleh keluarga Alexander. Dalam cerita novel pasti ada antagonis. Antagonis dalam cerita ini bernama Monica Anderson putri keluarga Anderson. Jika di cerita pada umumnya antagonis memiliki cerita suram seperti tidak mendapatkan perhatian keluarga, maka dinovel ini tdk terjadi. Monic justru sangat disayangi keluarganya. Dia hanya tidak terima karena pria yang disukainya yang adalah tokoh protagonis pria malah menyukai Syasa yang jelas-jelas adl hanya seorang anak pungut. Karena itulah Monic selalu membuli Syasa jika tidak ada salah satu anggota keluarga Alexander yang bersamanya. Puncak dari cerita ini adalah saat sang pritagonis pria yang bernama Rezav smith penyatakan perasaannya kepada Syasa didepan semua orang yang ada disekolah. Hal itu tentu saja membuat Monic marah besar dan dia merencanakan pembunuhan terhadap Syasa dengan menyewa beberapa orang gengster. Tapi sayang rencana itu terdengar oleh salah satu anggota keluarga Alexander dan mereka langsung membunuh Monica saat itu juga. Keluarga monic yang mendengar kabar kematian putrinya hanya dapat berduka. Mereka tidak dapat melakukan apa-apa karena keluarga Alexander membuat mereka bangkrut hingga titik paling rendah. Setelah kematian Monica, Syasa dan Rezav menikah beberapa tahun kemudian dan dikaruniai seorang putra yang sangat tampan. Tamat.
'Begini tuan rumah. Dalam cerita seharusnya Syasa adalah gadis cantik yang polos juga lugu, tapi entah karena apa tiba-tiba saja karakter Syasa berubah menjadi orang yang arogan dan sombong jika dengan orang lain. Dia akan menampilkan topeng anak polos dan lugu hanya didepan keluarga Alexander saja. Karena sifatnya ini lah Axel yang seharusnya menyangi Syasa berubah menjadi sangat membencinya'. Jelas Zero panjang lebar
'Hmm begitu yah. Jadi Syasa berpelilaku dilual dali sifat aslinya. Mungkin saja kan didalam laga Syasa itu teldapat laga lain'. Pikir varo.
'Sepertinya itu bisa saja terjadi'. Kelamaan berpikir Alvaro jadi tidak sadar jika Davian telah selesai dari acara mandinya. Davian yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe berjalan menuju Alvaro yang tengah
melamun dengan bibir yang mengerucut tanpa disadari empunya. "Baby kenapa melamun hmm". Suara Davian membuat Alvaro tersadar dari Lamunannya dan langsung melihat kearah Davian yang ada di depannya.
"Abang sudah selesai?". Bukannya menjawab pertanyaan Davian, varo malah balik bertanya.
Davian yang gemas langsung mengacak rambut halus varo setelahnya mengangkat dan mendudukan varo dipangkuannya, menghadap dirinya.
"Abang kenapa belum pakai baju?" Alvaro kembali bertanya. Kali ini dengan wajah bingung saat melihat abangnya itu belum memakai pakiannya dan malah memamerkan dada bidangnya itu
dihadapannya. Alis alvaro mengkerut tidak suka saat melihat itu.
"Gemas sekali". Davian yang gemas langsung mengigit pipi bakpao Alvaro membuat alis Alvaro semakin mengkerut tidak suka.
"Ishhh abang jangan gigir". varo merengek menjauhkan wajah Davian dari pipinya dengan tangan gempalnya.
Davian melepaskan gigitannya dengan tidak rela. Tapi setelahnya dia tersenyum penuh arti dan langsung mengecup bibir mungil yang dikerucutkan sang empu
Mendapatkan serangan mendadak dari Davian pada bibirnya membuat Alvaro diam membeku beberapa saat. Alvaro masih memproses apa yang baru saja terjadi, dan setelahnya wajah bulat itu langsung memerah sampai ketelinga.
Bluss
'Bi bibil seksoy gue huwaa. Anjil'. Batin varo menangis.
Davian terkekeh pelan melihat bagaimana wajah itu memerah sampai ketelinga.
'Ahhh adikku sangat menggemaskan. Sangat berbeda dengan jal*ng kecil itu'. Davian kembali meletakkan badan Alvaro dan langsung berjalan menuju walk in closet untuk berpakaian.
'Anjil anjil anjilllll... bibil gueeeee.... huwaaaa'. varo berteriak dalam batinnya marah karena Davian mencium bibirnya. Dia menguling-gulingkan badannya dikasur besar itu.
"tenanglah tuan rumah'. Zero berusaha menenagkan Alvaro yang saat ini menagis tanpa suara.
"Bagaiamana gue bisa tenang bajingan...bibil gue dicium sama cowo. anjing bang at huwaa'. Alvaro mengumpat sambil menggerakkan badannya brutal.
Setelah beberapa saat memberontak alvaro mulai merasa lelah. Alvaro menghapus jejak air mata yang ada dipipinyan, tiba-tiba saja dia merasa mengantuk. Dan benar saja tidak lama. setelahnya dia sudah tertidur nyenyak dengan mulut yang sedikit terbuka.
Tidak lama saat varo tertidur Davian pun datang dengan memakai kaos hitam polos dan celana hitam pendek. Davian melihat Alvaro telah tertidur dengan mulut sedikit terbuka itu terkekeh. Imut sekali
Davian membuka laci meja dekat ranjang dan mengambil benda yang ada didalamnya
Pecifer
Yah benda itu adalah pecifer. Davian langsung saja memasukkan Pecifer itu kedalam mulut adiknya yang sedikit terbuka.
Bibir mungil itu mulai menghisap pelan benda yang ada dimulutnya tanpa sadar. Bahkan hisapannya bertambah kencang sehingga membuat pipi bulat itu ikut bergerak mengikuti irama hisapan Alvaro.
Davian menggit pipi bagian dalamnya untuk melambiaskan kegemasannya. Dia mengeluarkan ponselnya dan memotret Alvaro untuk dimirimkan kepada kakaknya Devan.
Devan
Cepatlah pulang!!
Picture 15.12
.
.
.
T.B.C
HE HE HE