ALVARO EMILLIANO

ALVARO EMILLIANO
BAB 18



.


.


.


.


.


.


.


Tak Tak Tak


Bunyi langkah kaki menggema di sebuah lorong gelap. Seorang pria terlihat berjalan dengan penuh wibawanya masuk ke dalam.


"Bienvenido señor" (selamat datang tuan). Pria itu menganggukkan kepalanya dan langsung masuk kedalam ruangan yang ada disana.


Apa kalian ingin tau ruangan apa yang dia masuki?, biar ku beri tahu. Ruangan gelap yang ada disana adalah tempat bagi pria itu melakukan 'pekerjaan mulia' nya.


Iya mulia. Karena di sana dia mengambil organ-organ dalam tubuh manusia dan diberikan oleh orang yang membutuhkan.


Saat pria itu masuk mulai terdengar jeritan rasa sakit yang menggema, dan Pria itu tersenyun sinis saat mendengarnya.


"Jack bagaima? Apa dia sudah mau mengatakannya?". Tanya pria itu.


Sang tangan kanan menoleh kearahnya sambil hormat pada sang tuan besar.


"Belum Tuan". Jawabnya.


"Heh, keras kepala sekali". Jack


merinding saat melihat senyum iblis yang dikeluarkan oleh tuan besarnya itu dan tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


Ctak Ctak Ctak Ctak


"Akh.. Please..stop aakh..stop". Bunyi cambukan terdengar dengan jelas bersentuhan dengan kulit manusia disusul dengan teriakan untuk berhenti.


"Hmm sangat bagus". Gumam pria itu.


'Gila'. Batin jack ngeri.


"blum veut ouvrir la bouche?" (Tidak ingin membuka mulut?). Pria itu bertanya kepada orang yang di cambuk oleh bawahannya dengan mencengkram erat kedua pipi tirusnya.


"pas, bâtard". Pria itu tersenyum saat mendengar penolakan dari mangsanya.


"dans ce cas. mourir". (Kalau begitu. Matilah).


DOR DOR DOR


Pria itu menembak 'mangsanya' tepat pada perut dan kepala sebanyak tiga kali hingga kepala tersebut hancur seketika.


"Cih. Tidak berguna". Ucapnya dengan nada datar andalannya. Pria itu kemudia keluar dari sana di ikuti jack dibelakangnya.


"aku akan kembali ke Indonesia kau bereskan semua yang ada di sini".


Jack hanya dapat mengangguk patuh atas perintah tuan besarnya kemudian mereka keluar dari sana dan terpisah karena tuan besarnya akan langsung ke bandara.


Skip!!


{^<^}


Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan rata-rata membelah jalur lalu lintas yang terlihat sepi karena sudah terlalu larut malam.


"Tuan, apa kita akan langsung ke mansion?". Tanya sang supir kepada pria yang di belakangnya.


"Tidak. Kita pergi kerumah sakit".


"Baik Tuan".


Mobil itu kini berbelok menuju ke salah satu rumah sakit terkenal yang ada di sana. Selang beberapa menit mobil tersebut telah sampai ke tujuan.


Pria yang ada dibelakang itupun keluar dan langsung memasuki rumah sakit besar tersebut


dengan langkah yang terkesan santai.


Pria itu berhenti tepat di ruangan yang di jaga oleh beberapa pria berbadan besar yang berjejer rapi.


"Selamat datang tuan". Pria itu hanya mengacuhkan sapaan dari para penjaga, dia langsung saja masuk dan mendapati adiknya sedang tidur di samping seorang remaja mungil yang juga sedang tertidur dengan memeluk erat tubuh mungil itu.


"Cantik". Ucapnya. Dia membuka nakas kecil yang ada disamping ranjang dan mengelurkan sebuah suntik dan memasukkan obat di dalamnya.


Dia memasukkan obat tidur di dalam suntik itu dan langsung menancapkannya pada leher sang adik.


Setelah selesai, dia beralih pada remaja yang berada dalam pelukan adiknya. Dengan tidak sabaran dia menendang tubuh adiknya hingga terjatuh dan beralih menggendong remaja tersebut.


Pria itu keluar dengan remaja mungil yang berada di gendongannya membuat para penjaga yang ada di luar kebingungan.


"Aku akan membawanya. Kalian pergilah dari sana, jangan ada yang berjaga didepan.". Ucapnya dan langsung pergi dari sana.


kita harus memberitahu nyonya besar?". Tanya salah satu penjaga sebut saja namanya Tedi.


"apakah harus harus". Jawab yang bernama Jodi.


"Sepertinya tidak usah. Lagipula tuan muda dibawa oleh Tuan ******.


