ALVARO EMILLIANO

ALVARO EMILLIANO
BAB 22



.


.


.


.


.


Hari ini Axel harus berangkat ke kantor meninggalkan Permatanya di mansion, begitupun dengan Keyla yang harus keluar mengunjungi sahabatnya yang sedang berada di rumah sakit akibat kecelakaan.


Jika kalian bertanya dimana anak-anak yang lain maka jawabannya mereka juga sedang keluar meninggalkan Alvaro di mansion besar itu sendirian.


Sedari tadi Axel tidak dapat berkonsentrasi dengan baik karena perasaannya tiba-tiba tidak enak. Seperti sesuatu yang buruk sedang terjadi tapi dia tidak tau apa.


"CK. Sialan". Umpatnya


Axel kembali mencoba fokus dalam mengerjakan berkas-berkas yang ada di mejanya tapi sepertinya usahanya itu tidak berhasil.


"Sial, ada apa sebenarnya! Kenapa aku gelisah seperti ini". Axel dengan kasar meletakkan bolpoin yang sedari tadi ia gunakan keatas meja.


"Haah. Apa yang dilakukan Babyku saat ini?". Monolog nya tiba-tiba.


Axel membuka leptopnya yang langsung terhubung dengan setiap Cctv yang berada di sudut ruangan yang ada di mansion.


Di sana, Axel melihat Alvaro sedang berbaring dikarpet tebal di depan TV dengan varo yang sibuk menyedot susunya dan pandangan yang terpaku pada serial Doraemon yang sedang tayang.


"Apa aku harus membelikan boneka Doraemon untuknya?".


Axel kembali melihat apa yang sedang dilakukan oleh putranya itu dalam diam, dia kembali terkekeh saat melihat varo sedang menggeliatkan tubuhnya mungkin karena dia kesal ditinggal sendirian disana.


Sebenarnya Keyla ingin membawa Alvaro bersamanya, tapi setelah dipikir kembali jika dia membawa Alvaro bersamanya mungkin saja akan ada hal buruk yang terjadi misalnya sajakan saat diperjalanan ada musuh yang mencegat mereka dan membawa Alvaro?, dan juga di Rumah sakit tempat sahabanya itu akan ada banyak orang dan besar kemungkinan ada mata-mata yang sedang mengawasi mereka.


Jadi, demi keselamatan Alvaro! Keyla dengan berat hati meninggalkannya sendiri di Mansion dengan harapan karena mansion utama pengawasannya sangat ketat dan juga lebih aman untuknya.


Kembali ke awal!


Axel melihat Alvaro sedang menunjukkan wajah melasnya itu kepada seorang pengawal yang berjaga di sudut ruangan seperti meminta persetujuan.


'Paman sebental saja~ bolehkan umh'. Bisa Axel lihat wajah pengawal itu memerah dan mengangguk setelahnya.


'jangan jauh-jauh tuan muda'.


Axel menggelengkan kepalanya pelan melihat


tingkah menggemaskan Alvaro yang selalu mampu membuatnya tersenyum itu.


Axel kembali Fokus pada pekerjaannya setelah melihat tingkah menggemaskan putranya. Dia akan mengerjakan kembali berkas-berkasnya dengan sesekali melihat Alvaro melalui Cctv.


Saat sedang fokus, Axel tidak sengaja melihat ada seseorang yang mengikuti Alvaro dari belakang.


Axel menghentikan pekerjaannya dan memfokuskan pandangannya pada seseorang yang mengikuti putranya itu.


Lama Axel memperhatikan siapakah orang yang mengikuti putranya itu hingga tiba-tiba saja Alvaro berhenti dan masuk kedalam ruang penyimpanan yang ada dilantai tiga.


"Apa lagi yang akan dilakukan oleh gadis itu" Gumamnya.


Hingga mata Axel terbelalak kaget saat gadis itu mengunci Alvaro dalam ruangan dan tertawa setelahnya.


