ALVARO EMILLIANO

ALVARO EMILLIANO
BAB 31



...H...


...A...


...P...


...P...


...Y...


...R...


...E...


...A...


...D...


...I...


...N...


...G...


...🐻❤❤...


"Akh nghh, yah ah le bih cepat hngh". ******* demi ******* Alicia dengar dari dalam ruangan penyiksaan. Ia yakin kalau dua 'wanita' itu kini sedang menikmati Hadiah dari Andrea dan Kevin.


Ceklek


Ia membuka pintu itu dan hal pertaman yang ia lihat adalah Mila dan Luna yang m*******g lebar membiarkan dua p****a memasuki l****gnya.


'iuu menjijikkan'. Batinnya saat melihat pemandangan didepannya belum lagi bau khas percintaan yang mengudara didalam ruangan itu membuat ia mual.


"Kalian pergilah". Titahnya.


"Baik nona". Para priayang tadinya menggagahi mereka kini sudah keluar tanpa memakai b****a mereka terlebih dahulu meninggalkan Mila dan Luna yang bergetar hebat disana karena pelepasan mereka.


"Kalian benar-benar menjadi seorang ****** yah, hmm apa yang akan orang tua kalian katakan jika melihat penampilan kalian saat ini yah". Ujarnya menatap kedua gadis itu dengan


"Hiks al tolong lepaskan kami hiks k kami tidak akan hiks me mengulangnya lagi hiks". Luna merangkak kearah Alicia dan menggapai sepatu yang dikenakan Alicia sebelum sang empu menendang tangan itu.


"Jangan menyentuh sepatuku dengan tangan kotormu itu. CK harga sepatuku bahkan tak sebanding dengan harga diri kalian". Sarkasnya.


"CK aku harus membuang sepatu ini nanti". Gumamnya kesal.


Alicia menatap kedua gadis itu dengan jijik dan menginjak tangan Luna yang tadi menyentuh sepatunya.


"AAAKKKHH". Teriaknya saat Alicia menginjak tangan kanannya dengan tekanan yang tak main-main kuatnya.


"Ck. Kau terlalu berisik". Decaknya kesal.


"Eliza bawakan aku sebuah jarum beserta benang kawat yang tipis". Suruhnya pada asisten yang sedari tadi berdiri memperhatikan semua yang dilakukan Alicia.


Sudah kubilang bukan jika keluarga Alexander mempunya asisten pribadi masing-masing. Hmm jika kalian lupa kalian bisa membaca ulang cerita ini!.


"Baik nona, akan segera saya bawakan".


Tak berselang lama Eliza datang dengan membawa kotak kecil yang berisi benang dan kawat tipis yang sudah terhubung.


"Ini nona".


"Hnm~ karena kamu sangat berisik jadi aku akan menjahit mulut ini". Ucapnya sembari mencengkram erat wajah Luna.


"Akh! Hiks 1 lepas hiks hmmp!!!". Alicia mulai menjahit mulut yang sangat berisik itu, tak perduli dengan cipratan darah mengenai wajahnya yang cantik.


Sementara Alicia fokus dengan Luna, Mila dengan perlahan-lahan mengambil kesempatan itu untuk keluar dari ruangan penyiksaan.


Kasian sekali dia sepertinya lupa jika ada Eliza yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.


СТАК!!


AAAAAAAAAKKKKKKKKK


Mila tiba-tiba saja berteriak kencang saat merasakan sesuatu yang tajam memotong kakinya.


"Aissshh kenapa dia berisik sekali gue jadi salahkan ini ngejahitnya!". Marah Alicia saat acara menjahitnya terganggu.


"Maaf nona, gadis ini berusaha kabur jadi saya memotong salah satu kakinya dengan kapak". Jawab Eliza datar.


"Akhh kakiku hiks kakiku hiks mama! Mama". Alicia kembali berdecak saat mendengar suara tangisan Mila yang meraung-raung.