#########


Mata dihiasi bulu mata yang panjang dan itu mulai terbuka. varo membuka matanya perlahan, hal pertama yang dia lihat bukan langit-langit kamar berwarna putih seperti di rumah sakit melainkan langit-langit kamar yang dihiasi lampu besar yang indah.


Varo tentu bingung, dia mulai meliarkan pandangannya dan menemukan ternyata dirinya memang bukan berada di rumah sakit melainkan dalam kamar yang sangat mewah.


"Apa aku di culik?. Eh tapi masa diculik di simpan dikamal yang mewah? Halusnyakan di gudang kosong atau lumah kumuh di dalam hutan".


Monolognya dengan meletakkan jarinya di dagu dan tanpa sadar ia memiringkan kepalanya berpikir.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka dan seorang pria berumur puluhan tahun keluar dari sana dengan menggunakan bathrobe.


varo tidak menyadari hal itu karna dia masih sibuk berpikir tentang mengapa dia bisa sampai di sini.


Pria itu mendekati varo dengan langkah pelan tanpa suara. Dia mencondongkan badannya dan berbisik tepat disamping telinga Alvaro


"Sudah bagun baby". varo tersentak saat mendengar suara berat seseorang tepat di samping telinganya. Dengan cepat dia berbalik dan mendapati seorang pria berumur puluhan tahun yang tersenyum padanya.


"Si siapa?". Tanya varo dengan nada takut. Dia memundurkan badannya menjauh dari pria yang tidak dia kenali itu.


"Baby tidak mengenaliku". varo menggelengkan kepalanya tanda tidak tau membuat pria itu berdecak kesal.


"Sialan". varo semakin takut sekarang saat melihat pria itu berdecak dengan urat dikepalanya yang tercetak jelas. Sepertinya pria itu sedang marah.


Mengetahui bahwa varo takut padanya dia langsung mengubah ekpresinya menjadi sebelumnya dengan senyum manis yang terlihat aneh di wajahnya.


"Baby jangan takut okey. Aku adalah kakak dari Daddy mu, namaku adalah Mateo Alexander". Varo mengangkat kepalanya dan terlihat matanya yang sudah berkaca-kaca dengan mulut mengerucut lucu serta pipi dan hidungnya yang memerah.


kakak Daddy? Daddynya abang Avi?". Mateo mengangguk, dia mengangkat Alvaro dalam gendongannya saat melihat Alvaro sudah tidak terlihat takut lagi padanya.


"Jangan panggil om. Panggil papa".


"Eum papa!". Seru varo tersenyum manis hingga matanya menyipit dan dimple yang terlihat jelas di pipinya yang membulat.


Mateo yang gemas langsung mengecupi wajah bulat itu brutal membuat varo tertawa geli saat wajahnya dikecupi.


'Babuku beltambah, senangnya". Batin Alvaro.


(●●●●●●)


.


Sementara itu di rumah sakit, Axel tengah mengamuk karena tidak mendapati putra kesayangannya saat dia terbangun.


Sebenarnya dia tidak terbangun melainkan dibangunkan paksa oleh John saat John, Lily dan Keyla datang tidak mendapati Alvaro justru mereka malah mendapati Axel yang terkapar dilantai dengan sebuah suntik yang menancap di lehernya.


"Honey bagaimana ini?". Keyla sedari tadi merasa sangat khawatir saat tidak dapat menemui Alvaro, dia bahkan tidak henti-hentinya mondar-mandir kayak gasing *canda.


"Sialan. Apa baby di culik?". Axel mengacak rambutnya frustasi. Dia sudah tidak dapat berpikir jernih lagi sekarang.


"Ini salahmu karena tidur terlalu nyenyak dasar bodoh". Lily menatap datar putranya yang penampilannya seperti orang gila saat ini.


"Cek CCTV". Seru John. Benar!! Axel lupa jika terdapat CCTV di setiap sudut ruangan. Kehilangan permatanya membuat ia tidak dapat berpikir dengan benar.


Mereka berempat mulai mengecek CCTV yang ada dalam ruangan ini melalui Tablet.


PRANG!!


"MATEO SIALAN!!". Seru Axel marah. Sial dia kecolongan!! Kakaknya sudah mengetahui keberadaan Alvaro dan sekarang kakak sialannya itu menculik permatanya! Tidak bisa dibiarkan!!.


Axel keluar dari sana diikuti Keyla yang sudah berwajah datar saat mengetahui siapa yang sudah menculik putranya meninggalkan John dan Lily yang menggeleng pelan melihat kelakuan anak dan menantunya.


"Hahh Aku sudah menduga ini". Lily menoleh pada suaminya saat mendengar helaan napas kasar darinya.


"Oma baby mana?". Kevin, Alicia, Andrea, Javier, Alaric, Davian dan juga Liam yang baru saja datang terheran saat mendapati Ruangan tempat terlihat berantakan dengan beberapa barang pecah.


