
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🐻❤❤...
"Lepaskan!!! Kubilang lepaskan rantai kotor ini dariku sialan!!!!". Syasa sedari tadi terus berteriak meminta dilepaskan dari cekalan para bawahan Devan.
"Apa kalian tidak punya telinga!!!". Teriaknya lagi saat tidak mendapatkan respon dari orang-orang berbadan besar itu.
"Teruslah berteriak nona, tapi kami tidak akan pernah melepas rantai itu". Jawab salah satu dari mereka.
"Lepaskan aku!! Aku adalah bungsu kesayangan keluarga Alexander". Ujarnya dengan nada sombongnya.
"Pfffttt hahahha jangan bercanda nona! Anda bukan lah bungsu kesayangan Alexander melainkan tuan kecil Alvaro".
Wajah Syasa memerah padam saat mendengar ucapan itu, ia menunduk sembari mencengkram erat rantai yang melilit pergelangan tangannya.
"Sebaiknya nona diam dan tunggu giliran anda untuk dieksekusi".
Deg
Deg
Deg
Jantung Syasa berdetak dengan cepat saat mendengar kata eksekusi keluar dari mulut bawahan Devan.
Tak dipungkiri bahwa kini badan kecilnya gemetaran apalagi mengingat fakta bahwa keluarga Alexander tidak akan main-main dalam hal seorang penghianat.
'sial! Sial sial!! Jika saja anak itu tidak hadir dalam keluarga ini mungkin aku sekarang sudah menjadi anak emas keluarga Alexander dengan menyingkirkan posisi Alicia!!!!'. Batinnya.
Dor Dor Dor!!
Suara tembakan mengudara dari luar ruangan menandakan sedang adanya aksi tembak menembak diluar.
BRAK!!
Pintu itu di tendang oleh seseorang membuat Syasa berjengit kaget. Ia mengangkat kepalanya guna melihat siapa sosok yang baru saja menendang pintu besi itu.
"Ayah!!". Ucapnya kaget, terlebih melihat ayahnya yang dulu membuangnya kini didepan matanya.
"Berisik".
"A ayah pasti datang untuk menyelamatkanku kan? Ayah tolong buka ini, badanku sakit yah, mereka ngiketnya kekencengan". Ucapnya tanpa sadar dengan sedikit rengekan.
"Cih, jika bukan karena kau sudah melakukan tugasmu dengan baik aku tidak akan Sudi menjemputmu ditempat ini. Gus lepaskan ikatannya". Perintahnya pada salah satu anak buahnya.
"Hei ayo cepat bukain".
"Baik nona".
Agus sebagai seorang bawahan dengan patuh langsung membuka rantai yang membelit tubuh Syasa hingga rantai itu benar-benar terlepas.
Syasa langsung berdiri dan memeluk tubuh tegap ayahnya sembari tersenyum manis.
"Ayah terima kasih". Ucapnya manja.
"Kau semakin mirip dengan ibumu, apa sikapmu juga akan sama?". Tanyanya dengan mengelus bibir Syasa menggoda.
"Ah Ayah~".
"Benar-benar seorang ja*lang". Ucapnya sembri tersenyum licik sementara Syasa berusaha mempertahankan senyum terbaiknya.
"Oh! Apa ini? Apa tempat ini sekarang menjadi tempat reuni untuk ayah dan putrinya?"
Jordan dan Syasa dengan serempak menoleh kearah suara itu berasal dan mendapati Mateo yang sedang berdiri bersama denga Javier dan Alaric putranya.
"Kau?! Bagaimana?".
Jordan tidak mengerti kenapa bisa ada Mateo disini padahal dia sudah meretas segala sistem
keamanan keluarga Alexander dan membunuh seluruh penjaga yang berjaga disini tadi?!! Dan sekarang justru para bawahannya yang telah mati entah sejak kapan.
"Ouh kau kaget? Oh astaga tuan Jordan Bratama, seharusnya kau tau bahwa Alexander tidak akan membiarkan musuhnya masuk dengan begitu mudah".
Gigi Jordan bergelatuk saat mendengar ucapan sarkas yang dilayangkan Alaric padanya. dia merasa diremehkan!
"Kau meremehkanku?!". Ujarnya marah.
Mateo tersenyum makna sambil menatap Syasa yang bersembunyi dibelakang tubuh Jordan.
"Putrimu itu sudah menyusahkan keluarga kami, aku sangat senang saat melihatmu akhirnya mau menjemputnya". Ujar Mateo dengan senyum manisnya.
Syasa yang mendengar itu tentu diam mematung. Dalam otaknya dia berpikir, apakah keluarga Alexander sudah tau yang sebenarnya?
"Hmm baiklah, ayo kita berbincang-bincang sebentar sebelum memulai acara utamanya".
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Baby bagaimana Apa masih nyut-nyutan?". Alvaro menggeleng kepalanya sambil menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Liam.
" Abang Valo mau ice cleam". Ucapnya pada Liam.
"Baiklah". Liam berdiri masih dengan Alvaro yang ada dalam gendongannya berjalan kearah dapur untuk mengambil ice cream yang Varo minta.
"Makasih Abang, cup". Liam tersenyum tipis saat mendapatkan kecupan Alvaro pada pipinya.
"Sama-sama baby".
"BANG!!".
Liam menoleh saat mendengar suara Andrea yang memanggilnya. Ia melihat Andrea yang berjalan tergesa dengan keadaan yang kurang baik, ada luka goresan dilengan kirinya dan ia juga memegang senjata.
"Ada apa?"
"Abang luka?! Kenapa bisa luka?". Andrea tidak menggubris pertanyaan Alvaro ia hanya menatap dalam mata Liam.
"Code rouge?". Andrea mengangguk.
