
"Ternyata kamu masih ingat rumah Devan Xavier Alexander". Suara tegas Keyla terdengar menyindir anak sulungnya itu.
"Hmm". Devan hanya bergumam mendengar sindiran ibunya. Pandangannya masih menatap tekat wajah varo yang menatapnya dengan mata
biru bulat besarnya. **** menggemaskan batinnya.
"Abang itu siapa?". Alvaro bertanya dengan suara pelan pada Davian, tapi semua yang ada disana dapat mendengarnya.
"Di-". "Devan Xavier Alexander abang pertamamu". Belum sempat Davian menjawab pertanyaan varo, Devan langsung memotongnya.
"Abang dev?". varo memandang Devan dengan mata besarnya. Matanya-berkedip-kedip pelan menambah kesan menggemaskan pada dirinya.
"Ya". Devan tersenyum tipis setipis kulit ari buah salak hingga tidak ada yang menyadarinya.
Setelah waktu sarapan selesai, devan langsung mengambil (merebut) tubuh Alvaro dari Davian membuat davian mendengus tak terima.
Devan sekarang berada di ruang tamu dengan varo yang didudukkan dipangkuannya menghadap kearahnya.
"Abang nggak cape?". varo menatap mata coklat tajam itu dengan eskpresi polos. Dia harus membuat devan menjadi salah satu babunya ingat.
Devan menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan alvaro. Dia sebenarnya capek tapi saat melihat makhluk menggemaskan yang ternyata lebih indah dari yang di foto itu membuat
rasa lelahnya langsung lenyap.
"Umurmu?".
varo memiringkan kepalanya tidak mengerti dengan apa yang daniel katakan.
'Maksudnya umur anda berapa tuan rumah'. Zero menjelaskan maksud dari perkataan Devan saat melihat wajah bingung tuan rumahnya.
'Owalah gitu toh...peltanyaannya singkat banget sih nggak ngelti kan aku.
Eh btw berapa umulku saat ini?".
Lah luh nggak tau umur sendiri coy... wah parah yah lu
'Usia tubuh yang anda tempati saat ini adalah 14 tahun'. varo hanya menjawab o dalam benaknya
"Umul valo itu 14 tahun he he he". varo tersenyum imut menjawab pertanyaan singkat Devan.
"Cadel?". varo mengerucutkan bibirnya saat orang-orang menyinggung tentang kecadelannya, namun tak ayal ia mengangguk pelan.
Devan yang melihat varo mengerucutkan bibir kecilnya langsung menyambar bibir kecil itu menciumnya beberapa detik hanya menempel.
varo membelalakkan matanya saat Devan mencium bibir seksinya selama beberapa detik.
'Kayaknya kelualga ini suka banget cium bibil seksoy gue'. Batin varo ngelangsa.
Ding
'Misi kedua telah diterima!!. Menampilkan misi'. Zero tiba-tiba muncul dan memberikan pemberitahuan bahwa misi selanjutnya telah diterima.
Ding
...MISI KEDUA...
...PERGI KE MALL KELUARGA ALEXANDER DAN BERTEMU DENGAN ANDREA ALEXANDER PUTRA KEDUA ALEXO ADIK DARI AXEL ALEXANDER DAN MENARIK PERHATIANNYA....
...Hadiah...
...-point sebesar 200...
...-sebuah vila mewah di daerah xx Hukuman...
...-mimisan selama beberapa hari...
...Yes/no...
'Ke mall yah. Kebetulan banget Kevin bakalan ngajak gue ke mall sesuai janjinya kemalin. Gue telima misinya'. Batin varo
"Baby?". varo tersadar saat mendengar suara datar Devan. Dia mengangkat kepalanya dan melihat tepat pada mata varo dengan mata yang berkedip menggemaskan.
****
Devan menggigit pipi dalamnya saat melihat varo menatap polos padanya, sungguh adik barunya sangat menggemaskan.
"Abang tulunin valo. valo mau ke kamal abang Kevin, kemalin abang Kevin udah janji ngajak valo pelgi ke mall". Alvaro merengek minta diturunka dari pangkuan Kevin. Dia harus segera melakukan misinya, bagaimanapun hadiahnya tidak main-main. Mansion mewah ni boss senggol dong
Devan tidak menurunkan varo dari pangkuannya, tapi dia malah menggendongnya dan berjalan menuju Lift menuju kamar adik ketiganya.
Sesampainya dia di pintu kamar adiknya, dia langsung menendang pintu itu kera membangunkan Kevin yang sedang tertidur. Alvaro bahkan berjengit kaget saat Devan menendang pintu dengan sangat keras, bahkan pintu itu terlepas dari Engselnya.
