
...H...
...A...
...P...
...P...
...Y...
...R...
...E...
...A...
...D...
...I...
...N...
...G...
...🐻❤❤...
Pagi ini Alicia dan juga Andrea berangkat ke sekolah seperti biasa, dan untuk Alvaro ia belum berangkat ke sekolah. Tadinya sih Alicia dan Andrea ingin berangkat bersama dengan Kevin, tapi Kevin sudah pergi lebih dahulu.
'dasar menyebalkan'. Batin mereka.
Sepanjang perjalanan mereka hanya termenung dengan pikiran mereka masing-masing hingga Andrea menatap seseorang yang terlihat familiar dimatanya sedang berdiri tak jauh dari gerbang sekolah.
Ckiit
"Anjing!! Kalo ngerem bilang-bilang ege!". Marah Alicia saat tiba-tiba Andrea berhenti mendadak.
"Bacot!, sopan dikit kek! gue kakak Lo kalau Lo lupa". Alicia mendengus.
"Lo kenapa sih anjir?! Tiba-tiba ngerem,babrak kucing Lo?!".
Andrea menyuruh Alicia diam dan menunjuk pada objek yang berada tak jauh dari mobil mereka.
Alicia yang mengerti langsung mengarahkan pandangannya kedepan. Di sana, ibu mereka sedang berdiri seperti menunggu seseorang.
Cukup lama mereka memantau hingga pandangan mereka bertiga bertemu dangan Jesi yang berjalan kearah mobil mereka.
Tuk tuk tuk
Jesi mengetuk kaca mobil mereka hingga Andrea menurunkan kaca mobilnya.
"Bisa kita bicara sebentar? Ini penting, bisakan?". Ucapnya.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
Di sini lah mereka, disebuah kafe yang berada tak jauh dari sekolah. Tempat yang biasa para siswa datangi saat jam kosong selain ke kantin.
Jesi dihadapan Kedua anaknya, wanita itu terlihat menunduk sambil mengaduk-aduk kopinya. Mereka bertiga sama-sama diam hingga menimbulkan kesunyian mencekik.
"Apa yang ingin mami katakan?". Suara memecah keheningan yang terjadi antara ketiganya.
Jesi mengangkat kepalanya dan menatap pada netra putra bungsunya itu.
"A apa kalian sudah mendengarnya? Papi kalian akan menceraikan mami". Ucapnya.
Ah Andrea dan Alicia mengerti sekarang, pasti Jesi mengunjungi mereka untuk meminta pada ayah mereka agar tidak menceraikannya.
"Yah, kami sudah dengar Dan jika kamu tidak lupa, sepertinya papi sudah memberitahu mami kalau kami setuju atas perceraian kalian". Jawab Alicia ketus.
Jesi menatap tak percaya pada Alicia, anak gadisnya kini berbicara dengan nada ketus padanya, padahal Jesi tak pernah mengajarkan pada anaknya untuk berbicara ketus pada orang yang lebih tua.
"Berbicara lah lebih sopan Cia, aku adalah ibumu. Mami tidak pernah mengajarkanmu berbicara ketus seperti itu pada orang yang lebih tua!". Ceramahnya membuat Alicia semakin muak dengan ocehan ibunya.
"Yah, karena kamu tidak pernah mengajariku!, Kamu hanya memperhatikan butik mu dan anak angkatmu saja". Bantahnya lagi membuat Jesi terpaku pada tempatnya.
Mata wanita itu terbelalak seakan teringat waktu-waktu yang ia gunakan dulu.
Jesi akui dulu ia sangat sibuk dengan butiknya hingga tanpa sadar ia membuat jarak pada putrinya dan semakin besar jaraknya saat ia mengadopsi Syasa. Ia menyesal sungguh.
"M maafkan mami Cia, m mami tidak akan mengulanginya lagi". Ucapnya berusaha
memegang tangan Alicia yang tentu saja langsung ditepis oleh sang empu.
"Sudah terlambat". Jawabnya dan langsung pergi dari sana meninggalkan Jesi dan juga Andrea.
Jesi mendapat tangannya yang baru saja ditepis oleh Alicia, hati wanita itu teramat sakit mendapat penolakan dari putri kandungnya.
