
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🐻❤❤...
"Akh,, sssh". Axel meringis kecil saat peluru yang seharusnya mengenai Alvaro kini menggores lengannya.
Ia dengan erat memeluk tubuh Alvaro yang berada dalam pelukannya. Bisa ia rasakan tubuh kecil itu gemetar ketakutan terlebih saat mendengar suara bertuntun peluru yang dilepaskan senapannya.
Dor! Dor! Dor!
Alaric, Javier dan juga Devan dengan sigap berdiri membalas serangan peluruh yang diarahkan musuh ke hadapan mereka begitupun dengan Alicia yang sedang memegang senapan Laras panjang bersiap membidik lawan.
Sedangkan anggota keluarga yang lain tetap duduk di sofa ruangan menonton adegan heroin yang dilakukan Alaric, Javier, Devan dan Alicia, begitupun dengan Axel yang kembali duduk di posisinya sebelumnya sembari tetap memeluk tubuh kecil dalam dekapannya.
"Ssssg tidak apa-apa sayang, semuanya baik-baik saja". Ujar Keyla sembari mengelus punggung gemetar Alvaro.
"Mommy kenapa meleka main tembak-tembak di sini? Valo kan jadi kaget!
huh".
Keyla terkekeh pelan begitupun dengan Axel saat mendengar penuturan polos yang dikeluarkan Alvaro, padahal baru saja anak itu tadi bergetar ketakutan tapi sekarang lihatlah ia sudah mulai menggerutu kembali.
'kenapa dia sangat menggemaskan?'. Batin Rezav dan Kenzo
"mereka sedang bosan, mungkin?". Jawab Kevin dengan asal membuat Alvaro mendengus.
"Thh Abang Keke ngawul". Ujar Varo sambil meletakkan lidahnya membuat mereka semua yang ada di sana terkekeh gemas akan kelakuan Alvaro.
"CK. Hama". Decak Javier saat telah selesai menembak habis musuh.
"Abang luka tid-"
"MAS!!!!". Perkataan Alvaro terpotong saat Jesi tiba-tiba saja berteriak dari lantai dua. Ia terlihat panik sambil menarik tangan Syasa yang meringis memegangi lengannya.
Mereka semua yang ada disana langsung mengalihkan tatapan mereka pada Jesi yang memandangi mereka begitupun dengan Syasa.
"A apa yang terjadi! Alicia kamu memegang senapan?!!". Ujar Jesi kaget.
Alicia menatap datar kearah Jesi, dalam diam ia mengangkat senapannya dan mengarahkannya tepat pada Syasa membuat kedua wanita itu terdiam kaku.
"A alicia apa yang kau lakukan?!! Tu turunkan itu!!!". Teriaknya pada Alicia oleh empu.
"Satu, dua, ti-ga
DOR!!".
Peluru dari senapan meluncur dengan gagah kearah Jesi dan juga Syasa yang menutup mata mereka takut sesaat sebelum Alicia melepaskan satu peluru.
"UAKHHHH!!!".
"Kyaaaa!!!".
"Hmm tepat sasaran dengan sedikit bonus". Ujar Alicia enteng.
Ah sayang sekali peluru itu tidak mengenai salah satu diantara mereka berdua melainkan seorang pria misterius yang berada di belakang mereka keduanya.
Syasa jatuh terduduk dengan daun telinganya yang terkikis peluru yang dilepaskan Alicia. Matanya bergetar ketakutan dengan wajah pucatnya, begitupun dengan Jesi.
'Gila! Kak Cia hebat buanget loh'. Batin Alvaro dengan memandang Alicia berbinar.
"Hmm kemampuan menembakmu sudah sangat bagus". Ujar John dengan bangga akan apa yang dilakukan oleh cucu perempuannya.
"Hm terima kasih opa".
'sangat seksi dan berkarisma'. Batin salah satu dari teman-teman Kevin dan juga Andrea.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan berarti yang terjadi di sana, yang ada hanyalah para pelayan yang sibuk membereskan kekacauan yang terjadi barusan melupakan Jesi dan juga Syasa yang masih terdiam mematung.