"Apa-apaan sih lo bang?!". Kevin berteriak marah saat melihat pintu kamarnya yang terlepas.
Hiks
Eh? Anjir siapa yang nangis coy:)
Devan dan Kevin langsung mengalihkan pandangannya pada alvaro yang berada digendongan devan.
Mata mereka melebar saat melihat mata indah itu berkaca-kaca dengan bibir yang bergetar kecil menahan tangis.
Alvaro menangis karena kaget dengan tindakan Devan yang menendang pintu dan Kevin yang berteriak marah. Itu mengingatkannya pada apa yang biasanya dilakukan kedua orang tuanya dulu dikehidupan pertamanya.
Hiks hiks
"Eh eh baby kenapa menangis". Kevin gelagapan sekarang saat melihat air mata Varo mengalir deras mengenangi pipi bulatnya.
Devan menepuk-nepuk pelan punggung kecil varo yang saat ini menyembunyikan wajah menangisnya didada bidang devan
"Dia ke sini untuk menagih janjimu. katanya kau mau mengajaknya ke mall". Waw ini adalah pertama kalinya devan berbicara panjang dan itu membuat Kevin membuat wajah bodoh karena melihat kakak pertamanya sedang berbicara panjang.
Ah benar! Kevin baru mengingatnya sekarang. Dia sudah berjanji untuk membawa varo bermain ke mall saat kejadian kemarin varo merengek main diluar padahal sudah malam itu.
"Aduhh maaf baby abang lupa". Kevin meminta maaf sambil menampilkan bergumam pelan tapi masih dapat di dengar oleh Devan dan Kevin.
luar padahal sudah malam itu. wajah melasnya kepada varo yang masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Devan. varo mengangguk pelan dan dengan perlahan menjauhkan wajahnya dari dada bidang itu, langsung menatap ke arah Kevin dengan pipi gembul yang memerah, hidung mancung tapi mungil yang memerah diujungnya dan bibir plum yang dipout kan.
"valo mau ke mall mau main". varo
"Ah baiklah abang akan siap-siap dulu ok. Baby juga siap-siap". varo menganggukkan kepalanya cepat sehingga membuat rambut nya ikut bergoyang.
Disinih lah mereka sekarang, di salah satu mall keluarga Alexander. Saat ini Alvaro, Kevin, devan dan davian berada di salah satu toko pakaian. Mereka sedang membelikan pakaian untuk baby varo.
Saat ditanya kenapa mereka ikut, mereka hanya berdehem pelan sebagai jawaban pertanyaan Kevin. varo bahkan sampai bingung dengan keadaan saat ini dimana mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di mall.
eh tunggu bukannya ini kesempatan bagus untukku pelgi dan mencali kebeladaan si andlea itu'. Batin varo
varo berjalan dengan mengendap-endap untuk kabur. Kebetuan suasa mall sangat ramai karena kedatangan mereka jadi dia bisa kabur dengan mudah.
"Zelo dimana si andlea itu sekalang?". '
Andrea saat ini berjarak dua meter dari tempat kita saat ini tuan rumah'
varo berjalan riang saat mengetahui jarak antara ia dan target misinya tidak terlalu jauh. varo terus berjalan dan sesekali melompat kecil karna senang dan tidak menyadari semua orang yang ada disana menatap lapar sosoknya yang indah.
"Tuan anda harus hati-hati karena sekarang semua orang mentap anda dengan tatapan lapar'. Zero memperingati Alvaro agar berhati-hati melihat tatapan lapar yang dilayangkan orang-orang yang ada di sana begitu intens.
Alvaro acuh saja saat mendengar perkataan zero. Selagi mereka tidak mendekat itu tidak masalah, lagian jika mereka berani maka akan kuhancurkan aset berharga mereka.
'Tuan anda sangat kejam'.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya varo berhenti juga. Tidak jauh dari tempatnya berdiri terlkhat seorang pemuda tampan yang sedang berdiri sambil melihat-lihat handphone.
'Zelo apa itu talgetku'
'benar tuan rumah, dia adalah andrea Alexander putra kedua Alexo Alexander'.
Alvaro tersenyum tipis ah tidak lebih tepatnya menyeringai. Target ditemukan batinya tersenyum senang.
'Baiklah saatnya untuk barakting'. varo mendekati Andrea yang masih berdiri sambil memainkan hp nya pelan. Setelah berdiri tepat di depannya, dia menarik-narik kecil pakaian yang dikenakan Andrea.
