
Happy Reading
Di mansion utama Alexander sekarang tengah dilanda kericuhan karena Syasa yang sedang demam tinggi sehingga membuat Jessi istri Alexo kalang kabut.
"Astagah sayang. Kamu kemarin ngapain ajah sih! Kok bisa sampai demam?". Jessi dengan telaten mengompres kening Syasa yang terasa panas karena demam.
"Hiks mommy. Syasa mau sepatu yang kemarin". Syasa merengek meminta sepatu yang seharusnya di beli oleh Andrea kemarin.
"Iya sayang. Sepatunya bakalan datang kok sebentar lagi". Jessi menghapus air mata yang masih mengalir dipipi Syasa.
Hiks
'Huh nggak sia2 gue berdiri di depan kulkas seharian. Sudah kuduga, wanita bodoh ini pasti akan menuruti semua kemauanku'. Batin syasa
Ceklek
Pintu kamar syasa terbuka dan disanah terlihat seorang pria yeng berumur 40 thn tapi masih terlihat tampan.
"Ah honey kamu sudah pulang ternyata. Bagaimana pekerjaanmu?". Jessi berdiri menghampiri Alexo dan memeluknya sebentar.
"Hmm. Semuanya baik". Alexo mengecup kening sang istri yang sudah menemaninya selama bertahu-tahun dan memberikan keturunan padanya dengan sayang.
"Syasa demam?". Alexo melihat kearah tempat tidur Syasa dimana sang empu telah tertidur dengan kompres yang ada didahinya.
"Hah iya dia demam. Tapi sekarang sudah mendingan". Alexo menganggukkan kepalanya pelan dan langsung keluar dari kamar Syasa di ikuti Jessi yang tak lupa menutup pintu kamar syasa.
♡♡♡♡♡♡♡♡
Saat ini keluarga Alexo sedang makan siang bersama. Jika kalian bertanya dimana pasangan tua Alexander dan Mateo dan anak-anaknya.
Pasangan tuan Alexander sekarang tengah berada di belanda menikmati masa tua mereka dan untuk Mateo dia berada di Jepang membasmi para musuh dunia bawahnya. Yah Mateo adalah seorang mafia, sama dengan Axel berdeda dengan Alexo yang tidak ingin ikut campur dalam dunia bawah. Kalau anak-anak Mateo
kalian pasti tau kan, yah mereka sedang berada di mansion Axel. Di meja makan hanya terdengar dentingan sendok karena sudah dari dulu peraturan dalam makan harus diam tidak ada yang boleh berbicara
"Kami akan berkunjung ke mansion daddy". Suara Liam terdengar memecahkan keheningan di meja makan. Orang-orang disana langsung menghentikan acara mari makan sampai kenyang mereka.
"Mau ngapain bang?". Alicia putri pertama Alexo bertanya penasaran kepada abang pertamanya.
"Ada yang ingin kami lakukan". Kali ini bukan Liam yang menjawab tapi Andrea.
"Eh bang Andre juga ikut abang Liam? ala boleh ikut?". Syasa menatap berbinar pada kedua kakak laki-lakinya membuat Jessi mencubit pelan pipinya.
"Tidak". Liam menjawab syasa dengan nada datar dan dinginnya sehingga membuat Syasa tersentak dam matanya mulai berkaca-kaca.
"Hiks kenapa?". Syasa menangis sesegukkan dengan badan yang sedikit gemetarnya membuat Jessi langsung membekap tubuh yang lebih kecil darinya itu erat.
"Sayang biarkan Syasa ikut yah". Jessi mencoba membujuk Liam dan Andrea untuk membiarkan Syasa ikut dengan mereka.
"Tidak". Jessi menghela napas mendengar jawaban ketus dari putra keduanya. Dia hanya daat mengelus sayang rambut hitam panjang Syasa.
"Kenapa tiba-tiba?". Kali ini sang kepala keluarga yang bertanya kepada kedua putranya itu.
"Nanti papa akan tau sendiri". Jawaban singkat membuat sang kepala keluarga itu menjadi penasaran tapi tidak terlihat jelas. diwajahnya yang datar.
"Hmm". Alexo berdehem pelan dan melanjutkan makannya yang semula tertunda. Syasa juga sudah menghentikkan tangisannya saat Jessi bilang akan membawanya ke mall untuk berbelanja.
'Sial kenapa mereka mulai berubah. Syasa memakan makanannya dengan perasaan kesal. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum senang karena mamanya akan mengajak dirinya pergi ke mall.
Sementara itu di mansion Axel, mereka juga sedang makan siang bersama dengan ditambah dua orang yang tidak diundang.
Axel bahkan memotong dengan kasar Steak yang ada dipiringnya. Alasannya?, tentu saja karena putra kesayangannya kini sedang berada di pangkuan Javier dengan Alaric yang menyuapi dirinya.