"Daddy valo mau susu".
(^3^)
Syasa side
'Sial mereka sudah mulai bergerak!, A apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika aku belum juga melakukan apa yang mereka suruh maka mereka akan langsung membunuhku!!!".
Syasa sedari tadi tidak henti-hentinya mondar mandir dikamarnya memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang. Belum lagi teror teror yang diberikan oleh ayah kandungnya.
Iya ayah kandungnya, kalian tidak salah lihat. Syasa sebenarnya masih memiliki seorang ayah.
Ia juga sebenarnya tidak ingin melakukan hal gila ini tadi dia sudah terlanjut terseret oleh pria itu dan dia mulai menikmati apa yang ia dapatkan sekarang ini.
Flashback
Seorang gadis kecil terlihat sedang bersembunyi dari seseorang dengan memeluk boneka beruang lusuhnya. Penampilannya terlihat sangat memprihatinkan.
Ada banyak lebam ditubuh gadis itu, pakaiannya pun terlihat sangat lusuh dengan beberapa bagian yang sobek.
Tap tap tap
"Diaman gadis sialan itu?! CK. Aku tau kau masih ada di sini sialan! Cepat keluar atau aku akan membunuhmu sekarang juga!!".
Gadis itu semakin memeluk bonekanya erat, tubuhnya gemetar ketakutan saat mendengar suara ayahnya yang terlihat marah.
"B bunda hiks Syasa Takut, a ayah marah". Isaknya pelan.
Klek
Tubuh gadis itu menegang saat tempat persembunyiannya telah di ketahui oleh ayahnya. Dengan patah-patah ia mendongak dan menatap wajah mengeras ayahnya.
"Disini kau ternyata!".
Sret!
Pria itu menarik tubuh Syela dengan kasar untuk keluar dari lemari pakaian yang menjadi tempat persembunyiannya.
"Hiks ayah ampun". Pria itu tidak mengindahkan perkataan Syasa dan tetap menarik tubuh gadis itu keluar.
"Hiks bunda sakit". Lirihnya pelan saat merasakan pergelangan tangannya yang ditarik terasa remuk akibat cengkraman tangan besar ayahnya.
Memang benar ibunya adalah seorang ****** yang bekerja di salah satu klub malam terkenal di kota. Iapun tau kalau ia terlahir akibat pekerjaan yang digeluti ibunya yang saat itu melayani ayahnya.
"Dengar sialan! Aku punya pekerjaan untukmu". Ujar pria itu dengan memegang bahu Syasa kuat.
"Hiks a apa?".
Johan Pratama seorang pengusaha kaya yang juga merupakan musuh keluarga Alexander di dunia bawah itu tersenyum tipis ah tidak lebih tepatnya bersmirk menatap pada wajah putrinya.
"Aku akan mengirimmu kepanti asuhan yang akan di datangi oleh keluarga Alexander besoknya. Yang harus kau lakukan adalah menarik perhatian istri Alexo dan masuk kedalam keluarga itu".
"T tapi a aku tidak tau apa yang harus dilakukan". Uangnya takut.
"Mudah! Kau hanya perlu bertingkah polos dan lemah agar wanita bodoh itu mengasihanimu dan mengangkatmu menjadi putrinya. Setelah itu kau harus melakukan satu hal lagi!. Kau harus mengambil sebuah map berwarna hitam yang ada dilantai empat mansion utama Alexander untuk diberikan padaku". Jelasnya lagi sambil menatap tajam mata bulat Syasa.
Syasa yang ditatap seperti itu semakin ketakutan dan hanya dapat menganggukkan kepalanya menyanggupi.
"Ingat sialan, kau harus melakukannya dengan benar! Jika tidak maka aku akan membunuhmu!".
Setelah itu, Johan langsung mengantar Syasa ke panti asuhan yang didirikan oleh kuarga Alexander tepat pada malam hari agar rencananya terlihat sempurna dan tidak ada yang melihatnya.