"Abang abang". varo memanggil Andrea dengan suara pelan. Andrea yang merasakan tarikan di bajunya langsung menengok kebawah.
Deg
Andrea pov.
Saat ini gue lagi di mall buat beli sepatu untuk adik kecil gue. Sebenarnya sepatunya udah banyak tapi karena ada sepatu keluaran terbaru dia merengek untuk dibelikan. Adik ku yang itu sangat manja dan boros tapi tidak apa-apa uang keluargaku tidak akan habis hanya untuk permintaan kecilnya.
Ck. Siapa yang berani-beraninya menarik pakaian ku
"Abang, abang" hmm suaranya sangat lembut.
Deg
Astagah?. Apa benar anak yang ada di depanku ini adalah manusia? Bukan boneka?. Bagaimana bisa ada makhluk seindah ini didunia?.
Mata bulat besar berwarna biru laut, hidung hidung mancung tapi mungil, pipi bulat yang akan tumpah kapan saja jika empunya bergerak, dan bibir tipis semerah buah cery. Astagah aku baru pertama kali melihat makhluk seindah dirinya. Adik bungsuku Syasa bahkan tidak apa-apanya dari anak yang saat ini ada di hadapanku.
"Hmm ada apa?". Aku berjongkok menyamakan tinggi badan kami. Ugh dia sangat pendek dan menggemaskan. Melihat bagaimana makhluk
menggemaskan ini menatapku dengan binar polos itu membuatku ingin memakannya.
Ente kanibal bang?
Andrea pov end
"Apa kau datang sendirian?". Andrea bertanya sambil mengelus pipi chaby itu. 'Lembut, sangat lembut' batinnya.
"valo nggak dateng sendili. valo tadi sama bang dev, bang ian, dan bang keke".
Andrea menatap lekat pada varo
"Kalau begitu dimana mereka sekarang?".
"Eum valo telpisah dali meleka, tadi tadi kan kami lagi di toko pakaian telus telus valo liat boneka besal kelinci, telus valo ngikutin kelincinya eh valo malah kesasal". valo menjawab dengan antusias saat menyebut boneka kelinci dan mencicit di
akhir kalimatnya.
"Jadi kau tersesat?". Andrea bertanya memastikan.
"Iya".
'Ah bukankah itu bagus. Aku bisa membawa makhluk menggemaskan ini dan mengurungnya untuk diriku sendiri. Benar kau sangat cerdik Andrea'. Andrea bersmirk ria atas pemikirannya.
"Apa kau mau ikut denganku?". Alvaro memiringkan kepalanya saat mendengar pertanyaan Andre.
'Wah gila dia belniat menculikku'. Batinnya ngeri.
Ding
'Misi telah selesai. Hadiah telah diterima. Sebuah mansion mewah di daerah xxx telah didapatkan'. Suara zero terdengar nyaring dalam pikiran adrian. Tanda bahwa misi telah selesai.
'Aseeekkkk'. Batin varo girang
"Jadi apa kamu mau ikut abang?". Alvaro tersadar dari pikirannya saat mendengar suara Andrea.
"Iy-
"Baby!!". Belum sempat varo menjawab, suara sseseorang yang dikenali Andrea sebagai Devan terdengar.
Andrea membalikan badannya dan melihat Devan yang berjalan cepat menuju ke arahnya.
'Waw. Sepeltinya hal yang seru akan segera teljadi. Benarkan Zelo'. Batin varo bersmirk.
'Benar tuan rumah'.
"Abang dev". Alvaro berlari pelan menuju devan. Setelah sampai dia melemparkan badan gempalnya kedalam pelukan devan.
"Astagah baby kamu kemana saja?". Devan bertanya dengan khawatir sambil membolak balikan badan alvaro memeriksa apakah ada yang lecet atau tidak setelahnya kembali memeluknya.
"Abang maaf. Tadi valo liat boneka kelinci. besal jadi valo ngikutin eh malah kesasal". Alvaro memilin ujung pakaian yang dia kenakan tanda dia menyesal.
"Hah. Lain kali jangan seperti ini lagi ok". Devan mengusap rambut varo lembut dan mencium kening sempit itu lama.
Mereka sepertinya melupakan seseorang yang dari tadi memperhatikan dengan intens interaksi mereka. Orang itu adalah Andrea yang dari tadi melihat mereka berpelukan.
Ada rasa iri di hati Andrea saat melihat intraksi antara Devan dan Alvaro.
"Bang Dev". Suara andrea membuat acara lanjut berpelukan Devan dan varo terhenti. Mereka langsung menengok kearah Andrea yang memandang mereka ralat Devan datar.
"Andrea?".
by....by...