Pemandangan itu tentu membuat keluarga Axel cemburu sampai tingkat tertinggi. ditambah cuka yang seakan-akan tak mau berhenti mengalir dimulut mereka.
"Mommy valo mau Sayul itu". varo menunjuk sayur tumis kangkung kesukaannya.
"Ah baiklah sayang. Ini". Keyla menyendok sayur itu dan menaruhnya dipiring Alaric. Alaric dan Alvaro berbagi makanan bersama.
"Makasih mommy". Alvaro tersenyum senang saat melihat Keyla telah menyendokkan sayur kesukaannya dan menaruhnya dipiringnya dan juga Alaric.
varo menatap berbinar kearah Alaric agar cepat-cepat menyuapi dirinya dengan sayur kesukannya itu yang tentu saja dituruti Alaric dengan senang hati.
Javier sesekali akan membersikan sudut bibir Alvaro yang sedikit berantakan dengan tisu.
"Pelan-pelan baby tidak ada yang akan mengambil makananmu". Axel dan semua orang disana tersenyum geli saat melihat varo makan dengan lahap.
Mereka bersyukur karena varo tidak memilih-milih makanan, sebaliknya dia malah sangat menyukai sayur terutama sayur Kangkung dan wortel.
"Hehehehe makanannya enak valo suka banget". Ia tersenyum menyengir lebar menjawab perkataan Axel.
"Ahahah baiklah tapi mengunyalah dengan perlahan". varo hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai mengunyah dengan perlahan.
☆(0*•w•)/
Setelah selesai makan, kini mereka semua tengah berada ditaman besar keluarga Axel dengan Alvaro yang terlihat antusias menagkap kupu-kupu yang berkeliaran disekitar bunga-bunga yang ditanam Keyla
"Baby jangan bermain terlalu jauh ok".
Devan sedikit berteriak agar Adik bungsunya itu dapat mendengarnya. Sementara varo dia masih sibuk menangkap kupu-kupu berwarna warni yang terbang diatas kepalanya.
varo melopat-lompat kecil berusaha meraih kupu-kupu tersebut, pipinya bahkan ikut bergoyang karena lompatannya membuat para pengawal yang berjaga disekitar taman itu gemas ingin mengigit pipi bak mocci itu.
"Tuan muda sangat menggemaskan". Pengawal yang bernama Budi itu bergumam pelan tapi masih didengar oleh temannya yang berada disampingnya.
"Kau benar. Tuan muda sangatlah menggemaskan bahkan wajahnya sangat indah". Ujarnya.
Budi menganggukkan kepalaya setuju dan mereka langsung kembali mengalihkan pandangan mereka kepada Alvaro.
varo duduk dengan membelakangi keluarga barunya. Kupu-kupu yang sedari tadi terbang diatas kepala Alvaro kini terbang mendekat dan hinggap di hidung bengir Alvaro
Badan Alvaro tersentak pelan saat kupu-kupu yang tadi ingin ditangkapnya sekarang sudah berada di hidungnya. Dia menatap berbinar akan hal itu membuat keluarganya langsung menuju kearahnya karena melihat badan varo yang kaku.
"Baby?". Davian memanggil Alvaro tapi tidak diberi respon oleh empu yang punya nama membuat mereka khawatir dan mempercepat langkah mereka.
Saat sampai di depan Alvaro, mereka diperlihatkan dengan pemandangan yang membuat mereka gemas. Pantas saja baby mereka tidak menjawab saat dipanggil ternyata dia sedang menjaga pergerakannya agar kupu-kupu yang hinggap dihidungnya tidak pergi.
"Gemas sekali". Gumam Kevin sambil memfoto pemandangan indah didepannya saat ini.
"Daddy lihat kupu-kupu~". varo tersenyum lebar sambil menunjuk kupu-kupu yang msih hinggap di hidung bengirnya.
Axel dan yang lainnya tersenyum melihat bagaimana varo tersenyum dengan lebarnya hanya karena seekor kupu-kupu.
'Gila saking indahnya wajah gue'. varo sanyam-senyum sendiri bangga karena keindahan wajahnya.
'Apakah aku salah memilih tuan?". Batin zero ngelangsa.
Kupu-kupu yang tadinya hinggap dengan tenang itu kini terbang menjauh merasa terganggu karena banyaknya orang.
"Ah. Kenapa pelgi". varo menatap sedih pada kupu-kupu yang sudah terbang jauh dari tempatnya.
"Hey baby". varo menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia melihat kearah Javier yang sedang berdiri dengan sebuah ice cream disalah satu tangannya.
Alvaro langsung berdiri dan berjalan dengan sedikit belari kearah Javier yang berdiri tidak jauh dari dirinya duduk tadi.