Axel menggeram marah dan langsung berlari meninggalkan kantor dengan tergesa-gesa. Sekarang dia tau mengapa sedari tadi perasaanya tidak tenang. Ternyata dia meninggalkan permatanya bersama seorang gadis ular.


Tuan? anda ingin kemana?! Tuan!!". Rora sang Asisten berteriak memanggil Axel tapi tidak dihiraukan oleh Axel. Yang ada dipikirannya saat ini adalah Alvaro, putra bungsunya.


Bruuum


PIP


"Pulanglah sekarang juga! Sekarang!!".


"Dad? Ada apa?"


"Ada apa mas?"


"Cek Cctv sekarang!!!".


BIP


Axel mematikan panggilan secara sepihak tapi dia yakin jika Keyla dan juga anak-anaknya yang lain telah melihat apa yang dia katakan tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Uhuk uhuk hiks, buka uhuk Bu buka, valo takut hiks mommy".


Alvaro berujar sambil menepuk-nepuk dengan pelan karena tenanganya telah habis.


"Ayah, buka uhuk Kenzie salah hiks ken akan jadi anak yang pintar seperti Kakak huks Ibu buka". Kenzie namanya saat sebelum ia meninggal dan masuk kedalam tubuh ini.


"Ayah, ampun hiks ini sakit Ayah, Kakak jahat hiks jahat kalian semua jahat". Alvaro mulai meracau tidak jelas dalam gelapnya ruangan itu.


Plak!!


'Dasar tidak berguna! Harusnya kau mendapatkan nilai tinggi! Kau membuatku malu saja dasar anak sialan! Lihatlah kakakmu itu! Dia menjadi juara dikelasnya sementara kau! Dasar tidak berguna!


Bugh


Akh


Bugh bugh bugh


'Ayah hiks ampun sakit hiks ayah sakit'


"Seharusnya kau mati saja dasar tidak berguna! Aku malu mempunyai anak seperti dirimu!".


Akh


"Hiks Ayah udah sakit uhuk uhuk". Alvaro menarik rambutnya erat saat kilasan-kilasan tentang kehidupan sebelumnya muncul di kepalanya.


"Augh hiks Sudah hiks s sakit uhuk uhuk. Ugh dalah hiks dalah ugh". varo menghapus darah yang mengalir dari hidungnya dengan menggunakan tangannya tapi sayang darah itu terus mengalir.


"Ugh tidak bisa berhenti hiks kenapa tidak belhenti uhuk".


'hahahaha dasar berguna!".


Matanya menatap ibunya yang sedang menatapnya jijik dan itu adalah hal yang biasa dia dapatkan.


'cih aku menyesal sudah melahirkan anak tidak berguna sepertimu.


Deg


Perkataan ibunya itu mampu membuat hatinya hancur berkeping-keping, tidak ada lagi Isakan yang keluar dari bibir mungilnya yang ada hanyalah pandangan kosong dan juga lelehan air mata yang terus mengalir dari mata hitamnya.


Badannya yang tidak dia hiraukan lagi hingga sebuah pukulan keras menghantam kepalanya dengan keras dan mampu membuat kesadarannya hilang saat itu juga.


Bugh!


"Mati saja sialan!".


Tu..


Tuan..


Tuan rumah..


"TUAN RUMAH!!"


Tubuh Alvaro terlonjak saat mendengar teriakan yang berada di sekitar ruangan yang gelap itu.


"Si siapa?" Tanyanya dengan Suara yang lirih.


'Saya Zero tuan rumah'.


"Z zelo? Apa itu benal? Zelo kau kembali?". Alvaro dapat melihat samar-samar sebuah hologram muncul dihadapannya dan menampilkan seorang remaja yang tersenyum padanya.


'Yah ini saya tuan rumah, saya kembali'. Ujarnya.


"Hiks bagaimana bisa?".