'kaki doang kok nangisnya sampe segitunya'. Decaknya dalam hati.


"Berisik sekali! El tutup mulut gadis itu".


"Baik nona". Eliza mengambil sebuah kain hitam dan mulai menyumpalkan kain itu kemulut Mila yang sedari tadi tak berhenti meraung-raung.


hmmmpp!!!"


"Aihh lihatlah hasil karyaku ini! Kau jadi semakin cantik saat mulut ini terjahit sempurna".


Air mata Luna terus mengalir membasahi pipinya. Jika tau seperti ini dia mungkin tidak akan mencari perkara dengan keluarga Alexander. Ia hanya ingin pulang.


"Ouhh sayang jangan menangis, karena kita baru saja mulai hahah".


Alicia mengambil sebuah pisau dan mulai mengiris-iris tipis kulit Luna membuat air mata gadis itu semakin mengalir deras tanpa suara karena mulutnya yang terjahit.


Puas dengan mengiris-iris kulit, Alicia kembali meminta dibuatkan air garam yang bercampur dengan air jeruk nipis dengan jumlah banyak.


"Hmm sentuhan terakhir". Ucapnya dan langsung menarik rambut Luna menuju bak yang sudah terisi air campuran garam air jeruk nipis.


Splass


"HMMMMM!!!!!".


"Ahahhaha lihat! Lihat dia! Seperti cacing hahahha". Alicia tertawa bahagia saat melihat Luna yang bergerak acak dalam bak berukuran besar itu.


Ok mari kita tinggalkan sejenak kegilaan gadis pelangi itu.


"Ikut aku!". Syasa menarik tangan Alvaro dan membawanya ketempat sepi sementara Alvaro hanya mengikuti dengan wajah malasnya.


"Isshh kak Syasa mau ngapain sih bawa-bawa valo kesini". Tanyanya kesal sambil memeluk erat boneka Teddy pemberian Devan.


"Kau! Pergilah dari sini! Aku muak melihatmu". Ujarnya sambil menunjuk wajah Alvaro


Alvaro memiringkan kepalanya tidak mengerti dengan kegilaan yang dilakukan gadis bebal dihadapinya ini.


"Kalau kakak muak kenapa bukan kakak saja yang pelgi". Jawabnya dengan polos.


Wajah Syasa memerah padam karena kesal, jadi dia sedikit mendorong tubuh Alvaro hingga Varo mundur beberapa langkah.


"K KAU YANG SEHARUSNYA PERGI!!. Karena kau sudah merebut apa yang seharusnya jadi milikku!". Teriaknya membuat Varo kaget mendengarnya.


'beuhh sejak kapan semua ini milikmu'. Batinnya.


'Tuan rumah, Axel sedang berjalan kemari'. Peringat Zero.


'he kalau begitu ayo kita buat sebuah pertunjukkan'.


"Valo ndak pelnah lebut-lebut punya kakak, jadi Valo ndak salah dong". Jawabnya lagi.


"kau salah karena hadir dilingkup keluargaku sialan!!!". Marahanya.


"Oh benalkah". Smirk


"Akkh mati saja kau!!". Syasa yang sudah kesal dan marah langsung dengan kasar mendorong Alvaro hingga tubuh kecil itu jatuh dan menyenggol sebuah vas berukuran sedang hingga pecah.


BRUGH


PRANG!!


Dan semua itu tak luput dari penglihatan Axel.


"ALVARO!!" Axel dengan cepat berlari menuju Alvaro yang tengah terduduk memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.


"D Dad?". Syasa gemetar ditempatnya apalagi saat melihat tatapan tajam Axel yang siap membunuhnya kapan saja.


"Beby hey?! Sayang apa kau mendengarku?!". Axel menepuk-nepuk pipi bulat pelan saat tidak mendapatkan respon dari Alvaro.


'ughh kepala gue sakit banget anjing!!'.


'aisss kenapa tuan rumah ceroboh sekali!!!. Syukur-syukur kepala anda tidak berdarah! Anda ingin mati memangnya hah?!'. Marah Zero.


