
.
.
...H...
...A...
...P...
...P...
...y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🐻❤❤...
Alis tebal nan rapih itu terlihat mengkerut, hidung bengirnya kembang kempis lantaran kesal, mata bulatnya melotot garang walau tidak terlihat menyeramkan, pipi bulatnya yang terhias rona merah itu menggembung kesal belum lagi bibir kecilnya yang mengerucut.
Orang-orang yang ada dalam ruangan menatap makhluk mungil itu dengan sedikit terkekeh membuat makhluk yang mereka lihat lebih menekuk wajahnya.
"valo mau pulang! Ndak suka di sini". Ujarnya dengan kesal.
"No baby, kamu masih demam". varo semakin menekuk wajahnya mendengar balasan dari Axel.
Memang demam Alvaro sudah turun dari semalam tapi dia belum lah sembuh sepenuhnya, demamnya bahkan masih terasa. Tapi yah, yang namanya anak kecil pasti tak suka sama yang namanya rumah sakit kan?.
"Ugh~ kalau begitu lepas ini daddy~". Ujarnya sambil mengarahkan punggung tangannya yang tertancap jarum infus.
"No". Seru mereka kompak.
"Yaudah valo ngambek sama kalian". Alvaro memalingkan wajahnya enggan melihat seluruh anggota keluarga nya.
Yah kalian tidak salah baca. Semua anggota keluarganya ada didalam ruang rawat Alvaro. Kecuali Jesi dan Syasa tentu saja.
"Loh ngambek kok bilang-bilang?". Kevin tersenyum jahil saat melihat wajah Alvaro yang tertekuk.
"Ish telselah varo dong!". Balasnya garang.
"Kevin". Lily memperingati Kevin yang akan kembali menjahili Alvaro.
Tidak sadarkah dia jika wajah Alvaro kini memerah dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca menahan tangis?.
"Kemusuhan sama Abang pokoknya wlee~". Kevin terkekeh kembali saat melihat Varo yang menjulurkan lidah pendeknya mengejek.
"Aduhhh gemes banget sih adek gue!!". Seru Alicia setelah melihat drama varo dan juga Kevin. Dia sebenarnya merasa gemas dari tadi karena melihat berbagai ekspresi yang dikeluarkan adiknya itu.
Rasanya dia ingin mengawetkan Alvaro dan menyimpannya di lemari koleksinya hingga hanya ia yang dapat melihat kelucuan adiknya.
'sikopet anying-Autor
"Opa pulang". Rengek Alvaro sekali lagi, kali ini pada John yang duduk sebelahnya.
Yap John dan Lily sudah kembali saat mendengar kabar bahwa cucu kesayangan mereka kembali masuk ke rumah sakit.
Bukan hanya Lily dan John, tapi Liam, Javier, Andrea, Alaric, Davian, Alicia, Alexo, Mateo, Keyla, Axel dan juga Kevin semuanya ada disana menemani Alvaro.
Untung kamar yang di tempati Alvaro itu luas dan besar jadi dapat menampung mereka semuanya.
"Opa". Rengeknya sekali lagi karena tidak mendapatkan respon dari John.
"Hmm baby mau pulang? Memangnya baby sudah sembuh total?". varo mengangguk ragu menjawab pertanyaan John.
John dan yang lainnya menggelengkan kepala saat melihat kelakuan Alvaro yang saat ini tengah memeluk lengan kekar John, jangan lupakan bibirnya yang mengerucut kecil.
"Tapi valo ndak betah di sini~". varo menatap semua anggota keluarganya pandangan semelas membuat mereka yang melihat harus menahan diri mati-matian agar tidak menerkam bayi besar mereka itu.
John mengecup punggung tangan Alvaro yang tertancap infus itu dengan sayang, tak tega sebenarnya melihat tangan kecil nan halus itu harus terlihat bengkak dan memerah karena infus. Tapi yah, Mau bagaimana lagi? Ini demi kesembuhan Alvaro.
Alicia, gadis itu sedari tadi tak berhenti tersenyum dengan memegang handphonenya memvideo semua kelakuan Alvaro yang sedang di kelilingi para pria tampan.
'mhehehehe Harem dikehidupan nyata. Batinnya dengan tersenyum lebar.
"Ngapa Lo?". Alicia menatap kearah kakak keduanya itu dengan kesal karena mengganggu khayalannya.
"Ape sih! Ganggu bener lu". Serunya dengan kesal sementara Andrea mengangkat tak perduli.
Dia sudah sangat hafal dengan kelakuan adik perempuannya satu ini. Alicia diam-diam menghanyutkan seperti air. Jadi dia memilih diam dari pada berurusan dengan khayalan adik tak berakhlaknya itu.
"valo kapan bisa sekolah lagi?". Ah benar juga! varo sudah lama sekali tidak masuk sekolah setelah kejadian ia yang di dorong oleh Syasa. 'padahal baru masuk satu hari'. Batinnya.