"Bersama papa kalian". Bukan Lily yang menjawab melainkan John.


Mereka yang mendengarnya langsung terdiam. Mereka kaget tentu saja karena setau mereka Mateo sedang berada di Jepang.


"Dad dimana?". Davian bertanya saat tidak juga melihat Sang ayah di sana karena biasanya Ayahnya itu tidak akan meninggalkan varo sendirian.


"Mencari Papa kalian" kali ini Lily yang menjawab pertanyaan Davian. Mereka yang mendengarnya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Kita kembali pada Alvaro yang saat ini tengah berada di taman bermain bersama dengan Mateo tentu saja. varo sekarang tengah memakan ice cream coklat kesukaannya.


Tadinya Mateo ingin mengajak Alvaro ke mall tapi varo tidak mau. Saat ditanya mengapa, varo menjawab bahwa ia ingin ketaman untuk membeli ice cream padahal di mall juga ada dan lebih mahal.


Kailo sesekali akan membersikan wajah Alvaro terkena Ice cream.


"Papa". Mateo memandang varo yang memanggilnya, dibaliknya posisi Alvaro yang tadinya membelakangi dirinya langsung menghadap padanya.


"Ada apa?". varo memandang Mateo polos dengan mata bulat besarnya kemudian la tersenyum lebar.


"valo mau Daddy". Mateo langsung mendatarkan wajahnya saat mendengar permintaan Alvaro.


"Tidak. Hari ini baby bersama papa dulu". Senyum Alvaro luntur dan langsung digantikan oleh wajahnya yang terlihat merenggut kesal.


varo melipat tangannya didada dengan pipi menggembung kesal dan bibir yang mengerucut lucu. Dia memandang Mateo marah dengan Alis yang ngaris menyatu.


"Khehehe jangan cemberut begitu". Mateo terkekeh pelan dan langsung mengecup bibir yang mengerucut itu singkat membuat wajah Alvaro memerah malu.


'Ughh. Padahal udah seling, tapi kenapa gue masih malu anjil'. Batinnya.


Mateo berdiri dari duduknya dengan Alvaro yang nemplok dalam gendongan koalanya. Dia berjalan pergi dari sana menuju ke arah mobilnya diparkiran.


"Papa kita mau kemana?".


"Ke mansion".


"Pulang?". Mateo mengangguk membuat Alvaro tersenyum senang, dia sudah kangen dengan Daddy nya itu sekarang.


Mobil Mateo melaju meninggalkan taman untuk kembali ke mansion. Jika kalian berpikir Mateo akan membawa Alvaro ke mansion Mateo maka kalian salah.


Mateo tidak akan mengembalikan Alvaro secepat itu kapada adik pertamanya itu, justru dia berencana untuk menghabiskan waktunya bersama varo lebih lama mungkin seminggu dengan dirinya hanya berdua.


Dia akan membawa Alvaro ke mansion utama Alexander, ada yang ingin ambil di Setelah dua puluh menit di perjalanan, akhirnya mobil mewah itu memasuki halaman besar sebuah mension mewah.


"Papa kita di mana? Ini bukan lumah daddy". varo bertanya penasaran pasalnya mansion yang mereka datangi ini bukan mansion Axel. Mansion ini terlihat lebih besar dari mansion daddy nya.


Mateo tidak menjawab pertanyaan Alvaro. Dia keluar dari dalam mobil dengan Alvaro yang berada dalam gendongan koalanya memasuki mansion mewah itu.


varo menatap kagum pada mansion yang dia masuki. Mansion ini lebih besar dari mansion daddy nya dan terlihat lebih mewah walaupun mansion Axel juga mewah tapi mansion ini sedikit lebih mewah.


"PAPA!!". varo terkaget saat mendengar sebuah teriakan melengking dari Dengan cepat dia melihat kearah suara itu berasal dan melihat di sana ada Syasa.


Syasa berhenti dan menatap pada anak yang berada dalam gendongan Papanya yang ternyata adalah Alvaro. Anak yang sudah merebut apa yang sudah menjadi miliknya.


"Sayang ada apa?". Jesi yang baru saja dari dapur bertanya pada putrinya karna melihat tatapan marah yang putrinya itu keluarkan.


Jesi mengarahkan tatapannya pada apa yang ditatap putrinya hingga membuat putrinya itu menunjukkan tatapan marah.


Di sana, Jesi melihat ada kakak Iparnya Mateo berdiri dengan seorang anak yang berada dalam gendongannya. Dilihat dari tatapan Syasa bukan Mateo yang menjadi target amarah Syasa melainkan anak yang berada dalam gendongan Mateo


Jesi tidak dapat melihat dengan jelas wajah anak yang ada dalam gendongan Mateo karena Alvaro menundukkan kepalanya.


"Kakak siapa anak itu?".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.