Alvaro semakin meringis saat mendengar suara Zero yang memarahinya. Dalam ringisannya, Varo bisa melihat ekspresi ketakutan Syasa dan wajah


khawatir Axel yang sekarang sudah menggendongnya.


Varo masih sempat-sempatnya memberikan senyuman kemenangan pada Syasa yang sedang mematung bak patung diberi nyawa.


"Baby Baby tidak apa kan? Tidak ada yang luka kan?". Axel mengecek setiap inci tubuh Varo yang ada di gendongannya kemudian bernafas lega saat tidak mendapatkan luka berarti kecuali kening yang agak sedikit membiru.


Tak berselang lama, Keyla, Jesi, Alexo, Kevin, Andrea, Liam, dan yang lainnya datang setelah mendengar sebuah benda pecah dan teriakan Axel.


"Mas ada apa?".


"Dad?".


Axel menatap tajam seluruh anggota keluarganya itu sebelum memarahi semuanya.


"Apa yang kalian lakukan hingga membiarkan baby sendirian sampai ditarik oleh gadis sialan ini hah?!! Bagaimana jika aku terlambat datang?! Mungkin saja baby sudah terluka parah!!". Amuknya.


Syasa yang berada dibelakang semakin bergetar ketakutan apalagi saat melihat tatapan membunuh yang dilayangkan para pawang Alvaro.


Pandangan mata Syasa bertemu dengan Jesi yang berdiri disamping Alexo yang menatap prihatin padanya. Saat ia akan mengeluarkan kata Jesi tiba-tiba saja membuang mukanya kearah lain.


"M mami?". Ujarnya lirih.


'apa yang terjadi? Kenapa wanita bodoh itu tidak menyelamatkanku? Biasanya dia akan menjadi yang pertama dalam membelaku?! Apa yang terjadi? K kenapa jadi seperti ini?!'. Batinnya berteriak resah.


"Devan bawa gadis itu keruang satu". Perintah Mateo.


"Tentu papa". Devan dengan senang hati langsung menyeret Syasa dengan kasar menuju ruangan yang disebutkan oleh Mateo


"Mami hiks mami!! Syasa nggak salah mami!!! Tolong hiks MAMI!!!!!". Teriaknya tapi tetap tak menggerakkan Jesi dari tempatnya.


"M mas a apa ini tidak berlebihan?". Tanyanya pada Alexo yang dibalas tatapan datar olehnya.


"Bodoh".


Jesi menundukkan kepalanya saat mendengar kata yang keluar dari mulut suaminya. Ini adalah Yang kedua kalinya Alexo menyebutnya seperti itu.


"Maaf". Ucapnya lirih.


Sebelum kejadian ini terjadi, Keyla telah mendatangi Jesi yang sedang berada dihalaman belakang. Keyla memberikan sebuah map hitam berisi segala sesuatu yang berhubungan dengan Syasa.


Mulai dari orang tua, pekerjaan, hingga misi yang diberikan ayahnya untuknya tercatat disitu dengan bukti beberapa foto dan hasil tes DNA.


Jangan tanya bagaimana mereka bisa mendapatkannya karena gue juga nggak tau anj-. Astagfirullah dosa.


Jesi yang menerima itu awalnya tidak percaya hingga Keyla menunjukkan sebuah video berisikan Syasa yang sedang mengobrak Abrik ruang kerja Axel serta segala kelakuan buruknya yang terekam oleh kamera cctv tersembunyi di mansion itu. Bahkan Jesi pun baru tau jika ada cctv tersembunyi di mansion ini.


Dan sekarang, Jesi hanya dapat mengikuti segala permainan yang dilakukan oleh kakak dan iparnya yang lain.


'maafkan mami Syasa, tapi mami akan berusaha untuk membebaskanmu karena ini juga bukanlah salahmu sepenuhnya". Batinnya.


.


.


.


.


.