"Setelah baby sudah sembuh". Ucap Mateo yang mendapatkan tatapan protes dari seluruh keluarganya.
"Apa?". Tanyanya dengan wajah datar.
Hah~
Axel menghela nafas berat sebelum mengangguk mengiyakan membuat Alvaro hampir meloncat karena kesenangan saja tidak ditahan oleh John.
"Hati-hati baby".
"Hehehe iya"
"Bagaimana?".?
"Sudah berjalan 40% dari rencana awal tuan".
"Hmmm bagus, anak itu sudah melakukan tugasnya dengan baik. Tak sia-sia aku memasukkan anak tidak tau diri itu di panti asuhan. Hah~ Axel, kau sungguh bodoh".
.
(0¬\_¬0)
"Syasa sayang?". Jesi sedari tadi mencoba masuk kedalam kamar putri bungsunya itu, namun Syasa tak kunjung membuka pintunya.
Jesi tau bagaimana perasaan Syasa sekarang. Anak itu pasti merasa sakit hati saat tiba-tiba saja ada orang asing yang masuk ke dalam keluarga mereka dan merebut perhatian yang seharusnya diberikan untuk dirinya.
"Sayang, buka pintunya yah". Lagi, tidak ada sahutan berarti dari dalam kamar itu membuat Jesi menghela napas sabar.
Sementara itu didalam kamar, Syasa sedang terduduk dikasur queen size berpikir.
Dia sedari tadi tak berhenti menggigit kuku-kuku jarinya dengan kasar memikirkan rencana apa yang harus dia lakukan untuk selanjutnya.
'Sial ini tidak bisa dibiarkan! Jika seperti maka pria tua itu pasti akan membunuhku'. Batinnya
"Khk. Tidak ada cara lain! Aku harus meminta seseorang untuk melenyapkan anak itu. Dia adalah halangan terbesar untukku, sial! Aku tidak ingin semua yang aku dapatkan saat ini berakhir sekarang!". Ujarnya sangat marah.
"Sayang? Kamu masih di sana?, Ayo kita jalan-jalan agar pikiranmu lebih rileks", Suara Jesi yang berasal dari luar berhasil menyadarkan Syasa.
Dia buru-buru langsung mengubah mimik sebaik mungkin agar meyakinkan Jesi bahwa dia sedang dalam suasan hati yang suram karena perilaku anggota keluarganya.
Ceklek
"Mami". Ujarny dengan nada suara yang sedikit bergetar.
"Sayang". Jesi langsung membawa Syasa dalam pelukan hangatnya kala melihat wajah sedih putrinya itu.
Sungguh dia tidak menyangka dengan perlakuan keluarganya untuk Syasa yang bahkan dengan tidak sengaja mengurung Alvaro.
Menurutnya hal yang dilakukan Syasa itu adalah hal yang wajar. Siapa sih yang mau saat diambi atau direbut oleh orang lain. Terlebih orang itu hanyalah orang asing yang tak jelas asal-usulnya.
"Mami maafkan Syasa karena sudah mendiami mami. Padahal mami tidak salah".
Jesi semakin memeluk Syasa saat mendengar penuturan Syasa. Sungguh hatinya terasa sakit saat mendengar suara dengan nada lirih seperti ini.
"Tidak apa-apa sayang!. Sebagai gantinya Syasa harus menemani mami untuk jalan-jalan! Sekalian untuk merilekskan pikiran kita, bagaimana?".
Syasa mengangguk mantap atas tawaran Jesi membuat wanita itu tersenyum senang.
"**Kalian tidak akan kemana-mana**".
Jesi dan Syasa terkejut saat mendengar suara seseorang dengan nada yang amat datar dan menusuk memasuki Indra pendengaran mereka.
Mereka berbalik dan mendapati Axel beserta anggota keluarga yang lain tengah berada di belakang mereka. Bahkan Lily dan juga John juga ikut hadir.
"Kak? Kalian sudah pulang?. Mom apa kabar?". Jesi hendak menyalami Lily namun terhenti saat mendapatkan tatapan datar dari mertuanya itu.
"Apa mami menjadi buta?". Desis Alaric
"Kalian tidak akan kemana-mana. Karena gadis itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal karena sudah menyakiti putraku". Ujar Axel dengan wajah yang terlihat menggelap.
Tubuh Syaa bergetar hebat saat merasakan tatapan menusuk dari seluruh anggota keluarganya. Bahkan kakinya sekarang terasa seperti jelli sangat lemas.
"Hukuman? Atas dasar apa kak?!". Seru Jesi marah.
Axel tidak mengindahkan ucapan Jesi. Dia dengan kasar menarik rambut Syasa dan langsung menyeretnya menuju ruang bawah tanah.
"Akh. Ampun Daddy hiks akh sakit, lepaskan hiks sakit hiks". Jerit Syasa kesakitan saat merasakan rambutnya ditarik dengan kuat oleh Axel.