"Nous avons été soudainement attaqués, on dirait qu'il coopère avec la mafia des corbeaux." (Kita tiba-tiba saja diserang, sepertinya dia bekerja sama dengan mafia gagak itu).
Liam mengangguk dan berjalan meninggalkan Andrea menuju keruang bawah tanah tempat Dimana jajaran mobil mewah koleksi keluarga Alexander disimpan.
Ia akan membawa Alvaro keluar dari mansion ini untuk sementara sebelum kondisi kembali seperti semula.
"Abang kita mau kemana? Mommy, Daddy, papa, papi, kakak dan Abang Abang yang lain ikut kan?". Tanyanya penasaran.
"Janji?"". Varo mengangkat jari kelingking kecilnya meminta agar Liam juga ikut menautkan jarinya sebagai tanda kesepakatan.
"Tentu".
'Zero apa yang sebenarnya terjadi?".
'Mansion Alexander tiba-tiba saja diserang dan sekarang keluarga anda sedang membereskan mereka'. Jelas Zero
'siapa pelakunya?.
'Jordan Bratama, dia adalah ayah kandung dari Syasa tuan rumah. Dia datang untuk mengambil semua aset keluarga Alexander, ia juga bekerja sama dengan mafia MARVENON yang juga merupakan musuh keluarga Alexander'.
'anjil Syasa punya bapak?!!!". Serunya kaget.
''benar tuan rumah'.
Alvaro termenung sambil memikirkan bagaimana rupa ayah Dari Syasa. Apakah wajahnya akan mirip dengan Syasa? Apakah wajah sama mengenalkannya dengan Syasa? Pikirnya.
Dor!
"****"
'Tuan rumah menunduk!!!'.
Alvaro menunduk takut apalagi saat tak sengaja melihat ada beberapa mobil yang mengikuti mereka.
"Abang? A apa yang terjadi?". Tanyanya.
"Baby tenang okey, semuanya akan baik-baik saja, jadi tetap tenang okey".
Liam dengan lugas menghindari segala serangan peluru yang diarahkan oleh orang-orang yang mengikuti dirinya. Untungnya, mobil yang ia gunakan mempunyai ketahanan terhadap peluru jadi dia bisa sedikit merasa lega.
Protector activated
Scan attack
Scanning
an attack from two meters away from the side
"Alexa activates hidden weapons". Ucapnya sembari dengan lihai menghindari serangan musuh.
Weapon activated
Shoot
Sebuah senjata keluar dari belakang mobil yang digunakan Liam dan menembak tepat pada kaca mobil yang mengejar mereka hingga mobil itu kehilangan kendali.
"Uwaaahh". Seru Varo saat melihat mobil yang mengikuti mereka terguling beberapa kali sebelum menghantam pembatas jalan.
"Tuan rumah seriuslah sedikit!!".
'oh ah yah, hehehe".
Kesal! Zero kesal sekali! Rasanya dia ingin menenggelamkan Alvaro di sungai Amazon!.
Semua berjalan lancar awalnya, Liam masih bisa menghindari semua serangan yang dilancarkan oleh musuh, hingga saat mereka melewati hutan tiba-tiba saja sebuah mobil melaju dengan kencang dari arah depan mereka.
Warning!!
Warning!
There was a surprise attack from the front Danger!
"****"
Liam membanting setir dalam sekejap guna menghindari serangan mobil yang melaju dari arah depan hingga ia kehilangan kendali kemudi.
"Alvaro!!". Liam memeluk tubuh Alvaro guna melindungi adiknya itu saat mobil mereka menggelinding.
"Tuan rumah!! Tuan rumah! Anda mendengar saya!! Tuan rumah!! Ais sial!'.
Liam membuka matanya sedikit guna melihat keadaan Alvaro yang ternyata tidak sadarkan diri, tapi untunglah tidak terdapat luka sedikitpun di tubuhnya. justru dialah yang terluka cukup parah disini.
"Syukurlah, syukurlah". Ucapnya sembari mengelus wajah bulat itu membuat wajah bulat itu kini juga terkena darah yang mengalir dari tangan kekarnya.
"Heh? Apa ini sosok Liam yang aku kenal?".
Liam menatap tajam pada sosok yang berdiri diluar mobil yang mereka tempati. Mobil itu masih dalam posisi terbalik dengan pintu yang entah kemana tempatnya.
"Reo!".
"Ohh aku sangat terharu saat kau masih mengingatku". Ucapnya sembari tersenyum manis dan tak sengaja matanya melirik pada sesuatu yang berada dalam dekapan Liam.
"Ouh apa ini?". Ucapnya dan langsung menarik Alvaro dalam dekapan Liam.
"Kembalikan adikku!!". Tekannya.
"Adik? Makhluk indah ini adikmu?, Aku tidak percaya keluarga iblis seperti kalian bisa mempunyai malaikat sepertinya". Ucapnya sambil mengelus pipi bulat Alvaro.
"Jangan menyentuh adikku dengan tangan kotormu!" Sentaknya berusaha keluar dari dalam mobil itu guna kembali mengambil adiknya walaupun kondisinya sedang tidak baik-baik saja.
"Hei hei jangan terlalu keras pada dirimu, dan lagi kau tidak perlu takut adikmu ini akan aman bersamaku, hmm aku jadi penasaran apa kecil ini akan muat jika mengulum milikku".
"Jangan macam-macam Reo atau aku akan membunuhmu!!". Teriaknya.
Dor
Akh
"Lemah".
"Kembalikan!! Kembalikan adikku sialan!!"
"Akan aku kembalikan setelah aku puas memakainya hahaha".
"AAAKKKKHHH KEMBALIKAN ADIKKU LEO SIALAN!!".
'tuan rumah sadarlah'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
THANK YOU❤❤❤