"Ingat, lakukan dengan benar! Aku selalu mengawasinya dari jauh"
"Baik ayah".
"Bagus". Syasa menatap ayahnya yang telah pergi dengan pandangan yang mendatar.
Ia mengepalkan kedua tangannya dengan marah akan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa saat ayahnya menindasnya.
"Sial!!! Gue nggak mau mati!! Dasar pak tua sialan". Gumamnya.
Tok tok tok
"P permisi". Syasa mengetuk pintu itu dan tak lama pintu terbuka menampilkan seorang wanita tua.
"Oh astaga? Ada apa gadis manis? Kenapa malam-malam kamu bisa ada di sini?". Tanya wanita itu.
Pandangan Syasa meredup, ia menautkan kedua tangannya dan mulai terisak pelan.
"Hiks a ayah ninggalin Syasa di sini hiks ka katanya Syasa me menyusahkan hiks Syasa di suruh kesini sama ayah hiks". Ujarnya terisak.
"Oh astaga! Ayah macam apa itu! Ya sudah ayo masuk nak diluar dingin. Mulai sekarang kamu akan tinggal di sini bersama anak-anak yang lain, apa kamu mau?".
"Hiks apa tidak apa? Bukankah Syasa menyusahkan?". Tanyanya membuat wanita tua itu iba.
"Tidak sayang, Syasa tidak menyusahkan sama sekali. Jadi ayo masuk".
"Eum terima kasih nyonya".
"Jangan panggil nyonya dong, panggil. Ibu saja ok".
"Baik bu"
Merekapun masuk kedalam dengan Syasa yang senantiasa tersenyum manis penuh akan kepalsuan dan benar saja apa yang dikatakan oleh ayahnya, keluarga Alexander ke esokan harinya datang ke panti asuhan itu lebih tepatnya anak bungsu keluarga Alexander beserta istrinya datang.
Dan dari sanalah Jesi mengenal Syasa hingga mengadopsinya karena kasihan atas kisah Syasa yang diceritakan oleh ibu panti.
Flashback and.
"Hah, sampai sekarang aku masih belum juga mendapatkan Map hitam sialan itu!". Ujarnya marah.
Sret drrrt
Ponsel Syasa saja bergetar membuat Syasa mengalihkan pandangannya dan mengambil
handphone-nya.
la membuka satu pesan dari nomor tak dikenal membuat ia penasaran.
Ingat misimu anak sialan! Atau kau akan tau akibatnya
Dari:
ayahmu yang tercinta
Deg!!
Syasa melempar handphone itu ke kasur saat telah membaca pesan tak dikenal yang ternyata dikirim ayahnya.
"A apa yang-"
Drrrrrtttttt
Aku mengawasinya gadis kecil
Syasa terdiam kaku di tempatnya tapi, matanya menjelajahi setiap sudut kamarnya dengan takut.
Drrtt
Ahahaha kau mencari ku?
"A ayah?". Ujarnya pelan dengan mata yang kembali fokus pada handphone yang ia lempar ke kasur tadi.
Drrt
Yes dear
Glup
"A aku sedang berusaha untuk mengambil map itu ayah, i itu sangat susah untuk di dapatkan t terlebih sekarang ada satu penghalang besar bagiku untuk masuk ke lantai empat". Ucapnya berusaha menjelaskan.
Drrt
Ah~sepertinya kau terlalu menikmati perhatian yang diberikan keluarga itu padamu. Ingat Syasa aku selalu mengawasi mu, apa menyingkirkan satu hama saja kau tidak bisa dasar ******
"A aku sedang berusaha ayah. Percayalah. padaku!". Serunya.
Drrrrttttttt
Aku mengawasimu
" Dengan siapa dia berbicara? apa dia sudah gila?" monolog seseorang yang berdiri didepan pintu kamar syasa.
.
.
.
.
.
.
.
.
THANK YOU❤❤❤