'Itu tidak penting sekarang, anda harus menyimpan kesadaran anda karena keluarga anda akan datang dalam beberapa menit.


tapi-


'Akan saya ceritakan nanti'. Alvaro menganggukkan kepalanya lemah sebagai respon untuk Zero karena entah kenapa sekarang kesadarannya sudah mulai menipis.


"Alvaro!!! Baby apa kau mendengarkan". Suara teriakan yang berasal dari luar mampu mengembalikan kesadaran Alvaro walau sedikit. Ia tau siapa pemilik suara itu. Itu suara milik Daddy-nya.


"Hiks Da daddyh". Ujarnya lirih


"Sayang bisa bergeser ke samping? Mommy dan Daddy akan berusaha mendobrak pintu ini okey". Kali ini suara Keyla yang terdengar. Dengan tenaga yang tidak seberapa, Alvaro menggeser tubuhnya dari pintu itu.


Tuk tuk tuk


varo mengetuk-ngetuk pintu itu sebagai tanda jika ia sudah berpindah posisi dari pintu. kedalam ruangan itu.


BRAKK


Dalam sekali dobrakan dari Axel, pintu itu akhirnya terbuka dan cahaya mulai masuk kedalam ruangan itu.


"BABY!!!". Seru mereka kaget saat melihat keadaan Alvaro saat ini.


Pakaian yang sudah dipenuhi darah yang masih mengalir dari hidung bengirnya, wajah bulatnya yang memucat, jari-jarinya yang tergores dan juga Ini salahnya karena sudah meninggalkan Alvaro di rumah sendirian.


"M mommy, Daddyh". Suara Lirih Alvaro mampu membuat hati mereka yang mendengarnya berdenyut sakit.


"hiks maafkan mommy sudah meninggalkan mu sendirian di rumah". Keyla menggendong Alvaro dan berjalan keluar dari ruangan itu untuk menuju ke rumah sakit diikuti Axel yang memasang wajah marahnya dengan rahang yang mengeras.


"valo ngantuk". Ujarnya dan langsung tertidur dalam pelukan hangat Keyla.


"Cepatlah Axel! Babyku hiks Babyku". Keyla bergumam pelan sambil berusaha menghentikan mimisan Alvaro menggunakan sapu tangannya walaupun ia tau kalau usahanya itu sia-sia.


"Mom! Dad! Bab-


"Menyingkir". Axel memotong ucapan putra keduanya itu dan langsung bergerak cepat masuk kedalam mobil diikuti Keyla dengan Alvaro dalam dekapannya.


"Sial! Kita terlambat". Davian bergerak cepat mengikuti mobil Ayahnya diikuti oleh Kevin yang menggunakan motor meninggalkan Devan.


Dalam otaknya dia berjanji akan memberikan hukuman yang setimpal tidak bukan! Dia akan membuat gadis itu hancur nantinya kita lihat saja,karena Devan bukanlah orang yang mudah memaafkan.


.


♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤


.


Sementara itu di sebuah kafe terlihat seorang gadis yang sedang bersantai dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya setelah ia meninggalkan mansion siang ini.


"Ahahahaha aku yakin pasti anak itu sedang ketakutan sekarang hahahaha". Syasa tertawa puas saat memikirkan keadaan Alvaro yang masih terkunci dalam ruangan yang gelap itu.


"Hah aku ingin melihat wajah. menderitanya". Ujarnya sambil meminum jus Strawberry nya.


Gadis itu sepertinya tidak tau apa yang akan dia dapatkan saat pulang nantinya. Dia terlalu senang hingga melupakan bahwa dia kan mendapatkan ganjaran dari tindakannya karena sudah membuat permata keluarga Axel terluka.


Gadis itu terus tersenyum menghiraukan seorang pria misterius yang dari tadi mengikutinya.


"Ah sepertinya gadis ini cocok. Hahaha tunggulah kehancuran kalian".


.


.


.


.


.


.


.


.


THANK YOU❤