"KAK?!!! APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN! LEPASKAN PUTRIKU!!". Jesi mencoba mengejar langkah Axel yang sedang menyeret Syasa.
Teriakan membuat Alvaro yang berada dalam gendongan Javier menggeliat pelan karena terganggu.
"Sssh tidurlah lagi". Javier mengelus punggung sempit itu dengan teratur dan menimang tubuh itu seperti bayi.
Javier berlalu dari sana meninggalkan anggota keluarganya yang lain. Dia akan menaruh Alvaro dikamarnya untuk tidur bersama.
Alaric, Liam dan Andrea yang melihat Javier pergi pun ikut menyusul. Mereka juga ingin tidur dengan baby varo.
John menggelengkan kepalany melihat kelakuan cucu-cucu datarnya itu. Namun, jika diteliti lebih dekat terselip sebuah tipis dibibirnya.
"Alicia". Panggil Lily pada cucu perempuannya itu.
"Ya Oma". Jawab cia pelan dengan pandangan mata yang masih terfokus pada tempat terakhir dimana Axel menyeret Syasa.
"Apa kamu tidak apa-apa?". Tanyanya dengan menatap Alicia dalam.
Alicia terdiam sebentar. Dia tau apa yang dimaksud dari pertanyaan lily untuknya.
Lily menatap lekat pada Alicia menunggu jawaban dari cucu itu.
"Aku, sudah terbiasa". Jawab Alicia dengan datar, pancaran matanya juga menyorot tajam menatap manik kelam sang nenek.
"Hmm". Dehem lily. Dia menatap lekat kepergian cucu perempuannya itu, satu hal yang ia tau jika hati itu sudah benar-benar tertutup untuk mendapatkan perhatian ibunya.
Mari tinggalkan mereka sejenak. Sekarang kita beralih pada Syasa yang sedang di beri pelajaran oleh Axel.
"Hiks ampun Daddy ampun hiks Syasa tidak akan mengulanginya lagi hiks Syasa janji". Syasa sedari tadi tak berhenti memohon meminta ampun pada Axel yang menatap datar dirinya.
Ctak ctak ctak
Suara cambukan serta bunyi tubrukan antar tali dengan kulit terdengar nyaring disana.
Yao benar! Axel menyuruh bawahannya untuk mencambuk Syasa sebanyak lima puluh kali tanpa jeda sekalipun.
"KAKAK!! AKU MOHON MAAFKAN SYASA SEKALI INI SAJA KAK!! AKU MOHON MAAFKAN PUTRIKU". Suara teriakan Jesi tak dihiraukan oleh Axel.
Dia malah menikmati pemandangan dimana Syasa yang merintih kesakitan saat cambukan mengenai punggungnya.
"Hiks sakit hiks sakit! AMPUN DADDY hiks Ampun!!", Teriaknya!
"Seharusnya kau bersyukur hukumanmu masilah hukuman kecil. Jika kau masih berani mengusik permataku maka saat itu juga kau akan mati".
Tubuh Syasa bergetar hebat saat merasakan aura membunuh Axel yang sangat kental, belum lagi rasa sakit yang ia dapatkan dari cambukan itu membuat ia tak mampu mampu mempertahankan kesadarannya.
Syasa pingsan tepat pada cambukan ke 30. Axel menatap datar tubuh Syasa dan meminta bawahannya untuk terus mencambuk anak itu sampai mencapai angka yang sudah ia tentukan sementara ia memilih keluar dari sana.
"KA-"
ceklek
Ucapan Jesi terhenti saat pintu ruangan terbuka dan menampilkan Axel yang memandang datar dirinya.
"Menyingkir". Jesi segera menyingkir dari hadapan Axel saat melihat aura yang tak
mengenakkan darinya.
Ia memilih untuk langsung masuk kedalam mencari putrinya. Dan betapa kagetnya ia saat melihat tubuh putrinya yang sudah tak sadarkan diri namun masih saja dicambuk dengan tidak
berperasaan.
"HENTIKAN!! HENTIKAN SEKARANG JUGA HIKS APA YANG KAU LAKUKAN! KUBILANG BERHENTI SEKARANG". Teriaknya sambil berusaha menghentikan tindakan dari orang yang mencambuk putrinya sedikit terkena cambukan itu.
Pria yang bertugas mencambuk Syasa itu akhirnya berhenti saat cambukan ya telah mencapai angka yang Axel perintahkan.
Dia dengan santainya langsung melempar cambukan yang ia gunakan dan berlenggang pergi dari sana.
"Hiks tidak Syasa, sayang? Bangun hmm maafkan mami karena tidak bisa berbuat apa-apa mami janji mami akan melakukan semuanya untukmu". Ucapnya sambil memeluk erat tubuh Syasa yang tak sadarkan diri.
Dia menatap nanar tangannya yang terkena sedikit darah yang berasal dari punggung Syasa yang terluka.
"Akan kubalas, AKAN KUBALAS KELAKUKAN KALIAN!!!". Teriaknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
THANK YOU ❤❤❤❤