Sementara itu, Andrea justru menghela nafas dalam melihat keterdiaman Jesi, Remaja itu berdiri dari duduknya dan hendak pergi sebelum Jesi menahan tangannya.
Greb
"Andrea Tunggu dulu!, dengarkan dulu permintaan mami, kali ini saja". Mohonnya.
"Bicaralah". Jawabnya membuat senyum Jesi mengembang seketika.
"Mami mohon, bilang pada papimu untuk tidak menceraikan mami, mami sangat mencintai papi mu, mami akui selama ini mami berbuat salah tapi tolong, berikan mami satu kesempatan lagi yah, tolong katakan pada papimu". Ucapnya sambil memohon.
"Maaf, tapi aku tidak bisa". Tolaknya dan melepaskan tautan tangan Jesi pada tangannya.
"Hiks tidak!!! Aku tidak ingin bercerai!! Aaakhhhhh sialan!!". Marahnya saat melihat Andrea yang keluar dari kafe.
Jesi mengacak-acak rambutnya dan mendorong meja kaca dihadapannya membuat meja itu jatuh dan pecah berserakan hingga sedikit melukai kakinya.
Prang!!!
yang sedang mengamuk.
"Nyonya! Tolong jangan membuat keributan di sini! Anda sudah dengan berani merusak properti kami!!!". Ucap sang manajer kafe.
"Jangan menyentuhku!! Aku bisa mengganti meja dekil itu hanya dengan jentikan jari saja!". Marahnya saat beberapa karyawan kafe memegang tangannya.
"Kalau begitu segera ganti rugi dan keluar dari sini!!!". Jesi mengeluarkan segepok uang dari tasnya dan melempar uang itu didepan manajer kafe setelahnya langsung keluar dari kafe.
Untung saja pagi ini kafe itu belum ada pengunjung selain mereka tadi, hinggal Jesi tidak perlu merasa malu karena sudah berbuat kehebohan.
Setelah keluar dari kafe, Jesi langsung berjalan menuju kemobilnya dan pergi dari sana. Tujuannya kali ini adalah mansion utama keluarga Alexander, ia akan menemui kakaknya Keyla berharap Keyla dapat membantunya.
Tin tin tin
Selang beberapa menit Jesi pun telah sampai dipintu gerbang mansion utama Ia langsung melakukan mobilnya saat para penjaga membuka itu untuknya.
Ia pun bergegas masuk kedalam
"Kak". Panggilnya saat melihat Keyla sedang menonton serial TV bersama dengan Alvaro yang tidur terlentang dikarpet bulu dengan menyedot susu kesukaannya, susu vanila.
Keyla dan Alvaro menoleh bersamaan dan melihat Jesi dengan tampilan yang terlihat acak-acakan, sudut bibir keduanya berkedut menahan tawa.
"Kenapa kemari?". Keyla bertanya dengan mata yang kembali fokus melihat televisi begitupun dengan Alvaro yang kembali sibuk menyedot susunya.
Jesi berjalandan duduk disamping kakak tirinya itu.
"Kak, aku tau kakak pasti sudah mendengar tentang perceraian ku dengan Alexo. Kak, tolong katakan pada Alexo untuk tidak menceraikan ku karena aku sangat mencintainya, anak-anak juga masih membutuhkanku. Alexo selama ini selalu mendengarkan perkataan kakak, jadi aku mohon kak, tolong bujuk dia untuk kembali padaku".
Jesi memohon pada Keyla dengan memegang erat salah satu tangan Keyla.
'Ekspresinya terlihat sangat menyedihkan. heh apenih, keknya selu!'. Batin Alvaro sambil menonton Jesi yang sudah mulai terisak.
Keyla terdiam, dia menatap pada Jesi yang sudah terisak dan kembali menghela nafas. Keyla melirik sedikit pada Alvaro yang terlihat melihat keduanya dengan wajah polosnya membuat wanita itu gemas.
"My baby". Panggilnya pada Alvaro.
"Iya?". Keyla terkekeh sebentar dan kembali berujar.
"Baby bersama Abang Davian dulu yah, mommy mau bicara sebentar dengan Jesi okey? Abangmu ada dibelakang sedang memberi makan Delon". Ujarnya.