"Abang avi, valo mau itu. Mau itu abang~". varo bediri di depan Javier. Alvaro mengangkat tangannya tinggi2 dan berjinjit berusaha mengambil ice cream yang berada ditangan Javier
"Hm ambilah". Javier tersenyum tipis, dia dengan sengaja mengangkat tangannya sedikit lebih tinggi hanya sebatas kepalanya saja.
Tinggi badan Alvaro yang hanya 153 cm dan Javier yang tingginya 195 cm itu sangatlah berbeda. Ian bahkan hanya sebatas pinggang Javier saja.
Hampir semua anggota laki-laki keluarga Alexander memiliki tinggi 193 keatas. Bahkan para wanitanya memiliki tinggi 178 keatas, hanya Syasa yang memiliki tinggi 163 cm.
"Ihh abaang~". Alvaro merengek sambil mengentak-hentakkan kakinya kesal. Ia menatap tajam Javier dengan tajam berharap Javier sedikit terintimidasi pada tatapannya.
"...." Zero
Alvaro. Alvaro, tatapan tajam yang kau perlihatkan itu tidak ada seram-seramnya malah terlihat sangat menggemaskan.
"Usaha". varo menatap berkaca-kaca pada Javier karena tidak terpengaruh pada tatapan tajamnya..
'Anjil mentang-mentang lu tinggi jadi lo pellakuin gue kayak gini. Gue nggak telima yah anjing". varo mendekat kearah tangan Javier yang satunya dan langsung mengigitnya karena kesal yang terlampau besar.
'Asu. Tangannya nggak bisa kegigit'.
"Hiks Huwaaa... mau ice cream". varo menagis kencang sambil berjongkok menyembunyikan wajahnya. Ia menangis karena keinginannya untuk membuat Javier kesakitan gagal, malah sekarang giginya terasa sakit karena menggigit tangan penuh otot Javier.
"Astagah!! Baby jangan menangis ok. Baby ingin ice cream? ini abang berikan". Javier langsung mengangkat badan Alvaro kedalam gendongannya. Dia sekarang merasa bersalah karena telah membuat Adiknya ini menangis.
Ohh lihatlah tatapan menakutkan dari Axel, Keyla dan anak-anaknya itu. Tatapan mereka terasa seakan-akan ada laser yang keluar dari mata mereka untuk menghancurkan kepala Javier.
'Sial gue kok jadi cengeng gini hiks'.
"valo hiks mau tulun. Mau tulun, valo nggak mau sama abang avi". Alvaro memberontak dalam gendongan javier masih dengan sedikit sesegukkan, bahkan wajahnya kini memerah karena menangis.
Javier menurunkan varo dengan tidak rela. Jika tidak diturunkan maka Alvaro akan ngambek padanya dan tidak ingin berbicara apalagi bertatapan dengannya.
varo berjalan pelan menuju kearah Axel. Selang beberapa langkah dari Daddy nya itu dia langsung mengangkat kedua lengan kecilnya kode agar digendong.
Axel tentu saja dengan senang hati mengangkat tubuh kecil putra kesayangannya itu.
"Daddy valo mau susu~". valo mendusel-duselkan wajahnya pada dada bidang Axel membuat sang empu terkekeh akan kegemoyan putranya.
"Tunggu sebentar yah. Mommy tadi sedang membuatnya". Memang saat varo menangis tadi, Keyla langsung menuju kedapur untuk membuatkan varo susu. Sudah menjadi kebiasaan varo setelah beberapa hari tinggal disini, dia akan selalu meminta susu saat selesai
menangis. Benar-benar seperti bayi
Ting
"Tuan. Sepertinya kalian akan menerima tamu lagi. varo mengkerutkan alisnya bingung saat mendengar perkataan Zero.
'Ah?! Apakah itu babu baluku'. Batin varo
berbinar-binar senang.
Alvaro menempelkan wajahnya pada dada bidang Axel membuat pipi bulatnya tertekan sehingga membuat bibir varo sedikit mengrucut.
"Baby ini susunya". Keyla datang dan langsung memberikan sebotol susu coklat dan langsung diambil varo dan disedotnya cairan kesukaannya itu brutal.
Semua orang yang ada disana terkekeh pelan melihat Alvaro yang menghisap ****** buatan itu brutal hingga pipinya juga ikut bergoyang karena hisapan brutal Alvaro.
Alvaro bergerak pelan minta diturunkan dan untungnya Axel mengerti itu. Setelah diturunkan, varo langsung berjalan dengan sesekali berlari kecil menuju sebuah air mancur yang tidak jauh dari posisi mereka.
Alvaro terus berlari kecil menuju air mancur kecil yang ada disana membuat keluarganya khawatir badan kecil dan sedikit gempal itu akan terjatuh dan menggelinding bagaikan bola.
"Sayang jangan ber-"
Brukh
"Aduhh dahi valo sakit".
"Hai baby kita bertemu lagi". Hah? Siapa?
Thank