'yah nggak bisa nguping dong', batinnya.
Alvaro mengangguk dengan wajah kusut, anak itu bangun dari posisinya dan mulai melangkah menjauh. Setelah memastikan Alvaro menjauh,
Keyla langsung melepaskan tangan Jesi yang memegang tangannya.
"Hiks kak, tolong bantu aku, hiks Alexo pasti akan mendengarkan jika itu kakak yang meminta". Keyla menatap datar Jesi yang menangis.
Wanita itu berdiri dan menatap nyalang pada Jesi yang menangis.
"Itu adalah urusanmu, sudah cukup aku membantumu selama ini Jesi. Alexo menceraikan mu karena kau tidak becus menjadi seorang ibu, dan apa tadi?
Anak-anak masih membutuhkanmu?. Haha apa aku tidak salah dengar?, Mereka sudah tak lagi membutuhkanmu Jesi, mereka sudah dewasa sekarang berbeda dengan dulu saat mereka masih kecil, dan saat itu kau menyia-nyiakan mereka demi butik kesayangmu itu??".
Keyla tidak dapat menahan amarahnya sekarang, sudah cukup selama ini dia berbaik hati membujuk Alexo untuk jangan menceraikan adiknya karena selama ini Keyla berpikir mungkin suatu saat nanti Jesi akan berubah.
Alexo sudah pernah hampir menceraikan Jesi beberapa tahun silam saat Alicia mendapatkan perlakuan buruk disekolah, tapi Keyla menahannya berpikir suatu saat nanti pikiran Jesi akan terbuka untuk menuangkan waktu bersama
anak-anaknya.
Hingga saat Jesi membawa seorang anak perempuan bernama Syasa yang diadopsinya dari Panti asuhan. Sikap Jesi berubah drastis, wanita itu jadi lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarganya, dia bahkan langsung menyerahkan butiknya untuk dikelola oleh sekretarisnya.
Hal itu tentu membuat Keyka merasa senang, dia saat itu berpikir mungkin dengan hadirnya Syasa membuat pikiran Jesi terbuka. Syasa juga anak yang baik dan juga polos.
Tapi ternyata pikiran Keyla salah, kehadiran Syasa memang mampu membuat Jesi meluangkan waktunya, tapi juga membuat Jesi melupakan Alicia yang adalah putri kandungnya.
Keyla sering kali mendapati Alicia kecil datang kepadanya mengadu bahwa maminya tidak pernah memperhatikannya, Jesi bahkan tidak pernah memberikan waktunya pada Alicia dan hanya menempel pada syasa.
Dan hal itu berhasil membuat Keyla ragu untuk menerima Syasa di keluarga mereka dan semuanya menjadi semakin jelas dengan hadirnya Alvaro.
"Kakak hiks, aku memang ibu yang gagal hiks tapi tolong, aku benar-benar tidak ingin berpisah dengan Alexo! Aku sayang mencintainya!!".
Jesi semakin menangis dan bersimpuh dihadapan Keyla, berusaha membuat kakaknya iba dan membantunya.
"Maaf Jesi, tapi itu sudah keputusan Alexo, dan anak-anakmu juga setuju. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi". Jawabnya tangis Jesi semakin tak tertahankan.
Keyla hendak pergi sebelum berhenti saat mendengarkan pertanyaan Jesi.
"Hiks b bagaimana k keadaan Syasa?". Tanyanya tiba-tiba.
Tatapan Keyla berubah tajam saat mendengar nama Syasa kuar dari bibir Jesi. Keyla melirik tajam pada Jesi yang masih bersimpu.
"Sudah mati". Jawabnya dan langsung pergi dari hadapan Jesi yang mematung.
Air mata wanita itu kembali mengalir dengan deras begitu mendengar nasib dari anak angkatnya.
"Hiks hiks benci hisk aku benci!! BENAR-BENAR BENCI KALIAN AAARRGHHHH". Jeritnya Hah sepertinya wanita ini sudah mulai gila. Ah tidak-tidak lebih tepatnya memang sudah gila. Uups
.
.
.
.
.
.
.
.
THANK YOU❤❤❤